Dulu aku sering mendengarnya. Suara burung itu terdengar disaat hari terasa sunyi. Disaat semua yang lain diam membisu.. Hanya suara burung itulah yang seakan merintih dengan nada tinggi  dan berulang ulang, yang menyadarkan kami atas kehadirannya. Tuit, tuit, tuit, tit, tit, ti…ti…tit……., tuit, tuit, tuit, tit, tit, ti…ti…tit…….

Dijaman dahulu, tante Nelly yang mengasuh adikku bilang: “Dengar itu burung ‘Sibuang Anak’. Burung jahat yang membuang anaknya sendiri dan membunuh anak anak burung lainnya…….”

Heran waktu itu aku tak bertanya bagaimana sebetulnya cerita tentang burung yang bunyinya membuat bulu kuduk berdiri . Mungkin karena aku sudah ngeri. Sebelumnya aku sudah dengar orang bilang  bahwa burung itu menandakan akan ada orang disekitarnya meninggal dunia. Lain dengan burung gagak yang hitam dan besar yang juga dipercayai menandakan kematian, burung  ini yang kecil ukurannya  seringnya tak pernah terlihat karena suka hinggap dipohon pohon tinggi. Hanya suaranya saja yang sedih mendayu membelah kesunyian.

Sekarang setelah bertahun tahun berlalu dan tak pernah lagi mendengar suara burung ini, barulah aku membaca kenyataan tentang burung yang oleh tante Nelly dinamakan burung ‘sibuang anak’ tersebut. Ternyata burung ini dalam bahasa Inggrisnya dinamakan ‘Plaintive Cuckoo’, sedang nama ilmiahnya adalah Cacomantis merulinus. Di Indonesia orang menamakannya burung Wiwik Kelabu, Wiwik Uncuing atau burung Kedasih.

Setelah membaca tentang perilaku induk burung ini, barulah aku mengerti mengapa  burung ini disebut sebagai burung ‘sibuang anak’. Rupanya burung ini membuang anaknya sendiri dan membunuh anak burung lainnya.  Induk burung ini tak pernah membuat sarang sendiri dan bertelur disarang burung jenis lain. Supaya siempunya sarang tak curiga akan adanya telur asing disarangnya, induk ‘sibuang anak’ itu mempunyai kebiasaan mendorong dorong telur yang lain yang ada didalam sarang itu keluar dari sarangnya dan jatuh pecah ditanah. Rupanya  induk burung plaintive cuckoo ini dengan cerdik memilih sarang dari burung lain yang warna dan ukuran telurnya mirip dengan telurnya sendiri.

Dengan demikian induk wiwik kelabu itu tak pernah mengerami telurnya dan tak pernah mengasuh anak anaknya. Dia biarkan induk burung lain jadi korban karena bukan saja harus mengasuh anak burung lain, tapi seringnya tanpa disadarinya,  telur sendiri telah dibuang keluar sarang.

Benarkah burung ‘Cacomantis merulinus’  ini mengabarkan akan datangnya maut? Ini hanya tertgantung pada kepercayaan anda sendiri dan hanya anda sendiri yang bisa menjawabnya. Namun yang jelas burung ini betul betul burung seperti yang tante Nelly bilang dulu, yaitu burung  sibuang anak. Burung yang membuang anaknya sendiri dengan jalan membiarkan burung lain mengerami telurnya dan mengasuh anaknya jika sudah menetas.

Link untuk mendengarkan suara burung Cacomantis merulinus:

http://ibc.lynxeds.com/video/plaintive-cuckoo-cacomantis-merulinus/bird-tree-singing

http://ibc.lynxeds.com/sound/plaintive-cuckoo-cacomantis-merulinus/song

Catatan: Bulan April 2011, waktu saya berada di daerah Solo, saya mendengar suara burung ini….. Jadi saya merasa senang rupanya burung ini masih ada dan tidak punah.