Mama

 

Kuat dan tegas caramu berucap kata, mama

Benar dan jujur itulah prinsip hidupmu yang tulus

Orang bilang kau terlalu galak dan keras kepala

Tapi bagiku kau selalu berpijak pada jalan yang lurus

 

Dibalik tegarnya sifat terdapat sejuta kelembutan

Sebagai ibu kasih sayangmu melimpah nyata

Untuk setiap dambaan bayi yang kau lahirkan

Kau perlakukan kami selembut mutiara

 

Semasa kanak-kanak kami punya segalanya

Namun tak pernah dalam bentuk kemanjaan yang sia

Darimu aku belajar mengurus rumah tangga

Cuci baju dan lantai serta urusan dapur aku terbiasa

 

Kesederhanaan dan moral tinggipun tak lupa kau ajarkan

Kadang kala jika serasa kau perlakukan kita begitu kerasnya

Ini hanyalah caramu membuat supaya kami tak sesat dijalan

Dan dengan adil kau perlakukan kita sama rata

 

Jalan hidupmu banyak tantangan dan berliku

Kebahagiaan dan kekecewaanpun saling merajut jiwa

Tetap kau berpegang teguh pada prinsip hidupmu

Tuhanpun menganugerahi  ketabahan jiwa

 

Terima kasih mama atas semua yang kau beri dengan rela

Dan maafkan jika aku khilaf dan menumpahkan kesedihan

Untaian puisi ini kutulis hanya untukmu mama

Sebagai rasa penghargaan, syukur dan kasih cinta

Air

Banjir bandang yang melanda banyak daerah di Queensland termasuk kota Brisbane, juga banjir sekarang ini di daerah New South Wales dan Victoria, membuatku merenungkan begitu dahsyatnya kekuatan air itu. Selain merupakan sumber kehidupan, air juga bisa membawa mala petaka.

 

 

 

 

 

 

 

Air

 

Air itu ada dimana mana

Disungai, danau dan lautan

Diarakan awan pembawa hujan

Dibawah tanah dan diudara

Tanpamu dunia ini kering kerontang

Hampa tanpa kehidupan

 

Engkau juga yang melukiskan keindahan

Sungai sungai panjang dan danau yang lebar

Gemercik suaramu membawa ketenangan

Indahnya warnamu disamudra dan lautan

Kesegaranmu pelepas dahaga

Basuhanmu membersihkan raga

 

Begitu seringnya kita lupa

Kau juga bisa membawa bencana

Sering pula kita meremehkan

Kekuatanmu membuat kita tak berdaya

Banjir bandang, hujan badai dan ombak besar

Menerjang, menghempas dan menghanyutkan

 

Our thoughts and pray for all the victims of floods in Queensland, NSW and Victoria January, 2011.

Pohon Itu Sendiri


Pohon besar itu sendiri disana
Diatas tanah kering penuh batu
Panas dan terik mentari membakar membara
Dinginnya malam hari mencekam membeku

Pohon besar itu sendiri disana
Memberi naungan burung burung dimalam hari
Dibawah dahan dahan yang rindang
Kelana beristirahat diteriknya mentari

Pohon besar itu sendiri disana
Banyak sudah yang ia lihat dan saksikan
Saat tanah membelah rekah karena dahaga
Atau dikala petir membelah mengguyur hujan

Pohon besar itu sendiri disana
Keindahannya tak ada yang memuji
Tanpa keluhan ia tumbuh kokoh kekar
Jasa baiknya tak ada yang menghargai

 

 LB – Kamis,  1 April, 2010

Hold on to what is good,
even if it’s a handful of earth. 
Hold on to what you believe,
Even if it’s a tree that stands by itself. 
Hold on to what you must do, 
Even if it’s a long way from here. 
Hold on to your life, 
Even if it’s easier to let go. 
Hold on to my hand, 
Even if I’ve gone away from you.

(Pueblo Indian Prayer) 

Monyet Kecil di Shopping Plaza

 poor moonkey 

Lihatlah aku!

Siapakah aku ini?

Berpegang erat pada terali besi merah

Duniaku hanya berapa langkah kecil

Aku ini sendiri menanti

Apa yang kuharapkan?

Aku sendiri tak tahu pasti

 

Pandanglah aku ini!

Mereka bilang aku ini sesuatu yang lucu

Mata mereka berseri melihatku terkesima

Tidakkah mereka itu melihat?

Mataku pudar karena jemu

Tidakkah mereka dengar jeritanku?

Takut dan pedih terkurung sendiri.

 

Ingatanku samar tertimbun nyeri

Badan dan kaki ini  kaku membeku

Dulu duniaku hijau

Dipepohonan itu kami bercanda

Hangatnya surya hampir kulupa

Pelukan mama sudah tak terasa

Hidup ini sekarang hampa

 

Aku ingin bebas lagi

Aku tak mau sendiri

Aku benci kurungan besi merah ini

Aku muak pada bau kotoranku sendiri

Aku ini bukan benda yang bisa kau miliki

Aku mau memanjat pohon pohon itu lagi

Tidakkah kau manusia dengar tangisanku ini?

 

Catatan: Monyet kecil ini kami lihat disebuah Pet Shop di salah satu pusat pertokoan di Bandung, Indonesia.

 

A little Monkey in a Shopping Plaza

 

Look at me!

Who am I anyway?

I’m clinging to this red iron rails

My world is just around this tiny space

All alone I am waiting

What am I hoping for?

I myself will never know

 

Watch me!

They think I am amusing

Those eyes sparkle starring at me

But don’t they see?

Boredom has clouded my eyes

Don’t they hear my cry?

I’m afraid and sad captured in this cage

 

My thoughts are hiding behind this pain

My feet and body are aching

Long ago my world was green

Among the trees life was fun and carefree

I can’t remember the warmth of the sunlight

No more  I feel mother’s embrace

Now my life is an empty space

 

I want to be free!

I don’t want to be alone!

I hate this red iron cage!

I’m sick of all this dirt!

I’m not something that can be owned!

I want to climb trees again!

Don’t you human hear my plea?

 

Note: We saw this poor little monkey in a Pet Shop in a Shopping Centre in Bandung, Indonesia.

Bulan Kalangan

Bulan Kalangan

Dingin udara mencekam

Malam ini langit kelam

Temaran sinar pudar

Terkurung dibulan kalangan

 

Rembulan kau tampak sayu dan sendu

Bersembunyi diri didalam lingkaran itu

Warta apakah yang ingin kau siarkan?

Makna apakah yang kau coba gambarkan?

 

Sekelilingku semua hitam

Suara jengkerik terasa menghujam

Kerangka dahan tampak keperakan

Bergoyang goyang  tertiup angin malam

2 Juli, 2009

Papa

Papa

Lembut tutur sapamu, tenang penampilanmu

Seandainya hidup ini pertunjukan pentas

Dibelakang layarlah peranmu

Tidak banyak tampak tapi penting itu jelas

 

Setiap pagi kuberi makan burung tekukur dihalaman

Untuk mengenang dirimulah ini kulakukan

Kalau sampai bicara tentang binatang dan tanaman

Kurasa kau dan aku punya banyak persamaan

 

Kau dan akupun suka dengan lagu2

Musik keroncong dan gamelan Jawa

Merenung diri adalah kebiasaanmu

Aku jugalah yang melakukan hal yang sama

 

Papa, cintamu  kepada kita semua dulu

Kau wujudkan dalam dongeng dimalam hari

Rasa humorpun tercurah dicerita lucu

Yang membuat kita tertawa geli

 

Jika mungkin akan kujaring masa kecil kami supaya abadi

Karena waktu itu hidup ini terasa begitu indahnya

Saat itulah kenangan dirimu yang paling berarti

Kalau saja bisa kebahagiaan ini akan kupegang seeratnya

 

Papa, kini kau telah tiada lagi

Namun jika kudengar nyanyian tekukur bersahutan

Dan disaat alunan keroncong atau gamelan kunikmati

Keberadaanmu masih bisa dekat kurasakan

Sahara

Sahara Desert

Bentangan butir butir pasir menggunung

Dibagian bumi ini gersang dan dahaga

Silau terik mentari membakar membara

Dinginnya kelam malam mencekam raga

 

Disini bumi ini berganti pandang

Gelintiran pasir pasir itu tidak diam

Angin sahara melukiskan banyak gambar

Ombak pasir menggulung lembut dibukit curam

 

Dari jauh datang seorang kelana

Pasir pasir gugur kena injakan onta

Oasis hijau itu tujuan mereka

Untuk beristirahat dbawah pohon kurma

 

Jumat, 5 Juni 2009

Senja

Bukit di Senja Hari

Senja

 

Putaran siang hari hampir usai

Dengan enggan mentari pergi

Lembayung senjapun membingkai

Bukit batu memerah warna api

 

Detik demi detik jingga memudar

Pelan pelan bukit itu menghitam

Bayang bayang gelap terhampar

Tidurlah surya dipelukan malam

 

Rabu, 3 Juni 2009

Cyberfriend

Silhouettes and Shadows

Cyber Friend

 

Jari jemari menari nari

Menuliskan kata kata

Dengan cara ini

Kita berdua berbicara

 

Tertuanglah kata hati

Tercurahkanlah semua hasrat

Dengan asyiknya

Kita menjalin kasih mesra

 

Namun siapakah engkau sebenarnya?

Siapakah aku ini gerangan?

Nama kitapun bukan yang sebenarnya

Cyberworld telah menciptakan kita berdua

 

Namun apakah kau hanya satu satunya?

Ataukah banyak bayang bayangmu?

Bagaimana aku bisa tahu

Sama semuakah bayang bayang itu?

 

 

Kumpulan Sajak dan Gambar oleh Lois/Wulan

22 Mei, 2009

Bermuka Dua

Dua Muka

Bermuka Dua

 

Berseri  paras secerah surya

Gelap hati sehitam kelam

Dialah perempuan bermuka dua

Manis diluar tapi keruh didalam

 

Bagaikan kupu hinggap dibunga

Iapun terbang kesana kemari

Sambil asyik menghisap madu

 Bergunjinglah ia kesana sini

 

Dibalik ramahnya tutur kata

Sembunyilah iri dan dengki

Kepada mereka yang tak disuka

Tak segan ia menyakiti hati

 

 

 

Sajak dan Gambar oleh Lois /Wulan

Jumat, 22 Mei 2009

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.