Feeds:
Posts
Comments

Nostalgia Masa Kecil

“There is a garden in every childhood, an enchanted place where colors are brighter, the air softer, and the morning more fragrant then ever again.”

- Elizabeth Lawrence -

Childhood photos

Bagiku masa kecil adalah yang paling berkesan dalam hidup ini. Betapa tidak? Semuanya serba kecukupan dan hidup masa itu tidak mengenal tanggung jawab. Tidak mengenal betapa sulitnya cari uang. Orang tua kami memberi kami yang terbaik, dari pakaian sampai makanan. Walau masa sekolah dimasa kecil itu tidak begitu kusukai, tapi masih cukup memberi kesan indah. Mengapa tidak? Aku naik kelas terus mulai dari TK, SD sampai SMA, walau kuakui aku tidak sepintar kakak perempuanku.

Tiga adik kami baru lahir setelah aku berumur 12 tahun. Jadi lama juga aku dan kakak perempuanku hanya berdua saja. Walau berselisih usia 2 tahun, aku sama besarnya dengan kakak. Ingat waktu masih kecil mama selalu mendandani kami semuanya sama. Pakaian sama, sepatu sama dan pita rambutpun sama, akibatnya banyak orang menyangka kami itu kembar. Kalau membelikan mainanpun selalu sama. Ini yang paling kuhargai dari orang tuaku. Mereka memperlakukan anak anaknya sama walaupun kami berbeda sifat, kemampuan dan tingkah lakunya.

Dizaman dahulu waktu kami masih kecil, di rumah kami ada dua pohon jambu biji dan dua pohon belimbing. Aku dan kakak memilih yang mana dari kedua macam pohon itu milikku dan milik kakak. Anehnya pohon yang kupilih baik pohon belimbing atau pohon jambu biji adalah yang buahnya berbentuk lebih besar dan panjang, sedang milik kakak buahnya lebih kecil dan lebih bulat.

Sifatku dan sifat kakak jauh berbeda. Aku anaknya pemalu dan selalu mengalah. Sedang kakak sebagai layaknya anak nomor satu bersifat pemberani, tegas dan suka memerintah. Kalau bermain bersama, mainanku-lah yang selalu kami pakai. Akibatnya yang punyaku cepat butut sedang punya kakak masih serba baru. Tapi herannya waktu itu aku mengalah saja.

Masa sekolah yang paling berkesan adalah waktu aku kelas tiga SD. Waktu itu kami bersekolah di SD Kristen Pasar Legi, Kebetulan kami berdua mendapat kelas sore. Rumah kami berada diluar kota Solo dan kami pergi sekolah dengan naik bus. Karena tak ada bus ke Solo yang berangkat siang hari, maka kami berdua tinggal dirumah nenek di Solo. Setiap hari Sabtu malam, kami berdua dijemput oleh papa dan mama. Jadi hampir disetiap Sabtu malam kami makan diluar di kota Solo dan yang paling berkesan dan kusukai adalah kalau makan bakso Notosuman.

Aku ingat warung baso Notosuman itu selalu penuh. Selain mie baso dan babat, yang paling kusukai adalah sosis-nya. Sosis ini dibuat dari kulit dadar yang isinya daging sapi cincang yang coklat dikecapin dan rasanya agak manis dan terasa pedas mericanya. Sosis ini kemudian digoreng sampai kecoklatan. Sering kali kalau kami pesan sosis ini, harus menunggu karena begitu banyaknya pesanan. Selain sosis, juga waktu itu terkenal dengan gorengan yang namanya” tiga dara”, yaitu yang terbuat dari pisang raja, nangka dan kelapa muda yang digoreng dengan tepung seperti pisang goreng. Heran sekali, apa saja yang dijual disitu laku. Bahkan pernah mereka menjual biji nangka rebus, rupanya karena begitu banyak nangka yang dipakai untuk bikin tiga dara , maka biji-nya direbus dan dijual. Anehnya orang banyak juga yang beli.

Waktu itu semasa kecilku, hidup ini terasa tenang dan tenteram. Jalanan didepan rumah begitu rindang karena pohon mahoni dan pohon tanjung ditanam dipinggir jalan. Jalan raya didepan rumah kami masih sepi dan tidak sebising seperti sekarang yang selalu dilalui banyak kendaraan dari pagi sampai malam.

Aku masih ingat setiap tengah malam aku terbangun karena mendengar tukang ronda malam yang berjalan sambil membunyikan kentongan dan memanggil nama setiap pemilik rumah. Juga masih segar diingatan ketokan bambu dari tukang mie rebus yang setiap malam lewat didepan rumah. Sering kami beli me ini, walau mie-nya hanya mi murahan (bukan mie telor), tapi bumbunya begitu sedap. Mama selalu mencoba untuk meniru memasak mie itu, tapi tak pernah berhasil. Entah apa rahasia bumbunya.

Masa kecil, penuh dengan kenangan manis. Banyak juga kenakalan yang kami lakukan seperti misalnya waktu bertiga dengan saudara sepupu lelaki kami yang beberapa tahun lebih besar umurnya, mencuri jambu air milik tentangga sebelah. Atau waktu itu kami diam diam memetik mangga muda walaupun papa selalu berpesan supaya jangan memetik mangga yang masih muda. Berdua dengan kakak, kami memakan mangga muda itu dengan garam.

Walau masa kecil sudah lama berlalu, namun semua kenangan masih tersimpan diingatan. Masih ada photo-photo yang bisa kami lihat kembali. Masa kecil waktu itu begitu lainnya dengan sekarang. Semuanya serba sederhana, tapi jauh lebih terkesan.

My New Cymbidium Orchid

Few weeks ago, there was a stand from one of Orchids Societies/Clubs in Brandon Park Shopping Centre (Melbourne, Australia). There were many displays of the contest winning orchids which were not for sale, but they also sold other orchids which were mostly cymbidium varieties.

I wish I could grow orchids as good as those people. Only lately I could make my very few cymbidium orchids bloom. I found that Cymbidium orchids will grow better and will flower if I use orchid fertilizer and occasional feed of seaweed or fish emulsion. It has to be enough sunlight, if your orchid foliage is very luscious and too green but refuse to flower, it means it does not get enough sunlight. Cymbidiums that receive enough sunlight will tend to have slightly yellowish leaves. Also Cymbies will do better in a slightly crowded pot. If re-potting and dividing cymbidium orchid do not use pots that are too big.

Anyway, back to the stand from the Orchid Society in Brandon Park Shopping centre. I bought a small variety – Cymbidium Sarah Jean ‘Ice Cascade’. It is a cascading variety with small, almost pure white flowers. With compact growth habit and cascading blooms, this variety is perfect for hanging pots.

C. Sarah Jean Ice Cascade

Spring Garden 2009

Spring here in Victoria, Australia is coming although it seems to be reluctant to warm up quickly. So far it was more cold days than the warm ones. Now it is grey and drizzly.

At last the back garden is done now. It took us few months to rearrange everything as I only did it when I had time or when I felt like it. Ha….

Nothing really changes much in the front garden, except that I had planted a lot more succulents (echeverias, crassulas, aeoniums and mesembryanthemums) to replace some plants that had refused to survive during the long drought. The crassulas (jade) flowered profusely in late winter and now they have become dried and brown.  I should have cut them off to make the garden looks tidier.

 Front Garden 2009

 What we have done with the back yard is to rearrange all my bonsai trees to the back part of the garden along the back fence. The tiny backyard garden has a U-shape and on the other side I planted new plants:

  • Enkianthus campalunatus which is native to Japan and it has little bell flowers
  • Salvia greggii (Heatwave Blaze)
  • Convolvulus cneorum which is commonly known as silverbush
  • English lavender
  • Pink Coprosma repens with it’s colourful tiny folliage
  • White and pink tree Begonias sanguine with the angel wing like leaves
  • Gardenia radicans, the small prostate gardenia
  • Murraya peniculata that also has fragrant flowers and
  • Some double Daffodils “white lion” which have finished flowering.

I am really glad that it is all done and the back garden looks a lot better now.

Backyard Garden Spring 2009

 poor moonkey 

Lihatlah aku!

Siapakah aku ini?

Berpegang erat pada terali besi merah

Duniaku hanya berapa langkah kecil

Aku ini sendiri menanti

Apa yang kuharapkan?

Aku sendiri tak tahu pasti

 

Pandanglah aku ini!

Mereka bilang aku ini sesuatu yang lucu

Mata mereka berseri melihatku terkesima

Tidakkah mereka itu melihat?

Mataku pudar karena jemu

Tidakkah mereka dengar jeritanku?

Takut dan pedih terkurung sendiri.

 

Ingatanku samar tertimbun nyeri

Badan dan kaki ini  kaku membeku

Dulu duniaku hijau

Dipepohonan itu kami bercanda

Hangatnya surya hampir kulupa

Pelukan mama sudah tak terasa

Hidup ini sekarang hampa

 

Aku ingin bebas lagi

Aku tak mau sendiri

Aku benci kurungan besi merah ini

Aku muak pada bau kotoranku sendiri

Aku ini bukan benda yang bisa kau miliki

Aku mau memanjat pohon pohon itu lagi

Tidakkah kau manusia dengar tangisanku ini?

 

Catatan: Monyet kecil ini kami lihat disebuah Pet Shop di salah satu pusat pertokoan di Bandung, Indonesia.

 

A little Monkey in a Shopping Plaza

 

Look at me!

Who am I anyway?

I’m clinging to this red iron rails

My world is just around this tiny space

All alone I am waiting

What am I hoping for?

I myself will never know

 

Watch me!

They think I am amusing

Those eyes sparkle starring at me

But don’t they see?

Boredom has clouded my eyes

Don’t they hear my cry?

I’m afraid and sad captured in this cage

 

My thoughts are hiding behind this pain

My feet and body are aching

Long ago my world was green

Among the trees life was fun and carefree

I can’t remember the warmth of the sunlight

No more  I feel mother’s embrace

Now my life is an empty space

 

I want to be free!

I don’t want to be alone!

I hate this red iron cage!

I’m sick of all this dirt!

I’m not something that can be owned!

I want to climb trees again!

Don’t you human hear my plea?

 

Note: We saw this poor little monkey in a Pet Shop in a Shopping Centre in Bandung, Indonesia.

Berdosakah Mereka?

Aftermath

Musibah bencana alam lagi lagi terjadi dibumi Indonesia dan sekitarnya. Gempa dan Tsunami yang memakan banyak jiwa dan mengakibatkan sakit, pedih, duka dan hilangnya harta benda. Banyak orang dengan pongahnya menghakimi korban bencana alam ini. Mereka bilang pasti mereka punya dosa yang besar sekali jadi Tuhan marah dan menghukum mereka!

Benarkah tuduhan kejam ini yang ditudingkan kepada korban bencana pada khususnya dan orang Indonesia pada umumnya? Apakah Tuhan itu sebegitu kejamnya? Saya bukan ahli dibidang Alkitab. Yang akan saya tulis ini hanyalah nalar yang bisa saya simpulkan.

Saya sendiripun ikut pilu dengan apa yang terjadi dan juga merenungkan dan mencoba untuk mendapatkan jawaban dari  pertanyaan: “KENAPA?”

Mungkinkah ini semua adalah karena dosa Adam dan Hawa dahulu karena tak menuruti perintah Tuhan? Akibatnya Allah Bapa memberikan kesedihan dan kesakitan. Sejak itu mereka harus bekerja dan bersimbah peluh untuk hidup mereka ((Kejadian 3:19-24).

Sejak jatuhnya Adam dan Hawa kedalam dosa, manusia semakin jauh dari Tuhan dan semakin dalam jatuh didalam perangkap dosa:

“Tuhan Allah Maha Suci, sedangkan manusia penuh dosa. Karena itu ada satu jurang pemisah antara Tuhan Allah dengan manusia. Manusia selalu berusaha untuk mencari Tuhan Allah dan kehidupan yang penuh kebahagiaan melalui usahanya sendiri yaitu kehidupan yang baik, etika, filsafat dan lain-lain, namun gagal disebabkan karena dosanya. (Roma 6:23)” < dikutip dari: Empat Hukum Rohani –  http://4laws.com/laws/indonesian/
 

Menurut pendapat saya, setelah membaca kutipan diatas, jawaban kenapa hidup didunia ini penuh dengan penderitaan, kesakitan, kesedihan, mala petaka dan tantangan jelas terjawab. Sejak jatuhnya manusia kedalam dosa yang bermula dari Adam dan Hawa, hidup manusia didunia ini tidaklah sempurna lagi. Dari sinilah alam dunia ini memberikan banyak tantangan dan percobaan hidup. Ini bisa kita lihat dan alami dari musibah alam, penyakit, tantangan dan kesulitan hidup, kesedihan dan masih banyak lagi. Allah Bapa telah membiarkan manusia berjalan sendiri menghadapi semua tantangan hidup ini.

Kembali kepada pertanyaan: “Sekejam inikah Allah Bapa?” Jawabannya adalah sebaliknya. Biarpun Bapa telah membiarkan manusia berjalan sendiri, tapi jalan yang benar masih diberikan. Ini tinggallah pilihan kita manusia. Maukah kita berjalan dijalan yang benar dibawah naungan Sang Penyelamat Yesus Kristus? Jika mau kita akan diselamatkan diakhir zaman. Jelas yang dijanjikan adalah keselamatan diakhir zaman. Jelas bukanlah keselamatan didunia ini.

Bagi saya pemikiran ini adalah masuk akal bahwa musibah baik yang bersifat alami atau karena perbuatan dan ulah manusia sendiri akan terus terjadi didunia ini, walaupun kita percaya dan hidup mengikuti perintah Tuhan. Ada banyak pendapat yang mengatakan bahwa mala petaka, rintangan dan tantangan hidup itu justru berguna bagi manusia, supaya kita bisa belajar untuk lebih mawas diri dan memperbaiki diri dan takut kepada Tuhan,

Menurut pendapat saya mala petaka gempa dan tsunami yang bertubi tubi melanda Indonesia itu  bukanlah karena para korban berbuat dosa besar. Ingat kita semua manusia ini berdosa dimata Tuhan. Semua kejadian alam, kepedihan dan kesusahan hidup ini adalah bagian dari hidup ini sendiri dan bukan karena manusia yang jadi korbannya telah berbuat dosa yang akibatnya dihukum oleh Tuhan.

 Oktober 2009 – Sebagai tanda ikut berduka atas musibah gempa yang akhir akhir ini melanda Indonesia dan Samoa.

Kadal

Ingat engga kata-kata “di-kadalin” yang maksudnya di- tipu atau kena siasat. Menurutku, yang lebih tepat sebenarnya “di-bunglonin”. Kadal sih warnanya tidak berubah, hanya bunglon yang warnanya berubah-ubah sesuai dengan warna dimana ia berada. Jadi kalau diantara dedaunan warnanya hijau dan kalau di atas kayu jadi coklat. Jadi hanya bunglon yang pintar menipu.

Belum lama waktu di Indonesia, dikebun dirumah keluarga kami ada kadal. Tidak hanya satu atau dua, tapi ada banyak. Herannya dulu waktu aku masih anak-anak, seingatku kadal itu kecil. Tapi yang belum lama kami lihat lebih besar dan lebih gemuk. Warnanya coklat keemasan dan sisiknya kelihatan jelas dan berkilauan kena pantulan sinar matahari. Kadal kadal ini rupanya sedang menghangatkan badan dipanas matahari.

Kadal adalah jenis reptil kecil, berkaki empat dan bersisik. Bahasa Inggrisnya adalah “skink”. Banyak sekali jenisnya dan warnanya tergantung dari daerah habitat-nya.  Diperkirakan terdapat 75 genera yang terdiri dari 600 species, yang merupakan salah satu dari dua suku reptil terbesar.  Kadal ini paling banyak dijumpai dihutan hutan di Afrika dan Indoaustralia.

Semua jenis kadal memiliki  kemampuan untuk mematahkan ekornya (autotomy) sebagai fungsi untuk melindungi diri  jika menghadapi bahaya. Bagian ekor yang terpatah tidak terjadi diantara ruas tulang ekor, tapi dibagian tulang ekor itu sendiri yang mampu terlepas dengan mengejangkan otot. Pendarahan boleh dikata tak terjadi sama sekali dan ekor akan tumbuh kembali. Dengan demikian si kadal tidak merasa sakit jika memutuskan ekornya.

Kadal pada umumnya makan serangga atau jenis antropoda lainnya, namun ada juga yang memakan tumbuh-tumbuhan. Kadal pada umumnya berkembang biak dengan cara bertelur (oviparous) tapi ada jenis yang melahirkan (viviparous).

kadal

Yang kami lihat di kebun rumah keluarga kami didaerah Solo (Jawa Tengah) adalah termasuk jenis “kadal kebun” (Mabuya multifasciata). Warnanya coklat kekuningan dan sisiknya kelihatan berkilauan. Kadal kadal ini rupanya sudah terbiasa melihat manusia, jadi waktu kami ambil photonya mereka tak terlihat takut dan tidak melarikan diri..

Beberapa tahun yang lalu waktu kami pergi “bush walking” kedaerah Hutan Toolangi (Toolangi Forest) di Victoria/ Australia, terdapat juga jenis kadal yang hidup didaerah ini. Banyak sekali kami lihat terutama dibebatuan didekat sungai atau air terjun. Ternyata memang kadal ditempat ini lain warna-nya dengan yang kami lihat di Jawa Tengah. Kadal di hutan Toolangi ini dinamakan Eastern Water Skink (Eulamprus quoyii), yang juga terkenal dengan nama Golden Water Skink atau hanya disebut Water Skink. Di Australia, jenis kadal ini dijumpai di New South Wales, Victoria dan South Australia. Jenis ini berkembang biak dengan melahirkan (viviparous).

 Skinks in TOOLANGI

Kalau diperhatikan selain berbeda warnanya, kadal yang kami lihat di Jawa tengah bentuknya lebih pendek dan gemuk sedangkan yang kami lihat di hutan Toolangi di Victoria, Australia ekornya jauh lebih panjang.

Heran menurutku kadal itu indah dan tidak menjijikkan karena warnanya berkilauan. Walaupun sama sama berdarah dingin, aku jijik sekali kalau melihat cicak. Mungkin karena cicak tak bersisik dan kulitnya yang lunak dan dingin membuatku merinding melihatnya. Mungkin juga waktu masih kecil aku pernah kejatuhan cicak yang membuatku sedikit trauma sampai sekarang. Ha….

Labu Genit dan Labu Artistik

Waktu berkunjung kerumah saudara di Solo, kulihat dirumah mereka ada beligo alias si-labu genit. Mereka bilang sedang musim  dan harganya murah. Waktu melihat beligo yang seperti dibedakin  seputih wajahnya Geisha itu aku langsung ingat blog-ku dulu mengenai jenis labu ini. Dibawah ini adalah link untuk membaca blog tentang beligo alias winter melon:

http://kiyanti2008.wordpress.com/2009/01/16/winter-melon/

Memang banyak jenis labu-labuan, tapi yang dinamakan beligo itu adalah yang kalau udah tua berwarna keputih-putihan seperti dibedakin. Warna daging beligo ini putih dan rasanya tawar. Biasanya dimasak untuk kolak atau kluwa beligo yaitu direbus dengan gula merah dan diberi daun pandan.  Kluwa beligo ini amat segar dan bersifat mendinginkan badan jika dimakan selagi hari panas menyengat.

Berbicara mengenai labu, yang paling artistik bentuknya dan  yang paling indah adalah labu botol.  Dizaman dahulu waktu aku masih kecil, dirumah keluarga kami didaerah Solo terdapat tanaman beligo tapi sekarang yang dtanam adalah labu botol. Karena belum ada yang tua jadi photo yang kami ambil adalah yang masih muda berwarna kehijauan. Kalau sudah tua kulit berwarna coklat kekuningan.

 Beligo, Labu botol dan labu air

Labu botol juga dikenal dengan nama bottle gourd, white-flowered gourd atau calabash gourd. Sedang nama Latin-nya adalah  Lagenaria siceraria.  Sama dengan beligo dan labu air, labu botol adalah termasuk dalam keluarga Cucurbitaceae.

Seringnya labu botol ini ditanam bukan untuk bahan pangan tapi digunakan untuk hiasan atau tempat menyimpan air. Setelah buah-nya tua, dikorek dalamnya dan dikeringkan. Untuk kerajinan atau hiasan, labu botol yang sudah kering dan kosong ini dicat atau di varnish.

Selain beligo (Benincasa hispida )yang genit ini dan labu botol (Lagenaria siceraria) yang artistic bentuknya,  terdapat  juga labu air yang juga termasuk jenis Lagenaria siceraria. Labu air ini panjangnya bisa se-meter. Kulit nya halus berwarna hijau muda dan umumnya labu jenis ini  dipetik muda dan digunakan untuk sayur. Karena labu air yang panjang  serta terlihat gemuk dan membengkak ini, gadis yang lengannya montok dinamakan mempunyai lengan labu. Ha…..

Sebagai bahan pangan labu labuan mengandung fibre/serat yang tinggi dan bersifat mendinginkan badan.

Situs Ratu Boko dan Buah Maja

Perjalanan pendek dari Candi Prambanan ke Kompleks Candi Ratu Boko tidaklah lama. Terletak kira kira 2 km sebelah selatan Candi Prambanan dan kira kira 18 km dari kota Yogya, peninggalan bersejarah ini berada diatas sebuah bukit yang merupakan bagian dari Pegunungan Seribu.

Berdiri di area yang luasnya sekitar 250,000 m persegi dengan ketinggian kira kira 195,97 m, situs Ratu Boko ini adalah tempat yang indah. Dengan melihat kebawah, dari jauh kami bisa melihat puncaknya gunung Merapi, Candi Prambanan dan Candi Kalasan. Walau terletak tinggi diatas permukaan laut, suasana tidaklah sejuk, tapi malah sebaliknya. Panas mentari terasa menyengat. Namun demikian, keterpencilan dan misteriusnya tempat ini memberikan rasa tenang dan damai.

Begitu masuk kedaerah parkir, kami melihat  pohon beringin yang begitu rindang dengan akar akarnya yang menggantung. Keberadaan pohon yang dianggap keramat dan angker ini menambah mesteriusnya suasana. Sebelum menaiki tangga menuju ke candi , ada sebuah pohon kecil yang langsung menarik perhatianku. Maklum aku adalah pencinta tanaman, jadi kalau pergi  kemana saja yang pertama jadi perhatianku adalah tanaman. Pohon ini lain dari pada yang lain dan belum pernah kulihat sebelumnya. Buahnya bulat, halus dan berwarna hijau. Apakah ini yang dinamakan buah Maja?

Inilah gambar yang kami ambil dari pohon ini dengan beberapa buahnya:

Buah Maja

Apakah buah Maja itu? Ini adalah copy dari Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Maja):

Maja (Aegle marmelos (L.) Correa, suku jeruk-jerukan atau Rutaceae) adalah tumbuhan berbentuk pohon yang tahan lingkungan keras tetapi mudah luruh daunnya dan berasal dari daerah Asia tropika dan subtropika. Tanaman ini biasanya dibudidayakan di pekarangan tanpa perawatan dan dipanen buahnya. Maja masih berkerabat dekat dengan kawista. Di Bali dikenal sebagai bila.

Tanaman ini mampu tumbuh dalam kondisi lingkungan yang keras, seperti suhu yang ekstrem; misalnya dari 49°C pada musim kemarau hingga -7°C pada musim dingin di Punjab (India), pada ketinggian tempat mencapai +1.200m. Di Asia Tenggara, maja hanya dapat berbunga dan berbuah dengan baik jika ada musim kering yang kentara, dan tidak biasa dijumpai pada elevasi di atas 500 m. Maja mampu beradaptasi di lahan berawa, di tanah kering, dan toleran terhadap tanah yang agak basa.

Warna kulit luar buah maja berwarna hijau tetapi isinya berwarna kuning atau jingga. Aroma buahnya harum dan cairannya manis, bertentangan dengan anggapan orang bahwa rasa buah maja adalah pahit. Sebagaimana jeruk, buah maja dapat diolah menjadi serbat, selai, sirop, atau nektar. Kulitnya dibuat marmalade.

 Maja terlibat dalam mitos mengenai asal nama kerajaan Majapahit, suatu imperium yang membentang di Nusantara dari abad XIII-XV. Konon, Raden Wijaya, sang pendiri kerajaan, menerima sebidang tanah di daerah Tarik (sekarang di selatan Surabaya). Sewaktu membangun daerah itu, ada prajuritnya yang memakan buah maja. Kebetulan yang dimakan adalah buah yang berasa pahit (karena mungkin masih mengkal). Oleh sebab itu ia menamakan bulak itu sebagai “Majapahit”. (Sumber: Wikipedia)

Ratu Boko

Melihat letak kompleks Boko yang begitu strategis yang merupakan titik pandang yang luas memberikan kesan bahwa bukit ini dipilih bukan saja hanya untuk segi keindahan tapi juga masuk akal kalau bukit ini adalah sebagai benteng pertahanan atau tempat untuk berlindung kalau peperangan terjadi.

Rupanya situs ini mula mula dibangun oleh Rakai Panangkaran (tahun 746 – 784M) sebagai tempat pemujaan yang bernama Abhayagiri Wihara. Kemudian oleh Raja Vasal yang bernama Rakai Walaing Pu Kumbayoni tempat ini diubah menjadi keraton yang bernama Walaing. Bagaimana kemudian terkenal dengan nama Ratu Boko? Nama ini adalah merupakan judul hasil penelitian yang dilakukan oleh FDK Bosch. Siapakah Ratu Boko? Sampai sekarang masih menjadi misteri.

Disaat berjalan disekitar daerah Kaputren dengan bekas bekas kolam air-nya yang kecil, aku jadi berpikir dan membayangkan puteri puteri Raja yang cantik mandi merendam dan berdendang ria. Suasana yang asri itu memberikan kesan romantik. Mungkinkah dizaman dahulu kompleks keraton ini merupakan tempat raja dan ratu serta putra dan putri-nya dan juga dayang dayangnya bersinggah untuk beristirahat? Apakah dipendopo keraton ini dahulu sering dipertunjukkan tari tarian dan kesenian lokal yang mempesona?

Dengan mulut mengunyah keripik daun singkong yang lezat, kami berjalan jalan melihat puing puing peninggalan bersejarah ini. Sementara pikiran merenungkan kemungkinan yang bisa saja terjadi ditempat yang mesterius ini. Sayang sekali kami tidak bisa tinggal untuk menyaksikan matahari tenggelam Konon disaat mentari tenggelam pasti akan terlihat tenggelam dibalik bingkai gerbang utama yang masih terlihat berdiri megah.

My Orchid Is Turning Green

Help!  My Cymbidium orchid is turning green this year. I hate green flowers!

Last year I bought this Cymbidium orchid in Caribbean market  (in Melbourne, Australia)and the colour was bright yellow with dark red throat. The reason I bought it because I liked the colour and also it was quite cheap in the market.

I don’t know exactly what kind of Cymbidium orchid it is as the seller herself did not know the name for it. After flowering last year, I re-potted it as it had already over crowded and almost cracked the pot. I found that whoever grew it did not even bother to use orchid mix/medium. It was grown in ordinary soil and it had become so compacted so it was so hard to loosen the roots. I was so afraid that I damaged them. Anyway, I managed to transfer it to a slightly bigger pot and I used proper orchid mix which consists of old wooden chips.

A year later today, it is having five spikes of blooms. I have applied special fertilizer for orchids and I also used sea weed mixture. However, I can’t believe what I see! My Cymbies have turned green with only a very slight yellow tint. I am not really happy to see this colour as I don’t like green flowers.

turning green

Does anyone also have the same problem? What can cause Cymbidium orchid to change colour? Is it because of the amount of the sunlight , or is it the medium or the fertilizer? How can I make it yellow again?

Mochaccino di Banaran

Segelas Mochaccino dingin ini begitu cantik menggiurkan. Seindah penampilannya, tak kalah pula rasa mantap dan kesegarannya. Inilah salah satu dari berbagai jenis minuman kopi Robusta yang dihidangkan di perkebunan kopi di Banaran.

Dalam perjalanan dari Solo ke Wonosobo, kami mampir di Kampoeng Kopi di Banaran yang juga dikenal dengan singkatan KaKoBa. Banaran terletak di jalan Raya Salatiga – Bawen . Perkebunan ini yang dirintis sejak tahun 2002 adalah merupakan restoran yang terletak di perkebunan kopi milik PTPN -IX. Selain makanan khas daerah setempat, restoran ini khusus mempromosikan bermacam macam minuman kopi dari jenis Robusta yang ditanam disitu. Biji kopi robusta ini diekspor ke Eropa dan Australia , sedangkan untuk memenuhi kebutuhan local kopi yang sudah diolah dijual dengan merek Banaran Coffee.

Dengan memakai kereta wisata kami mengelilingi sebagian dari perkebunan yang luasnya kira kira 400 hektar. Pengemudi kereta wisata menjelaskan bahwa selain kopi robusta yang rupanya paling cocok dengan iklim setempat, terdapat juga pohon pala, karet dan bermacam macam tanaman buah langka seperti misalnya buah naga, srikaya, zirzak, belimbing, duwet, cacao dan lainnya. Suasana perkebunan yang terletak di perbukitan terasa begitu asri yang memberikan kesan yang menyejukkan. Ratusan atau bahkan ribuan pohon pohon kopi yang rendah itu ditanam dibawah naungan pohon pohon lamtoro/mlanding yang berfungsi sebagai pelindung. Saat ini dibulan Agustus, panen kopi baru saja selesai, tapi masih terdapat buah buah kopi yang merah itu tersisa dipohon. Kami lihat sekelompok pemetik kopi beristirahat siang dipinggir jalanan yang sempit berliku. Dipuncak bukit diperkebunan ini, dengan melihat kebawah dari jauh kami bisa melihat bentangan Rawa Bening yang tampak seperti telaga dangkal.

Untuk makan siang setelah menikmati pemandangan perkebunan, kami memilih makan camilan yang berupa tahu goreng, tempe mandoan, pisang goreng, kentang goreng dan singkong goreng. Kenikmatan makanan ini disempurnakan dengan hirupan segar dan harum-nya Mochaccino. Oh ya kami juga mencoba garang asem jamur yang dibungkus daun pisang….. dan rasanya juga tak mengecewakan. Sedap dan segar. Selain restoran, perkebunan ini juga menyediakan ruang pertemuan yang bisa disewa untuk pesta atau rapat.

Sebelum pergi kami beli juga sebungkus kopi dan sebotol sirup pala. Jika anda menyukai tanaman dan indahnya suasana perkebunan. Juga jika anda menyukai minuman kopi dan makanan daerah yang khas, Kampoeng Kopi Banaran ini adalah salah satu tempat yang patut dicatat untuk suatu hari dikunjungi ……… :)

« Newer Posts - Older Posts »