Tadi pagi tiba tiba aku ingat jenang grendul atau yang juga disebut bubur candil. Kebetulan masih punya banyak tepung ketan. Sebetulnya tepungnya lebih enak yang barusan ditumbuk, tapi disini aku tak punya lumpang. Jadi tepung yang dari toko jadilah.

Memang sudah lama juga aku tak bikin jenang grendul ini, jadi tadi pagi bikin biar hawa panas. Makannya enakan kalau sudah dingin dimusim panas seperti sekarang. Sebetulnya sudah tidak musim panas lagi, Maret adalah bulan pertama musim gugur, namum udara disiang hari masih panasnya bukan main, lebih dari 30 derajat C. Kalau aku bikin jenang grendul tak pakai ukuran, jadi jangan tanya resepnya yang pasti. Semuanya dikira kira saja.

Bahannya adalah:

  • Tepung ketan
  • Gula merah
  • Air
  • Tepung beras untuk mengentalkan
  • Daun pandan
  • Santan
  • Garam

Tergantung berapa banyak bikinnnya, kalau aku bikin kira kira 1 liter air direbus bersama gula merah secukupnya dan daun pandan. Sementara itu diwadah lain campur tepung ketan, sedikit garam dengan air hangat sampai terbentuk adonan agak lembek yang bisa dipulung. Jangan terlalu  padat karena nanti bola-bola grendulnya akan keras. Bentuk bulat-bulat sebesar kelereng dan masukkan kedalam air gula yang sudah mendidih. Kalau bola-bola sudah mengambang/mengapung, cairkan tepung beras secukupnya dengan air. Angkat jenang dari api dan masukkan tepung beras yang sudah dicairkan. Aduk terus.  Jangan langsung semua, lihat barang kali kekentalannya sudah cukup. Setelah jenang mengental, taroh kembali keapi dan terus diaduk supaya tak gosong.  Rasakan apa udah cukup manisnya. Setelah mendidih dan rata, angkat. Sewaktu masak jenang grendul ini sebaiknya jangan terlalu kental, karena nanti kalau dingin akan menjadi lebih kental dibandingkan sewaktu masih panas.

Rebus santan yang agak kental secukupnya dengan diberi daun pandan dan garam. Hidangkan jenang grendul dengan disiram santan diatasnya.

Jenang Grendul

______________***_____________

Kalau dipikir lidah timur dan barat itu memang tidak selalu sama. Banyak orang-orang bule yang kukenal tidak suka makanan yang kenyal dan lengket. Contohnya ya seperti jenang grendul ini. Suamiku yang orang bule tidak begitu doyan dan anakku tak mau menyentuh. Buat kita, yang disebut ‘meat balls’ alias bola-bola daging yang salah satunya adalah bakso nan kenyal; semakin kenyal buat lidah kita lebih enak. Lain dengan lidahnya orang bule, meat balls yang enak untuk ukuran mereka adalah yang empuk dan juicy. Untungnya suamiku kalau yang namanya bakso doyan juga, namun anakku tak mau menyentuh. Bodoh betul!!

Juga kalau memasak daging, ikan dan telur. Kalau aku sih daging sukanya yang dimasak lama dan empuk. Ikan goreng harus digoreng garing jadi kurang amisnya. Telur mata sapi ya kuningnya kalau masih meler aku bisa muntah. Namun kesukaan orang bule bertolak belakang. Banyak daging (sapi atau domba), terutama steak dan yang dipanggang harus setengah matang. Jadi kalau diiris tengahnya masih harus masih kemerahan. Telur rebus atau mata sapi harus masih meler kuningnya. Bahkan ikan seperti misalnya salmon masih harus pink juga tengahnya.

Sering aku nonton acara perlombaan masak seperti misalnya ‘My Kitchen Rules’, semua masakan harus berstandar internasional, jadi ya itu kalau masak daging steak atau daging panggang masih harus ‘medium rare’, jadi tengahnya masih harus berwarna pink kemerahan. Telur rebus dan mata sapi harus masih mengalir kuningnya. Ikan juga harus setengah matang. Daging bebek-pun masaknya juga masih harus pink tengahnya. Menurutku, kalau belum matang betul itu ya rasanya amis dan anyir………Tapi untuk menang dalam perlombaan memasaknya harus dengan cara mereka yaitu harus memenuhi standar internasional !! ????😦