Children of biracial families, often have difficulty finding a sense of self and

where they belong in society………………..

Mix Race AustralianSaya adalah seorang ‘Chinese Indonesian’ dan suami saya orang ‘Belanda totok’ yang lahir dan dibesarkan di Nederland tapi sudah lama menetap di Australia. Saya tidak bisa bahasa Belanda dan suami tidak bisa bicara Indonesia, jadi kami berbicara bahasa Inggris.Dengan latar belakang rasial. kultural dan geografikal yang berbeda bagaimanakah kami membesarkan anak kami?

Banyak orang berkata bahwa didalam perkawinan campuran mempunyai peluang besar untuk anak-anaknya sejak dari kecil belajar dua bahasa yaitu bahasa ibu dan ayah. Bahkan seperti kami ada peluang tiga bahasa yaitu Belanda, Indonesia dan Inggris. Namun dari yang saya lihat dari perkawinan campuran di Australia sini, semua anak-anak mereka hanya bisa satu bahasa yaitu Inggris. Hanya anak-anak dari pasangan satu kebangsaan yang pindah ke Australia akan berbicara dua bahasa yaitu bahasa orang tua dan Inggris.

Dulu waktu anak kami masih bayi, pernah ngobrol dengan dokter kami dan kami tanya sebaiknya bahasa apa yang kami ajarkan kepada anak kami nanti. Dengan cepat dokter kami yang berasal dari Singapura itu balik bertanya bahasa apakah yang kami berdua gunakan. Jawabnya adalah bahasa Inggris, dan si dokter bilang itulah jawabannya.

Mengapa bahasa Inggris? Mengapa tidak bahasa Belanda, Indonesia dan Inggris sekali gus? Coba bayangkan si anak yang baru mulai belajar berbicara, betapa bingungnya mendengar si ayah mengajak bicara dengan bahasa Belanda, si ibu mengajarkan bahasa Indonesia, sebaliknya mendengarkan si ayah dan ibu serta orang sekelilingnya pakai bahasa Inggris. Kan kasihan sekali, apa lagi kan tidak semua orang itu membunyai bakat pintar belajar berbagai macam bahasa.

Jadi saja anak kami hanya diajarkan bahasa Inggris. Bagi saya sendiri berdasarkan pengalaman pribadi sebagai orang Chinese peranakan, tidak mau nantinya anak kami mempunyai perasaan kehilangan identitas dan kurangnya memiliki ‘sense of belonging’, dimana sering merasa tidak klop dengan golongan orang sekitarnya.

Benar saja anak kami berbicara dengan logat Bahasa Inggris 100 % Aussie. Banyak yang tidak mengira anak kami memiliki orang tua berbeda kebangsaan. Dengan bahasa Inggrisnya yang Aussie sekali, dengan mudah anak saya merasa memiliki dan dimiliki. Semua teman-temannya adalah Aussie bule.

Setelah mempersiapkan anak dalam segi bahasa, bagaimana kami dulu mengajarkan moralitas? Dari saya anak kami belajar adat ketimuran yang bisa ditrapkan didunia barat. Saya ajarkan supaya anak kami percaya pada Tuhan. Anak kami tidak ikutan berpesta pora, minum-minum dan mabuk-mabukan seperti sebagian orang bule (tidak semua orang Barat itu suka pesta pora dan mabuk-mabukan). Ini mudah diajarkan karena suami saya sendiri juga bukan peminum. Kami ajarkan untuk menghormati orang tua dan mengenal sopan santun dimana hal ini juga banyak dimiliki oleh orang Barat.

Kalau dibidang makanan, sejak dari kecil anak saya sudah terbiasa makan hidangan Indonesia. Jadi menu kami campuran antara menu ala Indonesia (khususnya Jawa), menu Barat dan menu Chinese. Memang anak saya itu agak pemilih kalau soal makan, tidak semudah suami saya. Jadi saja tidak semua makanan dia sukai. Makanan Indonesia asli yang paling disukai adalah kue lemper dan sate kambing bumbu kecap.

Saya tak menyesal mempersiapkan anak kami sedari kecil untuk menjadi orang Australia. Bukan setengah Belanda dan setengah Chinese Indonesia. Sekarang tanpa ragu-ragu anak kami menyebut dirinya: ‘I am an Aussie’ dan dengan bangga mengibarkan. bendera Australia di mobilnya setiap Australia Day (26 Januari)🙂

Wherever I was, I felt somewhat inadequate in terms of the purest expression of culture,” said Soetoro-Ng, a Hawaii-based writer, educator and half sister of President Obama. “I wished I completely belonged somewhere.” – Maya Soetoro-Ng.