Home

Australian Painted Lady

1 Comment

Quite a few of these medium size orange brown butterflies in the garden lately. They like to eat the nectars of the mauve African daisies. Apparently, what differs an Australian native painted lady butterfly ( Vanessa kershawi ) from other painted lady butterflies is the bluish colour of the center of the spots on the back wings.

Australian Painted Lady

Australian painted lady - Vanessa kershawi butterfly

Australian Painted Lady - Vanessa kershawi

Aussie Painted lady

Advertisements

Damselfly in the Garden

Leave a comment

When I divided and repotted the yellow water lily, I had one extra. There was no more room for it in the fish tubs, so I kept it in a separate plastic tub in the back garden. This extra waterlily is also growing very well and flowering. I regularly check it  as I am worry about mosquitoes breed there.

This morning I had a very nice surprise! The damselflies breed in there instead. They must have fed on the mosquito larvae. I don’t really mind to have damselflies or dragonflies around our garden. They are completely harmless to the garden and help to keep other small insects in control.I can tell that those are damselflies. They are dainty and smaller compared to dragonflies. The eyes are well separated and sit on the side of the face, while dragonfly’s eyes are close together and look more like on the top of the face. The wing of damselflies are close together along side the body when they are resting, while dragonflies’ wings are open.

The images below show  stages of the last transformation. First picture was a damselfly nymph in the process of final moulting. The back had already started to split. Second picture was the damselfly right after coming out of the shell/ after shedding skin. Last picture was just minutes later after the wings had developed. When I was about to take the fourth picture a few minutes later, it was flying away…. too scared of the camera.

It was amazing to watch. They are very tiny. I wish I had a better camera to make sharper images!!

The Empty Shell left behind……

 

Further read about damselflies :

http://australianmuseum.net.au/image/Damselfly-life-cycle

http://photos.rnr.id.au/dragonflies.html

Laba Laba – Renungan

Leave a comment

Dihalaman belakang rumahku, ada laba laba yang menenun jaringnya yang besar mirip itu yang dipakai oleh nelayan untuk menjaring ikan. Setiap pagi kalau aku menyirami tanaman, jaring laba laba yang lengket itu selalu menghalang. Sering kali aku jalan melaluinya dengan akibat jaring yang mirip seperti benang sutera itu nempel dikepala dan rambutku.

Setiap hari dengan sebuah sapu kubersihkan jaring itu, namun esok harinya jaring baru sudah tercipta lagi untuk menangkap mangsa. Aku jadi heran, kenapa laba laba itu tidak pindah tempat? Apakah didunia laba laba itu juga seperti dunianya manusia? Manusia hidup ditempat masing masing dan tidak bisa seenaknya pindah begitu saja. Kalaupun pindah tempat tinggal, didunia manusia itu ada peraturan tertentu. Mungkin ada yang harus menjual rumahnya dulu dan kemudian beli rumah lainnya. Atau yang kontrak juga harus mencari tempat kontrakan atau kost yang baru dan harus bayar. Perpindahan habitat untuk manusia itu pasti ada alasannya tertentu. Kukira ada juga jenis laba laba yang sifatnya territorial, jadi mereka tak bisa seenaknya mencuri tempat lainnya.  Sebetulnya kalau dia membuat jaringnya ditempat yang tak menghalang jalanku, aku tidak peduli dan akan kubiarkan. Tapi dengan setianya si laba laba itu tidak pindah ketempat lain. Setiap kali jaringnya rusak dan dibersihkan, dia akan membuatnya lagi yang baru….. ditempat itu lagi.

Aku jadi merenung dan ingat akan begitu banyaknya orang orang dari negara lain seperti India, Pakistan, Afganistan dan Timur Tengah berbondong bondong meninggalkan tanah air mereka untuk mencari hidup ditempat lain yang salah satunya adalah Australia. Aku jadi berikir, kalau dinegeriku mengalami kekacauan, akankah aku memilih meninggalkannya begitu saja?

Pertanyaan untuk anda semua: “Kalau misalnya ditanah air kita masing masing porak poranda dan kacau, baik itu karena situasi politik/ perang, ekonomi atau hal  hal lainnya….. akankah dengan mudahnya meninggalkannya begitu saja? Ataukah anda akan tetap tinggal dan memperjuangkan masa depan negara dan bangsa serta membangunnya lagi?  Akankah anda seperti laba laba dibelakang rumah kami itu yang tetap gigih mempertahankan tempat tinggalnya walaupun setiap kali ada yang merusaknya????

Foto foto ini adalah laba laba yang ada dikebun dibelakang rumahku. Apa jenisnya aku tidak tahu…. yang pasti adalah jenis yang membuat jaring.

Laba-laba dikebun

25 Pebruari,2012:

Tadi pagi kami pindahkan laba laba-nya kehalaman depan, tepatnya dipohon buah pir. Moga moga akan suka dengan tempatnya yang baru yang tak akan mengganggu lalu lalang:)

Dongeng si Capung

2 Comments

Dahulu kala, didalam air yang keruh dan berlumpur hiduplah seekor tempayak (anak/larva capung) yang tinggal bersama banyak saudara-saudara dan teman- temannya. Mereka hidup diair yang gelap dibawah naungan daun-daun teratai yang lebar. Kehidupan didalam air ini amat tenteram dan tak banyak ganggungan dan kesulitan.

Namun pada waktu waktu tertentu, tempayak-tempayak kecil itu akan merasa sedih jika ada anggota keluarga atau teman-teman mereka mulai naik memanjat dahan teratai. Mereka tahu tak lama lagi tempayak yang naik kepermukaan air itu akan hilang begitu saja dan tak akan pernah kembali lagi.

Pada suatu hari sitempayak kecil itu dengan tiba-tiba merasa tertarik pada temaran cahaya yang datang dari atas daun daun teratai. Ingin sekali ia memanjat dahan teratai dan menuju cahaya itu. Keinginan ini tak terbendung lagi. Iapun melihat wajah adik-adiknya dan berkata bahwa ia akan naik keatas dan nanti akan kembali lagi untuk menceritakan pengalamannya. Ia berjanji untuk kembali lagi bersama saudara-saudaranya dan tak akan pergi selama-lamanya.

Perlahan-lahan, tempayak kecil itu berpegang kuat pada dahan teratai dan mulai memanjat naik kearah permukaan air. Tiba-tiba ia merasakan perubahan, sepasang sayap mulai tumbuh dipunggungnya. Keinginan untuk naikpun tak bisa terbendung lagi. Mulailah ia menaikkan kepalanya keatas permukaan air. Semuanya yang ia lihat disekitarnya terang benderang.

Dengan berpegang teguh pada janjinya untuk kembali dan menceritakan pengalamannya, tempayak kecil itu menggerakkan kedua sayapnya dan meloncat keluar dari air dan hinggap diatas batu hitam. Setelah itu iapun mengepakkan sayapnya dan terbanglah keudara. Disekitarnya begitu terang dan indah berwarna warni. Bunga bunga yang harum mekar berseri.

Setelah puas melihat lihat sekelilingnya, tempayak yang sudah berubah menjadi seekor capung besar berwarna kuning hijau itu, kembali mendekati air dan hinggap diatas daun teratai. Ia mencoba untuk terjun kedalam air, tapi sayapnya yang kuat dan besar membuatnya tetap terapung apung dan tak mungkin bisa terjun kedasar kolam. Iapun mulai memanggil-manggil saudara saudaranya, tapi tak ada jawaban. Air begitu pekatnya hingga suaranya tak terdengar oleh tempayak tempayak yang masih merangkak rangkak didasar kolam.

Capung muda itu merasa sedih karena tak bisa memenuhi janjinya. Ingin sekali ia memberikan kabar bahwa mereka yang naik keatas dan hilang tak terlihat lagi sebetulnya tidaklah mati.. Sebaliknya diluar air kolam itu telah menunggu kehidupan lainnya yang lebih indah dan lebih sempurna.

(Diceritakan kembali berdasarkan tulisan Walter Dudley Cavert)

Apakah yang terjadi setelah kematian? Bagaikan apa yang dialami capung, apakah kematian itu adalah suatu transformasi untuk memasuki dimensi kehidupan selanjutnya?Kita yang percaya pada Tuhan seharusnya selalu percaya dan siap sedia menanti kedatangan hidup yang baru yang akan tiba setelah kematian menjelang.

Katydids and Crickets – Soothing Sound

1 Comment

The other day I saw a baby katydid on the hibiscus flower. Apparently this green insect lives around the bushes near the gate on the side of the driveway. Last year I saw the big one on the camellia plant which is next to the hibiscus.

Unlike the annoying shrill of cicadas, I love to hear the low soothing sound of katydids and crickets. When the night is dark and still, the repeating noise of these two insects is really calming. It is some sort of white noise that is pleasant to hear. It attributes a certain situation (night time) the same way as the sound wave of the sea or the pitter-patter of the rain drops or the song of frogs on the rainy night.

The soothing sounds of both crickets and katydids have been appreciated by people in China and Japan since the ancient time. Some even keep them at home in cages as pets. They also believe that crickets and katydids bring them closer to nature and good luck.

The picture of the brown cricket was the one that I found in a bucket of water and almost drown. At first I thought it was a locust, but luckily it was just a harmless little cricket.

An old Chinese Poem written by Bey Ju-Yi  (Tang Dynasty):

Listen to the Crickets

 

The Singing crickets chirp throughout the long night,

Tolling in the cloudy autumn with its rain.

Intent on disturbing the gloomy sleepless soul,

The crickets move towards the bed chirp by chirp.

 

 

Green Grocer Cicada

3 Comments

What a weird looking face

Cicada nymph shell

A while ago I found an empty ‘Cicada Nymph’ clinging on a lemon leaf. It was a nice surprise. I noticed lately that cicada season had come again this time since the last time we heard the noise (never remember exactly when). It was louder if the weather was hot, but they were not easy to spot. I was so curious to see what kind of cicadas they were. Many times when they were making noise, I came closer to find them, but I was never able to see them. Until two days ago when I was trimming the Duranta bush, I saw a large green insect. When I looked closely, I realized that it was a cicada. It was a ‘Green Grocer Cicada ( Cyclochila australasiae),  a cicada species commonly found in eastern part of Australia.

It is true that many times in life, you will not find what you are looking for if you are deliberately searching for it. But when you are not looking at all, then suddenly it is there for you to see.

Green Grocer Cicada

Cicada si Gareng-Pung

2 Comments

Barusan aku menemukan pupa cicada yang sudah kosong melekat didaun jeruk lemon. Memang akhir akhir ini terdengar suara cicada yang memekakkan telinga.. Didaerah Jawa, cicada dinamakan Gareng-pung sedang bahasa Sundanya adalah Tonggeret. Aku tak tahu apa bahasa Indonesia-nya.

Menurut info dari Australian Museum, diperkirakan terdapat lebih dari 200 species cicada  di Australia. Cicada Australia yang termasuk dalam keluarga besar Cicadoidea ini hidup sekitar 6 sampai 7 tahun dibawah tanah dalam bentuk pupa (nymph). Sedangkan jenis lain yang berasal dari Amerika Utara bisa hidup dibawah tanah sampai 17 tahun lamanya. Selama hidup dibawah tanah pupa cicada ini bisa dibilang belum dewasa. Masa dewasa yang amat singkat sekitar 2 minggu itu terjadi setelah cicada tersebut keluar dari pupanya dalam bentuk lain yang mirip seperti jengkerik besar lengkap dengan sayapnya.

Dalam waktu hanya beberapa minggu, cicada dewasa harus berhasil menemukan pasangan untuk berkembang biak. Cicada jantan berlomba lomba menyanyi untuk menarik perhatian sang betina. Nyanyian ini yang terdengar melengking menusuk telinga, hanya disuarakan oleh cicada jantan dengan cara menggerakkan selaput (membrane) khusus yang terletak dibawah perut.

 

Cicada betina bertelur dicelah celah atau dibawah kulit dahan pohon dan telur menetas dalam bentuk pupa. Disaat pupa menetas kecil sekali ukurannya dan berjatuhan diatas tanah. Kemudian pupa pupa itu menyembunyikan diri dibalik dedaunan dan semak semak. Setelah cukup besar membuat lubang ditanah dan menghabiskan hampir seluruh masa hidupnya didalam jaluran lubang didalam tanah. Untuk hidup pupa pupa ini akan menghisap sari makanan dari akar akar tanamana didalam tanah. Masa dewasa yang hanya beberapa minggu untuk berkembang biak itu mengakhiri hidup salah satu dari semua mahluk ciptaan Tuhan yang begitu menakjubkan.

Inilah jenis gareng pung yang rupanya hidup disekitar kebun kami. Secara kebetulan saya menemukannya hinggap diatas pohon Duranta warnanya hijau dan disini banyak dikenal dengan nama “Green Grocer’ cicada (Cyclochila australasiae). Besar juga ukurannya sekitar 4 cm dan waktu saya coba menyentuhnya, tiba-tiba melesat terbang. Heran juga bisa terbang secepat itu karena sayapnya terlihat terlalu tipis untuk bisa mengangkat tubuhnya yang gempal padat dengan kepala yang besar.

 

Gareng Pung

Green Grocer Cicada

 

Older Entries