Komet Ikeya-Seki
25 Oct 2009 1 Comment
in Life Tags: Comet, Ikeya Seki, Java, Oktober 1965

Apakah diantara anda ada yang sudah cukup besar/dewasa untuk mengingat Komet Ikeya Seki yang menampakkan diri ditahun 1965?
Waktu itu dibulan Oktober (menurut data tepatnya adalah 21 Oktober) aku baru berusia 13 tahun. Aku hanya ingat komet yang terang dan besar sekali dan bisa dilihat dengan mata telanjang ini, kami lihat bersamaan dengan dimulainya aksi G30S yang terjadi di Indonesia. Pemandangan sesuatu diangkasa dimalam hari yang begitu terang dan begitu besar membelah angkasa, bagi seorang anak seperti ku sempat membuat bulu kuduk berdiri. Tak bisa lama aku menatapnya dengan takjub sebelum aku cepat cepat masuk kerumah dengan rasa merinding.
Malam itu Papa membangunkan kami dan bilang ada “Lintang Kemukus” (bahasa Jawa untuk komet atau bintang berekor). Kami semua keluar rumah. Begitu aku mengdongakkan muka kelangit, kulihat ekor Ikeya Seki itu. Hampir memenuhi cakrawala dan begitu terang dan jelas sehingga aku lihat sesuatu yang putih putih seakan akan mengambang diekor komet itu.
Apakah sebenarnya komet ini? Dua astronomer Jepang bernama Kaoru Ikeya dan Tsutomu Seki menemukan benda angkasa ini pada tanggal 18 September 1965. Diperhitungkan dari orbitnya bahwa pada tanggal 21 Oktober komet ini akan bergerak melalui matahari dengan jarak yang dekat sekali yaitu 450.000 Km diatas permukaan matahari. Komet ini merupakan bagian dari Kreutz Sun Grazers dan akan tampak terang dan jelas sekali dari bumi.
Komet Ikeya Seki yang memiliki kode C/1965 S1 ini betul betul menampakkan diri tepat dengan prediksi dan merupakan komet nomor empat yang paling terang dalam sejarah dunia. Panjang ekornya mencapai ukuran sepanjang 70 million miles = 112 654 080 kilometers. Hanya tiga comet lainnya yang memiliki ekor sepanjang itu yaitu komet ditahun 1680, 1811 dan 1843.
Orbit Komet Ikeya Seki panjang sekali sehingga tidak akan kembali mendekati bumi kita sebelum tahun 2565.
Sampai saat ini aku masih bisa dengan jelas membayangkan malam-malam itu waktu kami keluar rumah dimalam hari untuk melihat apakah lintang kemukus itu masih ada. Dalam pandangan mataku sebagai anak berumur 13 tahun, ekor lintang kemukus ini tampak begitu besar hampir membelah angkasa. Masih bisa kurasakan gemetaran badanku karena rasa ngeri. Apalagi setalah ada isyu bahwa lintang kemukus ini akan membawa mala petaka.
Berhari hari Ikeya Seki Komet ini menampakkan diri sebelum akhirnya mengecil ukurannya, memudar dan akhirnya hilanglah dari pandangan.
Tulisan saya sebelumnya tentang Komet Ikeya Seki (Bahasa Inggris):
http://kiyanti2008.wordpress.com/tag/ikeya-seki/
Catatan: Ini kutipan menarik yang saya temukan dari artikel yang dimuat di National Geographic – Pebruari 1966, berjudul “Giant Comet Grazes the Sun” oleh Kenneth F. Weaver
Discovery Stories: Tsutomu Seki, Comet Ikeya-Seki (1965 S1)
I am a sea-bred thing. When I feel happy, or lonely, I come down to the sea, for it fills my heart with deep emotion. That night I was dreaming of the sea. I was walking along the shore…I do not know why, but on that night my wife woke me, very faithfully. Usually she discourages me from observing the stars. Exposing myself to the night dew, she thinks, cannot be very good for my health. Still, she woke me.
At four o’clock, I climbed up to the observing stage on the roof of a storehouse in my courtyard. The starry sky was very beautiful, transparent, as though swept clean by the typhoon two days before. Fine weather! I put my eye to the telescope.
At a quarter past four something refracted through my lenses–a queer, pale celestial body. My heart shook. I broke the stillness before the dawn: “A new comet!”
– Tsutomo Seki, on the discovery of Comet Ikeya-Seki (1965 S1) (as reported to National Geographic, from “Giant Comet Grazes the Sun” by Kenneth F. Weaver in the magazine’s February 1966 issue. In the same article, co-discoverer Kaoru Ikeya described the comet at discovery as “shining like a street lamp on a misty night.”)
Wisata ke Dieng dengan Pak AA Pemandu Wisata
20 Oct 2009 2 Comments
in Travel Tags: AA, Dieng Plateau, Java, Tour Guide
Setelah meninggalkan Indonesia lebih dari dua puluh lima tahun, belum lama ini waktu saya berkunjung ke sana, tujuan yang pertama yang saya rencanakan adalah pergi ke Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau). Keinginan ini timbul waktu anak saya bilang dia ingin melihat volcano di Jawa. Dieng yang membawa arti “Where Gods Abode” adalah tempat yang tepat sekali bagi putera saya itu untuk melihat active volcanoes di pulau Jawa.
Perjalanan dari Solo ke Wonosobo begitu berkesan dan membangkitkan kenangan masa silam. Setelah semalam tinggal di Surya Asia Hotel di kota Wonosobo yang rapi dan sejuk, pagi pagi kami berangkat ke Dieng.
Jarak dari Wonosobo ke Dieng yang hanya kira kira 26 km itu menyajikan pemandangan teras pegunungan yang indah. Bunga bunga brugmansia yang berwarna kuning jingga dan putih tampak berkembang dibanyak tempat disepanjang jalan. Karena begitu banyaknya lahan tanamam kentang, pegunungan Dieng itu begitu mirip dengan tanah pegunungan yang seakan akan diukir. Walau tanah disitu begitu cocok untuk tanaman kentang dan merupakan pendukung utama kehidupan para petani setempat, terlalu banyaknya penggundulan hutan dipegunungan itu bisa mengakibatkan bahaya longsor atau banjir. Kami lihat beberapa petugas lalu lintas jembatan kayu darurat di desa Satieng -Kejajar memberi aba karena jembatan itu hanya bisa dilalui satu jurusan saja dengan bergantian. Jembatan ini rupanya roboh tertimpa tanah longsor beberapa waktu sebelumnya yang sempat melumpuhkan lalu lintas.
Setibanya di Dieng kami pertama tama pergi ke Kawah Sileri dan kami melewati pusat pengolahan uap panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik. Dari jauh kami lihat kepulan kawah yang tampak putih diterbangkan angin. Semakin dekat kekawah Sileri, semakin tajam bau belerengnya. Dari situ kami langsung menju ke kompleks candi Arjuna yang merupakan peninggalan sejarah yang tertua. Semua candi yang masih bediri menyandang nama tokoh perwayangan lokal yang berdasarkan kitab Mahabarata: Arjuna, Gatotkaca, Dwarawati, Bima, Sembadara, Srikandi dan Semar.
Kami ikuti tapak tapak jalan dikompleks percandian ini yang berakhir di Pendapa Suharto – Whitlam. Disinilah didekat warung yang menjual makanan khas Dieng, kami bertemu dengan seorang pria berbaju biru dengan vest hitam dengan plakat nama. Sekilas saya kira dia itu adalah petugas keamanan/security guard, namun ternyata dia menawarkan jasa pemandu wisata. Karena anak saya tidak bisa berbahasa Indonesia, dan Pak AA ini fasih berbahasa Inggris, maka saya rasa kebetulan sekali.
Pertama tama dia bilang ke anak saya supaya memanggilnya dengan nama AA. Yang begitu mengesankan dengan Pak AA ini adalah pengetahuan umumnya yang luas sekali. Selain fasih berbahasa Inggris, dia juga banyak paham bahasa Belanda. Pengetahuannya tentang tumbuh-tumbuhan didaerah Dieng itu sangat mengherankan, lengkap dengan nama latin/ilmiah dari tumbuh tumbuhan tsb. Pengetahuannya mengenai daerah setempat serta pengetahuan umum terutama tentang flora dan fauna lokal dan juga sifatnya yang kocak membuat perjalanan kami lebih menarik. Apa lagi sewaktu dia ajak kami semua menyanyi “Michael Row the Boat Ashore” disaat kami mengunjungi telaga Warna, terlupa juga sejenak bau belerang yang begitu menusuk hidung.
Dengan pak AA kami berkunjung ke Telaga Warna, Kawah Sikidang, Dieng Theatre, Telaga Menjer dan berakhir dengan mencicipi mi ongklok khas Wnonosobo.


Sebagai penutup blog ini, anak saya titip pesan buat Pak AA: “Good Day…. how are you?”
Situs Ratu Boko dan Buah Maja
26 Sep 2009 9 Comments
in Travel Tags: Buah dan Pohon Maja, Java, Perjalanan ke Prambanan, Situs Ratu Boko
Perjalanan pendek dari Candi Prambanan ke Kompleks Candi Ratu Boko tidaklah lama. Terletak kira kira 2 km sebelah selatan Candi Prambanan dan kira kira 18 km dari kota Yogya, peninggalan bersejarah ini berada diatas sebuah bukit yang merupakan bagian dari Pegunungan Seribu.
Berdiri di area yang luasnya sekitar 250,000 m persegi dengan ketinggian kira kira 195,97 m, situs Ratu Boko ini adalah tempat yang indah. Dengan melihat kebawah, dari jauh kami bisa melihat puncaknya gunung Merapi, Candi Prambanan dan Candi Kalasan. Walau terletak tinggi diatas permukaan laut, suasana tidaklah sejuk, tapi malah sebaliknya. Panas mentari terasa menyengat. Namun demikian, keterpencilan dan misteriusnya tempat ini memberikan rasa tenang dan damai.
Begitu masuk kedaerah parkir, kami melihat pohon beringin yang begitu rindang dengan akar akarnya yang menggantung. Keberadaan pohon yang dianggap keramat dan angker ini menambah mesteriusnya suasana. Sebelum menaiki tangga menuju ke candi , ada sebuah pohon kecil yang langsung menarik perhatianku. Maklum aku adalah pencinta tanaman, jadi kalau pergi kemana saja yang pertama jadi perhatianku adalah tanaman. Pohon ini lain dari pada yang lain dan belum pernah kulihat sebelumnya. Buahnya bulat, halus dan berwarna hijau. Apakah ini yang dinamakan buah Maja?
Inilah gambar yang kami ambil dari pohon ini dengan beberapa buahnya:

Apakah buah Maja itu? Ini adalah copy dari Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Maja):
Maja (Aegle marmelos (L.) Correa, suku jeruk-jerukan atau Rutaceae) adalah tumbuhan berbentuk pohon yang tahan lingkungan keras tetapi mudah luruh daunnya dan berasal dari daerah Asia tropika dan subtropika. Tanaman ini biasanya dibudidayakan di pekarangan tanpa perawatan dan dipanen buahnya. Maja masih berkerabat dekat dengan kawista. Di Bali dikenal sebagai bila.
Tanaman ini mampu tumbuh dalam kondisi lingkungan yang keras, seperti suhu yang ekstrem; misalnya dari 49°C pada musim kemarau hingga -7°C pada musim dingin di Punjab (India), pada ketinggian tempat mencapai +1.200m. Di Asia Tenggara, maja hanya dapat berbunga dan berbuah dengan baik jika ada musim kering yang kentara, dan tidak biasa dijumpai pada elevasi di atas 500 m. Maja mampu beradaptasi di lahan berawa, di tanah kering, dan toleran terhadap tanah yang agak basa.
Warna kulit luar buah maja berwarna hijau tetapi isinya berwarna kuning atau jingga. Aroma buahnya harum dan cairannya manis, bertentangan dengan anggapan orang bahwa rasa buah maja adalah pahit. Sebagaimana jeruk, buah maja dapat diolah menjadi serbat, selai, sirop, atau nektar. Kulitnya dibuat marmalade.
Maja terlibat dalam mitos mengenai asal nama kerajaan Majapahit, suatu imperium yang membentang di Nusantara dari abad XIII-XV. Konon, Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan, menerima sebidang tanah di daerah Tarik (sekarang di selatan Surabaya). Sewaktu membangun daerah itu, ada prajuritnya yang memakan buah maja. Kebetulan yang dimakan adalah buah yang berasa pahit (karena mungkin masih mengkal). Oleh sebab itu ia menamakan bulak itu sebagai “Majapahit”. (Sumber: Wikipedia)

Melihat letak kompleks Boko yang begitu strategis yang merupakan titik pandang yang luas memberikan kesan bahwa bukit ini dipilih bukan saja hanya untuk segi keindahan tapi juga masuk akal kalau bukit ini adalah sebagai benteng pertahanan atau tempat untuk berlindung kalau peperangan terjadi.
Rupanya situs ini mula mula dibangun oleh Rakai Panangkaran (tahun 746 – 784M) sebagai tempat pemujaan yang bernama Abhayagiri Wihara. Kemudian oleh Raja Vasal yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni tempat ini diubah menjadi keraton yang bernama Walaing. Bagaimana kemudian terkenal dengan nama Ratu Boko? Nama ini adalah merupakan judul hasil penelitian yang dilakukan oleh FDK Bosch. Siapakah Ratu Boko? Sampai sekarang masih menjadi misteri.
Disaat berjalan disekitar daerah Kaputren dengan bekas bekas kolam air-nya yang kecil, aku jadi berpikir dan membayangkan puteri puteri Raja yang cantik mandi merendam dan berdendang ria. Suasana yang asri itu memberikan kesan romantik. Mungkinkah dizaman dahulu kompleks keraton ini merupakan tempat raja dan ratu serta putra dan putri-nya dan juga dayang dayangnya bersinggah untuk beristirahat? Apakah dipendopo keraton ini dahulu sering dipertunjukkan tari tarian dan kesenian lokal yang mempesona?
Dengan mulut mengunyah keripik daun singkong yang lezat, kami berjalan jalan melihat puing puing peninggalan bersejarah ini. Sementara pikiran merenungkan kemungkinan yang bisa saja terjadi ditempat yang mesterius ini. Sayang sekali kami tidak bisa tinggal untuk menyaksikan matahari tenggelam Konon disaat mentari tenggelam pasti akan terlihat tenggelam dibalik bingkai gerbang utama yang masih terlihat berdiri megah.
Mochaccino-nya Kampoeng Kopi Banaran
13 Sep 2009 3 Comments
in Travel Tags: Banaran, Indonesia, Java, Kampoeng Kopi, Mochaccino

Segelas Mochaccino dingin ini begitu cantik menggiurkan. Seindah penampilannya, tak kalah pula rasa mantap dan kesegarannya. Inilah salah satu dari berbagai jenis minuman kopi Robusta yang dihidangkan di perkebunan kopi di Banaran.
Dalam perjalanan dari Solo ke Wonosobo, kami mampir di Kampoeng Kopi di Banaran yang juga dikenal dengan singkatan KaKoBa. Banaran terletak di jalan Raya Salatiga – Bawen . Perkebunan ini yang dirintis sejak tahun 2002 adalah merupakan restoran yang terletak di perkebunan kopi milik PTPN -IX. Selain makanan khas daerah setempat, restoran ini khusus mempromosikan bermacam macam minuman kopi dari jenis Robusta yang ditanam disitu. Biji kopi robusta ini diekspor ke Eropa dan Australia , sedangkan untuk memenuhi kebutuhan local kopi yang sudah diolah dijual dengan merek Banaran Coffee.
Dengan memakai kereta wisata kami mengelilingi sebagian dari perkebunan yang luasnya kira kira 400 hektar. Pengemudi kereta wisata menjelaskan bahwa selain kopi robusta yang rupanya paling cocok dengan iklim setempat, terdapat juga pohon pala, karet dan bermacam macam tanaman buah langka seperti misalnya buah naga, srikaya, zirzak, belimbing, duwet, cacao dan lainnya. Suasana perkebunan yang terletak di perbukitan terasa begitu asri yang memberikan kesan yang menyejukkan. Ratusan atau bahkan ribuan pohon pohon kopi yang rendah itu ditanam dibawah naungan pohon pohon lamtoro/mlanding yang berfungsi sebagai pelindung. Saat ini dibulan Agustus, panen kopi baru saja selesai, tapi masih terdapat buah buah kopi yang merah itu tersisa dipohon. Kami lihat sekelompok pemetik kopi beristirahat siang dipinggir jalanan yang sempit berliku. Dipuncak bukit diperkebunan ini, dengan melihat kebawah dari jauh kami bisa melihat bentangan Rawa Bening yang tampak seperti telaga dangkal.
Untuk makan siang setelah menikmati pemandangan perkebunan, kami memilih makan camilan yang berupa tahu goreng, tempe mandoan, pisang goreng, kentang goreng dan singkong goreng. Kenikmatan makanan ini disempurnakan dengan hirupan segar dan harum-nya Mochaccino. Oh ya kami juga mencoba garang asem jamur yang dibungkus daun pisang….. dan rasanya juga tak mengecewakan. Sedap dan segar. Selain restoran, perkebunan ini juga menyediakan ruang pertemuan yang bisa disewa untuk pesta atau rapat.
Sebelum pergi kami beli juga sebungkus kopi dan sebotol sirup pala. Jika anda menyukai tanaman dan indahnya suasana perkebunan. Juga jika anda menyukai minuman kopi dan makanan daerah yang khas, Kampoeng Kopi Banaran ini adalah salah satu tempat yang patut dicatat untuk suatu hari dikunjungi ………
Nostalgia Pasar Gede di Solo
11 Sep 2009 Leave a Comment
in Travel Tags: Java, Nostalgia, Pasar Gede, Solo
Waktu berkunjung ke Indonesia beberapa waktu yang lalu, sebagai orang kelahiran Solo aku tak akan lupa pada Pasar Gede/Besar. Bayanganku pasar ini setelah lama tak kulihat akan terlihat tua merana, tapi malah sebaliknya. Bagian depan pasarnya rupanya dipercantik jadi seperti baru lagi. Sedangkan dalamnya masih membangkitkan kembali kenangan lama.
Setiap ke Pasar Gede aku pasti beli ayam goreng, usus dan paru goreng. Kali ini si penjual yang berdekatan dengan penjual es dawet yang langsung menggoreng dagangan ditempat, bilang aku harus mencoba ceker/cakar goreng. Rupanya kulit cakar ayam yang telah dilepaskan dari ditulangnya itu digoreng garing. Rasanya malah lebih renyah dan lebih enak dari usus goreng. Cocok untuk teman makan nasi hangat dipagi hari.
Mengenai es dawet sejak aku lama tinggal di Australia, aku hanya bisa ngiler dan membayangkan betapa sedap dan harumnya es dawet ini. Aku tak berani lagi minum es dipasar karena perutku akan berontak. Australia yang apa apa serba bersih dan steril justru membuat badanku tak punya daya tahan lagi………Jadi ya mimpi saja tentang dawet Pasar Gede ini yang komplit dengan cendol, jenang sungsum hijau, nagka dan biji telasih. Sirupnya terbuat dari gula pasir yang harum sekali karena digodok dengan daun pandan.
Selain ayam, usus dan paru goreng, yang lainya yang kami cari ke Pasar Gede kali ini adalah kentang hitam, gayam dan blenyik. Ya ampun, engga mengira kalau kentang hitam zaman sekarang itu gede gede…. lebih besar dari ujung jari jempol, padahal dizaman aku kecil dulu hanya sebesar ujung jari kelingking. Kentang hitam ini dijualnya udah dikukus dan enak dimakan dengan gula merah atau gula aren (mengingatkanku pada alm. Papa).
Gayamnya nemu juga hanya kali ini tak berapa bagus kecil kecil tapi kita beli juga. Gayam itu rupanya mirip jengkol tapi tanpa bau. Biasanya direbus atau dikukus dan dimakan dengan kelapa parut. Rasanya gurih sedikit manis dan kenyal. Uenaaak sekali.
Buah buahan khas yang masih kulihat di pasar ini adalah pisang susu dan jambu mete. Karena udah lama engga makan pisang susu, jadi aku beli juga sesisir. Anakku yang belum pernah lihat jambu mete, terheran heran melihat dari mana asalnya kacang kesukaannya ini dan langsung dia ambil photonya. Jadi saja kami beli sekilo biji mete yang masih mentah dan nanti akan kami goreng sendiri.

Setelah ketemu ayam, usus serta paru gorengnya, dan kentang hitam dan gayam juga dapat, terus kami masuk lebih dalam lagi di pasar ini yaitu dibagian yang jual ikan asin. Rupanya nasip lagi mujur, hari itu ada yang jual blenyik yang bagus putih sekali. Blenyik ini adalah ikan teri asin yang dibentuk bundar sebesar kelereng. Rupanya sebelum proses pengeringannya, ikan teri yang halus ini (teri nasi) setelah digarami, dijumput dan ditekan tekan dibulatkan. Paling enak blenyik ini digoreng dengan dibalur telus kocok. Enak sekali dimakan dengan nasi hangat….. awas jangan masak nasi terlalu banyak karena bisa menghabiskan nasi sebakul kalau udah makan memakai lauk blenyik goreng ini……….
Waktu berjalan ketempat parkir didepan pasar kami lihat babi angkring yang begitu popular di Solo. Karena penasaran kami beli juga….. Kuping, lidah dan jerohan babi itu diiris tipis dan disiram dengan kuahnya yang khas yang terbuat dari kecap dan tauco dan lebih enak dimakan dengan sambal-nya. Banyak orang yang makan disitu dimana babi ini dihidangkan dipincuk daun pisang….. tanpa sendok jadi makannya pakai suru daun……. Kali ini kami pilih beli dibungkus untuk dibawa pulang.
Selesai belanja udah tengah hari jadi kami memutuskan untuk makan siang di Mie Gajah Mas yang letakknya tak jauh dari Pasar Gede ini yaitu dipinggir Kali Pepe. Hawa yang panas ditambah mie yang mengepul serta padat-nya pengunjung, makan mie baso pangsit atau mie jamur itu membuat badan semakin gembrobyos, tapi puas juga perut udah terisi dengan makanan yang cukup khas rasanya.
Kalau sudah lama tidak ke pasar besar di Solo ini, masih banyak lagi makanan nostalgia yang kami lihat dan sayangnya tidak semuanya bisa kami beli. Kali ini kami tidak beli pecel wijen dan tape singkong yang begitu lembut, lunak dan manis…. Mungkin lain kali….. pasti akan beli
Catatan:
Kentang hitam yang di Jawa dikenal sebagai kentang ireng, nama Latin-nya adalah Coleus tuberosus atau juga dikenal dengan nama lain yaitu Solenostemon rotundifolius, Plectranthustuberosus atau Coleus edulis atau Coleus rotundifolius. Tanaman ini termasuk jenis umbi umbian kecil, banyak mengandung karbo hidrat dan konon bisa membantu mengurangi penyakit lambung. Kentang hitam ini cukup populer dibeberapa negara di Afrika.
Gayam nama ilmiahnya adalah Inocarpus fagiferus dan juga dikenal dengan nama Polynesian chestnuts atau Tahitian chestnut. Pohonnya yang rindang dan bisa mencapai 30 m tingginya ini dipercayai sebagai pohon angker dimana mahluk halus suka bernaung
Kawah Putih
07 Sep 2009 3 Comments
in Travel Tags: Bandung, Ciwidey, Indonesia, Java, Kawah Putih
Kawah Putih adalah terletak di Gunung Patuha tak jauh dari Ciwidey yang kira kira berjarak 40 km sebelah selatan kota Bandung. Perjalanan dari Soreang ke Ciwidey hari itu cukup padat. Dibawah ini adalah photo yang kami ambil didaerah Soreang yang menunjukkan padatnya kendaraan setempat.

Begitu sampai di Ciwidey, banyak sekali tanaman strawberry. Kalau mau kami bisa beli dengan memetik sendiri. Selain strawberry juga terlihat beberapa restoran khas Sunda seperti misalnya Saung Sawah dan Sindang Reret. Disitu kita bisa menikmati nasi timbel dengan lauknya yang sedap yang bisa berupa ikan dan ayam goreng atau bakar, daging gepuk, karedok, sayur asem, segala macam pepesan dan tak ketingalan sambal komplit dengan lalabannya.
Perjalanan dari Ciwidey ke Kawah Putih cukup menanjak dan dibeberapa tempat sayang sekali jalannya cukup rusak berlubang lubang. Sesampainya di Kawah Putih, mobil diparkir ditempat parkir yang sekelilingnya penuh dengan warung warung makan dan penjual buah buahan. Perjalanan dengan jalan kaki dari tempat parkir ke kawah cukup bagus, pendek dan mudah.
Dari jauh kami bisa melihat air kawah yang berwarna hijau turquoise muda. Kami dengar warna air kawah ini bisa berubah menjadi kecoklatan atau keputihan tertutup kabut. Tanah dan bebatuan sekitar kawah yang berwarna putih membuat mata pilau dan berkaca kaca. Bau belerang-nya tidak terlalu menusuk hidung, namun kadang kadang berbau seperti durian.
Beberapa photo yang kami ambil:

Disini kami melihat orang seperti sedang shooting film, ternyata kami dapat info bahwa daerah Kawah Putih ini terkenal dipakai sebagai tempat untuk membuat pre-wedding photo atau video. Pantas kami lihat beberapa pasang pengantin sedang bergaya dengan pose yang memukau. Pemandangan pengantin wanita yang memakai gaun pengantin panjang dan putih itu terasa agak aneh ditempat yang terpencil ini.
Rupanya dizaman Belanda dulu, ditempat ini terdapat sebuah pabrik belerang yang dikenal dengan nama Swavel Ontgining Kawah Putih. Dizaman Jepang pabrik belerang ini diberi nama Kawah Putih Kenzanka Yokoya Ciwidey yang mendapat pengawasan langsung dari militer Jepang. Sejak tahun 1991 Pemerintah Daerah bersama dengan Perum Perhutanan Unit III Jawa Barat dan Banten mengembangkan Kawah Putih ini sebagai Ecoturism Wana Wasta Kawah Putih.
Walau dibeberapa tempat jalanan berlubang dan berbatu, pemandangan indah disekitar kawah ini begitu mempesona, membuat perjalanan ini berkesan. Pulangnya kami mampir di Sindang Reret untuk makan siang. Banyak orang kalau ke daerah Bandung hanya pergi ke Tangkuban Perahu, padahal pemandangan di Kawah Putih jauh lebih indah. Sebuah obyek wisata yang tak terlalu jauh dari kota yang patut lebih banyak dikenal lagi.









