Waktu berkunjung ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, sebagai orang kelahiran Solo aku tak akan lupa pada Pasar Gede/Besar. Bayanganku pasar ini setelah lama tak kulihat akan terlihat tua merana, tapi malah sebaliknya. Bagian depan pasarnya rupanya dipercantik jadi seperti baru lagi. Sedangkan dalamnya masih membangkitkan kembali kenangan lama.

Setiap ke Pasar Gede aku pasti beli ayam goreng, usus dan paru goreng. Kali ini si penjual yang berdekatan dengan penjual es dawet yang langsung menggoreng dagangan ditempat, bilang aku harus mencoba ceker/cakar goreng. Rupanya kulit cakar ayam yang telah dilepaskan dari ditulangnya itu digoreng garing. Rasanya malah lebih renyah dan lebih enak dari usus goreng. Cocok untuk teman makan nasi hangat dipagi hari.

Mengenai es dawet sejak aku lama tinggal di Australia, aku hanya bisa ngiler dan membayangkan betapa sedap dan harumnya es dawet ini. Aku tak berani lagi minum es dipasar karena perutku akan berontak. Australia yang apa apa serba bersih dan steril justru membuat badanku tak punya daya tahan lagi………Jadi ya mimpi saja tentang dawet Pasar Gede ini yang komplit dengan cendol, jenang sungsum hijau, nagka dan biji telasih. Sirupnya terbuat dari gula pasir yang harum sekali karena digodok dengan daun pandan.

Selain ayam, usus dan paru goreng, yang lainya yang kami cari ke Pasar Gede kali ini adalah kentang hitam, gayam dan blenyik. Ya ampun, engga mengira kalau kentang hitam zaman sekarang itu gede gede…. lebih besar dari ujung jari jempol, padahal dizaman aku kecil dulu hanya sebesar ujung jari kelingking. Kentang hitam ini dijualnya udah dikukus dan enak dimakan dengan gula merah atau gula aren (mengingatkanku pada alm. Papa).

Gayamnya nemu juga hanya kali ini tak berapa bagus kecil kecil tapi kita beli juga. Gayam itu bentuknya mirip jengkol tapi tanpa bau dan warnanya merah-muda kecoklatan. Biasanya direbus atau dikukus dan dimakan dengan kelapa parut. Rasanya gurih sedikit manis dan kenyal. Uenaaak sekali.

Buah buahan lokal yang khas yang masih kulihat di pasar ini adalah pisang susu dan jambu mete. Karena udah lama engga makan pisang susu, jadi aku beli juga sesisir. Anakku yang belum pernah lihat jambu mete, terheran heran melihat dari mana asalnya kacang kesukaannya ini dan langsung dia ambil photonya. Jadi saja kami beli sekilo biji mete yang masih mentah dan nanti akan kami goreng sendiri. Sayang waktu itu tidak musimnya mangga, duku maupun salak. Jambu air juga tidak ada.

Pasar Gede

Setelah ketemu ayam, usus serta paru gorengnya, dan kentang hitam dan gayam juga dapat, terus kami masuk lebih dalam lagi di pasar ini yaitu dibagian yang jual ikan asin. Rupanya nasip lagi mujur, hari itu ada yang jual blenyik yang bagus putih sekali. Blenyik ini adalah ikan teri asin yang dibentuk bundar sebesar kelereng. Rupanya sebelum proses pengeringannya, ikan teri yang halus ini (teri nasi) setelah digarami, dijumput dan ditekan tekan dibulatkan. Paling enak blenyik ini digoreng dengan dibalur telus kocok. Enak sekali dimakan dengan nasi hangat….. awas jangan masak nasi terlalu banyak karena bisa menghabiskan nasi sebakul kalau udah makan memakai lauk blenyik goreng ini……….

Waktu berjalan ketempat parkir didepan pasar kami lihat babi angkring yang begitu popular di Solo. Karena penasaran kami beli juga….. Kuping, lidah dan jerohan babi itu diiris tipis dan disiram dengan kuahnya yang khas yang terbuat dari kecap dan tauco dan lebih enak dimakan dengan sambal-nya. Banyak orang yang makan disitu dimana babi ini dihidangkan dipincuk daun pisang….. tanpa sendok jadi makannya pakai suru daun……. Kali ini kami pilih beli dibungkus untuk dibawa pulang.

Selesai belanja udah tengah hari jadi kami memutuskan untuk makan siang di Mie Gajah Mas yang letakknya tak jauh dari Pasar Gede ini yaitu dipinggir Kali Pepe. Hawa yang panas ditambah mie yang mengepul serta padat-nya pengunjung, makan mie baso pangsit atau mie jamur itu membuat badan semakin gembrobyos, tapi puas juga perut udah terisi dengan makanan yang cukup khas rasanya.

Memang sudah lama tidak ke pasar besar di Solo ini, masih banyak lagi makanan nostalgia yang kami lihat dan sayangnya tidak semuanya bisa kami beli. Kali ini kami tidak beli pecel wijen dan tape singkong yang begitu lembut, lunak dan manis…. Mungkin lain kali….. pasti akan beli🙂

Catatan:
Kentang hitam yang di Jawa dikenal sebagai kentang ireng, nama Latin-nya adalah Coleus tuberosus atau juga dikenal dengan nama lain yaitu Solenostemon rotundifolius, Plectranthustuberosus atau Coleus edulis atau Coleus rotundifolius. Tanaman ini termasuk jenis umbi umbian kecil, banyak mengandung karbo hidrat dan konon bisa membantu mengurangi penyakit lambung. Kentang hitam ini cukup populer dibeberapa negara di Afrika.

Gayam nama ilmiahnya adalah Inocarpus fagiferus dan juga dikenal dengan nama Polynesian chestnuts atau Tahitian chestnut. Pohonnya yang rindang dan bisa mencapai 30 m tingginya ini dipercayai sebagai pohon angker dimana mahluk halus suka bernaung🙂