Resolusi tahun baru 2017 ini adalah rutin jalan pagi. Cukup disekitar rumah saja. Sembari jalan seperti biasa mata ini melihat tanaman apa saja yang orang tanam di halaman depan rumah mereka. Pohon buah yang umum dijumpai di halaman rumah disini adalah pohon apel, pir, plum dan lemon. Ada tiga pohon buah lainnya yang menarik perhatian dan sedang lebat berbuah.

Karena pohon-pohon ini ditanam dekat trotoir, jadi bisa dengan mudah membuat fotonya. Heran juga masih ada orang menanam pohon buah dipinggiran jalan. Anak-anak disekitar rumah kami sekarang kebanyakannya adalah ‘pendatang baru’ dan anehnya mereka seperti tak takut untuk memetik buah atau bunga di kebun orang. Baru kalau ditegur mereka pergi nyelonong (tidak lari) tanpa mengucapkan kata ‘sorry.

Pohon Quince – Cydonia oblonga

quince-fruits

Pohon buah Quince ini milik tetangga sebelah. Saya duga buah ini tidak banyak dikenal di Indonesia. Bentuknya seperti buah pir tapi agak benjol-benjol tak beraturan. Kalau masih muda berwarna hijau kecoklatan dan berbulu halus, tapi kalau sudah matang kulitnya berwarna kuning dan kelihatan lebih halus. Buah ini tidak enak untuk dimakan begitu saja karena sangat asam dan sepat, jadi harus diolah dulu. Kalau buah berubah warna menjadi kuning dan mudah dipetik, pertanda sudah masak. Umumnya diolah dengan merebus di air gula atau dibuat jam (selai). Setelah direbus dengan air gula bisa dibuat untuk pie atau cake. Sebelum diolah buahnya berwarna putih, tapi setelah di rebus berubah menjadi merah delima warnanya. 

Walaupun buah sudah matang, akan tetap keras dan terasa lengket bergetah. Pernah saya diberi buah ini oleh tetangga tsb, dan saya agak kewalahan mengupas dan memotongnya. Setelah di rebus, aromanya khas sekali dan rasanya juga khas. Buah ini terkenal sebagai makanan yang memiliki ‘acquired taste’, jadi tidak semua orang menyukainya.

Pagi-pagi waktu lewat, kebetulan ada sekolompok burung kakak tua putih (Sulphur Crested Cockatoo) sedang memakan buah quince yang masih muda. Mungkin burung-burung ini kekurangan makan di hutan, karena sebelumnya tak pernah melihatnya makan buah ini.

Pohon Ara/Tin – Fig – Ficus carica

Cukup banyak pohon Ara ditanam orang di Melbourne sini. Pohonnya tidak terlalu besar dengan bentuk daun yang menarik cocok untuk ditanam di kebun rumah. Banyak orang tidak memetik buahnya dan dibiarkan untuk dimakan burung. Jenis yang sudah lama banyak ditanam orang adalah yang buahnya tidak terlalu besar dan kurang dihargai. Yang lebih dihargai dan dijual di toko adalah yang buahnya lebih besar, lebih manis rasanya dan tidak terlalu bergetah kulitnya. Saya sendiri kurang suka buah ini dalam bentuk segar, tapi suka sekali yang sudah dibuat manisan/dikeringkan.

Pohon Kesemek – Kledung – Persimmon – Diospyros kaki.

persimmon-3

Agak jauh dari rumah kami ada yang menanam kesemek dipinggir trotoir. Masih muda pohonnya tapi cukup banyak buahnya. Karena saat ini buah belum matang, jadi masih selamat tidak ada yang mencurinya.

Buah kesemek yang bahasa Jawanya adalah Kledung atau Persimmon dalam bahasa Inggris akan masak di musim gugur. Yang banyak dijual di Melbourne sini adalah yang jenis manis, bisa dimakan disaat buah masih mengkal.

Bentuk pohon kesemek ini cantik sekali tidak terlalu besar, mungkin kalau nanti kapan-kapan melihat ada yang menjual bibitnya, saya akan menanamnya juga.

Advertisements