Home

Timbangan Anget, Ngalap Nyaur….

5 Comments

Timbangan

Picture source: Internet. Gambar timbangan seperti yang kami pakai dulu.

Jaman dahulu antara tahun 1955 s/d 1980-an, kalau dipikir cara berdagang orang tua kami itu amat sederhana.. Waktu itu toko kami menjual barang-barang hasil bumi seperti misalnya beras, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, gula, garam, teh dsb. Mama selalu bilang kalau dagang itu harus memperlakukan langganan seperti raja dan jangan main curang.

Mama sedang menimbang telur

Mama sedang menimbang telur

Baca selengkapnya

Piye, Lha Kepiye….

2 Comments

Papa dan Mama dengan ketiga cucunya

Papa dan Mama dengan ketiga cucunya

Ini sekedar bernostalgia mengenang kembali disaat saya kembali ke Indonesia untuk pertama kalinya tahun 1988. Jadi tangisan waktu disambut oleh mama dan papa, terutama mama yang selalu menangis kalau ketemu saya lagi. Waktu itu saya pergi berdua dengan anak saya dan suami menyusul seminggu kemudian.
Baca seterusnya

Nostalgia – Daun Jati

2 Comments

Dirumah keluarga di Jawa Tengah, pohon pohon jati yang menjulang tinggi tumbuh mengelilingi halaman disamping rumah. Dimusim kemarau, daun-nya yang besar dan lebar banyak berguguran. Waktu aku memperhatikan burung-burung gereja yang bernaung diatas pohon pohon jati ini, jadi teringat kenangan masa lalu. Dulu ditahun lima puluhan dan tahun enam puluhan sebelum plastik dipakai untuk bahan kemasan.

Waktu itu disaat aku masih kecil, daun jati umum digunakan untuk membungkus. Bukan saja sebagai pembungkus nasi atau makanan jajan pasar, daun jati juga digunakan untuk membungkus belanjaan dari pasar ataupun toko yang menjual bermacam macam hasil bumi seperti beras, jagung, kedelai, kacang hijau dsb. Dibandingkan dengan daun pisang, daun jati waktu itu lebih murah dan lebih kuat tak mudah robek. Jadi cocok sekali untuk membungkus.

Ditoko kami, hanya gula pasir yang dikemas dengan kertas payung yang warnanya coklat itu. Kopi dan teh memang dari pabriknya sudah dikemas juga dengan kertas. Namun yang lainnya seperti beras, kacang hijau, kedelai dsb, semua dibungkus dengan daun jati kalau dijual eceran, kalau yang beli dalam jumlah besar diatas lima kilo seringnya mereka datang dengan membawa tempat sendiri.

Membungkus dengan menggunakan daun jati itu ada cara dan seninya sendiri dengan menggunakan dua helai daun jati yang digulung berbentuk contong atau kerucut dalam bahasa Indonesianya. Kalau kerucut ini kurang besar atasnya disambung lagi dengan beberapa daun mengeliling. Jadi pertama-tama barang yang dibeli ditimbang dulu. Kalau sudah ditimbang baru bikin contongnya. Setelah contong dibuat dan cukup besarnya, yang akan dibungkus dituang kedalamnya. Supaya bungkusan ini tidak terbuka, pinggir pinggirnya disemat dengan biting. Biting adalah bahasa Jawa untuk potongan lidi yang sengaja dipotong serong ujung-ujungnya supaya tajam dan mudah utuk disematkan. Setelah semua sambungan daun disisi contong  sudah di-‘bitingin’, atas contong itu ditutup dengan melipat ujung-ujungnya dan juga harus disemat lagi dengan ‘biting’. Kalau misalnya daun kurang panjang dan tak bisa menutup bungkusan, atasnya ditaroh selembar daun dan setelah itu baru ujung daun dilipat rapi.

Ingat dulu waktu mama pertama kali mengajar kami bagaimana cara membuat contong daun. Mama bilang harus rapi dan kuat bungkusannya supaya tidak terbuka ditenggok. Waktu itu wanita sering membawa belanjaan dengan menarohnya didalam tenggok yang digendong dibelakang dengan selendang. Tenggok adalah semacam keranjang yang dianyam dari bambu. Ingat mama bilang kalau bungkusannya tidak kokoh, kan kasihan kalau semua bungkusan bedah/terbuka semua. Bayangkan kalau bungkusan itu isinya ada yang beras, ada yang kedelai, ada yang kacang hijau dsb….. kalau bungkusan terbuka semuanya bisa tercampur baur ditenggok. Bayangkan pembeli harus memisah-misahkan. Kata mama, pada waktu itu kalau ada pedagang yang tak bisa membungkus dengan daun jati dengan bagus dan sering terbuka, langganan jadi enggan beli lagi.

Jadi ingat juga waktu permulaan aku membantu jualan ditoko, langganan selalu berpesan supaya aku membungkus dengan kokoh dan tak bedah (terbuka) semua. Ada juga yang maunya dilayani oleh mama sendiri, karena takut bungkusan-ku tidak bagus dan kuat. Jadi saja waktu itu aku (kira kira berumur 8 atau 9 tahun) hanya boleh membungkus yang kurang dari 1 kg.

Ya begitulah…. waktu itu lebih dari empat puluh tahun yang lalu, kehidupan begitu sederhana dan tidak sepraktis sekarang. Namun kalau dipikirkan lagi, zaman dahulu tidak banyak sampah karena semua yang digunakan adalah didapat secara alami. Daun akan cepat hancur dan membusuk kembali ketanah. Memang dizaman sekarang, setelah plastik dipakai untuk bahan kemasan apa apa begitu mudah dan praktis. Bahkan minyak gorengpun dikemas didalam kantong plastik.  Tapi segi negatif-nya tidak lah kecil. Plastik sudah menjadi sampah yang mencemari semua ujung bumi ini. Dimanapun anda berada, sampah plastik pasti dijumpai, bahkan disungai dan lautan-pun banyak dijumpai barang-barang plastik yang bisa sampai puluhan tahun tidak bisa hancur.

Sampai sekarang di daerah pelosok di-Jawa, walau mulai langka, daun jati masih digunakan oleh sebagian kecil pedagang untuk membungkus, seperti nasi atau tempe. Entah akan berapa lama kebiasaan membungkus dengan daun jati ini akan bisa bertahan?

Nostalgia Martabak dan Pasar Malam

Leave a comment

Rasanya bosan kalau telur lagi lagi didadar. Bahasa kerennya telur dadar itu adalah omelette. Kalau bikin omelette aku seringnya pakai bawang bombay, bawang daun atau kalau pas ada, juga bisa diberi daging cincang, daging asap atau corned beef. Kemarin ini aku jadi ingat martabak telur. Jadi…. karena bosan dengan omelette jadinya aku bikin martabak. Heran dengan membungkus telur itu dengan kulit lumpia,  bisa 100% berubah cita rasanya. Padahal telurnya sama kalau aku bikin dadar yaitu dengan bawang bombay dan bawang daun. Karena tak ada daging jadi tak pakai. Enak juga, karena memang sudah lama tak makan martabak.

Mengenang martabak, dizaman dulu kami hanya beli martabak kalau pas pergi ke pasar malam. Waktu itu, kalau ada pasar malam warga kota Solo bisa melihat sokle disaat malam hari tiba. Sokle adalah lampu sorot yang memutari kota, jadi bisa dilihat dari segala jurusan. Waktu itu lampu listrik tidak seterang zaman sekarang, jadi sorotan sokle ini terlihat jelas dan terang sekali.

Rasanya waktu itu ditahun 60-an didaerah Solo, martabak tidak dijual dihari-hari biasa. Kalau pas ada pasar malam, banyak sekali tukang martabak menjajakan dagangannya. Ditenda atau gerobaknya selalu tertulis bahwa martabaknya adalah martabak asli Malabar. Karena Malabar adalah didaerah Kerala di-India, jadi asal martabak telur yang dijual di Indonesia itu pasti dari India. Dahulu memang di Solo tak ada martabak manis. Aku baru mengenal martabak manis setelah tinggal di Bandung ditahun 70-an. Waktu itu kalau beli martabak telur,  kita bisa pilih telurnya bebek atau ayam. Kami selalu memilih telur ayam karena telur bebek amis/anyir baunya.

Yang terakhir kali aku pergi ke pasar malam di Solo adalah diawal tahun 70-an, rasanya aku sudah tinggal di Bandung dan pas pulang liburan kebetulan ada pasar malam di Solo. Jadi saja waktu itu kami bawa adik adik kami dan dua saudara sepupu yang juga masih kecil pergi nonton pasar malam. Aku tak ingat apakah pasar malam ini diadakan disaat perayaan Sekaten.  Pasar malam waktu itu selalu diadakan di Sriwedari. Selain martabak telur juga banyak dijual jajanan spesial lainnya seperti kue dollar yang bundar bundar tipis dan renyah serta manis rasanya. Berondong jagung yang digulain warna warni (bukan popcorn) dan juga American donut. Kue putu yang dicetak dengan bumbung bambu dan dalamnya ada gula Jawa-nya juga ada. Sate ayam atau sate kambing juga ada. Macam macam nasi soto, ada soto Kudus, soto Madura, rawon dsb. Ada juga yang jual nasi goreng, mie goreng atau rebus. Rasanya diwaktu itu 40 – 50 tahun yang lalu, mie bakso masih belum umum dijual dijalanan seperti sekarang.

Selain makanan, banyak juga barang barang lain yang dijual. Macam macam topeng dari kertas (paper mache) dan celengan dari tanah. Celengan adalah tempat untuk menyimpan uang recehan yang amat disukai anak anak. Apalagi kalau bentuknya macam macam, ada yang bentuknya harimau, kuda, sapi, kambing dsb. Rasanya waktu itu ditahun 60-an dan awal tahun 70-an belum banyak barang barang plastik, jadi mainan biasanya dibuat dari tanah, kayu, bambu atau kaleng.

Sumber Gambar: Wikipedia

Salah satu alat bermain yang dijual dari kayu adalah dakon atau yang juga disebut dengan nama congkak. Dakon atau congkak dibuat dari kayu yang dilubangi. Seringnya berlubang tujuh atau sembilan dikedua sisinya dan dikedua ujungnya ada masing masing satu lubang yang lebih besar yang berfungsi sebagai lumbung. Ingat dulu kalau sudah bermain dakon ini jadi lupa waktu.

Mainan lain yang populer dijual di pasar malam adalah gasing atau yang bahasa jawanya gangsingan. Gasing ini ada yang dibuat dari kayu yang diukir atau dari bambu. Macam macam balon warna warni juga selalu disukai oleh anak anak kecil.

Atraksi dipasar malam waktu itu yang terkenal adalah permainan sulap dan pertunjukan tong setan. Tong setan adalah bangunan tinggi dari kayu. Dindingnya melingkar, jadi bangunan ini menyerupai tong yang besar. Kita penonton berdiri diatas, ditepian luar dinding dan melihat kedalam tong setan tsb. Waktu pertunjukan mulai, terdengan suara sepeda motor yang menderu deru dan pengendara sepeda motor itu mula-mula berputar-putar didasar tong dan kemudian sepeda motor mengelilingi dinding. Seram juga, karena suaranya yang keras dan juga dinding tong terasa bergetar. Apalagi setelah kemudian dua pengendara memutari dinding.

Untuk anak kecil yang paling disukai adalah dreimollen dengan kuda kudanya yang berputar naik turun. Kalau sudah capai keliling, kami suka beli es krim dan sebelum pulang untuk oleh oleh kami beli martabak telur.

Sejak yang terakhir pergi ke pasar malam diawal tahun 70-an itu, aku belum pernah lagi nonton pasar malam di Indonesia. Entah sekarang apa masih ada pertunjukan dan makanan yang sama seperti dulu.

Nostalgia Lebaran

2 Comments

Saat-saat hari ‘Bakdo’ (=Lebaran bahasa Jawa) dijaman dulu sekitar lima puluh tahun yang lalu masih mampu meninggalkan kenangan yang sangat khas. Suasana dihari raya saat itu diramaikan oleh ledakan long bumbung. Dari segala penjuru terdengar suara blug…. blug….. blug silih berganti. Yang datangnya dari dekat selalu mengagetkan suaranya.

Dulu waktu aku masih kecil, papa pernah menyuruh salah satu pegawai kami untuk membikinkan long bumbung yang terbuat dari batang bambu yang disulut dengan minyak tanah. Bambunya harus besar untuk menghasilkan suara yang keras. Entah bagaimana cara memasang long bumbung ini aku tak ingat lagi. Yang aku tahu harus menggunakan batang bambu dan minyak pet (minyak tanah).

Selain long bumbung, yang memberikan nostalgia tersendiri disaat Bakdo adalah hidangan hantaran dari para langganan toko dan pegawai kami. Karena kami tinggal diwilayah Kecamatan, jadi hidangan hantaran ini bukanlah makanan mewah orang kota. Tapi buat kami sekeluarga justru menu Lebaran orang desa itulah yang memberikan cita rasa tersendiri. Sederhana memang, tapi punya kelezatan tersendiri. Aku ingat mama selalu memberi dua kilo gula pasir dan beberapa bungkus teh kepada semua yang memberi makanan Lebaran.

Waktu itu, hantaran makanan Hari Raya biasanya ditaruh didalam tenggok yang digendong. Tenggok adalah semacam keranjang anyaman dari bambu yang biasanya digendong oleh kaum wanita untuk membawa barang barang. Dari begitu banyaknya hantaran, variasi makanannya hampir sama yaitu terdiri dari nasi lengkap dengan lauk pauknya:

  • Nasi gurih, yaitu nasi putih yang dimasak dengan santan
  • Ayam ingkung yang dimasak bumbu semur. Seringnya ayam yang dimasak utuh dengan bumbu kecap, bawang merah dan merica. Sering memakai soun.
  • Sambal goreng kerecek, yang isinya selain kerecek juga ada potongan kentang kecil kecil dan petai.
  • Bihun goreng
  • Serundeng kelapa dan kedelai hitam goreng.
  • Perkedel kentang
  • Rempeyek dan Kerupuk
  • Kue Jadah
  • Rangginan

Selain nasi dengan lauknya, juga ada kue jadah asin dan manis. Kue jadah adalah ketan dan kelapa yang dimasak, ditumbuk dan dicetak. Yang manis diberi gula jawa.

Semua makanan lebaran dari desa ini mempunyai rasa yang begitu khas yang memberi kelezatan tersendiri. Mama bilang karena semua makanan dimasak dengan menggunakan bara api dan kuali tanah.

Sudah lama sekali aku tidak pernah ada di Indonesia selama masa Lebaran, jadi aku tak tahu lagi perkembangan menu Lebaran selama ini. Mungkin sekarang menu Lebaran didaerah pelosok sudah tidak sama lagi dengan dizaman dulu ditahun 50/60-an. Mungkin sekarang menu sudah jauh lebih modern……. namun lezatnya semur ayam dan sambal goreng kerecek Lebaran diwaktu masa kecilku dulu masih meninggalkan nostalgia tersendiri yang tak akan terlupakan 🙂

Bagi yang merayakannya:

 “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir dan batin”.

Snoopy

Leave a comment

I still keep my son’s Snoopy money box. He had it long time ago when he was still a small boy. It has lost the base so I have to put a piece of sticky tape to prevent coins from coming out. Yes, I keep my loose change in it. It is made of ceramic and I think it is too cute to throw away.

This morning as I was dusting the money box, I remembered long time ago when we used to watch Peanuts shows. How I loved Snoopy and Woodstock. Two creatures that unlikely had become very good friends, but the friendly little bird melted the dog’s heart. Snoopy taught his little friend a lot of things including how to fly. But how could a dog teach a bird how to fly? Woodstock never could fly correctly. The pair were always together and they became the closest buddies. Snoopy liked his friend very much so that he was able to understand the bird’s language. They enjoyed to sing and to dance together and Woodstock was an excellent whistler. He would whistle to the tune while Snoopy sang.

The reason that I like Snoopy and Woodstock shows better than the other Peanuts episodes is because of true friendship between the two. Both of them enjoyed to be together and always supported each other when troubles came. Now and then, little squabbles happened between the two, but soon they would forget about them. This is how a true friendship supposed to be.

Another Snoopy around the house

The best of Snoopy’s quotes is:

Why can’t we get all the people together in the world that we really like and then just stay together? I guess that wouldn’t work. Someone would leave. Someone always leaves and then we have to say good-bye. I hate good-byes. I know what I need. I need more hellos…………

This is a video clip from littlefox79:

Honey, I Miss You

Leave a comment

One song that still makes me so very very sad when I hear it. It brings tears into my eyes. It was long time ago when I first heard Honey (I Miss You) sung by Bobby Goldsboro. It was a beautiful song first released in 1968. So far, there were many covers have been produced, but only Bobby Goldsboro could sing it right. The lyrics are full of sweet memories…. little innocent things she did that made him loved her so. True love that was cut short by death. So sad yet it was also very very sweet……

This is a  beautiful YouTube video clip by Angel  :

Older Entries