Aku masih ingat dulu waktu zaman masih kecil, Papa sering bilang pepatah Jawa: “Uwis dike’i ati isih ngrogoh rempela”. Artinya adalah seseorang yang udah diberi kebaikan tapi masih tidak bisa puas dan masih minta diberi lebih banyak lagi. Jadi peribahasa ini menggambarkan orang yang rakus dan memikirkan kepentingan diri sendiri.

Hidup ini idealnya adalah ‘give and take’. Kalau kita menerima kebaikan dari seseorang ya kita harus membalasnya dengan kebaikan juga. Walaupun banyak orang yang lebih suka memberi tanpa mengharapkan balasan, tapi bukan berarti ini disalah gunakan dan menganggap kebaikan ini sebagai sumber rejeki yang bisa dimanfaatkan demi kepentingan diri sendiri.

Kalau orang Barat itu kebanyakannya bersifat apa adanya, aku aku, kamu kamu tanpa basi basi atau istilah bahasa Belandanya ‘zakelijk’. Runyamnya kita kita orang timur, terutama orang Indonesia dari tanah Jawa itu sering berperasaan tidak enak terhadap orang lain. Banyak hal hal yang kita ucapkan itu hanya sekedar basa basi dan kalau dimaksudkan dalam arti yang sebenarnya ya ada batas batas tertentu yang kita kita tahu jangan dilanggar.

Contohnya adalah orang baru diseberang. Belum lama ini dia butuh jeruk lemon dan kebetulan pohon kita yang mungil didepan rumah sedang berbuah dan banyak yang udah kuning siap untuk dipetik. Dia ngetok pintu dan bertanya apakah boleh minta dua biji lemon. Nah aku yang masih berpikiran seperti kebanyakan orang dari Jawa, menyahut boleh saja. Terus aku ambil kantong plastik dan kupetik kira kira 12 biji lemon dan keberikan pada sang tetangga. Sebagai “basa basi” aku bilang kalau butuh lagi silahkan petik sendiri. Buat kebanyakan kita kita dari Indonesia ya tahu apa artinya ini. Tapi ternyata tetangga seberang itu betul betul mengartikan kata kataku itu dalam arti yang sebanarnya.

Tak lama setelah itu, waktu aku pulang dari bepergian, kulihat semua buah lemon yang sudah masak dan kuning kuning itu musnah dari pohonnya. Dalam hati aku berpikir pasti ada orang yang nyolong………. Eh, tergopoh gopoh orang seberang menghampiriku dan bilang terima kasih lemonnya, dia petik yang kuning kuning karena saudaranya ada yang datang dan mereka butuh lemon….. Wah, wah dalam hati aku berpikir ‘udah diberi hati masih nyolong ampela….’ Maksudku dia boleh memetik sendiri itu adalah untuk kebutuhan sendiri. Kalau dia mau memenuhi kebutuhan sanak saudaranya atau semua teman temannya ya bisa beli ditoko. Juga kalau memetik sendiri tanpa ijin ya kira kira jangan dipetik semua. Siapakah yang salah dalam hal ini? Bukankah hidup ini ada nalar-nya?

Suamiku yang orang bule menyalahkan aku. Dia bilang seharusnya aku jangan berpesan kalau dia butuh lemon lagi silahkan ambil sendiri. Seharusnya aku bilang kalau dia butuh lagi silahkan ketok pintu dan minta jadi kita bisa petikin…. Tapi naluriku masih percaya bahwa rata rata manusia itu punya ‘common sense’…. hanya dimanapun didunia ini ada saja sebagian kecil manusia yang sedihnya tak memiliki nalarnya kebanyakan orang.

It is a thousand times better to have common sense without education than to have education without common sense…. Robert Green Ingersoll quote.