Nostalgia Lebaran
30 Aug 2011 Leave a Comment
in Nostalgic Food Tags: 1950s - 1960s, Celebration Food, Eid ul Fitr, Nostalgia
Buatku yang bukan beragama Islam, saat-saat hari ‘Bakdo’ (=Lebaran bahasa Jawa) dijaman dulu sekitar lima puluh tahun yang lalu masih mampu meninggalkan kenangan yang sangat khas. Suasana dihari raya saat itu diramaikan oleh ledakan long bumbung. Dari segala penjuru terdengar suara blug…. blug….. blug silih berganti. Yang datangnya dari dekat selalu mengagetkan suaranya.
Dulu waktu aku masih kecil, papa pernah menyuruh salah satu pegawai kami untuk membikinkan long bumbung yang terbuat dari batang bambu yang disulut dengan minyak tanah. Bambunya harus besar untuk menghasilkan suara yang keras. Entah bagaimana cara memasang long bumbung ini aku tak ingat lagi. Yang aku tahu harus menggunakan batang bambu dan minyak pet (minyak tanah).
Selain long bumbung, yang memberikan nostalgia tersendiri disaat Bakdo adalah hidangan hantaran dari para langganan toko dan pegawai kami. Karena kami tinggal diwilayah Kabupaten, jadi hidangan hantaran ini bukanlah makanan mewah orang kota. Tapi buat kami sekeluarga justru menu Lebaran orang desa itulah yang memberikan cita rasa tersendiri. Sederhana memang, tapi punya kelezatan tersendiri. Aku ingat mama selalu memberi dua kilo gula pasir dan beberapa bungkus teh kepada semua yang memberi makanan Lebaran.
Waktu itu, hantaran makanan Hari Raya biasanya ditaruh didalam tenggok yang digendong. Tenggok adalah semacam keranjang anyaman dari bambu yang biasanya digendong oleh kaum wanita untuk membawa barang barang. Dari begitu banyaknya hantaran, variasi makanannya hampir sama yaitu terdiri dari nasi lengkap dengan lauk pauknya:
- Nasi gurih, yaitu nasi putih yang dimasak dengan santan
- Ayam ingkung yang dimasak bumbu semur. Seringnya ayam yang dimasak utuh dengan bumbu kecap, bawang merah dan merica. Sering memakai soun.
- Sambal goreng kerecek, yang isinya selain kerecek juga ada potongan kentang kecil kecil dan petai.
- Bihun goreng
- Serundeng kelapa dan kedelai hitam goreng.
- Perkedel kentang
- Rempeyek dan Kerupuk
- Kue Jadah
Selain nasi dengan lauknya, juga ada kue jadah asin dan manis. Kue jadah adalah ketan dan kelapa yang dimasak, ditumbuk dan dicetak. Yang manis diberi gula jawa.
Semua makanan lebaran dari desa ini mempunyai rasa yang begitu khas yang memberi kelezatan tersendiri. Mama bilang karena semua makanan dimasak dengan menggunakan bara api dan kuali tanah.
Sudah lama sekali aku tidak pernah ada di Indonesia selama masa Lebaran, jadi aku tak tahu lagi perkembangan menu Lebaran selama ini. Mungkin sekarang menu Lebaran didaerah pelosok udah tidak sama lagi dengan dizaman dulu ditahun 50/60-an. Mungkin sekarang menu udah jauh lebih modern……. namun lezatnya semur ayam dan sambal goreng kerecek Lebaran diwaktu masa kecilku dulu masih meninggalkan nostalgia tersendiri yang tak akan terlupakan
Bagi yang merayakannya:
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir dan batin”.
Snoopy
22 Jun 2011 Leave a Comment
in Life Tags: Cartoon amd Comic Characters, Money Box, Nostalgia, Peanuts, Snoopy and Woodstock
I still keep my son’s Snoopy money box. He had it long time ago when he was still a small boy. It has lost the base so I have to put a piece of sticky tape to prevent coins from coming out. Yes, I keep my loose change in it. It is made of ceramic and I think it is too cute to throw away.
This morning as I was dusting the money box, I remembered long time ago when we used to watch Peanuts shows. How I loved Snoopy and Woodstock. Two creatures that unlikely had become very good friends, but the friendly little
bird melted the dog’s heart. Snoopy taught his little friend a lot of things including how to fly. But how could a dog teach a bird how to fly? Woodstock never could fly correctly. The pair were always together and they became the closest buddies. Snoopy liked his friend very much so that he was able to understand the bird’s language. They enjoyed to sing and to dance together and Woodstock was an excellent whistler. He would whistle to the tune while Snoopy sang.
The reason that I like Snoopy and Woodstock shows better than the other Peanuts episodes is because of true friendship between the two. Both of them enjoyed to be together and always supported each other when troubles came. This is how a true friendship supposed to be.
The best of Snoopy’s quotes is:
Why can’t we get all the people together in the world that we really like and then just stay together? I guess that wouldn’t work. Someone would leave. Someone always leaves and then we have to say good-bye. I hate good-byes. I know what I need. I need more hellos…………
This is a video clip from littlefox79:
Honey, I Miss You
11 Jun 2011 Leave a Comment
in Music and Songs Tags: Beautiful Song, Bobby Goldsboro, Honey, Nostalgia, Oldies, Sad Song
One song that still makes me so very very sad when I hear it. It brings tears into my eyes. It was long time ago when I first heard Honey (I Miss You) sung by Bobby Goldsboro. It was a beautiful song first released in 1968. So far, there were many covers have been produced, but only Bobby Goldsboro could sing it right. The lyrics are full of sweet memories…. little innocent things she did that made him loved her so. True love that was cut short by death. So sad yet it was also very very sweet……
This is a beautiful YouTube video clip by Angel :
Sam Saimun
02 Jun 2011 Leave a Comment
in Music and Songs Tags: 1960s, Indonesian Singer, Music, My Favourite Singer, Nostalgia, Sam Saimun

Awal tahun 1960, aku baru duduk dikelas 3 SD. Karena kelasnya sore dan tidak ada bus disore hari yang bisa membawaku pulang kerumah, aku tinggal dirumah nenek di Solo. Waktu inilah aku sering ikut mendengarkan lagu lagu yang tante Yan dengarkan dari RRI Solo.Dari semua lagu lagu Indonesia yang tanteku dengarkan waktu itu, lagu lagu-nya Sam Saimun yang paling enak. Tante bilang kalau sudah mendengarkan suaranya Sam Saimun rasanya jadi seperti terbang di awang awang. Ha….Tanteku itu terus duduk sambil memejamkan matanya dan menggerakkan tubuh dan kepalanya mengikuti irama alunan lagu. Lucu juga, suatu kenangan indah yang tak akan kulupakan. Karena masih kecil saat itu, lagunya Sam Saimun yang paling kusenangi adalah Indonesia Pusaka.
Bagi mereka-mereka seangkatanku, siapakah yang tidak mengenal dan menyukai suara penyanyi Indonesia yang satu ini. Suaranya begitu mantap serta empuk dan di Indonesia belum ada taranya sampai saat ini. Banyak yang memanggil Sam Saimun sebagai Nat King Cole-nya Indonesia. Sekarang setelah aku mendengarkan lagi lagu lagunya beliau ini, kurasa suara penyanyi terkenal ini adalah paduan antara suaranya Nat King Cole dan Pat Boone.
Sayang sekali tak bisa kutemukan profil tentang Sam Saimun. Maklum disaat itu ditahun 60-an media informasi boleh dibilang hampir tak dikenal. Kalau adapun mungkin hanya akan terdapat diradio, koran atau majalah dan cepat terlupakan begitu saja.
Yang jelas Sam Saimun itu penyanyi seangkatan Ismail Marzuki, Maladi, Gesang dan kemudian Bing Slamet. Disebutkan bahwa Bing Slamet mengenal Sam Saimun disaat bertugas di Yogya ditahun 1944.
Rekaman waktu itu banyak yang dibuat oleh perusahaan Piringan hitam dan Broadcaster Lokananta di Solo. Untuk musik pengiring, banyak lagu lagu lama dimasa itu didukung oleh pianis Indo-Belanda yang terkenal bernama Nick Mamahit. Diantara lagu lagu yang dinyanyikan oleh Sam Saimun adalah ciptaan Ismail Marzuki dan Mochtar Embut.
Setelah lewat tahun 70-an, lagu lagu Sam Saimun mulai jarang didengar dan menjadi langka. Piringan hitam atau cassette lagu-lagunya Sam Saimun juga tak kumiliki. Aku hanya bisa mendengarkannya kembali dari YouTube. Hal ini begitu amat disayangkan.
Untuk mendengar lagu Sam Saimun dari YouTube. Terima kasih sebesar besarnya untuk Pak Dede61 yang sudah memberi kami semua kesempatan mendengarkan lagi suara emas-nya Sam Saimun.
Beberapa lagu lagu terkenal yang dinyanyikan oleh Sam Saimun:
Diwajahmu Kulihat Bulan (Ciptaan Mochtar Embut)
Bujang Dara
Di Sudut Bibirmu (Ciptaan Mochtar Embut)
Kasih Tak Terbalas
Pujaan Kalbu (Ciptaan Mochtar Embut)
Selendang Sutra (Ciptan Ismail Marzuki)
Sepasang Mata Bola (Ciptaan Ismail Marzuki)
Rindu Lukisan (Ciptaan Isamil Marzuki)
Juwita Malam (Ciptaan Ismail Marzuki)
Aku Suka Kau Berdua
05 Mar 2011 1 Comment
in Life Tags: Indonesian Fruits, Nostalgia, Salak and Duku
Kerinduan ini tak terbendung dari hari ke hari
Lagi lagi aku bayangkan kenikmatannya
Begitu manisnya kau berdua
Tak bisa aku membandingkannya
Yang satu kasar dan gelap warnanya
Yang kedua kuning dan halus kulitnya
Sayangku kepadamu berdua
Sama tak ada bedanya
Didalam dirimu berdua
Kelembutan begitu terasa
Yang satu bagaikan gading warnanya
Yang lain begitu bening dan mulus rupanya
Jika aku bersama kalian bedua
Hati inipun terbelah jadinya
Aku tak bisa memilih yang mana
Aku suka keduanya
Sajak ini kutulis untuk buah kesayanganku Salak dan Duku. Hmm…..bukan pacar lho!
____ XXX____
Aku suka sekali buah buahan. Suka dalam arti kalau sudah makan buah, tidak hanya sepotong, satu atau dua saja. Tapi bisa makan banyak tanpa bisa puas. Seperti kalau aku makan buah cherry, sekilo aku bisa habiskan sekali gus. Sampai suamiku takut aku akan sakit perutnya.
Kalau ada yang tanya buah apa yang aku paling ingin makan sekarang? Jawabku adalah salak dan duku. Maklum karena kedua buah ini tak ada disini di Melbourne. Yang lain seperti dondong, sawo, belimbing, mangga, rambutan, kelengkeng dsb ada dijual disini. Engga tahu kenapa salak dan duku engga ada. Pernah beberapa tahun yang lalu aku lihat ditoko yang miliknya orang Kamboja di South Springvale menjual langsep/langsat. Ya ampun, masa sekilo harganya $30 Aud. Waku itu aku beli juga kira kira 12 biji udah hampir lima dollar.Saking kepinginnya, untung lemes dan manis juga rasanya. Hanya sekali itu aku pernah lihat, setelah itu tak ada yang jual lagi, mungkin karena terlalu mahal.
Setiap aku ke Indonesia, hanya salak saja yang ada ditoko. Herannya kalau aku kesana engga pernah musim duku. Yang terakhir kesana, waktu jalan dipinggir jalan di Bandung aku lihat beberapa kulit duku berserakan ditanah. Aku bilang kekakak, itu ada kulit duku. Memang kakakku tidak melihatnya karena dia udah duluan jalannya. Dia jawab, masa ada duku karena bukan musimnya. Dia bilang lihat saja ditoko atau pasar ada yang jual atau tidak. Muter muter di Mal dan supermarket, engga ketemu itu dukunya. Lihat lihat yang jual dipinggir jalan engga ada yang dagang duku.
Kakakku tak percaya aku lihat kulitnya. Maka waktu kami jalan kembali ketempat parkir dan melewati tempat dimana aku lihat kulit duku sebelumny, baru dia percaya. Tadinya dia mengira aku salah lihat, mungkin kulit kelengkeng katanya. Ternyata yang kulihat betul yaitu kulit duku. Kami jadi terheran heran, dari mana duku itu. Ini betul betul jadi misteri sampai sekarang karena dimanapun ditempat yang jual buah buahan waktu itu, tak ada yang jual duku. Bahkan dikota lain di Indonesia yang kami kunjungi juga engga ada yang jual duku.
Ngelamunin tentang salak dan duku, aku jadi ingat lagu yang sering kunyanyikan waktu masih kecil. Kalau tak salah lirik lagunya seperti ini:
Oh, adikku, kekasihku ojo pijer nangis
Ayo dolan karo aku ono ngisor uwit manggis
Dhelok maneh ibu rawuh ngasto oleh-oleh
Kacang goreng karo roti, kowe mesti diparingi
Terus dimasa remajaku ditahun enam puluhan aku suka mendengarkan lagu Jawa berjudul Dondong opo Salak yang untungnya masih bisa kudengar di YouTube:
Catatan: Apa hubungan kedua lagu diatas? Lirik lagu pertama (Oh adikku) itu mirip dengan sebagian lirik lagi Dondong opo Salak. Jadi lagu Dondong opo Salak yang mengingatkanku pada lagu Oh adikku. Jadi urutannya agak terbalik. Semoga ada pembaca blog ini yang masih ingat lagu lagu diatas.
Cliff Richard: Idola-ku Dulu
18 Oct 2010 1 Comment
in Music and Songs Tags: Childhood Memory, Cliff Richard, Favourite Singer, Nostalgia
Percayakah anda kalau Cliff Richard itu dulu adalah penyanyi pujaanku? Penyanyi Inggris ini adalah idola masa kecilku. Waktu itu aku mendengarkan semua lagu lagunya, membaca gossip tentang dirinya, mengumpulkan gambar-gambarnya dan melamunkan dirinya.
Waktu itu diawal tahun 60-an, kami tidaklah seuntung anak anak sekarang. Waktu itu tak ada TV dan juga cassette player- pun belum ada (baru kemudian diawal tahun 1970-an). Untunglah mereka yang mempunyai record player/ piringan hitam atau tape recorder, tapi waktu itu kami tak punya, makanya kami hanya tergantung pada radio untuk mendengarkan lagu lagu.
Sekarang kalau dipikir lucu juga. Aku dan kakak perempuanku sering meributkan idola siapakah yang lebih jagoan. Penyanyi idola kakak adalah Ricky Nelson. Kakak dulu selalu bilang bahwa Ricky Nelson itu adalah penyanyi yang paling tampan sedunia dan suaranya adalah yang paling jernih dan lembut. Waktu itu karena masih di SD, kami tak mengerti bahasa Inggris. Pelajaran bahasa Inggris hanya dimulai dibangku SMP. Namun demikian, kami bisa mendapatkan copy surat dalan bahasa Inggris yang anak anak kirimkan ke penyanyi atau bintang film untuk meminta photonya. Kami berdua tak mau ketinggalan dan mengutip beberapa surat itu untuk dikirimkan ke penyanyi idola kami masing masing.
Hati ini betul betul berdebar keras waktu aku menerima surat dari Cliff. Alangkah bangganya menerima photo hitam putih lengkap dengan tanda tangannya. Dalam hati kupikir:”Cliff Richard sudah membaca suratku dan mengirimkan photonya untukku. Coba bayangkan!”……Seakan akan impianku sudah jadi kenyataan. Waktu itu tak terpikir kalau sebetulnya Cliff sendiri tak tahu menahu tentang surat suratku. Tentunya sekretarisnya yang membaca surat surat dan mengirimkan photo photo.
Tak lama kemudian, kakak juga menerima photonya Ricky Nelson yang jauh lebih besar ukurannya dan berwarna. Aku merasa dikalahkan, karena kakak bisa membuktikan bahwa penyanyi pujaannya lebih unggul.
Betul juga, kakak memamerkan tidak hanya satu photo tapi 3 buah photo ukuran besar 2 x postcard dan berwarna. Satu photo adalah Ricky Nelson sendiri, kemudian dengan isterinya Kris dan satunya lagi bersama keluarga Nelson (orang tua dan kakak laki lakinya).
Kakak mengejekku karena Ricky Nelson lebih murah hati dan Cliff pelit. Karena tak mau kalah, aku bilang setidak tidaknya Cliff masih bujangan dan Ricky Nelson sudah menikah. Kakak jadi diam, ha……
Aku terus menyukai lagu lagunya Cliff Richard sampai dewasa. Namun sekarang setelah lebih dari 45 tahun telah berlalu, rasanya suaranya penyanyi idolaku ini biasa biasa saja. (Sorry ya, Sir Cliff). Idola yang mendebarkan hati dimasa kecil sekarang hanyalah tinggal kenangan.
Untuk anda anda yang terlalu muda untuk mengenal Cliff Richard, inilah sedikit profilnya. Cliff Richard yang sekarang dikenal dengan panggilan Sir Cliff tidak pernah menikah, dan sampai saat ini masih membujang. Sedangkan penyanyi Ricky Nelson telah meninggal dunia disaat mengalami kecelakaan pesawat terbang ditahun 1985.
Cliff Richard:
- Nama lahir: Harry Rodger Webb
- Lahir: 14 Oktober 1940 di India yang waktu itu masih diduduki Inggris.
- Kebangsaan: Inggris.
- Genre musik: Rock and Roll, Pop.
- Pekerjaan: Penyanyi dan Bintang Film dimasa mudanya.
- Instrumen: Vokal dan Gitar
- Masa aktif: Mulai tahun 1958 sampai sekarang.
- Label musik: EMI, Colombia, Epic, Rocket, Papillon.
- Band: The Shadow.
- Gelar ‘Sir”: Pada tanggal 25 Oktober, 1995, Ratu Elizabeth menganugerahkan Queen’s Birthday Honour dan Cliff Richard menjadi Sir Cliff.
- Beberapa lagu hit: Living Doll, The Young One, Summer Holiday, The Minute You’re Gone, Congratulation dsb.
- Lagu yang populer setelah tahun 1970: We Don’t Talk Anymore, Mistletoe & Wine dan Millennium Prayer, Wired for Sound, Miss you Nights, Ocean Deep, Give A Little Bit more dsb.
Sir Cliff terkenal awet muda dan memiliki karir yang panjang.
Inilah link dari You Tube untuk mendengarkan sebuah lagunya:
Boneka Dakocan
09 Jun 2010 7 Comments
in About Me Tags: Childhood, Dakkochan, Nostalgia, Popular Doll

Waktu itu ditahun enam puluhan, kami anak anak perempuan disekolah heboh karena munculnya boneka baru. Mereka yang memiliki boneka ini dianggap betul betul ‘wah’ dan bergaya. Bayangkan saja, boneka yang bisa menggelantung memeluk lengan dan bisa diajak jalan jalan. Aduh alangkah asyiik dan bergaya jika melihatnya……
Boneka ini dinamakan Dakocan. Dakocan adalah boneka yang ditiup seperti balon. Bermacam macam warnanya, ada yang hitam, biru, merah dan warna warna lainnya. Kedua lengan dan kaki boneka ini melengkung jadi bisa di selipkan kelengan dibawah bahu dan akan terlihat seakan akan dakocan ini memeluk lengan kita. Karena ditiup semacam balon jadi terasa sangat ringan.
Aku dan kakak perempuanku waktu itu tidak mau ketinggalan. Kami mampu membujuk Mama supaya dibelikan, walaupun harganya tak murah. Seingatku, yang punya kakak berwarna biru dan yang punyaku berwarna merah. Setiap pergi dan pulang sekolah tak lupa kami memasang boneka dakocan ini dilengan kami. Dikelas, kami harus mengeluarkan angin dari dalam boneka itu hingga betul betul kempes dan kami lipat dan menyimpannya didalam tas. Sebelum pulang dari sekolah , kami tiup kembali dakocan kami dan sepanjang jalan boneka yang sedang popular itu menggelantung dilengan kami.
Waktupun berlalu dan akhirnya dakocan pelan pelan mulai tak terlihat lagi. Anak anak rupanya sudah bosan dan boneka tiup ini tak menarik lagi. Inipun terjadi dengan dakocan milikku dan milik kakak. Entah dimana kami simpan boneka itu. Mungkin oleh mama waktu beres beres kamar kami, boneka itu dibuang dan dianggap tidak berharga lagi.
Pikir pikir, dizaman itu ditahun enam puluhan, kami sudah mulai terjerat oleh yang dinamakan ‘consumerism’. Mulai ada barang barang yang diperdagangkan ditujukan pada kelompok tertentu, terutama ditujukan buat anak kecil dan remaja. Apapun barang baru yang dianggap populer akan laris terjual.
Lagu Dakocan (Ciptaan Pak Kasur):
Kulihat ada boneka baru
Amat aneh dan lucu
Dakocan namanya, bukan Sarinah
Sayang, sayang…mahal harganya
Dakocan namanya, bukan Sarinah
Sayang, sayang mahal harganya

SMA Kristen I Sidokare Solo
04 May 2010 7 Comments
in About Me Tags: High School Education, Life, Nostalgia, SMA Kristen I Sidokare Solo
1968-1970
Masa sekolah di SMA adalah yang paling berkesan dan menyenangkan. Kalau dipikir mungkin karena saya sudah bertambah dewasa. Juga di SMA, mulai kelas 2 kami boleh memilih jurusan. Waktu itu ada dua bagian yaitu Pas-Pal (Pelajaran ilmu pasti dan alam) atau Sos-Bud (Pelajaran Sosial Budaya). Tentu saja saya memilih jurusan Sos-Bud dan mulai saat itulah sekolah terasa lebih mudah dan menggairahkan.
Pergaulan dengan teman teman sekelas semasa SMA juga mulai bersifat lebih dewasa dan lebih erat. Kami banyak yang kompak terutama kelompok kami yang terdiri dari:
- Endang Sukesti yang orangnya manis sekali..
- Sri Sukarni yang ramah dan rambutnya selalu disasak tinggi.
- Ari (Kiem Lian) yang mungil. Terima kasih ya permennya (saat kami sedang haus hausnya) waktu kita wisata sekolah ke candi Prambanan.
- Erlin yang halus dan pendiam.
- Suwarti yang pernah membonceng skuter dan dia duduknya melorot hingga kami berdua hampir jatuh dijalan.
- Hok Hay yang membuntut kami yang cewek semua. Siapa yang ditaksir ya?
Selain kelompok kami, saya masih ingat pada Hwie Ing, Djoen May, Djioe Lan yang anaknya Pak Tan guru olah raga waktu SMP, Swie In, Yunianto (sekarang menjadi pendeta), Yatman yang adiknya Pak Yatmo, Kantiyo, Yacob yang dari Irian, Gwan Tek yang rumahnya dekat palang sepur Ledoksari, Hway Tiong dan Ebenhart Simanungkalit yang anak Indo Jerman dan matanya biru (Catatan: saya lupa lupa ingat apakah Ebenhart ini teman waktu SMP atau SMA).
Guru guru SMA waktu itu adalah:
- Drs. Manungku _ Kepala sekolah dan mengajar Kimia
- Ibu Wurtiningsih – Bahasa Inggris
- Pak Pur (Purwanto) – Civic (Ilmu Tata Negara)
- Pak Hardiman – Bahasa Indonesia
- Pak Abner – Aljabar, Goneometri, Stereometri
- Pak Yatmo (Suyatmo) – Sejarah
- Pak Himawan (Ilmu Alam/Fisika?)
- Pak Wito (Suwito) – Ilmu Bumi
- Pak Basuki – Olah Raga
- Bapak dan Ibu guru yang suami istri, saya lupa namanya. Kalau tak salah si Bapak mengajar Ekonomi dan isterinya mengajar PKK.
Walaupun saya menyukai semua guru guru SMA waktu itu, tapi saya punya 2 orang guru favorit. Mereka adalah Ibu Wurtiningsih yang orangnya lembut dan hitam manis. Karena waktu itu saya memiliki buku pelajaran bahasa Inggris yang dipakai, jadi saya sering disuruh mengutip pelajaran dipapan tulis supaya anak anak lain bisa mengutipnya. Semua tertawa jika tulisan saya dipapan tulis naik turun gunung. Ha…. Guru favorit saya yang satu lagi adalah pak Pur. Pak Pur ini memberi kesan diam dan berwibawa, jadi anak anak tak berani main main kalau dia sedang mengajar. Waktu pak Pur jadi wali kelas, saya diberi tugas untuk mengumpulkan uang sekolah.
Tiga tahun belajar di SMA ini berlalu dengan cepat dan pada tanggal 21 Oktober 1970 dinyatakan lulus dan nilai ujian saya cukup bisa dibanggakan. Sampai sekarang saya bersyukur dan berterima kasih kepada semua guru guru mulai dari TK s/d SMA yang pernah mengajar dengan tekun dan sabar.
Waktu itu saya merasa lega, dada ini terasa ‘mak plong’ karena masa sekolah sudah berlalu. Namun kalau seandainya mungkin, saya tak akan keberatan untuk mengulang masa SMA. Dimana lagi saya bisa menemukan teman teman lain yang seperti Endang, Sri Sukarni, Ari, Erlin, Hok Hay, Suwarti dan lain lainnya? Yang terakhir saya tahu bahwa Endang menikah dan tinggal di Surabaya. Ari juga menikah dan melanjutkan usaha toko milih orang tuanya. Hok Hay saya dengar menikah dan tinggal di Jakarta sedangkan Erlin bekerja di salah satu bank di Solo.
Selesainya SMA, saya meneruskan pendidikan di Bandung dan tinggal lama di kota kembang itu. Sekarang sudah lebih dari 25 tahun saya terdampar disini dinegeri Kangguru, dan teman serta kenalan barupun sudah terjalin tapi tak sama dengan teman teman dekatku dulu di SMA.. Dimanapun mereka berada saya berharap agar kalian hidup bahagia dan umur panjang serta dikaruniai banyak anak dan cucu.
Under the magnetism of friendship the modest man becomes bold; the shy, confident; the lazy, active; and the impetuous, prudent and peaceful.
– William Thackeray
Sekolah Kristen Pasar Legi (2)
03 May 2010 12 Comments
in About Me Tags: Nostalgia, Pasar Legi Christian School, Secondary Education
SMP (1964 – 1967)
Enam tahun disekolah dasar, bagi saya masih enak dan mudah jika dibandingkan dengan tiga tahun selanjutnya di SMP. Ya begitulah, memangnya saya itu anaknya dulu punya semacam ‘bad attitude’. Kalau senang pada pelajarannya, ya saya belajar dengan tekun, tapi kalau udah yang namanya tak senang itu ya malas benar belajarnya. Selama tiga tahun disekolah menengah pertama ini tak ada pilihan, jadi ya harus belajar semuanya. Ilmu ukur dan aljabar adalah dua pelajaran yang paling saya benci dan tak nempel diotak sama sekali. Ha…
Saya memulai kelas satu SMP di Sekolah Kristen Pasar legi pada tahun 1964. Mengingat guru guru SMP itu tidaklah mudah karena setiap mata pelajaran ada gurunya masing masing.
Inilah daftar guru guru SMP Kristen Pasar Legi – Solo waktu itu antara tahun 1964 s/d 1967 yang saya masih ingat. Rasanya selama di SMP ini anak anak masih memanggil guru yang keturunan Chinese ‘Sien Sen’ , tapi disini saya akan tulis dengan ibu dan pak untuk mudah mengenali lelaki atau perempuan.
Pak Sie – Kepala Sekolah
Pak Is (Iskandar) – Bahasa Indonesia
Pak Mik (Mikhael Nenobais) – Bahasa Indonesia
Pak Mul (Mulyadi) – Sejarah
Pak Har (Hartono) – Ilmu Hayat
Pak Wid (Widodo) – Aljabar
Ibu Tjiong – Bahasa Inggris dan PKK
Ibu Oh – Ilmu Alam
Ibu Lim Lin – Ilmu Ukur
Pdt. Djie Kong – Agama
Pak Pardi – Bahasa Daerah
Pak Tjoa – Bahasa Jerman
Pak Tan – Olah Raga
Selain guru guru diatas seingat saya masih ada dua orang guru yang sifatnya bukan guru tetap. Kedua guru ini keduanya lelaki yang satu tinggi dan satunya lagi pendekan dan agak gemuk dan lebih tua. Saya tak ingat nama mereka, tapi saya ingat yang orangnya tinggi mengajar Tata Buku dan guru yang satunya lagi saya lupa mengajar apa. Mungkinkah ekonomi? Apakah ada pelajaran ekonomi di SMP waktu itu?? *Tambahan: Kalau tak salah nama kedua guru ini adalah yang orangnya tinggi adalah pak Sam (Samsudin) yang mengajar Tata Buku dan yang satunya yang sudah setengah baya dan agak gemuk adalah Pak Sri yang mungkin mengajar Ilmu Dagang.
Kantin yang untuk anak anak SMP terletak di belakang bangunan gedung SD, kalau menghadap kesekolah adalah sebelah kiri antara gedung SD dan Gedung SMP. Makanannya jauh lebih mahal dibandingkan dengan yang SD. Banyak menu warung SMP ini menyuguhkan makanan yang lebih mengenyangkan seperti misalnya; nasi soto, nasi bakmoy dsb. Warung SMP ini dikelola oleh wanita Chinese yang sudah setengah baya dengan nama panggilan Encim. Saya sendiri jarang jajan kesitu karena selalu penuh dan antri serta menunggu lama, Juga karena tidak murah, saya lebih suka menabung uang saku.
Sebagian teman teman sekelas adalah wajah wajah lama karena kami sama sama waktu SD. Tapi ada juga anak anak baru yang waktu SDnya dari sekolah lain.
Mereka mereka yang pernah sekelas adalah:
Ping Nio, sahabat terbaik sejak SD, namun sayangnya dia sempat marah karena sama saya digodain/dijodohin sama Kiem Gan yang nyentrik anaknya. Sorry sekali ya? Saya waktu itu hanya bergurau. Teman lain yang erat selama SMP adalah Hwan Nio yang montok tapi suka pakai rok mini , teman dekat lainnya adalah Tong Giok Lan yang rumahnya di Ledoksari dekat rumah nenek saya.
Anak anak lainnya adalah Giok Lien, Giok Ie (masih keponakan Ibu Oh dan saudaranya yang punya took Roti Ganep), Eng Lan, Gan Ying (anaknya yang punya rumah makan sate kambing di Widuran) , Djoen May , Siok Kiem (yang anaknya pendiam sekali berasal dari Kedung Banteng ), So Giem , Djoen Lan (dari Sragen keponakannya penulis silat Kho Ping Ho), Lien Nio, Non Nio, Wie Ing (yang cantik sekali), Hwie Lan (adiknya yang namanya Hwie Tjoe/Roes pernah bekerja sama sama di Bandung diawal tahun 80-an), Yan Liang. Inilah semua teman teman perempuan yang masih kuingat.
Teman yang lelaki diantaranya adalah: Sauw Huang, yang anaknya pintar sekali , Sien Liong (yang pacaran sama Lien Nio), Kiem Gan (yang jangkung dan nyentrik/aneh), Kiem Gwan. Kalau tak salah Tiong Hap, Hong San dan Tiauw Ging juga melanjutkan SMP disekolah yang sama. Saya lupa lupa ingat, mungkin karena tidak sekelas lagi? Terus anak yang namanya Hway Tiong, saya lupa dia juga teman SMP atau hanya selama diSMA atau kedua duanya. Heran tak begitu banyak anak anak lelaki yang saya ingat namnya. Ada beberapa yang saya masih bisa membayangkan orangnya tapi tak ingat siapa namanya.
Walau masa di SMP tidaklah begitu menggairahkan karena banyak pelajaran yang saya kurang suka, namun ada saat saat yang menyenangkan misalnya setiap hari Natal kami merayakannya di Gereja (GKI Sangkrah) dan setiap kelas menyanyikan lagu Natal. Latihan menyanyi untuk menyambut Natal ini dipimpin oleh guru wali kelas masing masing. Waktu lain yang saya sukai adalah disaat nonton pertandingan bola basket. Team sekolah kami waktu itu cukup kuat dan bertanding melawan sekolah sekolah SMP lainnya dikota Solo. Selain menonton pertandingan basket, waktu itu juga banyak latihan berbaris.
Sebelum pemberontakan G30S terjadi ditahun 1965, banyak sekolah dikota Solo mengadakan latihan baris berbaris dan seingat saya ada perlombaan berbaris antar sekolah, dimana kami berbaris dijalanan.Saya masih ingat kami pakai seragam putih putih waktu ikut lomba berbaris ini. Waktu musibah kejadian G30S, seingat saya lama juga sekolah ditutup. Kalau tak salah kenaikan kelas yang seharusnya diakhir tahun jadi ditunda dipertengahan tahun selanjutnya.
Sekarang setelah lebih dari 40 tahun berlalu semua duka sudah tak terasa lagi dan yang masih tertinggal adalah kenangan manis yang tak terlupakan.
Kalau penasaran ingin membaca cerita saya waktu masih di TK dan SD, silahkah klik disini:
http://kiyanti2008.wordpress.com/2010/04/25/sekolah-kristen-pasar-legi-solo-1-3/
Sekolah Kristen Pasar Legi Solo (1)
25 Apr 2010 10 Comments
in About Me Tags: Childhood, Nostalgia, Pasar Legi Christian School, Primary Education
The difference between school and life? In School, you’re taught a lesson and then you’re given a test. In life you are given a test that teaches you a lesson.
—Tom Bodett
TK dan Sekolah Dasar (1957 – 1963)
Terus terang saya bukan termasuk anak yang suka sekolah. Walau saya naik kelas terus dan tak pernah ‘nunggak’ tapi nilai saya cukup cukup saja. Saya paling benci pelajaran berhitung terutama kalau harus mengerjakan hitungan didepan kelas dipapan tulis. Setiap gurunya secara random menyuruh murid menghitung didepan kelas, saya selalu berdoa agar tidak terpilih dan saya selalu menundukkan kepala dibelakang anak yang didepan dengan harapan sang guru tak melihat saya. Ha….pikir pikir sekarang jadi terasa lucu juga.
Mulai dari kelas nol sampai dengan SMP, saya belajar di Sekolah Kristen Pasar Legi, Solo. Waktu itu bangunan depan adalah klas nol dan SD (waktu itu namanya SR = Sekolah Rendah) dan bagian belakang adalah untuk SMP. Karena sekolahan dekat sekali dengan Pasar Legi, maka banyak waktu waktu dimana bau kubis busuk dan sampah lainnya yang menusuk hidung masuk kedalam kelas.
Untuk anak anak SR ada warung disudut depan. Sering kalau datang kesekolah kepagian saya akan melihat Mbok Sentir memasak mie goreng. Warung bambu yang sederhana itu diurus oleh pasangan suami isteri Pak dan Mbok Sentir. Pak Sentir itu lucu sekali orangnya, sering melawak dan membuat anak anak tertawa. Waktu saya melihat Mbok Sentir menggoreng bawang goreng, dia bilang supaya bawang goreng kuning dan renyah, sesaat sebelum diangkat dicucuri jeruk nipis. Sering pagi pagi saya beli mie goreng ini panas panas karena baru selesai dimasak. Sedap sekali deh……
Kenangan paling manis adalah waktu saya kelas nol. Waktu itu ditahun 1957 hanya ada satu kelas nol karena saat itu belum ada kelas nol kecil dan kelas nol besar. Kenangan tahun pertama pergi kesekolah dikelas nol ini justru yang paling berkesan. Kelas nol waktu itu hanyalah bermain main dan kami tak diberi PR (pekerjaan rumah) dan tak ada ulangan (test). Saya suka sekali dengan guru kelas nol waktu itu yang bernama Ibu Tatik. Ibu Tatik itu manis sekali wajahnya dan selalu memakai kebaya yang terlihat rapih sekali. Matanya lebar berbinar. Waktu itu yang paling kusukai dan banyak disukai oleh anak anak lain adalah saat pergi berjalan jalan, berbaris ke Taman Banjar Sari yang tak jauh letaknya dari sekolahan. Sambil berbaris dipinggir jalan kami menyanyi.
Setelah setahun dikelas nol, mulailah masa pendidikan dasar dikelas satu. Saya mencoba mengingat siapa nama guru kelas waktu kelas satu SR, tapi tidak teringat. Karena Sekolah Kristen Pasar Legi waktu itu mayoritas anak anak keturunan Tiong Hoa, jadi kami memanggil guru yang orang Tiong Hoa dengan panggilan Sien-sen. Saya masih ingat guru kelas satu ini masih muda, langsing orangnya dan cantik juga, tapi aku tak ingat siapa namanya.
Guru kelas dua saya masih ingat jelas namanya adalah Sien-sen Gwat.
Kelas tiga saya kebagian kelas sore dan gurunya waktu itu adalah bernama Sien-sen ‘Su It’. Dia guru baru, lelaki muda yang cukup berotot dan tampan.
Guru kelas empat kalau tak salah dipanggil dengan panggilan Sien-sen Siem. Yang ingat saya les privat dengan guru ini karena waktu kelas empat saya sakit thypus dan beberapa minggu tak masuk sekolah dan ketinggalan pelajarannya. Juga saya ingat Ibu Siem ini yang penampilannya keren, pernah membagikan kacang kara goreng (=broad beans) oleh oleh dari Ambarawa. Setiap anak dikelas kebagian seggenggam kacang yang gurih tsb. Rupaya kemudian guru ini menikah dengan seorang pendeta dari Ambarawa.
Kelas lima gurunya adalah Bapak Marsudi yang kalau ngomong logatnya logat Jawa Barat atau orang Jawa bilang ‘kagok’. Pak Marsudi ini orangnya berwibawa sekali dan mempunyai kumis tipis.
Kelas enam guru kami adalah Sien-sen Djie. Walau ibu Djie ini terkenal galak dan keras suaranya, tapi dia suka ngobrol tentang penyanyi Nat King Cole dan Pat Bone yang suara-nya empuk.
Semasa sekolah dasar itu teman yang paling erat adalah Ping Nio yang rumahnya di jalan Kepunton. Setiap pagi saya lewat rumahnya dan sering bersama sama kami berjalan kesekolah. Ping Nio selalu diantarkan oleh kakeknya. Juga saya ingat kami sering beli nasi sambel goreng ‘kacang tholo’ (uih, sedapnya…) yang pedagangnya setiap pagi mangkal didekat gereja Bethel di jalan Kepunton. Kami juga sering metikin bunga melati yang tumbuh disepanjang jalan diseberang gereja Bethel tersebut. Terakhir saya berjumpa dengan Ping Nio ditahun 1979.
Inilah kenangan semasa kelas nol dan enam tahun belajar di SR/ Sekolah Rendah (SD). Harapannya saya, akan ada pembaca blog ini yang dulu juga murid SR Kristen Pasar Legi diakhir tahun lima puluhan dan ditahun enam puluhan. Kalau ada semoga tulisan saya ini membangkitkan kembali nostalgia masa dulu dimasa kanak kanak.
Catatan: Waktu waktu berlalu dengan cepat dan sudah lama Sekolah Kristen Pasar Legi di kota Surakarta ini diganti namanya dengan Sekolah Kristen Widya Wacana yang rupanya mempunyai beberapa cabang dan juga ada SMA-nya. Dizaman dahulu waktu saya sekolah hanya mulai kelas nol s/d SMP.













