Dagingpun Tak Tertelan
31 May 2011 Leave a Comment
in Life Tags: Animal Cruelty, Indonesia, Inhumane Killing in Abattoirs
Sepiring hidangan malam ini yang ada daging sapinya tak jadi kumakan. Aku hanya makan sayurannya saja. Suamiku tanya kenapa dagingnya tidak dimakan. Aku bilang karena masih terbayang dengan apa yang baru saja kami lihat diberita di TV sore tadi. Kami melihat beberapa ekor sapi malang yang harus menderita sekali sebelum akhirnya dibantai untuk jadi makanan manusia. Sebelum disembelih, sapi itu ada yang ditendang dan dipukulin karena memberontak.
Sebetulnya ada cara yang lebih ber-’perikemanusian’ untuk menyembelih binatang untuk pangan. Disini di Australia, sapi, domba ataupun babi dibuat supaya tak sadar dulu dengan ‘stun gun’ sebelum disembelih. Proses ini berjalan begitu cepat. Dengan demikan binatang malang itu tidak stress dan tidak merasakan sakit yang berlebihan.
Bisakah dibenarkan binatang ditendang, dipukuli, dijerat tali dan dibanting kelantai, ekor sengaja dipatahkan dsb sebelum disembelih? Waktu disembelihpun rupanya pakai pisau yang kurang tajam sehingga memakan waktu lama buat binatang itu untuk mati. Sapi itu jatuh meronta ronta dilantai yang bersimbah darah, lama juga sebelum ajal tiba. Bagaimana aku bisa menelan dagingnya?
Sudah lama ini untuk beli telur-pun kami sekeluarga hanya beli ‘free range eggs’, yaitu telur ayam yang dipelihara dengan bebas bisa berkeliaran dikandang maupun dihalaman. Kami tidak mau memakan telur dari ayam yang dikurung didalam sel kecil yang hanya pas memuat satu ayam. Ayam ayam ini tak bisa memutarkan badannya sama sekali, apa lagi berjalan. Jadi ayam ayam malang ini hanya berdiri atau mendekam disatu tempat, makan terus dan bertelur terus. Sendi sendi kakinya pun banyak yang jadi bengkak karena tak bisa bergerak. Menurutku, telur dari ayam yang menderita tak akan sesehat telur ayam lain yang hidup bebas berkeliaran.
Begitu kejamkah manusia ini? Tuhan ampunilah dosa kami.
Video bukti penganiayaan sapi di beberapa rumah jagal di Indonesia. Kalau anda mengira semuanya hanyalah politik dagangnya Australia, coba saja lihat video ini dan anda bisa memutuskan mana yang benar:
Untuk membaca berita selanjutnya:
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/05/31/brk,20110531-337838,id.html
Salak and Duku – Rare Tropical Fruits
12 May 2011 2 Comments
in Nostalgic Food Tags: April 2011, Indonesia, Rare and Exotic, Tropical Fruits
Two of my favourite tropical fruits are salak and duku. Today, salaks are mostly available all year round in Indonesia, but I was very lucky to be able to buy some duku fruits (though not in season) when I went to Java last month. Salaks are fairly cheap and they only cost around 8000 rupiah per kilogram. Duku fruits are seasonal and they are much more expensive, around 22,000 rupiah perkilogram.
Salak (Salacca zalacca) is native to Indonesia. It is also known as snake fruit as the rough skin is scaly similar to that of snake’s. The skin is reddish brown in colour and rather shiny. The shape is kind of round with a pointy tip. The inside of the fruit is ivory white and come into three or four sections. Each section is covered with very thin and transparent membrane. Many people like to peel the membrane by rubbing it with fingers before eating the fruit. The taste is a nice blend of sweet and acidic while the aroma is similar to apple or pineapple. Only big sections of salak fruit have a hard and large brown stone/seed . When I was a child, I used to collect them to play. Good quality of salaks are never bitter in taste.
Duku (Lancium domesticum) is roundish with a slightly pointy tip. The size is the same as walnuts or can be slightly bigger and they usually grow in clusters of two to thirty fruits along the branches and trunk. Each of this brownish yellow fruit is covered by smooth and thick leathery skin. Underneath the skin, the fruit is divided into five or six slices/sections of translucent and juicy flesh. The flesh is quite sweet with distinct aroma and taste. In contrast with the sweet flavour of the fruit’s flesh, the seeds are extremely bitter. If the seeds are large, people tend to spit them out, but if they are small, they can be swallowed. If duku pulp is opaque white in colour and not translucent, they will be sour in taste and not worth buying.
There is a different type of duku fruit (less common) that is known as langsep or langsat. Langsep fruits are sold in clusters, while duku fruits are sold off the stem. Langseps taste very similar to dukus with a slightly different aroma and the skin is thinner. Long time ago when I was a kid, we went to East Java and my mom bought a lot of sweet langsep fuits in the city of Malang. I think that was the only time in my life that I had ever eaten langseps.
Mobile Clothing Repairer
24 Apr 2011 2 Comments
in Life, Travel Tags: Central Java, Indonesia, Mobile Clothing Repairer, Unusual Sight
After leaving Java for more than 25 years, I notice drastic changes to this tropical island that used to be my homeland. It is the most crowded place in Indonesia where people will try anything to make money. In a country where there is hardly or very little social security from the government, making money is always the most popular daily conversation. Whatever people talk about there, it is always associated with money. Either you earn money or you go starving and will not be able to pay bills at all. Micro businesses and trades are growing fast and the variations are incredible.
One thing that has really caught my attention is a clothing repairer. He will patiently push his modified old bike from village to village. Attached to the front part of the push bike is a wooden box where he sets his old black sewing machine. I don’t see him push a pedal to run the sewing machine, so I assume it is run by a large battery. Perhaps it is some kind of car battery?
He repairs broken zippers, missing buttons, torn seams, simple alternations and many other clothing repairs. He charges much less than 10.000 rupiah for each repair. To change a short broken zipper he charges only 5000 rupiah which is around 60 cent Australian dollar. The job is done quickly and pretty neatly while you are waiting.
Well one day, if you travel to Java and have a broken zipper or losing a button or two, it will be handy to have them repaired quickly and neatly with a fraction of cost. Hopefully you are lucky enough to come across this mobile clothing repairer somewhere in the street.
Mochaccino-nya Kampoeng Kopi Banaran
13 Sep 2009 3 Comments
in Travel Tags: Banaran, Indonesia, Java, Kampoeng Kopi, Mochaccino

Segelas Mochaccino dingin ini begitu cantik menggiurkan. Seindah penampilannya, tak kalah pula rasa mantap dan kesegarannya. Inilah salah satu dari berbagai jenis minuman kopi Robusta yang dihidangkan di perkebunan kopi di Banaran.
Dalam perjalanan dari Solo ke Wonosobo, kami mampir di Kampoeng Kopi di Banaran yang juga dikenal dengan singkatan KaKoBa. Banaran terletak di jalan Raya Salatiga – Bawen . Perkebunan ini yang dirintis sejak tahun 2002 adalah merupakan restoran yang terletak di perkebunan kopi milik PTPN -IX. Selain makanan khas daerah setempat, restoran ini khusus mempromosikan bermacam macam minuman kopi dari jenis Robusta yang ditanam disitu. Biji kopi robusta ini diekspor ke Eropa dan Australia , sedangkan untuk memenuhi kebutuhan local kopi yang sudah diolah dijual dengan merek Banaran Coffee.
Dengan memakai kereta wisata kami mengelilingi sebagian dari perkebunan yang luasnya kira kira 400 hektar. Pengemudi kereta wisata menjelaskan bahwa selain kopi robusta yang rupanya paling cocok dengan iklim setempat, terdapat juga pohon pala, karet dan bermacam macam tanaman buah langka seperti misalnya buah naga, srikaya, zirzak, belimbing, duwet, cacao dan lainnya. Suasana perkebunan yang terletak di perbukitan terasa begitu asri yang memberikan kesan yang menyejukkan. Ratusan atau bahkan ribuan pohon pohon kopi yang rendah itu ditanam dibawah naungan pohon pohon lamtoro/mlanding yang berfungsi sebagai pelindung. Saat ini dibulan Agustus, panen kopi baru saja selesai, tapi masih terdapat buah buah kopi yang merah itu tersisa dipohon. Kami lihat sekelompok pemetik kopi beristirahat siang dipinggir jalanan yang sempit berliku. Dipuncak bukit diperkebunan ini, dengan melihat kebawah dari jauh kami bisa melihat bentangan Rawa Bening yang tampak seperti telaga dangkal.
Untuk makan siang setelah menikmati pemandangan perkebunan, kami memilih makan camilan yang berupa tahu goreng, tempe mandoan, pisang goreng, kentang goreng dan singkong goreng. Kenikmatan makanan ini disempurnakan dengan hirupan segar dan harum-nya Mochaccino. Oh ya kami juga mencoba garang asem jamur yang dibungkus daun pisang….. dan rasanya juga tak mengecewakan. Sedap dan segar. Selain restoran, perkebunan ini juga menyediakan ruang pertemuan yang bisa disewa untuk pesta atau rapat.
Sebelum pergi kami beli juga sebungkus kopi dan sebotol sirup pala. Jika anda menyukai tanaman dan indahnya suasana perkebunan. Juga jika anda menyukai minuman kopi dan makanan daerah yang khas, Kampoeng Kopi Banaran ini adalah salah satu tempat yang patut dicatat untuk suatu hari dikunjungi ………
Kawah Putih
07 Sep 2009 3 Comments
in Travel Tags: Bandung, Ciwidey, Indonesia, Java, Kawah Putih
Kawah Putih adalah terletak di Gunung Patuha tak jauh dari Ciwidey yang kira kira berjarak 40 km sebelah selatan kota Bandung. Perjalanan dari Soreang ke Ciwidey hari itu cukup padat. Dibawah ini adalah photo yang kami ambil didaerah Soreang yang menunjukkan padatnya kendaraan setempat.

Begitu sampai di Ciwidey, banyak sekali tanaman strawberry. Kalau mau kami bisa beli dengan memetik sendiri. Selain strawberry juga terlihat beberapa restoran khas Sunda seperti misalnya Saung Sawah dan Sindang Reret. Disitu kita bisa menikmati nasi timbel dengan lauknya yang sedap yang bisa berupa ikan dan ayam goreng atau bakar, daging gepuk, karedok, sayur asem, segala macam pepesan dan tak ketingalan sambal komplit dengan lalabannya.
Perjalanan dari Ciwidey ke Kawah Putih cukup menanjak dan dibeberapa tempat sayang sekali jalannya cukup rusak berlubang lubang. Sesampainya di Kawah Putih, mobil diparkir ditempat parkir yang sekelilingnya penuh dengan warung warung makan dan penjual buah buahan. Perjalanan dengan jalan kaki dari tempat parkir ke kawah cukup bagus, pendek dan mudah.
Dari jauh kami bisa melihat air kawah yang berwarna hijau turquoise muda. Kami dengar warna air kawah ini bisa berubah menjadi kecoklatan atau keputihan tertutup kabut. Tanah dan bebatuan sekitar kawah yang berwarna putih membuat mata pilau dan berkaca kaca. Bau belerang-nya tidak terlalu menusuk hidung, namun kadang kadang berbau seperti durian.
Beberapa photo yang kami ambil:

Disini kami melihat orang seperti sedang shooting film, ternyata kami dapat info bahwa daerah Kawah Putih ini terkenal dipakai sebagai tempat untuk membuat pre-wedding photo atau video. Pantas kami lihat beberapa pasang pengantin sedang bergaya dengan pose yang memukau. Pemandangan pengantin wanita yang memakai gaun pengantin panjang dan putih itu terasa agak aneh ditempat yang terpencil ini.
Rupanya dizaman Belanda dulu, ditempat ini terdapat sebuah pabrik belerang yang dikenal dengan nama Swavel Ontgining Kawah Putih. Dizaman Jepang pabrik belerang ini diberi nama Kawah Putih Kenzanka Yokoya Ciwidey yang mendapat pengawasan langsung dari militer Jepang. Sejak tahun 1991 Pemerintah Daerah bersama dengan Perum Perhutanan Unit III Jawa Barat dan Banten mengembangkan Kawah Putih ini sebagai Ecoturism Wana Wasta Kawah Putih.
Walau dibeberapa tempat jalanan berlubang dan berbatu, pemandangan indah disekitar kawah ini begitu mempesona, membuat perjalanan ini berkesan. Pulangnya kami mampir di Sindang Reret untuk makan siang. Banyak orang kalau ke daerah Bandung hanya pergi ke Tangkuban Perahu, padahal pemandangan di Kawah Putih jauh lebih indah. Sebuah obyek wisata yang tak terlalu jauh dari kota yang patut lebih banyak dikenal lagi.













