Semalam masih ada sisa roast chicken (ayam panggang) yang kemarin dibeli murah meriah di Coles supermarket. Untuk makan siang ini masa cuman makan dengan sisa roast chicken doang? Lihat di kulkas punya apa saja yang bisa dimasak untuk nemanin itu ayam. Kebetulan sekali aku masih punya sawi putih dan tahu.

Jadilah aku bikin oseng sawi putih dan tahu. Tahunya waktu beli udah digoreng setengah matang. Kalau masak sawi putih aku masih suka yang masih kriuk kriuk kalau dimakan, alias masaknya tidak sampai empuk lonyot. Ini resep Oseng Sawi Putih dan Tahu rekayasa-nya aku. Masakan ini tanpa ukuran, jadi semua-nya dikira kira menurut selera masing masing.

Oseng Sawi Putih dan Tahu:

  • Sawi putih yang masih betul betul segar tak layu, cuci dulu terus dipotong potong. Aku tak memisahkan gagang dan daun karena masaknya nanti akan cepat, express kilat.
  • Tahu putih goreng setengah matang, potong potong juga
  • Bawang merah iris tipis tipis. Aku pakai bawang bombai karena disini di Aussie bawang merah seperti di Indonesia muahhallll banget.
  • Bawang putih iris tipis tipis.
  • Sambel terasi botolan secukupnya.
  • Sedikit kecap asin
  • Garam
  • Merica
  • Vetsin atau gula secukupnya.

Cara masak: Api harus cukup besar. Panaskan sedikit minyak diwajan. Goreng irisan bawang merah dan putih sampai harum. Masukkan sambel trasi botolan secukupnya. Aduk aduk. Masukkan sawi dan tahu serta bumbu lainnya. Aduk terus sampai rata dan sawi mulai layu. Jangan tambahkan air, karena sawi akan keluar airnya. Cicipan kalau udah pas ya siap dihidangkan. Oseng ini sawinya harus masih renyah. Rasa asin, gurih, manis dan pedas harus seimbang. Sedap….dimakan dengan nasi hangat. Tadi aku sampai tak pengin makan sisa ayam panggangnya.

Setelah makan siang kenyang dan juga udah capai membersihkan kebun dibelakang sebelumnya, sekarang aku bisa nulis yang isinya tak menentu alias ngalor ngidul ngetan bali kulon. Apa ya enaknya yang akan kuceritakan disini. Oh ya, semalam sekitar jam 7 lebih sedikit listrik tahu tahu mati. Ini boleh dibilang tak pernah terjadi disini di Melbourne. Selama aku tinggal disini hampir 30 tahun, padam listrik tak sampai lebih dari lima jari tangan. Anakku bilang dia dengar letusan (bukan bom bunuh diri lho!). Pasti sesuatu terjadi dengan kabel listrik dipinggir jalan. Dia bilang mungkin pohon rubuh karena kemarin dari pagi sampai malam hujan dan angin terus.

Setelah menunggu kira kira 30 menit listrik belum nyala kembali anakku memutuskan untuk melihat lihat daerah sekitar rumah kami. karena hujan angin jadi dia terpaksa pakai mobil. Ternyata memang ada pohon yang dahannya patah dan jatuh tepat diatas kabel listrik. Waktu dia tiba ditempat kejadian, mobil pemadam kebakaran udah disitu. Dahan itu sebetulnya udah mulai terbakar tapi karena hujan jadi untung tidak bisa terbakar hebat. Hanya kelihatan seperti percikan api saja. Petugas pemadam kebakaran menutup jalan sekitarnya sambil menunggu sampai tehnisi listrik dan mesin crane datang. Karena dahan cukup besar jadi harus diangkat dengan mesin dari atas. Lama juga listrik padam baru kira kira jam 1 malam menyala kembali.

Oh ya, aku masih ikut sedih mendengar kejadian bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh hari minggu yang lalu. Kami disini mendoakan supaya para korban yang masih dirawat dirumah sakit bisa cepat sembuh. Juga buat semua ummat beragama terutama yang beragama Kristen dan khususnya semua jemaat GBIS supaya tetap tabah dan selalu berdoa untuk keamanan bangsa dan negara.

Dulu aku sering lewat jalan Kepunton kalau pergi kesekolah di Pasar Legi. Gereja Bethel itu sudah ada saat itu waktu aku masih SD ditahun lima puluhan. Malah aku dan seorang teman sekolah sering beli nasi dengan sambal goreng tholo yang penjualnya mangkal didekat gereja itu.

Setelah mendengar kejadian bom hari minggu yang lalu, semua kenangan dizaman dulu jadi muncul diingatan. Masihkah ada yang ingat kalau dulu diseberang gereja di jalan Kepunton itu ada rumah model pendapa yang halamanannya luas dikelilingi pagar. Disepanjang tempat itu dipinggiran pagar banyak ditanam bunga melati yang kembangnya dobel atau dalam bahasa Jawa-nya adalah bunga Menur. Dulu aku dan temanku sering metikan bunga itu. Aduh harum sekali. Aku tak tahu apakah rumah pendapa ini masih ada atau tidak sekarang, karena aku tak pernah lewat jalan itu lagi kalau ke Solo. Entah seperti apa sekarang?

Walau sekarang aku jauh di negeri kangguru sini, tapi semua sanak keluarga dan teman teman masih semua ada di Indonesia. Jadinya kalau ada keributan disana kami juga ikut sedih dan prihatin………