Timbangan

Picture source: Internet. Gambar timbangan seperti yang kami pakai dulu.

Jaman dahulu antara tahun 1955 s/d 1980-an, kalau dipikir cara berdagang orang tua kami itu amat sederhana.. Waktu itu toko kami menjual barang-barang hasil bumi seperti misalnya beras, jagung, kedelai, kacang hijau, kacang tanah, gula, garam, teh dsb. Mama selalu bilang kalau dagang itu harus memperlakukan langganan seperti raja dan jangan main curang.

Mama sedang menimbang telur

Mama sedang menimbang telur

Timbangan Anget:

Harus tak ada main siasat dimana timbangan diganjal bawahnya, jadi timbangannya tidak ‘tetep’ (berat akan berkurang). Langganan kami yang orang desa itu biar sederhana jalan pikirannya, tapi tak bisa dikibuli begitu saja. Mereka bisa membandingkan kalau beli ditempat lain, timbangannya tidak ‘anget’ atau bahkan timbangannya tidak ‘tetep’. Jadi mereka kembali beli di toko kami. Rupanya setelah sampai dirumah, barang yang dibeli itu mereka takar, jadi kalau berkurang akan ketahuan. Ingat dulu kalau saya yang melayani, banyak langganan menggerutu karena cara menimbang saya adem, tidak anget sepert kalau mama sendiri yang melayani. Jadi mama selalu memberi sedikit ekstra supanya timbangannya ‘anget’ dan yang beli senang hatinya.

Yang dulu membuat saya kesal adalah langganan yang misalnya beli 2 kg kacang hijau. Tapi maunya ditimbang 4 kali ½ kiloan. Sering saya menggerutu, karena harus menimbang 4 kali dan membungkusnya 4 kali dengan membuat 4 contong daun jati (belum ada kantong plastik). Saya yang baru berumur sekitar 10 tahun tidak sabar. Kalau mendengar ribut-ribut tentang ini, mama selalu memarahi saya. Terpaksa saya menimbang 4 x ½ kg dan setiap timbangan harus ‘anget’ alias sedikit ekstra. Ya, pembeli harus diperlalukan seperti raja, jadi harus diikuti kemauannya supaya senang dan beli lagi ditoko kami.

Toko kami awal tahun 1980, masih sepi karena baru buka.

Awal 1980

Ngalap Nyaur:

Selain menjual eceran, toko kami dulu juga menyediakan bahan baku untuk pedagang tempe, tahu, kerupuk, cambah tokolan (tauge) dsb. Khusus untuk memenuhi permintaan wirausaha kecil ini, cara pembayaran selalu dengan sistim ‘Ngalap Nyaur’. Dengan sistim ini pembeli mengambil bahan baku tanpa bayar dulu, dan baru dibayar kemudian kalau dagangan sudah laku dan akan mengambil bahan lagi. Harga tetap sama tidak dinaikkan. Untuk ini memang diperlukan sistim saling percaya, kejujuran dan kesetiaaan. Biasanya kami mengenal orang tersebut dan tahu dimana tempat tinggalnya. Kalau ada orang yang tidak kami kenal, tapi orang itu datang bersama seseorang yang kami kenal, maka cara pembelian ngalap nyaur ini akan diberikan. Begitu saja dengan amat sederhana, tanpa perjanjian tertulis, tanpa mencek kartu penduduk karena dijaman itu memang belum ada.

Kalau ada yang lama tidak datang kembali untuk membayar pembelian terdahulu dan mengambil lagi, pasti mama akan menyuruh pegawai kami untuk menagih hutang. Kalau masih tetap tersendat dan ketahuan orang itu beli ditempat lain, dengan terpaksa mama akan menghentikan transaksi dengan cara ini.

Dengan sistim ngalap nyaur kedua belah pihak akan mendapatkan keuntungan. Seseorang bisa memulai wirausaha kecil dengan boleh dibilang tanpa modal karena bahan bisa didapat tanpa bayar dahulu. Sedangkan sipemilik toko akan mendapatkan langganan tetap yang diharapkan selalu setia untuk beli di tempat kami.

Untuk mencatat para pelanggan yang ngalap nyaur ini, tidak ada pembukuan cara modern, apalagi komputer. Semua hanya dicatat didalam buku tulis biasa dengan menyusun nama dengan urut abjad supaya gampang mencarinya.

Beginilah sedikit cerita nostalgia mengenai toko yang dijalankan oleh almarhum orang tua kami. Apakah sekarang dijaman modern ini masih ada orang yang meminta timbangan anget dan membeli dengan ngalap nyaur, saya tidak tahu lagi🙂