The difference between school and life? In School, you’re taught a lesson and then you’re given a test. In Life, you are given a test that teaches you a lesson – Tom Bodett

TK dan Sekolah Dasar (1957 – 1963)

Terus terang saya bukan termasuk anak yang suka sekolah. Walau saya naik kelas terus dan tak pernah ‘nunggak’ tapi nilai saya cukup cukup saja. Saya paling benci pelajaran berhitung  terutama kalau harus mengerjakan hitungan didepan kelas dipapan tulis. Setiap gurunya secara random menyuruh murid menghitung didepan kelas, saya selalu berdoa agar tidak terpilih dan saya selalu menundukkan kepala dibelakang anak yang didepan dengan harapan sang guru tak melihat saya. Ha….pikir pikir sekarang jadi terasa lucu juga.

Mulai dari kelas nol sampai dengan SMP, saya belajar di Sekolah Kristen Pasar Legi, Solo. Waktu itu bangunan depan adalah klas nol dan SD (waktu itu namanya SR = Sekolah Rendah) dan bagian belakang adalah untuk SMP. Karena sekolahan dekat sekali dengan Pasar Legi, maka banyak waktu waktu dimana bau kubis busuk dan sampah lainnya  yang menusuk hidung masuk kedalam kelas.

Untuk anak anak SR ada warung disudut depan. Sering kalau datang kesekolah kepagian saya akan melihat Mbok Sentir memasak mie goreng. Warung bambu yang sederhana  itu diurus oleh pasangan suami isteri Pak dan Mbok Sentir. Pak Sentir itu lucu sekali orangnya, sering melawak dan membuat anak anak tertawa. Waktu saya melihat Mbok Sentir menggoreng bawang goreng, dia bilang supaya bawang goreng kuning dan renyah, sesaat sebelum diangkat dicucuri jeruk nipis. Sering pagi pagi saya beli mie goreng ini panas panas karena baru selesai dimasak. Sedap sekali deh……

Kenangan paling manis adalah waktu saya kelas nol. Waktu itu ditahun 1957 hanya ada satu kelas nol karena saat itu belum ada kelas nol kecil dan kelas nol besar. Kenangan tahun pertama pergi kesekolah dikelas nol ini justru yang paling berkesan. Kelas nol waktu itu hanyalah bermain main dan kami tak diberi PR (pekerjaan rumah) dan tak ada ulangan (test). Saya suka sekali dengan guru kelas nol waktu itu yang bernama Ibu Tatik. Ibu Tatik itu manis sekali wajahnya dan selalu memakai kebaya yang terlihat rapih sekali. Matanya lebar berbinar. Waktu itu yang paling kusukai dan banyak disukai oleh anak anak lain adalah saat pergi berjalan jalan, berbaris ke Taman Banjar Sari yang tak jauh letaknya dari sekolahan. Sambil berbaris dipinggir jalan kami menyanyi.

Setelah setahun dikelas nol, mulailah masa pendidikan dasar dikelas satu. Saya mencoba mengingat siapa nama guru kelas waktu kelas satu SR, tapi tidak teringat. Karena Sekolah Kristen Pasar Legi waktu itu mayoritas anak anak keturunan Tiong Hoa, jadi kami memanggil guru yang orang Tiong Hoa dengan panggilan Sien-sen. Saya masih ingat guru kelas satu ini masih muda, langsing orangnya dan cantik juga, tapi aku tak ingat siapa namanya.

Guru kelas dua saya masih ingat jelas namanya adalah Sien-sen Gwat.

Kelas tiga saya kebagian kelas sore dan gurunya waktu itu adalah bernama Sien-sen ‘Su It’. Dia guru baru, lelaki muda yang cukup berotot dan tampan.

Guru kelas empat kalau tak salah dipanggil dengan panggilan Sien-sen Siem. Yang ingat saya les privat dengan guru ini karena waktu kelas empat saya sakit thypus dan beberapa minggu tak masuk sekolah dan ketinggalan pelajarannya. Juga saya ingat Ibu Siem ini yang penampilannya keren, pernah membagikan kacang kara goreng (=broad beans) oleh oleh dari Ambarawa. Setiap anak dikelas kebagian seggenggam kacang yang gurih tsb. Rupaya kemudian guru ini menikah dengan seorang pendeta dari Ambarawa.

Kelas lima gurunya adalah Bapak Marsudi yang kalau ngomong logatnya logat Jawa Barat atau orang Jawa bilang ‘kagok’. Pak Marsudi ini orangnya berwibawa sekali dan mempunyai kumis tipis.

Kelas enam guru kami adalah Sien-sen Djie. Walau ibu Djie ini terkenal galak dan keras suaranya, tapi dia suka ngobrol tentang penyanyi Nat King Cole dan Pat Bone yang suara-nya empuk.

Semasa sekolah dasar itu teman yang paling erat adalah Ping Nio yang rumahnya di jalan Kepunton. Setiap pagi saya lewat rumahnya dan sering bersama sama kami berjalan kesekolah. Ping Nio selalu diantarkan oleh kakeknya. Juga saya ingat kami sering beli nasi sambel goreng ‘kacang tholo’ (uih, sedapnya…) yang pedagangnya setiap pagi mangkal didekat gereja Bethel di jalan Kepunton. Kami juga sering metikin bunga melati yang tumbuh disepanjang jalan diseberang gereja Bethel tersebut. Terakhir saya berjumpa dengan Ping Nio ditahun 1979.

Inilah kenangan semasa kelas nol dan enam tahun belajar di SR/ Sekolah Rendah (SD). Harapannya saya, akan ada pembaca blog ini yang dulu juga murid SR Kristen Pasar Legi diakhir tahun lima puluhan dan ditahun enam puluhan. Kalau ada semoga tulisan saya ini membangkitkan kembali nostalgia masa dulu dimasa kanak kanak.

Catatan: Waktu waktu berlalu dengan cepat dan sudah lama Sekolah Kristen Pasar Legi di kota Surakarta ini diganti namanya dengan Sekolah Kristen Widya Wacana yang rupanya mempunyai beberapa cabang dan juga ada SMA-nya. Dizaman dahulu waktu saya sekolah hanya mulai kelas nol s/d SMP.