Tadi waktu bangun tidur, sinar matahari menyambut pagi dimusim dingin ini. Ah…. semangat juga karena hari tidak akan terlalu dingin dan kelabu. Kemarin ini aku sudah ‘pruning’ (apa ya bahasa Indonesianya?) pohon pohon mawar dikebun kami. Setahun sekali diakhir musim gugur atau diawal musim dingin tanaman mawar harus dipotong dan kemudian akan kucoba menyemprotnya dengan larutan kapur dan sulfur (lime sulphur). Baru sekarang aku akan menggunakan kapur dan sulfur ini. Akhir akhir ini terlalu banyak hujan dan tanaman bunga mawar kami terserang ‘black spot’ yaitu bercak bercak hitam pada daun yang akhirnya kuning dan gugur.

Dengan hati hati kutakar ukuran pakainya yaitu untuk satu liter air membutuhkan 20 ml kapur dan sulfur, terus kumasukkan kedalam botol yang ada semprotannya. Mulailah kusemprot pohon pohon mawar yang udah gundul sehabis di-pruning. Tak lama aku mencium bau belerang, persis seperti dulu waktu pergi ke kawah di Dieng. Bau telur busuk yang juga mirip bau kentut mulai menyebar. Ya apa boleh buat kan memang sulfur itu baunya seperti itu. Cepat cepat kusemprot semua tanaman mawarnya sambil menahan nafas. Uuh… baunya begitu tajam menyengat!

Selesai tugas dikebun, aku terus kedapur. Tanpa rencana tiba tiba aku ingin bikin bubur ketan dan kacang hijau. Pikirku enak hangat hangat dimusim winter. Kubuka pantry untuk melihat apa aku punya semua bahan bahannya. Ketan ada walaupun bukan ketan hitam, jadi ketan putihpun jadi. Kacang hijau yang ada hanya yang sudah dibuang kulitnya. Gula merah dan santan kalengan juga ada.

Jadi saja aku bikin buburnya. Seperti biasa banyak masakan tradisional yang kubikin adalah tanpa resep. Semuanya ya dikira kira saja. Biasanya untuk bubur ketan dan kacang hijau aku pakai perbandingan 1 x 2. Jadi kalau ketannya satu ons ya kacang hijaunya 2 ons. Fungsi ketan ini bukan saja untuk rasa, tapi juga untuk mengentalkan. Gula dikira kira sendiri. Kemudian aku cemplungin kayu manis, jahe dan daun pandan. Santan dididihkan terpisah, dibubuhi garam dan daun pandan.

Karena kacang hijaunya tanpa kulit, jadi tidak perlu direndam dulu. Dicuci saja dan langsung direbus barengan dengan ketannya. Untuk ukuran airnya biasanya kukira kira juga, jangan terlalu banyak dulu karena kalau terlalu kental gampang tinggal ditambah airnya. Bagusnya kalau sudah mulai mendidih kecilkan api dan sekali kali harus diaduk. Biasanya aku membubuhkan gula setelah kacang hijau dan ketan lunak dan mulai mengental. Dengan demikian tidak cepat hangus.

Sewaktu aku sedang masak bubur ini, telepon berdering. Seorang teman yang rumahnya tak jauh dari tempatku yang tilpon. Aku bilang lebih baik dia datang saja kerumahku sekalian kita barengan makan bubur. Tak lama teman inipun datang dan langsung kubuka pintu. Kulihat hidung temanku itu nyungir nyungir seperti sedang memikirkan bau apa dihalaman depan rumahku. Langsung dia nyeletuk, koq bau kentut-nya menusuk hidung. Ha….. memang semprotan untuk tanaman mawar itu masih belum hilang baunya.

Jadi saja kujelaskan tentang asal muasal bau itu. Temanku itu tertawa dan menyeletuk: “Kupikir kamu masak bubur kacang hijau koq baunya kentut?”

Baru setelah dia masuk kedalam rumah dan pintu kututup, aroma bubur yang memakai kayu manis, jahe dan pandan bisa tercium. Kami jadi tertawa geli……..

Kacang Hijau (Mung Beans)tanpa Kulit