Ikeya Seki Comet

The drawing of this comet may look inaccurate as to where the position of the nucleus supposed to be. It may be exaggerated in size, but to a young girl’s eyes at the time it was what she saw.

Apakah waktu itu diantara anda ada yang sudah cukup besar/dewasa untuk mengingat Komet Ikeya Seki  yang menampakkan diri ditahun 1965?

Waktu itu dibulan Oktober (menurut data tepatnya adalah 21 Oktober) aku baru berusia 13 tahun. Aku hanya ingat komet yang terang dan besar sekali dan bisa dilihat dengan mata telanjang ini,  kami lihat bersamaan dengan dimulainya aksi G30S yang terjadi di Indonesia. Pemandangan sesuatu diangkasa dimalam hari yang begitu terang dan begitu besar membelah angkasa, bagi seorang anak seperti ku sempat membuat bulu kuduk berdiri. Tak bisa lama aku menatapnya dengan takjub sebelum aku cepat cepat masuk kerumah dengan rasa merinding.

Malam itu Papa membangunkan kami dan bilang ada “Lintang Kemukus” (bahasa Jawa untuk komet atau bintang berekor). Kami semua keluar rumah. Begitu aku mengdongakkan muka kelangit, kulihat ekor Ikeya Seki itu. Hampir memenuhi cakrawala dan begitu terang dan jelas sehingga aku lihat sesuatu yang putih putih seakan akan mengambang diekor komet itu.

Apakah sebenarnya komet ini? Dua astronomer Jepang bernama Kaoru Ikeya dan Tsutomu Seki menemukan benda angkasa ini pada tanggal 18 September 1965. Diperhitungkan dari orbitnya bahwa pada tanggal 21 Oktober komet ini akan bergerak melalui matahari dengan jarak yang dekat sekali yaitu 450.000 Km diatas permukaan matahari. Komet ini merupakan bagian dari Kreutz Sun Grazers dan akan tampak terang dan jelas sekali dari bumi.

Komet Ikeya Seki yang memiliki kode C/1965 S1 ini betul betul menampakkan diri tepat dengan prediksi dan merupakan komet nomor empat yang paling terang dalam sejarah dunia. Panjang ekornya mencapai ukuran sepanjang  70 million miles = 112 654 080 kilometers. Hanya tiga comet lainnya yang memiliki ekor sepanjang itu yaitu komet ditahun 1680, 1811 dan 1843.

Orbit Komet Ikeya Seki panjang sekali sehingga tidak akan kembali mendekati bumi kita sebelum tahun 2565.

Sampai saat ini aku masih bisa dengan jelas membayangkan malam-malam itu waktu kami keluar rumah dimalam hari untuk melihat apakah lintang kemukus itu masih ada. Dalam pandangan mataku sebagai anak berumur 13 tahun, ekor lintang kemukus ini tampak begitu besar hampir membelah angkasa. Masih bisa kurasakan gemetaran badanku karena rasa ngeri. Apalagi setalah ada isyu bahwa lintang kemukus ini akan membawa mala petaka.

Berhari hari Ikeya Seki Komet ini menampakkan diri sebelum akhirnya mengecil ukurannya, memudar dan akhirnya hilanglah dari pandangan.

Catatan 28/11/2013: Kemungkinan besar waktu kami keluar rumah untuk melihat comet Ikeya-Seki ini sudah mendekati fajar atau sebelum matahari terbit. Saya rasanya waktu itu tak pernah lihat jam berapa, yang ingat masih gelap dan setelah melihat kami kembali tidur lagi.

Tulisan saya sebelumnya tentang Komet Ikeya Seki (Bahasa Inggris):

https://kiyanti2008.wordpress.com/2008/10/26/ikeya-seki-comet/

Catatan: Ini kutipan menarik yang saya temukan dari artikel yang dimuat di National Geographic – Pebruari 1966, berjudul “Giant Comet Grazes the Sun” oleh Kenneth F. Weaver

Discovery Stories: Tsutomu Seki, Comet Ikeya-Seki (1965 S1)

I am a sea-bred thing. When I feel happy, or lonely, I come down to the sea, for it fills my heart with deep emotion. That night I was dreaming of the sea. I was walking along the shore…

I do not know why, but on that night my wife woke me, very faithfully. Usually she discourages me from observing the stars. Exposing myself to the night dew, she thinks, cannot be very good for my health. Still, she woke me.

At four o’clock, I climbed up to the observing stage on the roof of a storehouse in my courtyard. The starry sky was very beautiful, transparent, as though swept clean by the typhoon two days before. Fine weather! I put my eye to the telescope.

At a quarter past four something refracted through my lenses–a queer, pale celestial body. My heart shook. I broke the stillness before the dawn: “A new comet!”

Tsutomo Seki, on the discovery of Comet Ikeya-Seki (1965 S1) (as reported to National Geographic, from “Giant Comet Grazes the Sun” by Kenneth F. Weaver in the magazine’s February 1966 issue. In the same article, co-discoverer Kaoru Ikeya described the comet at discovery as “shining like a street lamp on a misty night.”)