Home

Along Victorian Western Shores to Blue Lake

4 Comments

This journey along Princess Highway was from Melbourne to Warrnambool (256.5 km) where we visited Hopkins Falls (Hopkins Falls) and Tower Hill. From Warrnambool, we drove straight to Cape Bridgewater and turned back to visit Cape Nelson as we planned to stay over night in Portland. The next day, the journey continued to Princess Margaret Rose Caves and later to the final destination Blue Lake, Mt. Gambier in South Australia. Later in the afternoon we went back to Melbourne non stop via Glenelg Highway.

Melbourne - Mt. Gambier

More

Wilhelmina Falls 2007

2 Comments

Wilhelmina falls are situated in Murrindindi Scenic Reserve at the northern part of Toolangi State Forest, Victoria.

Hollow Tree

A Hollow Tree – Murrindindi Scenic Reserve, Toolangi State Forest 2007

After the February 2009 bushfire, the recovery and rebuilding of the area are magnificent. There are new campsites, new entrance booth, rebuilding the suspension bridges, public picnic areas and toilet blocks. The forest are green and luscious again after the fire and the nice main tracks are well defined and neat. The wildlife have made the area their home again. More

Natal 2011 – Bagaimana dan Kemana?

2 Comments

Christmas Day Storm Melbourne North and North West Area (Photos from Herald Sun News paper)

Hari Natal tahun 2011 ini dironai oleh banyak musibah dibeberapa daerah sekitar Melbourne. Didaerah selatan dimana kami tinggal hanya terjadi electric storm yang cukup lama tapi tak sampai membuat kerusakan…. hanya petir dan geledek menyambar serta hujan yang tidak terlalu deras. Namun bagi mereka yang tinggal didaerah barat laut dan utara mulai dari daerah Melton sampai sekitar Eltham, mengalami White Christmas, namun bukan salju lembut yang turun tapi hujan es yang cukup besar sampai lebih besar dari bola golf. Bahkan dibeberapa daerah gumpalan esnya segede jeruk lemon. Selain hujan es yang mampu memecahkan kaca mobil, genteng dan atap plastik, juga turun hujan yang deras. Daerah McLeod, Greensborough, Eltham dan sekitarnya banjir melanda. Bahkan dilaporkan terjadi juga tornado mini/angin puting beliung.

Dua kenalan kami yang tinggal didaerah Melton untung sekali karena tidak terjadi kerusakan pada rumah mereka. Namun berita kebakaran rumah chef terkenal Matt Golinski di Sunshine Coast, Queensland cukup mengagetkan. Walau Matt sendiri selamat dengan 40 % tubuh terbakar, isteri dan ketiga putrinya tewas dalam kebakaran itu. Ada kemungkinan lampu hiasan Natal menyebabkan kebakaran rumahnya. Doa kami untuk Matt semoga diberi ketabahan dan cepat sembuh kembali. Saya sering melihat Matt Golinski di tv diacara Master Chefs Australia. Juga untuk mereka yang rumahnya terkena banjir atau rumah dan mobil rusak terkena hujan es, kami mendoakan semoga tabah juga dan tahun depan akan memberikan harapan dan keuntungan baru.

***********——***********

Buah/Biji Clematis aristata liar yang seperti bulu

Seperti rencana, kami pergi juga ke air terjun Agnes/Agnes Falls kemarin Boxing Day (tanggal 26 Desember). Rencananya kami akan pergi kedaerah sekitar South Gippsland dan sekitarnya dengan tujuan utama Agnes Falls. Namun karena cuaca mendung, akhirnya hanya pergi ke Agnes Falls saja. Perjalanan sepanjang South Gippsland Highway menyuguhkan pemandangan bukit bukit dan lembah yang indah. Karena curah hujan cukup tinggi tahun ini, semuanya terlihat hijau dan segar. Banyak domba dan sapi dilepas dipadang rumput dilembah kaki bukit bukit yang saling berhimpitan. Sapi sapi hitam bertotol putih pada berbaring asyik mengunyah rumput. Semuanya serba tenang dan damai didaerah bagian selatan ini, jauh berbeda dengan daerah utara yang masih berbenah setelah banjir dan hujan es melanda daerah itu.

Daerah sekitar Korumburra yang berupa ratusan bukit bukit bundar yang saling berhimpitan itu merupakan daerah pusat gempa. Belum lama, tepatnya tanggal 5 Juli tahun ini terjadi gempa berkekuatan 4.4 SR terjadi dengan epicentre didaerah Korumburra. Kalau melihat begitu banyaknya bukit bukit kecil yang seakan akan saling berhimpitan dan bertindihan itu, tidak mengherankan kalau daerah tersebut terletak diatas fault lines/lempeng lempeng gempa.

Bunga liar warna kuning – Agnes Falls

Setelah Korumburra, perjalanan ke Agnes Falls melewati Meeniyen, Foster, Cypress Grove dan Toora.  Ditepian kota kota kecil itu, deretan toko toko masih sepi dan banyak yang masih tutup diliburan Natal. Semua pemandangan dikiri kanan jalan merupakan tanah tanah pertanian dan peternakan.Dimanapun kami lihat, bukit bukit hijau yang gundul tanpa pepohonan itu melukiskan pemandangan yang begitu nyaman.

Dari Toora, kami mengambil jalan melalui Welshpool di Slade Hill rd dan Hazel Park rd. Agnes Falls adalah air terjun yang tersembunyi ditengah tengah hijaunya bukit dan hutan hutan di Strzelecki Ranges. Air mengalir melalui sungai Agnes yang berliku liku dan kemudian air terjun melalui beberapa undakan lempeng batu dan jurang yang curam. Jalan tapak menuju air terjun sangat mudah dan dekat hanya kira kira 500 m dari tempat parkir. Disekitarnya tempat amat teduh dibawah lindungan pohon pohon Blue Gum, Silver Wattle dan Blackwood. Burung burung kookaburra sering terdengar dengan suaranya yang mengakak seperti orang tertawa. Burung burung blue wren dan fan tail terbang disemak semak melompat dari satu cabang kecabang lainnya.

Disepanjang jalan tapak menuju ke air terjun, beberapa bunga bunga liar sedang berkembang. Salah satu tanaman liar itu memiliki buah/biji yang terlihat aneh sekali karena mempunyai sirip seperti bulu burung yang halus berwarna putih. Ternyata tanaman ini adalah sejenis ‘Clematis’ yang tumbuh liar (Clematis aristata). Bulu tersebut membuat biji itu bisa diterbangkan angin.  Tanaman ini  tampak merambat diakar akar pohon disepanjang tebing.

Agnes Falls – Toora

Agnes Falls kali ini hanya setengah penuh airnya dan ini normal dimusim panas. Dimusim dingin dan semi, sering kapasitas air akan lebih banyak. Pemandangan sekitar air terjun masih terlihat alami sekali didaerah hutan dan jurang yang tidak tersentuh oleh manusia karena memang tidak ada jalan menuju kebawah air terjun itu dan dilarang untuk menuruni tebing. Hanya ada sebuah platform diatas disediakan untuk para pengunjung.

Kami makan siang ditempat piknik didekat parkir dengan membawa bekal makanan dan minuman dari rumah. Langit masih mendung, hanya kadang kadang saja sinar matahari mampu mengintip dari balik awan. Pulangnya kami lewat Silcocks Hill rd. Dari jalanan ini kami bisa melihat tepian pantai Wilson Promontary National Park. Sementara itu turbin turbin angin untuk pembangkit tenaga listrik tampak berputar baling balingnya karena tiupan angin dari pantai Bass Strait. Waktu kami hampir sampai Melbourne hujan rintik rintik mulai turun kembali. Untung kami tidak pergi lebih jauh lagi.

Pemandangan alami sekitar Agnes Falls

Bukit-bukit dan Padang Rumput Hijau – South Gippsland

Kangen Jells Park

Leave a comment

Sudah lama sekali aku tidak jalan jalan di Jells Park. Taman yang seluas 127 hektar ini sebetulnya tidak terlalu jauh dari rumahku didaerah city of Monash. Untuk kesana hanya memakan kira kira 10 menit dengan naik mobil. Sejak Foxy anjing kami tidak ada lagi lebih dari tiga tahun yang lalu, aku tidak jalan jalan lagi kesitu.

Karena kangen, jadi saja hari Sabtu yang lalu kusempatkan untuk pergi ke Jells Park yang cukup terkenal di Melbourne itu. Seperti biasa aku lebih suka masuk via Ferntree Gully Rd. Jarang aku masuk dari Jells Rd. Dipinggir jalan masuk kulihat ada tulisan Farmers’ Market. Wah senang sekali karena aku suka lihat lihat pasar. Baru sekarang aku tahu kalau di Jells Park ada Farmers’ Market. Dulu waktu aku sering kesitu belum ada pasarnya. Ternyata pasar ini bukanya setiap hari Sabtu ketiga, satu kali sebulan.

Aku berhenti ditempat biasa, seperti dulu aku suka parkir mobil. Kebetulan sekali pasarnya persis dilapangan disepanjang tempat parkir tersebut. Sebelum jalan jalan, aku lihat lihat dulu di pasar itu untuk melihat apa saja yang dijual. Tenda tenda terlihat rapi, tidak banyak hanya kira kira 30 tenda. Disitu ada yang jual sayur sayuran dan buah buahan. Juga ada keju, sauce dan dips serta buah dan minyak olives. Tanaman juga dijual disitu. Bau susis panggang memenuhi udara. Aku akhirnya beli buah cherry dan kentang.

Burung Air – Purple Swamphen

Sehabis lihat lihat di Farmers’ Market, aku mulai jalan dan mengambil route mengelilingi telaga. Sebagian jalanan mengelilingi danau ini terletak dibagian Conservation Area yang ada pagarnya. Untuk masuk, harus membuka pintu (gate) dan harus diperhatikan pintu tersebut tertutup rapat kembali. Didaerah ini diperbolehkan untuk naik sepeda, tapi anjing dilarang masuk. Memang banyak orang yang membawa anjing mereka jalan jalan. Didaerah konservasi ini ada tempat untuk melihat burung dan jalanan menembus daerah yang banyak ditumbuhi oleh pohon pohon asli Australia dan rindang.

Didaerah konservasi itu kulihat burung air yang dinamakan Purple Swamphen (Porphyrio porphyrio) yang warnanya ungu kebiruan. Burung ini banyak dijumpai berkeliaran dipinggir perairan seperti misalnya danau atau sungai. Yang jantan memiliki jengger merah dikepalanya dan lebih besar ukurannya dibandingkan yang betina. Burung ini membuat sarang disemak belukar ditepian air. Kalau didekati tidak langsung lari seperti banyak burung lainnya. Jadi seperti bebek, cukup mudah untuk memotretnya.

Selain purple swamphen, juga ada berbagai jenis bebek dan burung bilis ibis/belibis (semacam burung kuntul kecil). Kupu kupu kecil berwarna coklat dan putih serta capung coklat banyak sekali berterbangan. Jalan masuk kedaerah konservasi ini bisa melalui dua pintu. Kalau masuk dari satu pintu bisa berjalan disempanjang danau dan keluar melalui pintu yang satunya lagi. Begitu keluar dari daerah konservasi aku langsung jalan disepanjang padang rumput yang dipotong rapi. Banyak orang orang berjalan atau naik sepeda. Anak anak sibuk memberi makan bebek.

Dari jauh aku melihat pohon buah pir itu masih ada didekat telaga. Kudengar pohon pir ini (hanya satu satunya disitu) adalah peninggalan zaman dahulu waktu orang kulit putih mulai tinggal didaerah itu. Jadi pohon pir yang sudah tua dan sendiri ini  sengaja dibiarkan tumbuh karena memiliki nilai sejarah. Kulihat pohonnya rindang sekali daunnya dan banyak buahnya. Mungkin karena akhir akhir ini banyak hujan.

Air telaga penuh sampai permukaan dan terlihat berombak kecil ditiup angin. Ditelaga ini diperbolehkan orang memancing ditempat tempat tertentu, tapi dilarang untuk berenang. Seperti biasa suasana begitu tenang dan asri.

Pohon Pir di Jells Park

Senang juga aku memutuskan untuk pergi ketaman ini lagi setelah lama aku tidak kesitu. Dulu waktu anakku masih kecil, sering juga aku membawanya jalan jalan dan main ayunan. Jells Park adalah salah satu taman kota yang populer untuk gerak jalan atau piknik dan barbeque. Saat ini dimana hari Natal sudah hampir tiba, kulihat banyak orang orang merayakannya. Ada yang pesta barbeque dan kuduga mereka adalah dari suatu perusahaan yang merayakan Natal dan akhir tahun sebelum liburan panjang tiba. Biasanya ini diadakan oleh perusahaan. Bahkan ada Sinter Klaas sedang membagi bagikan hadiah dikelompok lain.

Dihari hari lainnya, banyak orang yang merayakan hari ulang tahun atau hanya sekedar kumpul kumpul dengan sanak keluarga dan teman diakhir pekan. Fasilitas untuk barbeque disediakan dengan menggunakan gas. Ditempat ini sampah harus dibawa pulang karena memang pihak penglola taman sengaja tidak menyediakan tempat pembuangan sampah untuk mejaga kebersihan dan kerapihan. Juga mereka yang membawa anjing harus menggunakan lead (tali/rantai) dan kotoran anjing harus dipungut. Kalau membuang sampah sembarangan atau membiarkan anjing tanpa kendali serta tak memungut kotorannya bisa kena denda kalau sampai ketahuan oleh park ranger. Park ranger ini sering keliling dengan mobil. 

Belanda…. Negeri Sepeda

Leave a comment

Anak saya baru saja pulang dari Eropa dan cerita tentang sepeda di negeri Belanda membuat saya heran juga. Kebanyakan jalan pikiran orang Belanda itu cukup modern. Betapa tidak, dinegeri itu gay marriage dan marijuana sudah lama dibuat legal. Namun dalam bidang transport, justru sepeda ontel masih disukai dan umum digunakan.

Kalau anda suatu waktu nanti ke Amsterdam, bisa pit-pitan (bahasa Jawa untuk keliling keliling dengan sepeda) disepanjang lorong lorong jalan dan pinggiran kanal. Banyak tempat yang menyewakan ‘fiets’ alias sepeda kayuh, sepeda ontel atau pit seperti orang orang Jawa menamakannya. Jangan merasa gengsi, karena dinegeri kincir angin ini orang masih naik sepeda kemana mana, mulai dari anak sekolah, mahasiswa sampai nenek-nenek serta kakek-kakek umum naik sepeda. Di negeri Belanda diperkirakan terdapat sekitar 18 juta sepeda.

Parkir Sepeda di Tilburg, Nederland

Buat kebanyakan orang di Indonesia ataupun tempat lainnya (kecuali China), pasti merasa malu dan gengsi untuk naik sepeda. Kendaraan dijadikan ukuran kemakmuran dan sepeda dianggap hanya untuk mereka yang miskin sekali. Namun lain lagi buat orang Belanda. Kalau dipikir, orang orang Belanda itu ternyata cukup bijaksana mengenai sepeda. Bayangkan kalau semua orang pilih naik mobil, jalanan akan macet. Dengan mengayuh sepeda, ongkos murah dan tak menggunakan bahan bakar. Polusi udara juga berkurang. Mengayuh sepeda juga menyehatkan badan.

Mungkin karena Nederland adalah negara kecil dan tanahnya datar, jadi mengayuh sepeda adalah hal yang mudah. Dimana mana ada jalur kusus buat mereka yang naik sepeda. Masih umum buat orang orang Belanda untuk menempuh jarak lebih dari 10 km dengan mengendarai sepeda. Herannya sepeda disana itu masih banyak yang model jadul sekali seperti jaman saya naik sepeda ditahun 60-an.

Oh ya, kalau naik sepeda di negeri Belanda, hati hati jangan taroh sepedanya disembarang tempat tanpa dikunci atau digembok karena banyak yang hilang karena dicuri orang. Oh ya, melihat gambar begitu banyaknya sepeda ditempat parkir, kalau saya pasti akan bingung….. mana ya sepeda punyaku??? Ha, ha……

Mobile Clothing Repairer

2 Comments

After leaving Java for more than 25 years, I notice drastic changes to this tropical island that used to be my homeland. It is the most crowded place in Indonesia where people will try anything to make money. In a country where there is hardly or very little social security from the government, making money is always the most popular daily conversation. Whatever people talk about there, it is always associated with money. Either you earn money or you go starving and will not be able to pay bills at all. Micro businesses and trades are growing fast and the variations are incredible.

One thing that has really caught my attention is a clothing repairer. He will patiently push his modified old bike from village to village. Attached to the front part of the push bike is a wooden box where he sets his old black sewing machine. I don’t see him push a pedal to run the sewing machine, so I assume it is run by a large battery. Perhaps it is some kind of car battery?

He repairs broken zippers, missing buttons, torn seams, simple alternations and many other clothing repairs. He charges much less than 10.000 rupiah for each repair. To change a short broken zipper he charges only 5000 rupiah which is around 60 cent Australian dollar. The job is done quickly and pretty neatly while you are waiting.

Well one day, if you travel to Java and have a broken zipper or losing a button or two, it will be handy to have them repaired quickly and neatly with a fraction of cost. Hopefully you are lucky enough to come across this mobile clothing repairer somewhere in the street.

A Trip To Ararat

4 Comments

Sunday was wet with persistant on and off drizzles. The journey along Western Freeway was quick and quiet, but the picturesque scenes around Anthony’s Cutting looked bleak. The hills and the rocky walls  were covered with fine mist. The area around Pykes Creek Reservoir was thickly shrouded by fog.

After driving a little bit over two hours from Melbourne, we arrived at the sleepy city of Ararat. Nestled in between mountain ranges, this neat little town is around 205 km west of Melbourne. It is a fertile grazing land with approximate population of 8200 people.

Our friends Mr and Mrs J. took us for lunch at the local RSL restaurant and the rest of the afternoon was spent in their home for coffee and cakes. The fine on and off drizzles continued, but we had a chance to take few photographs. Mrs. TJ is an Asiatic lily enthusiast, most plants in her back yard garden are Asiatic lilies. We missed the blooming display of beautiful colouful lilies. She said there were more than 500 flowers in late spring and early summer.

It was a nice little drive and it was really good to catch up with old friends. These photos were taken around her backyard garden.

PS. I wish that they could see and read this blog, but unfortunately they are not familiar with computer and don’t have a computer at home.

Older Entries