Monyet Kecil di Shopping Plaza

 poor moonkey 

Lihatlah aku!

Siapakah aku ini?

Berpegang erat pada terali besi merah

Duniaku hanya berapa langkah kecil

Aku ini sendiri menanti

Apa yang kuharapkan?

Aku sendiri tak tahu pasti

 

Pandanglah aku ini!

Mereka bilang aku ini sesuatu yang lucu

Mata mereka berseri melihatku terkesima

Tidakkah mereka itu melihat?

Mataku pudar karena jemu

Tidakkah mereka dengar jeritanku?

Takut dan pedih terkurung sendiri.

 

Ingatanku samar tertimbun nyeri

Badan dan kaki ini  kaku membeku

Dulu duniaku hijau

Dipepohonan itu kami bercanda

Hangatnya surya hampir kulupa

Pelukan mama sudah tak terasa

Hidup ini sekarang hampa

 

Aku ingin bebas lagi

Aku tak mau sendiri

Aku benci kurungan besi merah ini

Aku muak pada bau kotoranku sendiri

Aku ini bukan benda yang bisa kau miliki

Aku mau memanjat pohon pohon itu lagi

Tidakkah kau manusia dengar tangisanku ini?

 

Catatan: Monyet kecil ini kami lihat disebuah Pet Shop di salah satu pusat pertokoan di Bandung, Indonesia.

 

A little Monkey in a Shopping Plaza

 

Look at me!

Who am I anyway?

I’m clinging to this red iron rails

My world is just around this tiny space

All alone I am waiting

What am I hoping for?

I myself will never know

 

Watch me!

They think I am amusing

Those eyes sparkle starring at me

But don’t they see?

Boredom has clouded my eyes

Don’t they hear my cry?

I’m afraid and sad captured in this cage

 

My thoughts are hiding behind this pain

My feet and body are aching

Long ago my world was green

Among the trees life was fun and carefree

I can’t remember the warmth of the sunlight

No more  I feel mother’s embrace

Now my life is an empty space

 

I want to be free!

I don’t want to be alone!

I hate this red iron cage!

I’m sick of all this dirt!

I’m not something that can be owned!

I want to climb trees again!

Don’t you human hear my plea?

 

Note: We saw this poor little monkey in a Pet Shop in a Shopping Centre in Bandung, Indonesia.

Pohon Petai

Waktu berkunjung kekota Bandung beberapa waktu yang lalu, aku ikutan jalan pagi. Jalan jalan disekitar perumahan Sumber Sari Indah memang unik. Orang kebanyakannya mengelilingi taman di bagian depan perumahan. Katanya kalau hari Minggu jalan masuk utama perumahan ini tak bisa dilewati karena berubah menjadi pasar makanan. Mereka yang gerak jalan kumpul dijalan masuk di pinggiran Jl. Sukarno Hatta dan ini dimanfaatkan oleh pedagang untuk berjualan disitu.

Nah apa hubungannya obrolanku ini dengan pohon pete? Waktu ikutan jalan pagi, diisalah satu jalan di Sumber Sari Indah aku lihat pohon yang aneh. Besar juga pohonnnya dan mempunyai bunga yang bentuknya seperti gasing. Pohon apa ya? Terus kupotret dan kakak-ku bilang itu adalah pohon pete. Yang bener? Seperti inikah yang namanya pohon pete?

Selama ini aku hidup lebih dari setengah abad baru sekarang aku lihat pohon pete. Aku sendiri tak begitu suka pete. Kalau makan sayur lodeh atau sambal goreng dan ada petenya aku tak pernah makan pete itu, jadi aku sisihkan potongan pete dipinggir piring berjejer. Ha….. Yang paling mengerikan dengan pete adalah baunya yang lama engga hilang. Kalau makan lalab pete, mulut dan kencing bau pete. Mana tahan itu wc-nya.

Pohon Petai

Petai (Parkia speciosa) juga biasa disebut dengan nama pete, yongchaa, zawngtah atau bahasa Inggrisnya adalah stink-bean. Selain di Indonesia dan Malaysia, rupanya petai juga menjadi kegemaran orang dari Thailand, Laos, Burma dan beberapa tempat di India.

Banyak orang menghubungkan petai dengan jengkol, walau mungkin baunya ada miripnya tapi petai dan jengkol itu berlainan jenisnya.
Jengkol adalah tanaman yang nama Latinnya adalah Archidendron pauciflorum / Pithecollobium jiringa / Pithecollobium labatum. Bagaimana dengan petai China yang bahasa Jawanya adalah mlanding atau lamtoro? Yang ini juga berbeda jenisnya dengan petai maupun jengkol dan istilah Latin-nya adalah Leucaena glauca.(Catatan: Walau petai, jengkol dan petai Cina berbeda jenisnya, ketiganya berasal dari keluarga yang sama yaitu Mimosoideae).
Ingat tentang petai China yang bijinya kecil kecil itu, paling enak kalau dimasak sebagai campuran bebotok kelapa. Sedap deh.

Kembali ke petai…… pohon petai bisa tumbuh setinggi 30 m dengan dedaunan yang rindang. Bunganya yang berbentuk seperti gasing atau bolam lampu akan rontok setelah polinasi dan dipucuk tangkainya yang masih dipohon akan tumbuh beberapa papan petai yang panjang panjang itu.

Aku pernah baca bahwa buah petai yang tua mengandung zat gula sucrose, fructose and glucose, jadi mereka yang suka makan petai akan mendapat tambahan energi apalagi kalau memakannya sebagai lalab…….

Senang juga aku bisa lihat pohon petai karena hobby-ku adalah tanaman. Bagi mereka yang tinggal disekitar Sumber Sari Indah di Bandung, tahukah anda pohon pete ini? Letaknya aku lupa jalan apa tapi kalau tak salah adalah. Sumber Resik (agak dibagian belakang perumahan). Kalau anda belum tahu tapi penasaran silahkan mencarinya sambil gerak jalan pagi….:)

Kawah Putih

Kawah Putih adalah terletak di Gunung Patuha tak jauh dari Ciwidey yang kira kira berjarak  40 km sebelah selatan kota Bandung. Perjalanan dari Soreang ke Ciwidey hari itu cukup padat. Dibawah ini adalah photo yang kami ambil didaerah Soreang yang menunjukkan padatnya kendaraan setempat.

101_2622

Begitu sampai di Ciwidey, banyak sekali tanaman strawberry. Kalau mau kami bisa beli dengan memetik sendiri. Selain strawberry juga terlihat beberapa restoran khas Sunda seperti misalnya Saung Sawah dan Sindang Reret. Disitu kita bisa menikmati nasi timbel dengan lauknya yang sedap yang bisa berupa ikan dan ayam goreng atau bakar, daging gepuk, karedok, sayur asem, segala macam pepesan dan tak ketingalan sambal komplit dengan lalabannya.

Perjalanan dari Ciwidey ke Kawah Putih cukup menanjak dan dibeberapa tempat sayang sekali jalannya cukup rusak berlubang lubang. Sesampainya di Kawah Putih, mobil diparkir ditempat parkir yang sekelilingnya penuh dengan warung warung makan dan penjual buah buahan. Perjalanan dengan jalan kaki dari tempat parkir ke kawah cukup bagus, pendek dan mudah.

Dari jauh kami bisa melihat air kawah yang berwarna hijau turquoise muda. Kami dengar warna air kawah ini bisa berubah menjadi kecoklatan atau keputihan tertutup kabut. Tanah dan bebatuan sekitar kawah yang berwarna putih membuat mata pilau dan berkaca kaca. Bau belerang-nya tidak terlalu menusuk hidung, namun kadang kadang berbau seperti durian.

Beberapa photo yang kami ambil:

Kawah Putih Wpress

Disini kami melihat orang seperti sedang shooting film, ternyata kami dapat info bahwa daerah Kawah Putih ini terkenal dipakai sebagai tempat untuk membuat pre-wedding photo atau video. Pantas kami lihat beberapa pasang pengantin sedang bergaya dengan pose yang memukau. Pemandangan pengantin wanita yang memakai gaun pengantin panjang dan putih itu terasa agak aneh ditempat yang terpencil ini.

Rupanya dizaman Belanda dulu, ditempat ini terdapat sebuah pabrik belerang yang dikenal dengan nama Swavel Ontgining Kawah Putih. Dizaman Jepang pabrik belerang ini diberi nama Kawah Putih Kenzanka Yokoya Ciwidey yang mendapat pengawasan langsung dari militer Jepang. Sejak tahun 1991 Pemerintah Daerah bersama dengan Perum Perhutanan Unit III Jawa Barat dan Banten mengembangkan Kawah Putih ini sebagai  Ecoturism Wana Wasta Kawah Putih.

Walau dibeberapa tempat jalanan berlubang dan berbatu, pemandangan indah disekitar kawah ini begitu mempesona, membuat perjalanan ini berkesan. Pulangnya kami mampir di Sindang Reret untuk makan siang. Banyak orang kalau ke daerah Bandung hanya pergi ke Tangkuban Perahu, padahal pemandangan di Kawah Putih jauh lebih indah. Sebuah obyek wisata yang tak terlalu jauh dari kota yang patut lebih banyak dikenal lagi.

Pohon Sukun di Bandung

Ditengah hiruk pikuk-nya lalu lintas dan padatnya penduduk, pohon pohon sukun didaerah perumahan Sumber Sari Indah, Bandung tampak tumbuh subur dan berbuah. Rupanya akhir akhir ini digalakkan penghijauan kota dengan menanam pohon pohon yang bisa menghasilkan makanan seperti misalnya pohon mangga, sukun, petai atau jengkol. Saya jadi heran siapa yang berhak memetik buah sukun itu karena pohon pohon ini tumbuh dipinggir jalan.

Sukun

Tentang tanaman sukun:

Bahasa Inggrisnya  tanaman/buah sukun adalah breadfruit (Artocarpus altilis). Tanaman ini berasal dari Asia Tenggara dan kepulauan Pacific barat. Buah sukun ini merupakan sumber makanan pokok di banyak daerah di kepulauan Pacific. Tanaman lain yang berasal dari jenis sama adalah kluwih/kluweh (Artocarpus artilis/ yang berbiji), nangka (Artocarpus heteropyllus) dan cempedak (Artocarpus polyphema).

Saya mencoba mencari info tentang perbedaan antara sukun dan kluwih. Ternyata kedua tanaman ini satu jenis (A. altilis), hanya kalau sukun itu tak berbiji sedangkan kluwih adalah yang jenis berbiji. Buah sukun di Indonesia seringnya dimasak sebagai makanan kecil, seringnya buah yang tua dan mengandung banyak tepung ini digoreng atau dibuat kolak (dengan santan dan gula merah) atau dijadikan keripik sukun. Sedangkan kluwih seringnya dipetik muda dan dijadikan sayur lodeh.

Saya ingat waktu masih kecil, tetangga sebelah punya pohon kluwih dan bunganya yang jantan kalau jatuh dan sudah kering, kalau dibakar akan berasap dan  bisa berfungsi sebagai obat untuk mengusir nyamuk.

Melihat pohon pohon sukun di Bandung ini membangkitkan kembali kenangan masa kecilku. Dulu setiap kami pergi ke Yogya pasti beli sukun yang warnanya kekuning kuningan pertanda udah tua. Dizaman dulu rupanya buah sukun ini didaerah Jawa Tengah hanya bisa didapati dijual di Yogya. Setelah digoreng oleh mama, kami semua menyantapnya dengan minum teh manis. Sukun goreng ini garing luarnya dan empuk serta manis dalamnya. Ueenak sekali……. :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.