Front Yard Clothesline

Sering kali kalau kami lewat didepan rumah ini, pakaian yang dijemur melambai lambai mengucapkan selamat datang. Jemuran ini tidak di samping rumah atau dihalaman belakang, tapi didepan. Mungkin kalau ditempat lain seperti misalnya daerah slum di India, pemandangan ini sudah lumrah. Tapi di Melbourne Australia??

Lepas dari kenyataan bahwa ini kami lihat disebuah daerah suburb diluar kota Melbourne, menurut penilaian saya, dimanapun kalau menjemur pakaian didepan rumah, apa lagi disepanjang jalan masuk kepintu itu memalukan dan tak sedap dipandang. Atau dalam bahasa Jawa orang bilang ‘ora memper’.

Dulu lebih dari dua puluh lima tahun yang lalu, waktu saya belum lama datang di negeri Kangguru ini, tidak banyak orang pendatang baru. Lambat laun datang immigran dari Vietnam, Kamboja dan akhir akhir ini dari India, Pakistan, Afganistan dan negeri lain di Timur Tengah. Jadi saya sudah lama hidup disini dan melihat banyak perubahan penduduknya. Selain banyaknya makanan eksotik dari luar yang bisa dibeli disini, penduduk pendatang itu juga membawa kebiasan hidup mereka ditempat asal. Salah satu kenyataan yang tak bisa dipungkiri, semakin banyak pendatang baru bermukin disuatu tempat, semakin kotor tempat itu. Ini rupanya tidak hanya terjadi di Melbourne atau di Australia saja, tapi juga di negara maju lainnya di Eropa dan Amerika. Kita kita orang Asia dan benua lain yang belum maju itu suka seenaknya membuang sampah dimana mana. Kurang memperhatikan kerapihan dan keindahan lingkungan hidup.

Lihat saja gambar diatas. Rumah sewaan itu dihuni pendatang baru (immigran dari luar Australia). Dulu rumah itu cukup rapi, tapi sekarang berubah menjadi tempat yang tak sedap dipandang. Pakaian dijemur didepan rumah, bahkan kadang kadang kalau kurang tempat, mereka jemur di atas tanaman bunga mawar. Bayangkan tanaman kerudungan pakaian. Ha….Akibatnya tanaman mawar itu yang dulu tumbuh subur, tinggal dua yang masih hidup dan berbunga. Jangan dikira tak ada tempat lain untuk menjemur pakaian, karena sebenarnya mereka bisa menjemur pakaian di belakang atau disamping rumah. Rumput dihalaman dipenuhi oleh weed (tanaman liar). Kadang kadang jemuran pakaian juga disampirkan diatas kotak sampah. Lihat digambar diatas, tiga tempat sampah (satu untuk sampah dapur, satu untuk sampah kebun dan satu untuk sampah recycle) ditaroh sekenanya dihalaman depan. Kesan yang terlihat adalah rumah yang kotor dan tak terurus. Memberi penilaian buruk untuk rumah rumah sekelilingnya.

Saya jadi mikir nih, kenapa ya kalau ada immigran baru khususnya dari Asia dan Afrika, tempat jadi lebih kotor sehingga sering dicap sebagai daerah slum? Memang tidak semua pendatang baru itu tidak rapi menjaga tempat tinggal mereka, tapi banyak dari mereka itu kurang sadar akan kebersihan dan kerapihan lingkungan. Mereka rupanya tak terbiasa memotong rumput, padahal hampir semua rumah disini halamannya ditanami rumput dan harus sering dipotong dengan lawn mower supaya rapi. Akibatnya banyak rumah rumah yang halamannya tumbuh rumput tinggi. Mereka, terutama anak anak, punya kebiasaan membuang sampah disembarang tempat. Kalau lagi dijalanan, ya buang sampah seenaknya ‘bar ber’ dimana mana. Kebiasaan dari tempat asal mereka ini rupanya sulit sekali untuk dihentikan.

Kalau memikirkan keindahan lingkungan hidup, menurut saya, rumah tidak harus megah dan mewah untuk kelihatan bagus. Walau rumah sederhana sekali tapi kalau bersih dan halaman rapi akan selalu sedap dipandang. Marilah kita jaga kebersihan dan kerapihan lingkungan hidup kita masing masing……..