“There is a garden in every childhood, an enchanted place where colors are brighter, the air softer, and the morning more fragrant then ever again.”

– Elizabeth Lawrence –

Childhood photos

Bagiku masa kecil adalah yang paling berkesan dalam hidup ini. Betapa tidak? Semuanya serba kecukupan dan hidup masa itu tidak mengenal tanggung jawab. Tidak mengenal betapa sulitnya cari uang. Orang tua kami memberi kami yang terbaik, dari pakaian sampai makanan. Walau masa sekolah dimasa kecil itu tidak begitu kusukai, tapi masih cukup memberi kesan indah. Mengapa tidak? Aku naik kelas terus mulai dari TK, SD sampai SMA, walau kuakui aku tidak sepintar kakak perempuanku.

Tiga adik kami baru lahir setelah aku berumur 12 tahun. Jadi lama juga aku dan kakak perempuanku hanya berdua saja. Walau berselisih usia 2 tahun, aku sama besarnya dengan kakak. Ingat waktu masih kecil mama selalu mendandani kami semuanya sama. Pakaian sama, sepatu sama dan pita rambutpun sama, akibatnya banyak orang menyangka kami itu kembar. Kalau membelikan mainanpun selalu sama. Ini yang paling kuhargai dari orang tuaku. Mereka memperlakukan anak anaknya sama walaupun kami berbeda sifat, kemampuan dan tingkah lakunya.

Dizaman dahulu waktu kami masih kecil, di rumah kami ada dua pohon jambu biji dan dua pohon belimbing. Aku dan kakak memilih yang mana dari kedua macam pohon itu milikku dan milik kakak. Anehnya pohon yang kupilih baik pohon belimbing atau pohon jambu biji adalah yang buahnya berbentuk lebih besar dan panjang, sedang milik kakak buahnya lebih kecil dan lebih bulat.

Sifatku dan sifat kakak jauh berbeda. Aku anaknya pemalu dan selalu mengalah. Sedang kakak sebagai layaknya anak nomor satu bersifat pemberani, tegas dan suka memerintah. Kalau bermain bersama, mainanku-lah yang selalu kami pakai. Akibatnya yang punyaku cepat butut sedang punya kakak masih serba baru. Tapi herannya waktu itu aku mengalah saja.

Masa sekolah yang paling berkesan adalah waktu aku kelas tiga SD. Waktu itu kami bersekolah di SD Kristen Pasar Legi, Kebetulan kami berdua mendapat kelas sore. Rumah kami berada diluar kota Solo dan kami pergi sekolah dengan naik bus. Karena tak ada bus ke Solo yang berangkat siang hari, maka kami berdua tinggal dirumah nenek di Solo. Setiap hari Sabtu malam, kami berdua dijemput oleh papa dan mama. Jadi hampir disetiap Sabtu malam kami makan diluar di kota Solo dan yang paling berkesan dan kusukai adalah kalau makan bakso Notosuman.

Aku ingat warung baso Notosuman itu selalu penuh. Selain mie baso dan babat, yang paling kusukai adalah sosis-nya. Sosis ini dibuat dari kulit dadar yang isinya daging sapi cincang yang coklat dikecapin dan rasanya agak manis dan terasa pedas mericanya. Sosis ini kemudian digoreng sampai kecoklatan. Sering kali kalau kami pesan sosis ini, harus menunggu karena begitu banyaknya pesanan. Selain sosis, juga waktu itu terkenal dengan gorengan yang namanya” tiga dara”, yaitu yang terbuat dari pisang raja, nangka dan kelapa muda yang digoreng dengan tepung seperti pisang goreng. Heran sekali, apa saja yang dijual disitu laku. Bahkan pernah mereka menjual biji nangka rebus, rupanya karena begitu banyak nangka yang dipakai untuk bikin tiga dara , maka biji-nya direbus dan dijual. Anehnya orang banyak juga yang beli.

Waktu itu semasa kecilku, hidup ini terasa tenang dan tenteram. Jalanan didepan rumah begitu rindang karena pohon mahoni dan pohon tanjung ditanam dipinggir jalan. Jalan raya didepan rumah kami masih sepi dan tidak sebising seperti sekarang yang selalu dilalui banyak kendaraan dari pagi sampai malam.

Aku masih ingat setiap tengah malam aku terbangun karena mendengar tukang ronda malam yang berjalan sambil membunyikan kentongan dan memanggil nama setiap pemilik rumah. Juga masih segar diingatan ketokan bambu dari tukang mie rebus yang setiap malam lewat didepan rumah. Sering kami beli me ini, walau mie-nya hanya mi murahan (bukan mie telor), tapi bumbunya begitu sedap. Mama selalu mencoba untuk meniru memasak mie itu, tapi tak pernah berhasil. Entah apa rahasia bumbunya.

Masa kecil, penuh dengan kenangan manis. Banyak juga kenakalan yang kami lakukan seperti misalnya waktu bertiga dengan saudara sepupu lelaki kami yang beberapa tahun lebih besar umurnya, mencuri jambu air milik tentangga sebelah. Atau waktu itu kami diam diam memetik mangga muda walaupun papa selalu berpesan supaya jangan memetik mangga yang masih muda. Berdua dengan kakak, kami memakan mangga muda itu dengan garam.

Walau masa kecil sudah lama berlalu, namun semua kenangan masih tersimpan diingatan. Masih ada photo-photo yang bisa kami lihat kembali. Masa kecil waktu itu begitu lainnya dengan sekarang. Semuanya serba sederhana, tapi jauh lebih terkesan.