Perjalanan pendek dari Candi Prambanan ke Kompleks Candi Ratu Boko tidaklah lama. Terletak kira kira 2 km sebelah selatan Candi Prambanan dan kira kira 18 km dari kota Yogya, peninggalan bersejarah ini berada diatas sebuah bukit yang merupakan bagian dari Pegunungan Seribu.

Berdiri di area yang luasnya sekitar 250,000 m persegi dengan ketinggian kira kira 195,97 m, situs Ratu Boko ini adalah tempat yang indah. Dengan melihat kebawah, dari jauh kami bisa melihat puncaknya gunung Merapi, Candi Prambanan dan Candi Kalasan. Walau terletak tinggi diatas permukaan laut, suasana tidaklah sejuk, tapi malah sebaliknya. Panas mentari terasa menyengat. Namun demikian, keterpencilan dan misteriusnya tempat ini memberikan rasa tenang dan damai.

Begitu masuk kedaerah parkir, kami melihat  pohon beringin yang begitu rindang dengan akar akarnya yang menggantung. Keberadaan pohon yang dianggap keramat dan angker ini menambah mesteriusnya suasana. Sebelum menaiki tangga menuju ke candi , ada sebuah pohon kecil yang langsung menarik perhatianku. Maklum aku adalah pencinta tanaman, jadi kalau pergi  kemana saja yang pertama jadi perhatianku adalah tanaman. Pohon ini lain dari pada yang lain dan belum pernah kulihat sebelumnya. Buahnya bulat, halus dan berwarna hijau. Apakah ini yang dinamakan buah Maja?

Inilah gambar yang kami ambil dari pohon ini dengan beberapa buahnya:

Buah Maja

Apakah buah Maja itu? Ini adalah copy dari Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Maja):

Maja (Aegle marmelos (L.) Correa, suku jeruk-jerukan atau Rutaceae) adalah tumbuhan berbentuk pohon yang tahan lingkungan keras tetapi mudah luruh daunnya dan berasal dari daerah Asia tropika dan subtropika. Tanaman ini biasanya dibudidayakan di pekarangan tanpa perawatan dan dipanen buahnya. Maja masih berkerabat dekat dengan kawista. Di Bali dikenal sebagai bila.

Tanaman ini mampu tumbuh dalam kondisi lingkungan yang keras, seperti suhu yang ekstrem; misalnya dari 49°C pada musim kemarau hingga -7°C pada musim dingin di Punjab (India), pada ketinggian tempat mencapai +1.200m. Di Asia Tenggara, maja hanya dapat berbunga dan berbuah dengan baik jika ada musim kering yang kentara, dan tidak biasa dijumpai pada elevasi di atas 500 m. Maja mampu beradaptasi di lahan berawa, di tanah kering, dan toleran terhadap tanah yang agak basa.

Warna kulit luar buah maja berwarna hijau tetapi isinya berwarna kuning atau jingga. Aroma buahnya harum dan cairannya manis, bertentangan dengan anggapan orang bahwa rasa buah maja adalah pahit. Sebagaimana jeruk, buah maja dapat diolah menjadi serbat, selai, sirop, atau nektar. Kulitnya dibuat marmalade.

 Maja terlibat dalam mitos mengenai asal nama kerajaan Majapahit, suatu imperium yang membentang di Nusantara dari abad XIII-XV. Konon, Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan, menerima sebidang tanah di daerah Tarik (sekarang di selatan Surabaya). Sewaktu membangun daerah itu, ada prajuritnya yang memakan buah maja. Kebetulan yang dimakan adalah buah yang berasa pahit (karena mungkin masih mengkal). Oleh sebab itu ia menamakan bulak itu sebagai “Majapahit”. (Sumber: Wikipedia)

Ratu Boko

Melihat letak kompleks Boko yang begitu strategis yang merupakan titik pandang yang luas memberikan kesan bahwa bukit ini dipilih bukan saja hanya untuk segi keindahan tapi juga masuk akal kalau bukit ini adalah sebagai benteng pertahanan atau tempat untuk berlindung kalau peperangan terjadi.

Rupanya situs ini mula mula dibangun oleh Rakai Panangkaran (tahun 746 – 784M) sebagai tempat pemujaan yang bernama Abhayagiri Wihara. Kemudian oleh Raja Vasal yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni tempat ini diubah menjadi keraton yang bernama Walaing. Bagaimana kemudian terkenal dengan nama Ratu Boko? Nama ini adalah merupakan judul hasil penelitian yang dilakukan oleh FDK Bosch. Siapakah Ratu Boko? Sampai sekarang masih menjadi misteri.

Disaat berjalan disekitar daerah Kaputren dengan bekas bekas kolam air-nya yang kecil, aku jadi berpikir dan membayangkan puteri puteri Raja yang cantik mandi merendam dan berdendang ria. Suasana yang asri itu memberikan kesan romantik. Mungkinkah dizaman dahulu kompleks keraton ini merupakan tempat raja dan ratu serta putra dan putri-nya dan juga dayang dayangnya bersinggah untuk beristirahat? Apakah dipendopo keraton ini dahulu sering dipertunjukkan tari tarian dan kesenian lokal yang mempesona?

Dengan mulut mengunyah keripik daun singkong yang lezat, kami berjalan jalan melihat puing puing peninggalan bersejarah ini. Sementara pikiran merenungkan kemungkinan yang bisa saja terjadi ditempat yang mesterius ini. Sayang sekali kami tidak bisa tinggal untuk menyaksikan matahari tenggelam Konon disaat mentari tenggelam pasti akan terlihat tenggelam dibalik bingkai gerbang utama yang masih terlihat berdiri megah.