Dahulu kala, didalam air yang keruh dan berlumpur hiduplah seekor tempayak (anak/larva capung) yang tinggal bersama banyak saudara-saudara dan teman- temannya. Mereka hidup diair yang gelap dibawah naungan daun-daun teratai yang lebar. Kehidupan didalam air ini amat tenteram dan tak banyak ganggungan dan kesulitan.

Namun pada waktu waktu tertentu, tempayak-tempayak kecil itu akan merasa sedih jika ada anggota keluarga atau teman-teman mereka mulai naik memanjat dahan teratai. Mereka tahu tak lama lagi tempayak yang naik kepermukaan air itu akan hilang begitu saja dan tak akan pernah kembali lagi.

Pada suatu hari sitempayak kecil itu dengan tiba-tiba merasa tertarik pada temaran cahaya yang datang dari atas daun daun teratai. Ingin sekali ia memanjat dahan teratai dan menuju cahaya itu. Keinginan ini tak terbendung lagi. Iapun melihat wajah adik-adiknya dan berkata bahwa ia akan naik keatas dan nanti akan kembali lagi untuk menceritakan pengalamannya. Ia berjanji untuk kembali lagi bersama saudara-saudaranya dan tak akan pergi selama-lamanya.

Perlahan-lahan, tempayak kecil itu berpegang kuat pada dahan teratai dan mulai memanjat naik kearah permukaan air. Tiba-tiba ia merasakan perubahan, sepasang sayap mulai tumbuh dipunggungnya. Keinginan untuk naikpun tak bisa terbendung lagi. Mulailah ia menaikkan kepalanya keatas permukaan air. Semuanya yang ia lihat disekitarnya terang benderang.

Dengan berpegang teguh pada janjinya untuk kembali dan menceritakan pengalamannya, tempayak kecil itu menggerakkan kedua sayapnya dan meloncat keluar dari air dan hinggap diatas batu hitam. Setelah itu iapun mengepakkan sayapnya dan terbanglah keudara. Disekitarnya begitu terang dan indah berwarna warni. Bunga bunga yang harum mekar berseri.

Setelah puas melihat lihat sekelilingnya, tempayak yang sudah berubah menjadi seekor capung besar berwarna kuning hijau itu, kembali mendekati air dan hinggap diatas daun teratai. Ia mencoba untuk terjun kedalam air, tapi sayapnya yang kuat dan besar membuatnya tetap terapung apung dan tak mungkin bisa terjun kedasar kolam. Iapun mulai memanggil-manggil saudara saudaranya, tapi tak ada jawaban. Air begitu pekatnya hingga suaranya tak terdengar oleh tempayak tempayak yang masih merangkak rangkak didasar kolam.

Capung muda itu merasa sedih karena tak bisa memenuhi janjinya. Ingin sekali ia memberikan kabar bahwa mereka yang naik keatas dan hilang tak terlihat lagi sebetulnya tidaklah mati.. Sebaliknya diluar air kolam itu telah menunggu kehidupan lainnya yang lebih indah dan lebih sempurna.

(Diceritakan kembali berdasarkan tulisan Walter Dudley Cavert)

Apakah yang terjadi setelah kematian? Bagaikan apa yang dialami capung, apakah kematian itu adalah suatu transformasi untuk memasuki dimensi kehidupan selanjutnya?Kita yang percaya pada Tuhan seharusnya selalu percaya dan siap sedia menanti kedatangan hidup yang baru yang akan tiba setelah kematian menjelang.