Waktu berkunjung ke Indonesia bulan Agustus yang lalu begitu padat acaranya, jadi tak sempat kami pergi ke Pasar Klewer  di kota Solo dan melewati alun alun yang gapuranya ditunggui oleh reco Gladak yang membawa penthung atau tongkat dalam bahasa Indonesianya. Namun waktu pergi ke kompleks Candi Prambanan, kami sempat melihat sepasang reco penthung ini yang terletak didepan candi Sewu. Seingat saya di Candi Plaosan yang tak jauh dari Kompleks Candi Prambanan juga terdapat arca penthung ini.

Arca dari batu yang berbentuk raksasa gendut dengan perut buncit, mata melotot, kumis lebat dan taring ini selalu membawa alat pemukul berbentuk penthung atau tongkat gadha. Selain dikenal dengan nama reco Gladak, arca yang berukuran besar ini juga disebut sebagai Reco Penthung atau Arca Gopala. Arca ini selalu diukir dengan ukuran besar dan dalam posisi berlutut.

Bagi masyarakat kota Surakarta, reco Gladak adalah tak asing lagi dan reco Gladak ini adalah arca penthung yang tertua dikota ini.  Dulu waktu masih kecil saya sering lihat setiap malam Jumat dan hari hari tertentu orang menaruh sesajen bunga. Maksudnya jelas sesajian tersebut adalah untuk memuja dan berterima kasih karena arca ini mempunya fungsi sebagai penjaga. Nenek saya dulu bilang Reco Gladak ini menjaga supaya roh roh jahat dan dedemit tak akan masuk dan mengganggu ketenteraman.

Selama ini banyak arca baru dibuat yang merupakan replika dari Reco Gladak  yang diletakkan didepan gapura  gedung gedung besar misalnya pusat perbelanjaan, bank dsb. Walau fungsi patung batu ini sekarang lebih cenderung sebagai hiasan, namun saya yakin masih ada mereka yang mempercayai arti mistisnya. Bagi saya sendiri yang lahir di Indonesia khususnya kota Surakarta, reco Gladak atau arca penthung ini memberi kenangan masa kecil yang sangat khas kota Solo dan juga menurut saya merupakan peninggalan sejarah yang jangan terlupakan:)