Plantain Banana

Plantain Banana

Pergi ke Parkmore Shopping Centre hari Sabtu yang lalu dan lihat pisang yang besar-bessuarrrrr. Jadi ingat dan ngiler sama pisang tanduk di Indonesia dulu. Kupikir pisang ini pasti akan manis dan legit seperti pisang tanduk atau yang di Jawa kalau tak salah dinamakan gedang byar. Jadi saja beli dua biji yang sekilonya Aud $ 4.99. Oh ya, pisang ini namanya adalah ‘Plantain’ banana. Sebenarnya istilah plaintain ini adalah untuk semua jenis pisang yang harus dimasak dulu sebelum dimakan. Di Indonesia banyak sekali jenis pisang yang harus diolah dulu sebelum dimakan. Semuanya enak dan manis rasanya. Wah enak dan manis….. ini yang terbayang dipikiran. Pisang plantain ini juga jumbo ukurannya tapi bentuknya lebih gemuk jika dibandingkan dengan gedang byar atau pisang tanduk. Waktu mambayar pisang itu aku tanya pada kasir yang gadis Vietnam, bagaimana rasa pisang ini. Gadis manis itu hanya bilang tak yakin akan rasanya tapi tahu bahwa pisang itu harus dimasak dulu sebelum dimakan.

Waktu baru saja dibeli, pisang ini kelihatan masih keras dan hijau warna kulitnya. Jadi kutunggu supaya masak dulu. Pagi tadi satu dari  dua pisang itu  kulitnya mulai menghitam tapi kalau dipencet masih keras…. heran juga koq kelihatannya bantat tak mau matang????? Anyway…… satu pisang yang kulitnya sudah menghitam itu kupotong tiga dan dikukus maksudnya untuk sarapan pagi. Dalamnya berwarna kuning yang semakin memperkuat bayangan begitu manis dan legitnya sigedang byar dulu….. Tak sabar untuk mencicipinya.

Akhirnya…… matang sudah pisangnya. Aneh juga karena kulitnya tipis sekali dan pisang plantain rebus ini masih tetap keras dan padat walau sudah direbus matang. Setelah dikupas, kupotong-potong dengan pisau karena masih agak panas dan dengan cepat sepotong masuk kemulut. Mulutpun berhenti mengunyah dan kaget juga dengan rasa si plantain ini.  Kaget sekali!!! Pisang koq rasanya persis seperti kentang. Ya, plaintain rebus ini persis seperti kentang rebus. Sama sekali tak manis dan ada rasa langu-nya seperti kentang. Kecewa juga karena rasa rindu pada pisang tanduk/byar yang begitu manis itu tak terobati. Rasanya masih shock juga merasakan pisang yang rasanya seperti itu.

Kucari informasi di Google, ternyata ada jenis pisang plantain yang berasal dari Afrika barat dan daerah Karibia yang rasanya bertepung dan tidak manis. Penduduk daerah itu memasak pisang ini seperti layaknya kentang, bukan untuk hidangan yang manis-manis. Kapok….. tidak akan beli lagi!!! Masih ada satu lagi pisang plantain-nya…. akan kusimpan lebih lama sampai kulitnya hitam sekali, mungkin bisa jadi manis rasanya. Entah buat apa, mungkin digoreng ditepungi…. siapa tahu rasanya akan seperti limpang-limpung (yang masih enak kan ubinya manis???). Atau mungkin digarami dengan bawang putih dan digoreng…. mungkin jadi seperti blanggreng…………….(singkong goreng).

Pisang Platain setelah dikukus.

Pisang Plantain setelah dikukus.

Catatan 14/3: Suami bilang rasanya seperti kentang rebus yang kurang mateng. Habis memang teksturnya keras dan tak selembut kentang. Yuck…. katanya. Karena sayang untuk dibuang jadi kucoba dimakan dengan keju (seperti mbak Elsa anjurkan…. not too bad, tapi saya sudah bosan keju.

Pisang plantain satunya saya kupas, dipotong-potong dan di kukus bersama kelapa parut. Setelah matang saya beri gula pasir dan sedikit garam terus di-bejeg (ditumbuk). Setelah halus dibungkus dengan foil dan tunggu hingga dingin sebelum dipotong. Jadilah getuk pisang yang mengingatkan dulu kalau beli bermacam-macam getuk di pasar Besar, Solo. Enak juga jadinya. Rasanya? Paduan antara singkong, ubi/ketela dan pisang.

Getuk Pisang Plantain

Getuk Pisang Plantain