Home

Lemper Ayam Ala Mama

10 Comments

Lemper? Lemper ini ada hubungannya dengan alasan utama kenapa belum lama ini kami beli tanaman kencur dengan order online dari Queensland. Sebetulnya bumbu kencur itu seringnya saya gunakan untuk membuat lemper ayam, kedoyanan anak saya. Loh, masa lemper pakai kencur? Ya, memang ini lempernya mama saya. Kalau saya lihat begitu banyaknya resep di internet, tak ada yang sama bumbunya dengan yang punya mama. Isi lemper buatan mama adalah ‘daging dada ayam’ yang dibumbui bahan aromatik yang terdiri dari sereh, daun jeruk purut dan kencur. Hasilnya adalah aroma yang wangi dan sangat khas cita rasanya.

Ingat dulu waktu saya membantu mama membuat isi lemper, sering tidak sabar dan api kebesaran hingga hasil isi lempernya tidak putih bersih. Mama lebih suka kalau isinya putih bersih.

Lemper Ayam ala Mama

Lemper Ayam ala Mama

Ini resepnya

Gempol Pleret

2 Comments

Gempol & Pleret

Setelah membaca blog-nya RyNaRi tentang nikmatnya es gempol pleret, semalam membayangkan kembali jajanan jaman dulu ditahun 60-an di Solo yang namanya gempol pleret. Dalam ingatan, rasanya tidak terlalu manis, cenderung lebih gurih. Bola-bola gempolnya tidak manis dan sedikit kerasa asinnya, putih warnanya dan teksturnya empuk mempur dan terasa agak berbutir. Pleret-nya coklat gula jawa, agak manis dan kenyal yang begitu kontras dengan gempolnya. Dulu gempol itu selalu putih tidak diwarnai dan pleretnya kecoklatan karena gula jawa. Santannya juga putih tidak diwarnai. Juga dulu tidak disajikan dengan es.

Baca seterusnya

Jamu Oyot Kates Pentil Pace

2 Comments

Pepaya Gantung - Wikipedia

Pepaya Gantung – Wikipedia

Semasa kecil, saya anaknya kurus sakit-sakitan. Sering rewel dan tak mau makan. Kalau sudah begini oleh mama dibikinkan jamu yang bisa membuat anak suka makan. Nama jamunya adalah Oyot Kates Pentil Pace. Oyot kates adalah bahasa Jawa yang artinya akar pepaya sedangkan pentil pace adalah buah mengkudu yang masih kecil. Harus diperhatikan tanaman pepaya-nya harus jenis pepaya gantung yang bunganya bertangkai panjang menggelantung dan seringnya tidak berbuah (jenis jantan). Selain itu buah mengkudu-nya (pentil pace) harus yang masih kecil dan masih ada sedikit bunga diujungnya.

Baca selanjutnya

Bahasa Inggrisnya Jokowi

Leave a comment

Barusan saya melihat di Youtube, pak Joko Widodo di-interview dalam bahasa Inggris. Heran koq banyak orang yang memberi kritik negatif karena aksen pak Jokowi adalah Jawa. Menurut pengamatan saya bahasa Inggris beliau cukup lancar, jelas dan mudah dimengerti. Tidak apa-apa kalau ada sedikit kesalahan grammar, pokoknya lancar dan mudah dimengerti.

Saya saja yang sudah lebih dari 25 tahun hidup di Australia, bahasa Inggris saya tidak seperti orang Aussie asli. Logat Indonesia khusus-nya logat Jawa saya masih medok juga. Grammar-nya? Bukan saja ngomong Inggris, nulis pakai bahasa Inggris saja masih selalu ada kesalahan grammar dan ejaan….. harus di-edit beberapa kali.

Jadi kesimpulan saya? Cara berbicaranya pak Jokowi dengan berbahasa Inggris cukup bagus. Good on you Mr. Jokowi, we are very proud of you!

Ngalor Ngidulnya Jenang Grendul

2 Comments

Tadi pagi tiba tiba aku ingat jenang grendul atau yang juga disebut bubur candil. Kebetulan masih punya banyak tepung ketan. Sebetulnya tepungnya lebih enak yang barusan ditumbuk, tapi disini aku tak punya lumpang. Jadi tepung yang dari toko jadilah.

Memang sudah lama juga aku tak bikin jenang grendul ini, jadi tadi pagi bikin biar hawa panas. Makannya enakan kalau sudah dingin dimusim panas seperti sekarang. Sebetulnya sudah tidak musim panas lagi, Maret adalah bulan pertama musim gugur, namum udara disiang hari masih panasnya bukan main, lebih dari 30 derajat C. Kalau aku bikin jenang grendul tak pakai ukuran, jadi jangan tanya resepnya yang pasti. Semuanya dikira kira saja.

Bahannya adalah:

  • Tepung ketan
  • Gula merah
  • Air
  • Tepung beras untuk mengentalkan
  • Daun pandan
  • Santan
  • Garam

Tergantung berapa banyak bikinnnya, kalau aku bikin kira kira 1 liter air direbus bersama gula merah secukupnya dan daun pandan. Sementara itu diwadah lain campur tepung ketan, sedikit garam dengan air hangat sampai terbentuk adonan agak lembek yang bisa dipulung. Jangan terlalu  padat karena nanti bola-bola grendulnya akan keras. Bentuk bulat-bulat sebesar kelereng dan masukkan kedalam air gula yang sudah mendidih. Kalau bola-bola sudah mengambang/mengapung, cairkan tepung beras secukupnya dengan air. Angkat jenang dari api dan masukkan tepung beras yang sudah dicairkan. Aduk terus.  Jangan langsung semua, lihat barang kali kekentalannya sudah cukup. Setelah jenang mengental, taroh kembali keapi dan terus diaduk supaya tak gosong.  Rasakan apa udah cukup manisnya. Setelah mendidih dan rata, angkat. Sewaktu masak jenang grendul ini sebaiknya jangan terlalu kental, karena nanti kalau dingin akan menjadi lebih kental dibandingkan sewaktu masih panas.

Rebus santan yang agak kental secukupnya dengan diberi daun pandan dan garam. Hidangkan jenang grendul dengan disiram santan diatasnya.

Jenang Grendul

______________***_____________

Kalau dipikir lidah timur dan barat itu memang tidak selalu sama. Banyak orang-orang bule yang kukenal tidak suka makanan yang kenyal dan lengket. Contohnya ya seperti jenang grendul ini. Suamiku yang orang bule tidak begitu doyan dan anakku tak mau menyentuh. Buat kita, yang disebut ‘meat balls’ alias bola-bola daging yang salah satunya adalah bakso nan kenyal; semakin kenyal buat lidah kita lebih enak. Lain dengan lidahnya orang bule, meat balls yang enak untuk ukuran mereka adalah yang empuk dan juicy. Untungnya suamiku kalau yang namanya bakso doyan juga, namun anakku tak mau menyentuh. Bodoh betul!!

Juga kalau memasak daging, ikan dan telur. Kalau aku sih daging sukanya yang dimasak lama dan empuk. Ikan goreng harus digoreng garing jadi kurang amisnya. Telur mata sapi ya kuningnya kalau masih meler aku bisa muntah. Namun kesukaan orang bule bertolak belakang. Banyak daging (sapi atau domba), terutama steak dan yang dipanggang harus setengah matang. Jadi kalau diiris tengahnya masih harus masih kemerahan. Telur rebus atau mata sapi harus masih meler kuningnya. Bahkan ikan seperti misalnya salmon masih harus pink juga tengahnya.

Sering aku nonton acara perlombaan masak seperti misalnya ‘My Kitchen Rules’, semua masakan harus berstandar internasional, jadi ya itu kalau masak daging steak atau daging panggang masih harus ‘medium rare’, jadi tengahnya masih harus berwarna pink kemerahan. Telur rebus dan mata sapi harus masih mengalir kuningnya. Ikan juga harus setengah matang. Daging bebek-pun masaknya juga masih harus pink tengahnya. Menurutku, kalau belum matang betul itu ya rasanya amis dan anyir………Tapi untuk menang dalam perlombaan memasaknya harus dengan cara mereka yaitu harus memenuhi standar internasional !! ???? 😦

Nostalgia – Daun Jati

2 Comments

Dirumah keluarga di Jawa Tengah, pohon pohon jati yang menjulang tinggi tumbuh mengelilingi halaman disamping rumah. Dimusim kemarau, daun-nya yang besar dan lebar banyak berguguran. Waktu aku memperhatikan burung-burung gereja yang bernaung diatas pohon pohon jati ini, jadi teringat kenangan masa lalu. Dulu ditahun lima puluhan dan tahun enam puluhan sebelum plastik dipakai untuk bahan kemasan.

Waktu itu disaat aku masih kecil, daun jati umum digunakan untuk membungkus. Bukan saja sebagai pembungkus nasi atau makanan jajan pasar, daun jati juga digunakan untuk membungkus belanjaan dari pasar ataupun toko yang menjual bermacam macam hasil bumi seperti beras, jagung, kedelai, kacang hijau dsb. Dibandingkan dengan daun pisang, daun jati waktu itu lebih murah dan lebih kuat tak mudah robek. Jadi cocok sekali untuk membungkus.

Ditoko kami, hanya gula pasir yang dikemas dengan kertas payung yang warnanya coklat itu. Kopi dan teh memang dari pabriknya sudah dikemas juga dengan kertas. Namun yang lainnya seperti beras, kacang hijau, kedelai dsb, semua dibungkus dengan daun jati kalau dijual eceran, kalau yang beli dalam jumlah besar diatas lima kilo seringnya mereka datang dengan membawa tempat sendiri.

Membungkus dengan menggunakan daun jati itu ada cara dan seninya sendiri dengan menggunakan dua helai daun jati yang digulung berbentuk contong atau kerucut dalam bahasa Indonesianya. Kalau kerucut ini kurang besar atasnya disambung lagi dengan beberapa daun mengeliling. Jadi pertama-tama barang yang dibeli ditimbang dulu. Kalau sudah ditimbang baru bikin contongnya. Setelah contong dibuat dan cukup besarnya, yang akan dibungkus dituang kedalamnya. Supaya bungkusan ini tidak terbuka, pinggir pinggirnya disemat dengan biting. Biting adalah bahasa Jawa untuk potongan lidi yang sengaja dipotong serong ujung-ujungnya supaya tajam dan mudah utuk disematkan. Setelah semua sambungan daun disisi contong  sudah di-‘bitingin’, atas contong itu ditutup dengan melipat ujung-ujungnya dan juga harus disemat lagi dengan ‘biting’. Kalau misalnya daun kurang panjang dan tak bisa menutup bungkusan, atasnya ditaroh selembar daun dan setelah itu baru ujung daun dilipat rapi.

Ingat dulu waktu mama pertama kali mengajar kami bagaimana cara membuat contong daun. Mama bilang harus rapi dan kuat bungkusannya supaya tidak terbuka ditenggok. Waktu itu wanita sering membawa belanjaan dengan menarohnya didalam tenggok yang digendong dibelakang dengan selendang. Tenggok adalah semacam keranjang yang dianyam dari bambu. Ingat mama bilang kalau bungkusannya tidak kokoh, kan kasihan kalau semua bungkusan bedah/terbuka semua. Bayangkan kalau bungkusan itu isinya ada yang beras, ada yang kedelai, ada yang kacang hijau dsb….. kalau bungkusan terbuka semuanya bisa tercampur baur ditenggok. Bayangkan pembeli harus memisah-misahkan. Kata mama, pada waktu itu kalau ada pedagang yang tak bisa membungkus dengan daun jati dengan bagus dan sering terbuka, langganan jadi enggan beli lagi.

Jadi ingat juga waktu permulaan aku membantu jualan ditoko, langganan selalu berpesan supaya aku membungkus dengan kokoh dan tak bedah (terbuka) semua. Ada juga yang maunya dilayani oleh mama sendiri, karena takut bungkusan-ku tidak bagus dan kuat. Jadi saja waktu itu aku (kira kira berumur 8 atau 9 tahun) hanya boleh membungkus yang kurang dari 1 kg.

Ya begitulah…. waktu itu lebih dari empat puluh tahun yang lalu, kehidupan begitu sederhana dan tidak sepraktis sekarang. Namun kalau dipikirkan lagi, zaman dahulu tidak banyak sampah karena semua yang digunakan adalah didapat secara alami. Daun akan cepat hancur dan membusuk kembali ketanah. Memang dizaman sekarang, setelah plastik dipakai untuk bahan kemasan apa apa begitu mudah dan praktis. Bahkan minyak gorengpun dikemas didalam kantong plastik.  Tapi segi negatif-nya tidak lah kecil. Plastik sudah menjadi sampah yang mencemari semua ujung bumi ini. Dimanapun anda berada, sampah plastik pasti dijumpai, bahkan disungai dan lautan-pun banyak dijumpai barang-barang plastik yang bisa sampai puluhan tahun tidak bisa hancur.

Sampai sekarang di daerah pelosok di-Jawa, walau mulai langka, daun jati masih digunakan oleh sebagian kecil pedagang untuk membungkus, seperti nasi atau tempe. Entah akan berapa lama kebiasaan membungkus dengan daun jati ini akan bisa bertahan?

Centrosema the Butterfly Pea

1 Comment

Pretty flower of Centrosema pubescens

Last year when I visited my homeland in Central Java/Indonesia, I found some interesting plants that were growing and trailing wildly in our family property. One was the interesting Passiflora foetida that had beautiful flowers and unusual fruits, and the other one was also a figorous climber with the most prettiest flowers. The flowers are photogenic…. always look beautifully striking in photographs. I had a feeling this plant was some sort of legume. For  more than a year I tried to identify it, and only yesterday I knew what it was.

The trailing tropical plant with very pretty lilac flowers is Centrosema pubescens. It is also commonly known as Centro Pea or Butterfly Pea. Apparently this South American plant was brought to Java in the 19th century. Though it was not clear why they introduced the plant at that time, today the locals use the plant as ground cover that has great benefits to the soil to improve soil fertility. Centrosema is known to improve depleted level of nitrogen in soil. The plant and the seeds can also be used as animal feed, a beneficial income support for farmers during regeneration period.

If used as ground cover crop, Centrosema can also improve soil structure by reducing erosion, lesser loss of organic matter and nutrient of soil. At the same time, it reduces weed infestation.

To read about Passiflora foetida: https://kiyanti2008.wordpress.com/2011/04/27/wild-passion-fruits/

Older Entries