Gempol & Pleret

Setelah membaca blog-nya RyNaRi tentang nikmatnya es gempol pleret, semalam membayangkan kembali jajanan jaman dulu ditahun 60-an di Solo yang namanya gempol pleret. Dalam ingatan, rasanya tidak terlalu manis, cenderung lebih gurih. Bola-bola gempolnya tidak manis dan sedikit kerasa asinnya, putih warnanya dan teksturnya empuk mempur dan terasa agak berbutir. Pleret-nya coklat gula jawa, agak manis dan kenyal yang begitu kontras dengan gempolnya. Dulu gempol itu selalu putih tidak diwarnai dan pleretnya kecoklatan karena gula jawa. Santannya juga putih tidak diwarnai. Juga dulu tidak disajikan dengan es.

Ingat waktu itu pernah tanya kepada ‘Mbok’ yang jualan (mbok = panggilan bahasa Jawa ndeso untuk ibu) dari apa gempol itu dan jawabnya: “Nggih niku didamel saking beras menir alus.” Tapi tak tanya selanjutnya bagaimana proses membuatnya. Terus semalam ingat dulu nenek kami suka membuat makanan kecil yang disebut meniran. Dari sinilah saya berpikir proses pembuatan gempol itu pasti tak jauh berbeda dengan membuat meniran. Yaitu beras menir yang halus (sehalus gula pasir) yang diaron dengan santan encer dan diberi garam dan pandan. Kalau meniran dibungkus dengan daun pisang, gempol dibentuk bola bola kecil sebesar kelereng.

Pleretnya? Baca-baca resep di internet, pleret itu dibuat dari tepung beras/ketan, gula Jawa dan dicairkan dengan air/santan. Terus dicetak diatas daun tipis-tipis (disini saya pakai aluminium foil).   Seingat saya bentuknya agak bergulung/mlintir seakan diplirit.

Jadi tadi pagi saya memberanikan diri untuk membuat gempol pleret karena semua bahan ada. Kalau di Jawa mungkin gampang bisa beli saja, tapi di Melbourne sini ya harus membuatnya sendiri.

Catatan: Kalau tak bisa membeli beras menir, bisa dibuat sendiri:

Membuat Beras Menir:

Beras diblender sampai membentuk butiran halus seperti gula pasir tanpa dicuci dan direndam dulu. Saya tidak mau menirnya terlalu hancur dan bertepung. Setelah diblender dan mulai hancur, ayak/ saring dengan ayakan yang agak kasar. Yang tidak tersaring, blender kembali kemudian ayak lagi dan selanjutnya sampai selesai.

Gempol

  • 1 cup Beras Menir (beras hancur) yang halus butirannya seperti gula pasir.
  • Kurleb 1 cup Santan Encer (tergantung jenis berasnya).
  • Garam secukupnya (rasa gempol agak terasa asinnya).
  • 1 lembar Daun Pandan

Cara membuat:

  • Cuci menir, tiriskan.
  • Rebus santan encer, garam dan daun pandan.
  • Setelah mendidih masukkan menir dan aroni sampai menir menggumpal dan membentuk aronan yang bisa dipulung. Test butirannya, kalau sudah agak empuk matikan api. Kalau kelihatannya butirannya masih keras, tambah sedikit air tapi jangan sampai aronan kelembekan. Aronan ini akan lengket menggumpal (tidak buyar).
  • Kalau sudah tidak terlalu panas bentuk bulat-bulat sebesar kelereng sambil dipadatkan. Kalau lengket sekali, basahi tangan.
  • Kukus bola-bola gempol ini hingga masak. Catatan: Alasi kukusan dengan daun atau aluminium foil yang dipolesi dengan sedikit minyak supaya tak melekat.
Gempol siap di kukus

Gempol siap di kukus

Pleret:

  • 1/2 cup Tepung Beras
  • 1 sendok makan Tepung Ketan (supaya lebih kenyal).
  • Gula Jawa secukupnya, parut/serut supaya cepat larut.
  • Santan encer secukupnya (adonan sedikit lebih cair dari adonan untuk pisang goreng). Saya tak bisa memberikan takaran karena hasil yang saya buat belum memuaskan/agak ketebalan.
  • Sedikit minyak untuk mengoles.

Cara membuat:

  • Hangatkan santan dan gula.
  • Tuang santan hangat ketepung dan aduk hingga rata.
  • Didalam kukusan yang sudah mendidih airnya, taroh selembar daun pisang atau aluminium foil yang sudah diolesi dengan minyak.
  • Tuang adonan pleret tipis diatas daun/foil didalam dandang.
  • Kukus hingga matang.

Catatan: untuk membuat pleret ini lebih baik dicoba mengukusnya sedikit dahulu (percobaan) untuk mengetahui apakah tidak ketebalan dan juga tidak kelembekan. Yang barusan saya bikin tidak pakai tepung ketan jadi kurang lentur dan adonan agak kekentalan. Kapan-kapan saya coba lagi dengan campuran tepung ketan.

Kuah Santan:

  • Santan agak encer secukupnya, rebus dengan daun pandan. Saya suka tak pakai gula dan hanya diberi sedikit garam. Kalau mau manis bisa dicampur gula.
  • Hidangkan gempol dan pleret dengan disiram kuah santan. Bisa dihidangkan hangat atau dingin.

Mungkin resep ini tidak memberikan rasa 100 % seperti aslinya dulu, tapi cukup enak juga dan gampang membuatnya. Lain kali kalau membuat lagi mungkin saya akan mencoba bikin pleret-nya dengan tepung hunkwee dan gula jawa seperti membuat kue hunkwee, tapi dicetak tipis dengan cara dipoleskan. Sepertinya akan lebih kenyal.

Untuk tombo kangen, enak juga si gempol pleret ini dan saya memakannya panas-panas karena udara masih dingin :)

.Si Gempol Pleret

Bola=bola Gempol
2-10-2014: Pleret Hunkwee

Barusan membuat gempol pleret lagi, tapi pleretnya dicoba memakai tepung hunkwee. Hunkwee bisa juga dibuat seperti pleret. Ikuti takaran  dan cara memasak tepung hunkwee. Pakai santan encer/atau air biasa dan gula Jawa (dikurangi manisnya) serta daun pandan. Setelah hunkwee matang, panas-panas taroh diatas piring dan ratakan/poleskan tipis-tipis. Dinginkan sebelum ditarik lepas. Walau tekstur-nya agak berbeda tapi rasanya okey juga. Idea membuat pleret dengan tepung hunkwee ini timbul karena kenangan dulu waktu masih kecil, kalau mama membuat kue hunkwee, saya senang memakan adonan hunkwee yang tersisa didasar panci. Senang sekali melepasnya dengan jalan menarik dan hasilnya adalah lembaran hunkwee yang lebar dan tipis.

Pleret Hunkwee

Pleret Hunkwee

Gempol dengan Pleret Hunkwee

Gempol dengan Pleret Hunkwee