Sekarang ini mulai banyak orang di Australia yang memilih ‘free range eggs’, yaitu telur dari ayam yang dibiarkan bebas berkeliaran di rerumputan. Bahkan sudah banyak negara di Eropa yang tidak memperbolehkan praktek ternak ayam kandang baterai.
Ingat dulu waktu saya masih muda di Indonesia awal tahun 70-an, papa pernah melakukan usaha ternak ayam petelur baterai yang waktu itu merupakan cara baru untuk menghasilkan telur semaksimal mungkin. Ayam-ayam betina waktu itu dikurung didalam kandang individual yang kecil sekali. Jadi kandangnya berupa kotak-kotak kecil berderet dan bertumpuk tiga. Satu ayam didalam satu kotak dengan kepala menghadap pada tempat pakan. Begitu kecilnya kotak ini sehingga ayam yang begitu malang hidupnya itu tidak bisa berputar posisi, apa lagi yang dinamakan berjalan… mungkin ayam-ayam itu lupa sudah bagaimana berjalan dan berlarian mengepakkan sayap.
Waktu itu kandang baterai ini berada didalam bangunan besar dengan penerangan listrik lampu petromaks yang dimalam hari sengaja selalu dinyalakan supaya terang sehingga ayam-ayam itu lupa tidur dan makan terus. Karena makan terus akibatnya ayam-ayam itu juga mampu bertelur terus. Dengan demikian produksi telur akan maksimal.
Setelah bulan-bulan berlalu, ayam-ayam betina yang hidup seperti layaknya mesin penghasil telur itu, bulunya jadi terlihat tipis dan kusam, muka serta jenggernya terlihat pucat. Sendi-sendi kakinya jadi membenjol dan bengkok tidak bisa lurus lagi. Kalau dikeluarkan ayam itu hanya ‘ndeprok’ tidak mampu untuk segera berdiri, apa lagi berjalan. More