Aku ini siapa

Saya dilahirkan di kota Solo dari orang tua etnis Chinese atau yang sering disebut ‘peranakan’. (Termasuknya saya adalah generasi ke 5 sejak kakeknya kakek saya mendarat di desa Kemiri tahun 1810). Kami anak-anak memakai bahasa Indonesia dengan logat Jawa kalau bicara dengan orang tua dan orang tua menggunakan bahasa Jawa ngoko kalau bicara dengan kami (setelah kami dewasa). Kedua orang tua kami seringnya berbahasa jawa ngoko satu sama lain dan sudah tak kenal lagi bahasa Chinese. Jadi saja saya juga tak kenal bahasa Mandarin kecuali ‘Wo ai ni’ dan ‘Wo pu ce tau’🙂 Kami tahunya hanya sedikit perkataan Hokkian untuk menghitung seperti misalnya: It, ji, sa, si…. (1, 2, 3, 4…), go pek, ce jeng, ce tiauw dsb… dan beberapa istilah tertentu. Dulu orang tua memiliki usaha toko hasil bumi  dan banyak berhubungan dengan masyarakat sekitarnya, jadi bisa berbicara bahasa Jawa halus tapi termasuknya hanya ‘krama ndesa’.

Walau dari keluarga papa sudah banyak bercampur dengan darah Jawa asli, tapi hanya yang lelaki saja yang menikah dengan wanita Jawa dimana pihak wanita masuk ke keluarga suaminya. Bahasa Jawa halus tidak digunakan didalam keluarga dan bahasa China juga akhirnya tak dipakai lagi. Hanya bahasa Indonesia ala Jawa Tengahan dan bahasa Jawa ngoko yang banyak digunakan.

Kenyataannya memang mereka yang dari etnis Chinese itu kalau berbicara Bahasa Jawa biasanya hanya bisa yang kasar alias ngoko. Bahasa Jawa itu memang cukup rumit karena ada banyak tingkatannya dan pemakaiannya tergantung bicara dengan siapa. Misalnya anak-anak dan orang muda harus menggunakan bahasa Jawa halus kalau bicara dengan orang yang lebih tua atau yang statusnya lebih tinggi dsb. Jaman dulu senada dengan peninggalan ajaran feudal-nya Belanda, orang Chinese dianggap lebih tinggi kedudukannya dari orang Jawa. Mungkin karena kenyataan inikah kami yang dari etnis Chinese itu dulu merasa tak perlu belajar bahasa Jawa yang halus??

Kalau dipikir saya ini dimanapun dianggap tidak bisa berbicara dengan sempurna baik. Di Jawa tengah saya hanya bisa ngoko, kalau mau mengucapkan kalimat Jawa halus harus ngeden lama dan keluarnya juga salah kaprah. Didaerah Bandung, bahasa Indonesia saya dianggap ‘bledag-bledug’. Kalau mencoba berbahasa Sunda selalu ditertawakan. Sekarang di Australia, bahasa Inggris saya walau sudah dibilang cukup lancar tetap dianggap berlogat sangat asing. Dikalangan etnik Chinese di Australia saya tidak diterima (bukan kalangan mereka) karena tidak bisa bahasa mereka. Jadi mikir saya ini sebenarnya orang apa ya?? Mungkin dari planet Mars, ha, ha….

Tulisan yang menarik sekali tentang Bahasa Jawa:

https://restlessangel.wordpress.com/2007/10/21/bahasa-jawa-bahasa-yang-paling-gak-demokratis/