1968-1970

Masa sekolah di SMA adalah yang paling berkesan dan menyenangkan. Kalau dipikir mungkin karena saya sudah bertambah dewasa. Juga di SMA, mulai kelas 2 kami boleh memilih jurusan. Waktu itu ada dua bagian yaitu Pas-Pal (Pelajaran ilmu pasti dan alam) atau Sos-Bud (Pelajaran Sosial Budaya). Tentu saja saya memilih jurusan Sos-Bud dan mulai saat itulah sekolah terasa lebih mudah dan menggairahkan.

Pergaulan dengan teman teman sekelas semasa SMA juga mulai bersifat lebih dewasa dan lebih erat. Kami banyak yang kompak terutama kelompok kami yang terdiri dari:

  • Endang Sukesti yang orangnya manis sekali..
  • Sri Sukarni yang ramah dan rambutnya selalu disasak tinggi.
  • Ari (Kiem Lian) yang mungil. Terima kasih ya permennya (saat kami sedang haus hausnya) waktu kita wisata sekolah ke candi Prambanan.
  • Erlin yang halus dan pendiam.
  • Suwarti yang pernah  membonceng skuter dan dia duduknya melorot hingga kami berdua hampir jatuh dijalan.

Selain kelompok kami, saya masih ingat pada Hok Hay, Hwie Ing, Djoen May, Djioe Lan yang anaknya Pak Tan guru olah raga waktu SMP, Swie In, Yunianto (sekarang menjadi pendeta), Yatman yang adiknya Pak Yatmo, Kantiyo, Yacob yang dari Irian, Gwan Tek yang rumahnya dekat palang sepur Ledoksari, Hway Tiong dan Ebenhart Simanungkalit yang anak Indo Jerman dan matanya biru (Catatan: saya lupa lupa ingat apakah Ebenhart ini teman waktu SMP atau SMA). Oh ya, juga ingat Giok Lan, Kwee Ing… serta muka muka lainnya tapi saya lupa namanya.

Guru guru SMA waktu itu adalah:

  • Drs. Manungku  – Kepala sekolah dan mengajar Kimia
  • Ibu Wurtiningsih – Bahasa Inggris
  • Pak Pur (Purwanto) – Civic (Ilmu Tata Negara)
  • Pak Hardiman – Bahasa Indonesia
  • Pak Abner – Aljabar, Goneometri, Stereometri
  • Pak Yatmo (Suyatmo) – Sejarah
  • Pak Himawan (Ilmu Alam/Fisika?)
  • Pak Wito (Suwito) – Ilmu Bumi
  • Pak Basuki – Olah Raga
  • Bapak dan Ibu guru yang suami istri, saya lupa namanya. Kalau tak salah si Bapak mengajar Ekonomi dan isterinya mengajar PKK.

Walaupun saya menyukai semua guru guru SMA waktu itu, tapi saya punya 2 orang guru favorit. Mereka adalah Ibu Wurtiningsih yang orangnya lembut dan hitam manis. Karena waktu itu saya memiliki buku pelajaran bahasa Inggris yang dipakai, jadi saya sering disuruh mengutip pelajaran dipapan tulis supaya anak anak lain bisa mengutipnya. Semua tertawa jika tulisan saya dipapan tulis naik turun gunung. Ha…. Guru favorit saya yang satu lagi adalah pak Pur. Pak Pur ini memberi kesan diam dan berwibawa, jadi anak anak tak berani main main kalau dia sedang mengajar. Waktu pak Pur jadi wali kelas, saya diberi tugas untuk mengumpulkan uang sekolah.

Tiga tahun belajar di SMA ini berlalu dengan cepat dan pada tanggal 21 Oktober 1970 dinyatakan lulus dan nilai ujian saya cukup bisa dibanggakan. Sampai sekarang saya bersyukur dan berterima kasih kepada semua guru guru mulai dari TK s/d SMA yang pernah mengajar dengan tekun dan sabar.

Waktu itu saya merasa lega, dada ini terasa ‘mak plong’ karena masa sekolah sudah berlalu. Namun kalau seandainya mungkin, saya tak akan keberatan untuk mengulang masa SMA. Dimana lagi saya bisa menemukan teman teman lain yang seperti Endang, Sri Sukarni, Ari, Erlin, Suwarti dan lain lainnya? Yang terakhir saya tahu bahwa Endang menikah dan tinggal di Surabaya. Ari juga menikah dan melanjutkan usaha toko milih orang tuanya. Hok Hay saya dengar menikah dan tinggal di Jakarta sedangkan Erlin bekerja di salah satu bank di Solo.

Selesainya SMA, saya meneruskan pendidikan di Bandung dan tinggal lama di kota kembang itu. Sekarang sudah lebih dari 25 tahun saya terdampar disini dinegeri Kangguru, dan teman serta kenalan barupun sudah terjalin tapi tak sama dengan teman teman dekatku dulu di SMA.. Dimanapun mereka berada  saya berharap agar kalian hidup bahagia dan umur panjang serta dikaruniai banyak anak dan cucu.

Under the magnetism of friendship the modest man becomes bold; the shy, confident; the lazy, active; and the impetuous, prudent and peaceful.
                                                                         – William Thackeray

Catatan Juni 13, 2015: Kaget juga dapat kabar bahwa Hok Hay sudah pergi dahuluan meninggalkan kita semua. RIP