Waktu menginap di Hotel Asia di Solo (sekarang bernama Orange Hotel), kakak mengajakku melihat keluar jendela kamar hotel. Karena kamar kami ditingkat atas jadi bisa terlihat jelas pemandangan sekitarnya. Kakak bilang bahwa diseberang kali kecil itu dulu adalah rumah tante. Hotel ini dulu adalah tempatnya bah Willem yang jual susu perah. Sulit juga membayangkannya sekarang karena sudah menjadi lain sekali.

Tempat Tante:

Halaman belakang rumah tante, sebelah kiri ada kali kecil (tak kelihatan).

Halaman belakang rumah tante awal tahun 1980-an, sebelah kiri ada kali kecil (tak kelihatan).

Setelah lebih dari 30 tahun meninggalkan tanah air, memang banyak tempat-tempat yang tak kukenali lagi. Jadi saja kenangan dijaman dulu kembali terbayang. Dulu diawal tahun 60-an waktu kost ditempatnya tante didaerah Mesen/Jebres, Solo, tepatnya dijalan Urip Sumoharjo. Rumah kedua dari ujung perempatan jalan kearah jalan Monginsidi dan Kandang Sapi. Waktu itu tanteku itu terima jahitan dan buka sekolah menjahit ‘Analisa’ diruang depan rumahnya yang lebar dan banyak meja, kursi serti mesin jahit. Dulu pernah musim tinggi alias kutu busuk, semua kursi yang untuk les jahit itu yang jok-nya dari rotan penuh dengan kutu yang menjijikkan itu. Saking banyaknya kutu jadi sampai emblek-emblekan…. jadi saja disemprot DDT… tidak hanya tempat untuk les tapi semua kursi lain dirumah dan juga ranjang dan kasur harus disemprot. Catatan: Sekarang DDT sudah dilarang dipakai karena bahan kimia ini ternyata bahaya untuk kesehatan. Wah, waktu itu berhari-hari berapa banyak kita menghirupnya.

Dulu sudut depan halaman depan rumah tanteku itu tumbuh pohon Flamboyant dan dibawahnya ada kios tukang sepatunya Pak Karto dan sebelahnya lagi mbok Karto jualan es. Segala macam repair sepatu dikerjakan oleh pak Karto. Setiap hari kalau keluar rumah aku bisa mencium wanginya sirop es dan juga terdengar suara es batu yang sedang di hancurkan dengan cara digeruskan diatas pisau (seperti memasah kayu). Kalau tante perlu es batu bisa ‘nempil ‘ditempat esnya mbok Karto tersebut, walaupun sebenarnya tidak jual es batu. Esnya yang dijual macam-macam ada es santan, es janggelan, es kolang kaling, es kelapa muda, es dawet dsb.

Susu Segar:

Balik kecerita tentang susu perahnya bah Willem. Dari kebun belakang rumah tante ada kali kecil dan diseberang kali itu adalah tempatnya bah Willem itu, jadi termasuk di jalan Monginsidi. Sering juga aku disuruh beli susu full-cream segar. Dengan dibekali uang dan wadah/panci aku jalan memutar pengkolan, padahal halaman belakang tante itu berapitan dengan tempat yang jual susu itu, tapi kan ada kalinya (juga ada pagarnya)? Rumah bah Willem itu halaman depannya luas dan indah banyak tanaman. Kalau mau beli susu harus jalan kesamping rumah yang sejajar dengan kali kecil itu. Dibagian belakang sisi rumah ada jendela yang dibuat semacam loket. Didepan jendela ada undakan, jadi kalau aku mau beli susu harus naik diundakan itu dan ngetuk loketnya. Setelah dibuka, uang dan panci kusodorkan yang kemudian diisi dengan susu super segar baru diperah. Walau beberapa sapi perahan dipelihara disitu juga, tempatnya bersih sekali dan tak bau. Malah yang bau adalah kali kecil itu yang sebetulnya sering mirip parit yang airnya hitam karena tidak mengalir. Makanya banyak tanaman lidah mertua (sanseviera) ditanam disepanjang pinggiran kali itu untuk mengurangi pencemaran.

Dijaman dulu orang tidak punya almari es, jadi kalau beli susu segar harus segera dididihkan. Waktu merebus susu tsb harus sering diaduk supaya tidak meluap dan tidak ‘nglangit’ (keluar lapisan lemak dipermukaan susu). Waktu itu belum ada caranya sistim pasteurisasi seperti sekarang. Kalau sorenya susu tidak habis supaya tidak asam harus dididihkan lagi.

Es Grim Tentrem:

Tak jauh dari tempat tante di Jln. Urip Sumoharjo kearah Selatan menuju Pasar Besar ada pabrik es krim yang juga membuka restoran bernama Es Krim Tentrem yang berdiri sejak tahun 1952. Dulu kami tidak bilang es krim tapi bilangnya ‘es grim’ (logat dalam bahasa Jawa). Sampai sekarang rupanya es krim yang cukup terkenal  ini masih ada. Kalau pas jajan disitu pilihanku selalu Tuti Frutti. Aduh enak sekali es krimnya dan setiap kali juga selalu dihidangkan air dingin dari kulkas. Jaman dahulu air dingin adalah luxury karena orang belum punya kulkas. Pernah aku mencoba beli es krim coklat disitu untuk dibawa pulang kerumah orang tuaku yang letaknya 19 km diluar kota Solo. Es krimnya ditempatkan didalam termos besar, tapi tetap saja, setelah sampai dirumah es krim sudah mulai meleleh jadi harus cepat dimakan dan dihabiskan. Tidak seperti es krim lagi tapi jadi seperti smoothie:) Es krim tentrem ini kelebihannya jika dibandingkan dengan es krim lain adalah sajian-nya yang lebih eksotis. Aku tak ingat lagi menu es krim apa lagi karena kalau jajan disitu pilihanku hanya satu yaitu tuti frutti (es krim buah-buahan).

Roti Kadet:

Tak jauh dari es krim Tentrem ada toko roti Orion yang sampai sekarang masih menjadi salah satu trade-marknya kota Solo. Jaman dulu waktu aku masih kecil, mama atau papa kalau ke Solo pasti beli roti tawar dan roti kadet ditoko legendaris ini. Roti tawarnya enak karena empuk  dan natural tidak kepes-kepes seperti kapas karena memakai obat pelembut seperti roti modern sekarang. Yang paling kusukai adalah roti kadet yang dulu kunamai roti ‘bokong’ (pantat) karena bentuknya memang begitu. Roti ini termasuk roll yang bentuknya ‘mlenuk’ dan ada lekukan ditengahnya. Rasanya asin dan gurih, teksturnya lebih liat jika dibandingkan dengan roti tawar dan atasnya keputih-putihan karena sebelum  dipanggang ditaburi tepung. Walau roti kadet ini sejenis roti tawar juga, tapi cukup enak dimakan begitu saja. Kalau roti tawar biasanya oleh kami dipoles margarine dan ditaburi gula pasir.

Walau di Orion ini juga jual macam-macam cake dan bolu, mama jarang sekali beli karena lebih suka bikin sendiri. Jadi yang dibeli hanya jenis roti saja. Selain roti kadet yang dulu aku sukai adalah roti buah dan susis brood-nya.

 —————***—————

Kenangan lain waktu tinggal di Mesen/Jebres, Solo waktu itu adalah wanginya bunga melati gambir yang diangkut becak untuk dibawa kepabrik teh tak jauh dari tempatnya bah Willem. Rupanya bunga melati gambir itu diangkut dengan kereta api dan baru saja tiba di setasiun Ledok Sari yang letaknya dekat sekali dengan rumah tante. Jadi kalau ada becak mengangkut bunga melati gambir untuk campuran pewangi teh lewat (sebecak penuh), bau-nya yang semerbak bisa tercium dari dalam rumah. Aku tak pernah tahu merek apa pabrik teh itu. Yang aku tahu waktu itu ditahun 60-an teh yang dijual ditoko orang tuaku adalah merek Jenggot (Brewok), Kentongan, Gerdu dan 999.

Persis dipengkolan perapatan disebelah rumah tanteku itu adalah tempatnya Pak Mitro yang jual daging sapi. Tempatnya pak Mitro ini luas dan satu sisi halamannya penuh dengan tanaman Bougenville yang selalu berbunga dan terlihat cantik dan semarak mengundang mata. Dibagian depan rumah yang untuk jual daging sapi ada jendela kaca yang lebar dan dari luar terlihat daging sapi yang digantung-gantung.

Oh ya, dulu ada pabrik dan toko mie basah di Mesen tak jauh dari tempat kami yang juga tak jauh dari es krim Tentrem dan Toko roti Orion. Mie telur-nya enak sekali dan dulu mama kalau mau masak mie pasti beli disitu. Kalau mama tak lihat, sering aku menarik segenggam mie basah itu dan langsung masuk mulut. Enak rasanya gurih sekali dan kalau mama lihat pasti bilang supaya jangan rakus dan harus tunggu sampai mie dimasak dulu.

Beberapa kali aku ke Solo tapi banyak sekali tempat yang sudah tak kukenal lagi. Sepanjang jalan Jendral Urip Sumoharjo itu sudah dilebarkan dan bangunan disisi jalan tidak memiliki halaman luas seperti dulu. Banyak juga bangunan baru….. jadi wajah daerah Mesen itu sudah tidak sama dengan ingatanku dijaman dulu. Banyak nama-nama jalanan juga sudah diganti tidak sama seperti dahulu. Yang aku herankan, Pasar Besar (Pasar Gedhe) masih tetap seperti dulu malah sekarang lebih bersih dan ceria.

Tulisan tentang Pasar Besar di Solo ada disini:

https://kiyanti2008.wordpress.com/2009/09/11/nostalgia-pasar-gede-di-solo/