Setelah meninggalkan Indonesia lebih dari dua puluh lima tahun, belum lama  ini waktu saya berkunjung ke sana, tujuan yang pertama yang saya rencanakan adalah pergi ke Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau). Keinginan ini timbul waktu anak saya bilang dia ingin melihat volcano di Jawa. Dieng yang membawa arti  “Where Gods Abode” adalah tempat yang tepat sekali bagi putera saya itu untuk melihat active volcanoes di pulau Jawa.

Perjalanan dari Solo ke Wonosobo begitu berkesan dan membangkitkan kenangan masa silam. Setelah semalam tinggal di Surya Asia Hotel di kota Wonosobo yang rapi dan sejuk, pagi pagi kami berangkat ke Dieng.

Jarak dari Wonosobo ke Dieng yang hanya kira kira 26 km itu menyajikan pemandangan teras pegunungan yang indah. Bunga bunga brugmansia yang berwarna kuning jingga dan putih tampak berkembang dibanyak tempat disepanjang jalan.  Karena begitu banyaknya lahan tanamam kentang, pegunungan Dieng itu begitu mirip dengan tanah pegunungan yang seakan akan diukir. Walau tanah disitu begitu cocok untuk tanaman kentang dan merupakan pendukung utama kehidupan para petani setempat, terlalu banyaknya penggundulan hutan dipegunungan itu bisa mengakibatkan bahaya longsor atau banjir.  Kami lihat beberapa petugas lalu lintas jembatan  kayu darurat di desa  Satieng -Kejajar memberi aba karena jembatan itu  hanya bisa dilalui satu jurusan saja dengan bergantian. Jembatan ini rupanya roboh tertimpa tanah longsor beberapa waktu sebelumnya yang sempat melumpuhkan  lalu lintas.

Setibanya di Dieng kami pertama tama pergi ke Kawah Sileri dan kami melewati pusat pengolahan uap panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik. Dari jauh kami lihat kepulan kawah yang tampak putih diterbangkan angin. Semakin dekat kekawah Sileri, semakin tajam bau belerengnya. Dari situ kami langsung menju ke kompleks candi Arjuna yang merupakan peninggalan sejarah yang tertua. Semua candi yang masih bediri menyandang nama tokoh perwayangan lokal yang berdasarkan kitab Mahabarata: Arjuna, Gatotkaca, Dwarawati, Bima, Sembadara, Srikandi  dan Semar.

Kami ikuti tapak tapak jalan dikompleks percandian ini yang berakhir di Pendapa Suharto – Whitlam. Disinilah didekat warung yang menjual makanan khas Dieng, kami bertemu dengan seorang pria berbaju biru dengan vest hitam dengan plakat nama. Sekilas saya kira dia itu adalah petugas keamanan/security guard, namun ternyata dia menawarkan jasa pemandu wisata. Karena anak saya tidak bisa berbahasa Indonesia, dan Pak AA ini fasih berbahasa Inggris, maka saya rasa kebetulan sekali.

Pertama tama dia bilang ke anak saya supaya memanggilnya dengan nama  AA. Yang begitu mengesankan dengan Pak AA ini adalah pengetahuan umumnya yang luas sekali. Selain fasih berbahasa Inggris, dia juga banyak paham bahasa Belanda. Pengetahuannya tentang tumbuh-tumbuhan didaerah Dieng itu sangat mengherankan, lengkap dengan nama latin/ilmiah dari tumbuh tumbuhan tsb.  Pengetahuannya mengenai daerah setempat serta pengetahuan umum terutama tentang flora dan fauna lokal  dan juga sifatnya yang kocak membuat perjalanan kami lebih menarik. Apa lagi sewaktu dia ajak kami semua menyanyi “Michael Row the Boat Ashore” disaat kami mengunjungi telaga Warna, terlupa juga sejenak bau belerang yang begitu menusuk hidung.

Dengan pak AA kami berkunjung ke Telaga Warna, Kawah Sikidang, Dieng Theatre, Telaga Menjer dan  berakhir dengan mencicipi mi ongklok khas Wonosobo.

Dieng 2009

Atas: Kawah Sileri & Telaga Warna. Bawah: Bersama pemandu wisata & Candi Arjuna.

Kawah Sikidang

Kawah Sikidang

AA dan Kawah Sikidang

Sebagai penutup blog ini, anak saya titip pesan buat Pak AA: “Good Day…. how are you?” 🙂

Thank you Java to Bali for sharing the video🙂