Rasanya bosan kalau telur lagi lagi didadar. Bahasa kerennya telur dadar itu adalah omelette. Kalau bikin omelette aku seringnya pakai bawang bombay, bawang daun atau kalau pas ada, juga bisa diberi daging cincang, daging asap atau corned beef. Kemarin ini aku jadi ingat martabak telur. Jadi…. karena bosan dengan omelette jadinya aku bikin martabak. Heran dengan membungkus telur itu dengan kulit lumpia,  bisa 100% berubah cita rasanya. Padahal telurnya sama kalau aku bikin dadar yaitu dengan bawang bombay dan bawang daun. Karena tak ada daging jadi tak pakai. Enak juga, karena memang sudah lama tak makan martabak.

Mengenang martabak, dizaman dulu kami hanya beli martabak kalau pas pergi ke pasar malam. Waktu itu, kalau ada pasar malam warga kota Solo bisa melihat sokle disaat malam hari tiba. Sokle adalah lampu sorot yang memutari kota, jadi bisa dilihat dari segala jurusan. Waktu itu lampu listrik tidak seterang zaman sekarang, jadi sorotan sokle ini terlihat jelas dan terang sekali.

Rasanya waktu itu ditahun 60-an didaerah Solo, martabak tidak dijual dihari-hari biasa. Kalau pas ada pasar malam, banyak sekali tukang martabak menjajakan dagangannya. Ditenda atau gerobaknya selalu tertulis bahwa martabaknya adalah martabak asli Malabar. Karena Malabar adalah didaerah Kerala di-India, jadi asal martabak telur yang dijual di Indonesia itu pasti dari India. Dahulu memang di Solo tak ada martabak manis. Aku baru mengenal martabak manis setelah tinggal di Bandung ditahun 70-an. Waktu itu kalau beli martabak telur,  kita bisa pilih telurnya bebek atau ayam. Kami selalu memilih telur ayam karena telur bebek amis/anyir baunya.

Yang terakhir kali aku pergi ke pasar malam di Solo adalah diawal tahun 70-an, rasanya aku sudah tinggal di Bandung dan pas pulang liburan kebetulan ada pasar malam di Solo. Jadi saja waktu itu kami bawa adik adik kami dan dua saudara sepupu yang juga masih kecil pergi nonton pasar malam. Aku tak ingat apakah pasar malam ini diadakan disaat perayaan Sekaten.  Pasar malam waktu itu selalu diadakan di Sriwedari. Selain martabak telur juga banyak dijual jajanan spesial lainnya seperti kue dollar yang bundar bundar tipis dan renyah serta manis rasanya. Berondong jagung yang digulain warna warni (bukan popcorn) dan juga American donut. Kue putu yang dicetak dengan bumbung bambu dan dalamnya ada gula Jawa-nya juga ada. Sate ayam atau sate kambing juga ada. Macam macam nasi soto, ada soto Kudus, soto Madura, rawon dsb. Ada juga yang jual nasi goreng, mie goreng atau rebus. Rasanya diwaktu itu 40 – 50 tahun yang lalu, mie bakso masih belum umum dijual dijalanan seperti sekarang.

Selain makanan, banyak juga barang barang lain yang dijual. Macam macam topeng dari kertas (paper mache) dan celengan dari tanah. Celengan adalah tempat untuk menyimpan uang recehan yang amat disukai anak anak. Apalagi kalau bentuknya macam macam, ada yang bentuknya harimau, kuda, sapi, kambing dsb. Rasanya waktu itu ditahun 60-an dan awal tahun 70-an belum banyak barang barang plastik, jadi mainan biasanya dibuat dari tanah, kayu, bambu atau kaleng.

Sumber Gambar: Wikipedia

Salah satu alat bermain yang dijual dari kayu adalah dakon atau yang juga disebut dengan nama congkak. Dakon atau congkak dibuat dari kayu yang dilubangi. Seringnya berlubang tujuh atau sembilan dikedua sisinya dan dikedua ujungnya ada masing masing satu lubang yang lebih besar yang berfungsi sebagai lumbung. Ingat dulu kalau sudah bermain dakon ini jadi lupa waktu.

Mainan lain yang populer dijual di pasar malam adalah gasing atau yang bahasa jawanya gangsingan. Gasing ini ada yang dibuat dari kayu yang diukir atau dari bambu. Macam macam balon warna warni juga selalu disukai oleh anak anak kecil.

Atraksi dipasar malam waktu itu yang terkenal adalah permainan sulap dan pertunjukan tong setan. Tong setan adalah bangunan tinggi dari kayu. Dindingnya melingkar, jadi bangunan ini menyerupai tong yang besar. Kita penonton berdiri diatas, ditepian luar dinding dan melihat kedalam tong setan tsb. Waktu pertunjukan mulai, terdengan suara sepeda motor yang menderu deru dan pengendara sepeda motor itu mula-mula berputar-putar didasar tong dan kemudian sepeda motor mengelilingi dinding. Seram juga, karena suaranya yang keras dan juga dinding tong terasa bergetar. Apalagi setelah kemudian dua pengendara memutari dinding.

Untuk anak kecil yang paling disukai adalah dreimollen dengan kuda kudanya yang berputar naik turun. Kalau sudah capai keliling, kami suka beli es krim dan sebelum pulang untuk oleh oleh kami beli martabak telur.

Sejak yang terakhir pergi ke pasar malam diawal tahun 70-an itu, aku belum pernah lagi nonton pasar malam di Indonesia. Entah sekarang apa masih ada pertunjukan dan makanan yang sama seperti dulu.