Kecanduan Internet
31 Jul 2010 Leave a Comment
in Life Tags: Internet Addiction, Kecanduan Internet, Renungan, Thought

Ingat zaman dahulu waktu masih sekolah ditahun 60-an. Waktu itu buku komik dan cerita silat dilarang dibawa kesekolah. Alasannya adalah karena buku cerita tersebut membuat anak anak kecanduan, maunya baca buku cerita itu terus dan lupa belajar atau bikin pekerjaan rumah.
Dizaman modern sekarang ini banyak alat alat elektronik yang sifatnya juga membuat orang kecanduan. Televisi, video/komputer games , dan internet terutama pergaulan melaui sarana internet jelas jelas membawa pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari. Kalau televisi dan video games hanya sekedar membuat orang tergantung pada kegiatan tsb, lain lagi halnya dengan pergaulan melalui internet.
Sebuah statistik menyebutkan bahwa wanita lebih banyak melakukan kegiatan internet dibandingkan dengan kaum pria. Separoh dari orang orang yang bergaul melalui internet bohong mengenai umur, pekerjaan, status pernikahan dan photo pribadi. Dua puluh persen dari pengguna internet mengaku mengalami akibat negatif yang berpengaruh pada kehidupan mereka sehari-hari. Pergaulan melalui internet sudah dianggap sebagai salah satu faktor yang bisa mengakibatkan perpecahan rumah tangga. Sebelas persen dari pengguna internet menjadi kecanduan.
Jika kita merasa internet sudah berpengaruh buruk pada kegiatan sehari-hari, jawablah pertanyaan ini:
- Apakah anda merasa lebih senang dan puas disaat menggunakan internet untuk chatting, blogging , atau kegiatan internet lainnya?
- Apakah anda merasa semakin lebih menggunakan waktu untuk kegiatan ini ?
- Apakah anda duduk didepan komputer disaat sebenarnya harus mengerjakan kegiatan dan tugas lainnya?
- Apakah anda sudah mencoba mengurangi waktu on line tapi tak berhasil?
Hal lainnya yang memberikan peringatan bahwa mungkin anda sudah mulai kecanduan, adalah lupa makan dan lupa waktu disaat sedang on line.
Seperti halnya dengan kecanduan buku seri silat, pergaulan melalui internet yang dilakukan secara berlebihan mengakibatkan terputusnya alam kenyataan dari daya pikir kita. Bahkan nonton televisi-pun bisa menjadikan orang tak sadar dengan kenyataan seolah-olah ter-hipnosi.
Dari renungan ini, kita harus bertanya pada diri sendiri. Sementara teknologi komputer berguna sekali untuk hal hal positif, tapi dari segi negatif-nya juga tak kurang bahayanya. Inginkah anda membiarkan anak anak sendirian dikamar mengahadapi komputer dan dengan bebas melihat-lihat apa yang ada di internet tanpa pengawasan sama sekali? Dari pada terlalu banyak waktu tersita oleh kegiatan di internet, bukankah kegiatan yang nyata lebih penting? Misalnya bergaul dengan teman teman, bermain olah raga atau ber-rekreasi dengan keluarga? Sama sekali tak sehat bagi anak anak untuk hanya tinggal didalam rumah terus nonton televisi, bermain video game atau melakukan kegiatan internet. Anak anak perlu untuk aktif , berlari-lari, bermain dan bergaul dengan anak anak lain. Hanya anda sendiri yang bisa memilih yang mana yang lebih sehat buat kesehatan rohani maupun jasmani.
Sudah Dikasih Hati Masih Merogoh Ampela
27 Feb 2010 3 Comments
in Life Tags: Basa Basi, Common Sense, Nalar, Renungan, Thoughts
Aku masih ingat dulu waktu zaman masih kecil, Papa sering bilang pepatah Jawa: “Uwis dike’i ati isih ngrogoh rempela”. Artinya adalah seseorang yang udah diberi kebaikan tapi masih tidak bisa puas dan masih minta diberi lebih banyak lagi. Jadi peribahasa ini menggambarkan orang yang rakus dan memikirkan kepentingan diri sendiri.
Hidup ini idealnya adalah ‘give and take’. Kalau kita menerima kebaikan dari seseorang ya kita harus membalasnya dengan kebaikan juga. Walaupun banyak orang yang lebih suka memberi tanpa mengharapkan balasan, tapi bukan berarti ini disalah gunakan dan menganggap kebaikan ini sebagai sumber rejeki yang bisa dimanfaatkan demi kepentingan diri sendiri.
Kalau orang Barat itu kebanyakanya bersifat aku aku, kamu kamu dan apa apa diperhitungkan atau istilah bahasa Belandanya ‘zakelijk’. Runyamnya kita kita orang timur, terutama orang Indonesia dari tanah Jawa itu sering berperasaan tidak enak terhadap orang lain. Banyak hal hal yang kita ucapkan itu hanya sekedar basa basi dan kalau dimaksudkan dalam arti yang sebenarnya ya ada batas batas tertentu yang kita kita tahu jangan dilanggar.
Contohnya adalah orang baru diseberang. Belum lama ini dia butuh jeruk lemon dan kebetulan pohon kita yang mungil didepan rumah sedang berbuah dan banyak yang udah kuning siap untuk dipetik. Dia ngetok pintu dan bertanya apakah boleh minta dua biji lemon. Nah aku yang masih berpikiran seperti kebanyakan orang dari Jawa, menyahut boleh saja. Terus aku ambil kantong plastik dan kupetik kira kira 12 biji lemon dan keberikan pada sang tetangga. Sebagai “basa basi” aku bilang kalau butuh lagi silahkan petik sendiri. Buat kebanyakan kita kita dari Indonesia ya tahu apa artinya ini. Tapi ternyata tetangga seberang itu betul betul mengartikan kata kataku itu dalam arti yang sebanarnya.
Tak lama setelah itu, waktu aku pulang dari bepergian, kulihat semua buah lemon yang sudah masak dan kuning kuning itu musnah dari pohonnya. Dalam hati aku berpikir pasti ada orang yang nyolong………. Eh, tergopoh gopoh orang seberang menghampiriku dan bilang terima kasih lemonnya, dia petik yang kuning kuning karena saudaranya ada yang datang dan mereka butuh lemon….. Wah, wah dalam hati aku berpikir ‘udah diberi hati masih nyolong ampela….’ Maksudku dia boleh memetik sendiri itu adalah untuk kebutuhan sendiri. Kalau dia mau memenuhi kebutuhan sanak saudaranya atau semua teman temannya ya bisa beli ditoko. Juga kalau memetik sendiri tanpa ijin ya kira kira jangan dipetik semua. Siapakah yang salah dalam hal ini? Bukankah hidup ini ada nalar-nya?
Suamiku yang orang bule menyalahkan aku. Dia bilang seharusnya aku jangan berpesan kalau dia butuh lemon lagi silahkan ambil sendiri. Seharusnya aku bilang kalau dia butuh lagi silahkan ketok pintu dan minta jadi kita bisa petikin…. Tapi naluriku masih percaya bahwa rata rata manusia itu punya ‘common sense’…. hanya dimanapun didunia ini ada saja sebagian kecil manusia yang sedihnya tak memiliki nalarnya kebanyakan orang.
“It is a thousand times better to have common sense without education than to have education without common sense.” Robert Green Ingersoll quotes
Berdosakah Mereka?
08 Oct 2009 1 Comment
in Life Tags: Berdosakah Mereka, Gempa dan Tsunami, Renungan

Musibah bencana alam lagi lagi terjadi dibumi Indonesia dan sekitarnya. Gempa dan Tsunami yang memakan banyak jiwa dan mengakibatkan sakit, pedih, duka dan hilangnya harta benda. Banyak orang dengan pongahnya menghakimi korban bencana alam ini. Mereka bilang pasti mereka punya dosa yang besar sekali jadi Tuhan marah dan menghukum mereka!
Benarkah tuduhan kejam ini yang ditudingkan kepada korban bencana pada khususnya dan orang Indonesia pada umumnya? Apakah Tuhan itu sebegitu kejamnya? Saya bukan ahli dibidang Alkitab. Yang akan saya tulis ini hanyalah nalar yang bisa saya simpulkan.
Saya sendiripun ikut pilu dengan apa yang terjadi dan juga merenungkan dan mencoba untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan: “KENAPA?”
Mungkinkah ini semua adalah karena dosa Adam dan Hawa dahulu karena tak menuruti perintah Tuhan? Akibatnya Allah Bapa memberikan kesedihan dan kesakitan. Sejak itu mereka harus bekerja dan bersimbah peluh untuk hidup mereka ((Kejadian 3:19-24).
Sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, manusia semakin jauh dari Tuhan dan semakin dalam jatuh didalam perangkap dosa:
“Tuhan Allah Maha Suci, sedangkan manusia penuh dosa. Karena itu ada satu jurang pemisah antara Tuhan Allah dengan manusia. Manusia selalu berusaha untuk mencari Tuhan Allah dan kehidupan yang penuh kebahagiaan melalui usahanya sendiri yaitu kehidupan yang baik, etika, filsafat dan lain-lain, namun gagal disebabkan karena dosanya. (Roma 6:23)” < dikutip dari: Empat Hukum Rohani – http://4laws.com/laws/indonesian/
Menurut pendapat saya, setelah membaca kutipan diatas, jawaban kenapa hidup didunia ini penuh dengan penderitaan, kesakitan, kesedihan, mala petaka dan tantangan jelas terjawab. Sejak jatuhnya manusia kedalam dosa yang bermula dari Adam dan Hawa, hidup manusia didunia ini tidaklah sempurna lagi. Dari sinilah alam dunia ini memberikan banyak tantangan dan percobaan hidup. Ini bisa kita lihat dan alami dari musibah alam, penyakit, tantangan dan kesulitan hidup, kesedihan dan masih banyak lagi. Allah Bapa telah membiarkan manusia berjalan sendiri menghadapi semua tantangan hidup ini.
Kembali kepada pertanyaan: “Sekejam inikah Allah Bapa?” Jawabannya adalah sebaliknya. Biarpun Bapa telah membiarkan manusia berjalan sendiri, tapi jalan yang benar masih diberikan. Ini tinggallah pilihan kita manusia. Maukah kita berjalan dijalan yang benar dibawah naungan Sang Penyelamat Yesus Kristus? Jika mau kita akan diselamatkan diakhir zaman. Jelas yang dijanjikan adalah keselamatan diakhir zaman. Jelas bukanlah keselamatan didunia ini.
Bagi saya pemikiran ini adalah masuk akal bahwa musibah baik yang bersifat alami atau karena perbuatan dan ulah manusia sendiri akan terus terjadi didunia ini, walaupun kita percaya dan hidup mengikuti perintah Tuhan. Ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa mala petaka, rintangan dan tantangan hidup itu justru berguna bagi manusia, supaya kita bisa belajar untuk lebih mawas diri dan memperbaiki diri dan takut kepada Tuhan,
Menurut pendapat saya mala petaka gempa dan tsunami yang bertubi tubi melanda Indonesia itu bukanlah karena para korban berbuat dosa besar. Ingat kita semua manusia ini berdosa dimata Tuhan. Semua kejadian alam, kepedihan dan kesusahan hidup ini adalah bagian dari hidup ini sendiri dan bukan karena manusia yang jadi korbannya telah berbuat dosa yang akibatnya dihukum oleh Tuhan.
Oktober 2009 – Sebagai tanda ikut berduka atas musibah gempa yang akhir akhir ini melanda Indonesia dan Samoa.










