Kerinduan  ini tak terbendung dari hari ke hari

Lagi lagi aku bayangkan kenikmatannya

Begitu manisnya kau berdua

Tak bisa aku membandingkannya

Yang satu kasar dan gelap warnanya

Yang kedua kuning dan halus kulitnya

Sayangku kepadamu berdua

Sama tak ada bedanya

 

Didalam dirimu berdua

Kelembutan begitu terasa

Yang satu bagaikan gading warnanya

Yang lain begitu bening dan mulus rupanya

Jika aku bersama kalian bedua

Hati inipun terbelah jadinya

Aku tak bisa memilih yang mana

Aku suka keduanya

 

Sajak ini kutulis untuk buah kesayanganku Salak dan Duku. Hmm…..bukan pacar lho!

____ XXX____

Aku suka sekali buah buahan. Suka dalam arti kalau sudah makan buah, tidak hanya sepotong, satu atau dua saja. Tapi bisa makan banyak tanpa bisa puas. Seperti kalau aku makan buah cherry, sekilo aku bisa habiskan sekali gus. Sampai suamiku takut aku akan sakit perutnya.

Kalau ada yang tanya buah apa yang aku paling ingin makan sekarang? Jawabku adalah salak dan duku. Maklum karena kedua buah ini tak ada disini di Melbourne. Yang lain seperti  dondong, sawo, belimbing, mangga, rambutan, kelengkeng dsb ada dijual disini. Engga tahu kenapa salak dan duku engga ada. Pernah beberapa tahun yang lalu aku lihat ditoko yang miliknya orang Kamboja di South Springvale menjual langsep/langsat. Ya ampun, masa sekilo harganya $30 Aud. Waku itu aku beli juga kira kira 12 biji udah hampir lima dollar.Saking kepinginnya, untung lemes dan manis juga rasanya. Hanya sekali itu aku pernah lihat, setelah itu tak ada yang jual lagi, mungkin karena terlalu mahal.

Setiap aku ke Indonesia, hanya salak saja yang ada ditoko. Herannya kalau aku kesana engga pernah musim duku. Yang terakhir kesana, waktu jalan dipinggir jalan di Bandung aku lihat beberapa kulit duku berserakan ditanah. Aku bilang kekakak, itu ada kulit duku. Memang kakakku tidak melihatnya karena dia udah duluan jalannya. Dia jawab, masa ada duku karena bukan musimnya. Dia bilang lihat saja ditoko atau pasar ada yang jual atau tidak. Muter muter di Mal dan supermarket, engga ketemu itu dukunya. Lihat lihat yang jual dipinggir jalan engga ada yang dagang duku.

Kakakku tak percaya aku lihat kulitnya. Maka waktu kami jalan kembali  ketempat parkir dan melewati tempat dimana aku lihat kulit duku sebelumny, baru dia percaya. Tadinya dia mengira aku salah lihat, mungkin kulit kelengkeng katanya. Ternyata yang kulihat betul yaitu kulit duku. Kami jadi terheran heran, dari mana duku itu.  Ini betul betul jadi misteri sampai sekarang karena dimanapun ditempat yang jual buah buahan waktu itu, tak ada yang jual duku. Bahkan dikota lain di Indonesia yang kami kunjungi juga engga ada yang jual duku.

Ngelamunin tentang salak dan duku, aku jadi ingat lagu yang sering kunyanyikan waktu masih kecil. Kalau tak salah lirik lagunya seperti ini:

Oh, adikku, kekasihku ojo pijer nangis
Ayo dolan karo aku ono ngisor uwit manggis
Dhelok maneh ibu rawuh ngasto oleh-oleh
Kacang goreng karo roti, kowe mesti diparingi

Terus dimasa remajaku ditahun enam puluhan aku suka mendengarkan lagu Jawa berjudul Dondong opo Salak yang untungnya masih bisa kudengar di YouTube:

Catatan: Apa hubungan kedua lagu diatas? Lirik lagu pertama (Oh adikku) itu mirip dengan sebagian lirik lagi Dondong opo Salak. Jadi lagu Dondong opo Salak yang mengingatkanku pada lagu Oh adikku. Jadi urutannya agak terbalik. Semoga ada pembaca blog ini yang masih ingat lagu lagu diatas.