Damselfly in the Garden

When I divided and repotted the yellow water lily, I had one extra. There was no more room for it in the fish tubs, so I kept it in a separate plastic tub in the back garden. This extra waterlily is also growing very well and flowering. I regularly check it  as I am worry about mosquitoes breed there.

This morning I had a very nice surprise! The damselflies breed in there instead. They must have fed on the mosquito larvae. I don’t really mind to have damselflies or dragonflies around our garden. They are completely harmless to the garden and help to keep other small insects in control.I can tell that those are damselflies. They are dainty and smaller compared to dragonflies. The eyes are well separated and sit on the side of the face, while dragonfly’s eyes are close together and look more like on the top of the face. The wing of damselflies are close together along side the body when they are resting, while dragonflies’ wings are open.

 

The images below show  stages of the last transformation. First picture was a damselfly nymph in the process of final moulting. The back had already started to split. Second picture was the damselfly right after coming out of the shell/ after shedding skin. Last picture was just minutes later after the wings had developed. When I was about to take the fourth picture a few minutes later, it was flying away…. too scared of the camera.

It was amazing to watch. They are very tiny. I wish I had a better camera to make sharper images!!

 

The Empty Shell left behind......

 

Further read about damselflies : 

 http://australianmuseum.net.au/image/Damselfly-life-cycle

http://photos.rnr.id.au/dragonflies.html

Laba Laba – Renungan

Dihalaman belakang rumahku, ada laba laba yang menenun jaringnya yang besar mirip itu yang dipakai oleh nelayan untuk menjaring ikan. Setiap pagi kalau aku menyirami tanaman, jaring laba laba yang lengket itu selalu menghalang. Sering kali aku jalan melaluinya dengan akibat jaring yang mirip seperti benang sutera itu nempel dikepala dan rambutku.

Setiap hari dengan sebuah sapu kubersihkan jaring itu, namun esok harinya jaring baru sudah tercipta lagi untuk menangkap mangsa. Aku jadi heran, kenapa laba laba itu tidak pindah tempat? Apakah didunia laba laba itu juga seperti dunianya manusia? Manusia hidup ditempat masing masing dan tidak bisa seenaknya pindah begitu saja. Kalaupun pindah tempat tinggal, didunia manusia itu ada peraturan tertentu. Mungkin ada yang harus menjual rumahnya dulu dan kemudian beli rumah lainnya. Atau yang kontrak juga harus mencari tempat kontrakan atau kost yang baru dan harus bayar. Perpindahan habitat untuk manusia itu pasti ada alasannya tertentu. Kukira ada juga jenis laba laba yang sifatnya territorial, jadi mereka tak bisa seenaknya mencuri tempat lainnya.  Sebetulnya kalau dia membuat jaringnya ditempat yang tak menghalang jalanku, aku tidak peduli dan akan kubiarkan. Tapi dengan setianya si laba laba itu tidak pindah ketempat lain. Setiap kali jaringnya rusak dan dibersihkan, dia akan membuatnya lagi yang baru….. ditempat itu lagi.

Aku jadi merenung dan ingat akan begitu banyaknya orang orang dari negara lain seperti India, Pakistan, Afganistan dan Timur Tengah berbondong bondong meninggalkan tanah air mereka untuk mencari hidup ditempat lain yang salah satunya adalah Australia. Aku jadi berikir, kalau dinegeriku mengalami kekacauan, akankah aku memilih meninggalkannya begitu saja?

Pertanyaan untuk anda semua: “Kalau misalnya ditanah air kita masing masing porak poranda dan kacau, baik itu karena situasi politik/ perang, ekonomi atau hal  hal lainnya….. akankah dengan mudahnya meninggalkannya begitu saja? Ataukah anda akan tetap tinggal dan memperjuangkan masa depan negara dan bangsa serta membangunnya lagi?  Akankah anda seperti laba laba dibelakang rumah kami itu yang tetap gigih mempertahankan tempat tinggalnya walaupun setiap kali ada yang merusaknya????

Foto foto ini adalah laba laba yang ada dikebun dibelakang rumahku. Apa jenisnya aku tidak tahu…. yang pasti adalah jenis yang membuat jaring.

Laba-laba dikebun

 25 Pebruari,2012:

Tadi pagi kami pindahkan laba laba-nya kehalaman depan, tepatnya dipohon buah pir. Moga moga akan suka dengan tempatnya yang baru yang tak akan mengganggu lalu lalang:)

Yes to Happy and Free Chickens

When I was young my family used to have a battery-caged egg layer chicken farm. I remember those poor hens were kept in tiny solitary cages just a little bit bigger than their body. At that time it was a new way to produce eggs to the maximal. The big building where the chickens were kept was deliberately kept bright at night to make those chickens eat all the time 24 hours nonstop. This way they would also lay eggs everyday. At that time it never crossed my mind that this practice of egg layers farming was very cruel. As the chickens unable to move at all, they will develop damaged legs and tremendous pain.

The other battery cages are designed to accommodate more than one chicken. There are several chicken in little cages that are kept in stacks in long rows. This practice is crueller than the cages designed for solitary chicken. On top of suffering from stiff and deformed legs, the frustrated hens will start to fight one another to leave them bloody and losing feathers.

Deformed Battery Caged Chicken

A Healthy and Happy Chicken In Free Range Chicken Farm

Just have a look at this picture of a suffering hen that was kept too long in confinement and compare the picture with a happy and free chicken from a free range chicken farm. Which one do you prefer to see? If you hate to see unhealthy deformed chickens, please, please… help them. You can contribute to save more chickens to live happy and free by buying FREE RANGE EGGS ONLY!

Say Yes to Happy and Free Chickens. Buy Free Range Eggs Only!

 

 For further read about cruelty on battery cage chicken farming :

http://www.all-creatures.org/articles/egg-battery.html

Katydids and Crickets – Soothing Sound

The other day I saw a baby katydid on the hibiscus flower. Apparently this green insect lives around the bushes near the gate on the side of the driveway. Last year I saw the big one on the camellia plant which is next to the hibiscus.

Unlike the annoying shrill of cicadas, I love to hear the low soothing sound of katydids and crickets. When the night is dark and still, the repeating noise of these two insects is really calming. It is some sort of white noise that is pleasant to hear. It attributes a certain situation (night time) the same way as the sound wave of the sea or the pitter-patter of the rain drops or the song of frogs on the rainy night.

The soothing sounds of both crickets and katydids have been appreciated by people in China and Japan since the ancient time. Some even keep them at home in cages as pets. They also believe that crickets and katydids bring them closer to nature and good luck.

Cricket in the Bucket

The picture of the brown cricket was the one that I found in a bucket of water and almost drown. At first I thought it was a locust, but luckily it was just a harmless little cricket.

An old Chinese Poem written by Bey Ju-Yi  (Tang Dynasty):

Listen to the Crickets

 

The Singing crickets chirp throughout the long night,

Tolling in the cloudy autumn with its rain.

Intent on disturbing the gloomy sleepless soul,

The crickets move towards the bed chirp by chirp.

 

Sound of Katydid:

Green Grocer Cicada

What a weird looking face

Cicada nymph shell

A while ago I found an empty ‘Cicada Nymph’ clinging on a lemon leaf. It was a nice surprise. I noticed lately that cicada season had come again this time since the last time we heard the noise (never remember exactly when). It was louder if the weather was hot, but they were not easy to spot. I was so curious to see what kind of cicadas they were. Many times when they were making noise, I came closer to find them, but I was never able to see them. Until two days ago when I was trimming the Duranta bush, I saw a large green insect. When I looked closely, I realized that it was a cicada. It was a ‘Green Grocer Cicada ( Cyclochila australasiae),  a cicada species commonly found in eastern part of Australia.

It is true that many times in life, you will not find what you are looking for if you are deliberately searching for it. But when you are not looking at all, then suddenly it is there for you to see.

Green Grocer Cicada

Cicada si Gareng-Pung

Barusan aku menemukan pupa cicada yang sudah kosong melekat didaun jeruk lemon. Memang akhir akhir ini terdengar suara cicada yang memekakkan telinga.. Didaerah Jawa, cicada dinamakan Gareng-pung sedang bahasa Sundanya adalah Tonggeret. Aku tak tahu apa bahasa Indonesia-nya.

Menurut info dari Australian Museum, diperkirakan terdapat lebih dari 200 species cicada  di Australia. Cicada Australia yang termasuk dalam keluarga besar Cicadoidea ini hidup sekitar 6 sampai 7 tahun dibawah tanah dalam bentuk pupa (nymph). Sedangkan jenis lain yang berasal dari Amerika Utara bisa hidup dibawah tanah sampai 17 tahun lamanya. Selama hidup dibawah tanah pupa cicada ini bisa dibilang belum dewasa. Masa dewasa yang amat singkat sekitar 2 minggu itu terjadi setelah cicada tersebut keluar dari pupanya dalam bentuk lain yang mirip seperti jengkerik besar lengkap dengan sayapnya.

Dalam waktu hanya beberapa minggu, cicada dewasa harus berhasil menemukan pasangan untuk berkembang biak. Cicada jantan berlomba lomba menyanyi untuk menarik perhatian sang betina. Nyanyian ini yang terdengar melengking menusuk telinga, hanya disuarakan oleh cicada jantan dengan cara menggerakkan selaput (membrane) khusus yang terletak dibawah perut.

Cicada betina bertelur dicelah celah atau dibawah kulit dahan pohon dan telur menetas dalam bentuk pupa. Disaat pupa menetas kecil sekali ukurannya dan berjatuhan diatas tanah. Kemudian pupa pupa itu menyembunyikan diri dibalik dedaunan dan semak semak. Setelah cukup besar membuat lubang ditanah dan menghabiskan hampir seluruh masa hidupnya didalam jaluran lubang didalam tanah. Untuk hidup pupa pupa ini akan menghisap sari makanan dari akar akar tanamana didalam tanah. Masa dewasa yang hanya beberapa minggu untuk berkembang biak itu mengakhiri hidup salah satu dari semua mahluk ciptaan Tuhan yang begitu menakjubkan.

Saat ini sewaktu aku menulis blog ini, petang hari menjelang dan bisa kudengar ributnya suara Gareng Pung dipohon pir didepan rumah. Karena gelap dan rindangnya pohon, sulit untuk menemukannya.

Inilah link dari YouTube untuk melihat kehidupan si Gareng Pung:

Bebek, Angsa atau Entog – Ha, ha, ha….

 
 
 

Angsa leher pendek - Goose/Geese

Belum lama ini aku dan suami pergi ke Pots Galore di Keysborough. Disitu ada kolam dan beberapa bebek dan angsa. Kami lihat bebek dan angsa tersebut berenang-renang dan kemudian keluar dari kolam dan sibuk membersihkan bulunya yang dalam bahasa Inggrisnya adalah ‘grooming’.

Angsa Piaraan - Swan Geese

Waktu memperhatikan kedua jenis burung air tersebut, aku jadi mikir itu angsanya kok beda dengan angsa yang ada  di Indonesia. Angsa yang kami punya di Indonesia, lehernya lebih panjang, tubuhnya lebih besar dan lebih tinggi dan kepalanya nonong. Yang ini tubuhnya lebih pendek dan lehernya juga lebih pendek. Tapi jelas bukan bebek atau entog karena jauh lebih besar dan lebih tinggi.

Aku kemudian bilang ke suami: “Funny looking swans…. they have short necks” (Angsanya lucu, lehernya pendek”). Suamiku menjawab: “There is no swan here, they are geese!” (Engga ada swan disini, itu sih geese.”)

Ha, ha! Jadi aku sadar dalam bahasa Inggris ada tiga nama yaitu DUCK, GOOSE/GEESE dan SWAN. Sedang di Indonesia, yang aku tahu  adalah bebek, angsa dan entog (=bahasa Jawanya menthog). Anehnya yang namanya goose itu tidak seperti entog dan tak seperti bebek (atau yang juga disebut dengan nama itik)….

Bebek - Duck - Caribbean Gardens

Bebek/Duck

 
Jadi saja sesudah pulang kerumah, langsung aku cari info ke pakde Google. Engga tahunya yang dinamakan goose atau yang kata mejemuknya adalah geese itu adalah jenis angsa leher pendek dan berbeda dengan angsa/swan  ataupun bebek/duck.. Angsa berleher pendek masuk ke dalam suku Anserini, namun angsa masuk ke dalam suku Cygnini. Sedangkan bebek/duck adalah dari suku Anatidae. (Ini pengertianku…. kalau salah silahkah komentar).

Angsa Hitam - Black Swan - Albert Park Lake

 

Setelah dibikin agak pusing, aku bisa ambil kesimpulan bahwa yang dinamakan goose atau geese dalam bahasa Inggris itu, bahasa Indonesianya adalah ‘angsa leher pendek’…… dan angsa leher pendek ini  lain dari bebek, entog atupun angsa. 
Jadi mikir nih…. kalau begitu bebek dan entog(menthog) itu apa bedanya??? Nah yo!!! Ha….. Setahuku bebek yang banyak dipelihara itu badannya langsing dan lebih tegak kalau beridiri dan telurnya biru/hijau. Namun demikian, karena jenis bebek itu banyak sekali mungkin tidak semua telurnya biru/hijau. Entog atau menthog itu yang rupanya juga sejenis bebek/duck,  lebih besar dan gemuk bentuk badannya dan kakinya lebih pendek dan telurnya tidak biru tapi putih keabuan.

Nah kalau begitu angsa dan goose itu telurnya warna apa dong? Oh my God! Engga habis pertanyaannya. Kalau telurnya goose si angsa leher pendek aku tak tahu warnyanya. Namun kalau angsa peliharaan kami dulu (swan goose) telurnya besar sekali dan berwarna putih. Dulu waktu masih kecil, mama sering bikin omlette telur angsa. 2 telur angsa yang besuarrr sekali itu lebih dari cukup untuk kami sekeluarga (6 orang) dan rasanya enak seperti telur ayam, tidak amis/anyir seperti telur bebek.

Entog/Mentok - Duck (Image from Wikipedia)

Catatan:  Setelah membaca dan melihat banyak gambarnya, ternyata kebanyakan jenis angsa peliharaan itu adalah keturunan dari  jenis Swan Goose (Anser cygnoides) atau juga disebut Chinese Goose yang berasal dari China, Mongolia dan Rusia Selatan.
  
Jadi ingat lagu anak dalam bahasa Jawa:

 
MENTHOG MENTHOG


Menthog menthog , tak kandani
Mung rupamu , angisin ngisini
Mbok ya aja ngetok , ono kandang wae
Enak enak ngorok , ora nyambut gawe
Menthog menthog , mung lakumu
Megal megol , gawe guyu
 
Oh ya, sebelum menutup tulisan ini, tahukah anda apa bahasa Jawanya angsa? Jawabannya: BANYAK.    Ha, ha, ha….
 
 Sabtu 9 oktober 2010: Saya berkali kali mencoba mengedit dan mengatur susunan dan gambar posting ini, tapi berkali kali jadi engga karuan hasilnya. Kenapa ya?????? Ini saya coba untuk yang terakhir kalinya:(

 

 

Galah, Burung Kakatua

 

Kemarin waktu  pergi ke Brandon Park Shopping center, kulihat ada sekelompok burung Galah di-rerumputan dekat tempat parkir dipinggir jalan. Sayang aku tak bawa camera. Dari semua jenis burung kakatua yang ada di Australia, yang paling kusukai adalah yang namanya Galah karena warnanya yang bagus kombinasi antara merah jambu/pink dan abu abu.

Galah, Eolophus roseicapilla, adalah jenis kakatua yang paling banyak dijumpai disekitar rumah penduduk didaerah perkotaan. Burung ini berwarna merah jambu bagian dadanya dan abu abu kepala, sayap dan bagian belakangnya. Galah sering terlihat berpasangan atau berkelompok dilapangan memakan biji biji rumput. Setelah dewasa galah jantan dan betina kelihatan sama dan hanya bisa dibedakan dari warna iris matanya, yang jantan berwarna coklat kehitaman dan yang betina betina berwarna coklat kemerahan.

Seperti jenis burung kakatua lainnya, Galah bisa hidup puluhan tahun dan bisa dijadikan binatang piaraan. Sebagai binatang piaraan, bisa cepat jinak dan lekat pada pemiliknya dan bisa diajar berbicara. Banyak orang yang memelihara burung Galah memperlakukan burung ini sebagai layaknya anggota keluarga dan tidak dikurung. Dengan bebas burung ini tinggal didalam rumah dan biasanya hanya diberi tenggeran didekat tempat makan dan minumnya.

Sebagai burung piaraan tingkah laku burung Galah amat lucu dan kocak, maka ada sebutan: “You are a silly Galah!” yang maksudnya ‘Kamu konyol/tolol’.

Walaupun aku senang juga melihat burung Galah dipiara karena lucu dan bisa berbicara, namun rasanya aku lebih memilih melihat mereka hidup bebas di-habitat masing masing. Banyak jenis burung kakatua lainnya yang nyaris punah disebabkan oleh ulah manusia karena pembakaran/pembukaan hutan dan perdagangan burung dengan jalan ekspor ketempat lainnya yang bukan habitatnya. Marilah kita hentikan membeli binatang exotic dari negeri lain karena perdagangan binatang langka akan penyebabkan kepunahan. 

Nanti deh, kalau kebetulan aku lihat burung Galah dan kebetulan bawa kamera, pasti akan kuporet burung yang  bagus warnanya ini. Menurutku burung Galah tidaklah konyol tapi cantik, cerdik dan amat lucu………….

This is a YouTube link to view Galah birds in the wild…. they are so cute!

Burung Pewarta Maut

Dulu aku sering mendengarnya. Suara burung itu terdengar disaat hari terasa sunyi. Disaat semua yang lain diam membisu.. Hanya suara burung itulah yang seakan merintih dengan nada tinggi  dan berulang ulang, yang menyadarkan kami atas kehadirannya. Tuit, tuit, tuit, tit, tit, ti…ti…tit……., tuit, tuit, tuit, tit, tit, ti…ti…tit…….

Dijaman dahulu, tante Nelly yang mengasuh adikku bilang: “Dengar itu burung ‘Sibuang Anak’. Burung jahat yang membuang anaknya sendiri dan membunuh anak anak burung lainnya…….”

Heran waktu itu aku tak bertanya bagaimana sebetulnya cerita tentang burung yang bunyinya membuat bulu kuduk berdiri . Mungkin karena aku sudah ngeri. Sebelumnya aku sudah dengar orang bilang  bahwa burung itu menandakan akan ada orang disekitarnya meninggal dunia. Lain dengan burung gagak yang hitam dan besar yang juga dipercayai menandakan kematian, burung  ini yang kecil ukurannya  seringnya tak pernah terlihat karena suka hinggap dipohon pohon tinggi. Hanya suaranya saja yang sedih mendayu membelah kesunyian.

Sekarang setelah bertahun tahun berlalu dan tak pernah lagi mendengar suara burung ini, barulah aku membaca kenyataan tentang burung yang oleh tante Nelly dinamakan burung ‘sibuang anak’ tersebut. Ternyata burung ini dalam bahasa Inggrisnya dinamakan ‘Plaintive Cuckoo’, sedang nama ilmiahnya adalah Cacomantis merulinus. Di Indonesia orang menamakannya burung Wiwik Kelabu, Wiwik Uncuing atau burung Kedasih.

Setelah membaca tentang perilaku induk burung ini, barulah aku mengerti mengapa  burung ini disebut sebagai burung ‘sibuang anak’. Rupanya burung ini membuang anaknya sendiri dan membunuh anak burung lainnya.  Induk burung ini tak pernah membuat sarang sendiri dan bertelur disarang burung jenis lain. Supaya siempunya sarang tak curiga akan adanya telur asing disarangnya, induk ‘sibuang anak’ itu mempunyai kebiasaan mendorong dorong telur yang lain yang ada didalam sarang itu keluar dari sarangnya dan jatuh pecah ditanah. Rupanya  induk burung plaintive cuckoo ini dengan cerdik memilih sarang dari burung lain yang warna dan ukuran telurnya mirip dengan telurnya sendiri.

Dengan demikian induk wiwik kelabu itu tak pernah mengerami telurnya dan tak pernah mengasuh anak anaknya. Dia biarkan induk burung lain jadi korban karena bukan saja harus mengasuh anak burung lain, tapi seringnya tanpa disadarinya,  telur sendiri telah dibuang keluar sarang.

Benarkah burung ‘Cacomantis merulinus’  ini mengabarkan akan datangnya maut? Ini hanya tertgantung pada kepercayaan anda sendiri dan hanya anda sendiri yang bisa menjawabnya. Namun yang jelas burung ini betul betul burung seperti yang tante Nelly bilang dulu, yaitu burung  sibuang anak. Burung yang membuang anaknya sendiri dengan jalan membiarkan burung lain mengerami telurnya dan mengasuh anaknya jika sudah menetas.

Link untuk mendengarkan suara burung Cacomantis merulinus:

http://ibc.lynxeds.com/video/plaintive-cuckoo-cacomantis-merulinus/bird-tree-singing

http://ibc.lynxeds.com/sound/plaintive-cuckoo-cacomantis-merulinus/song

Lyrebird yang Pintar Ngibulin

Link to Facts on Lyrebird:  http://www.australianfauna.com/lyrebird.php 

Lyre Lyre the Biggest Liar!!!! Ha, ha aku ingat dulu waktu belum lama  tiba di Australia. Kami pergi ke Healesville Sanctuary yang merupakan wildlife park khususnya untuk binatang asli di Australia. Waktu itu anak tetangga  yang orang Kamboja ikut pergi bersama kami.  Waktu kami mulai berjalan jalan sambil melihat kangguru, koala dan wombat, suamiku bilang kami harus melihat Lyrebird. Lyre itu ucapannya sama dengan kata liar (bahasa Inggris) yang artinya penipu. Langsung sianak Kamboja yang  berumur tujuh tahun itu tertawa geli. Sepanjang jalan dia tertawa mengikik dan akhirnya dia bilang lyrebird itu pasti suka menipu. Masa burung bisa menipu, katanya. Memang kenyataannya begitu! Lyrebird itu  begitu pandai ngibulin orang.

Bukan saja burung beo yang bisa membeo, tapi lyrebird jantan lebih pandai lagi. Bisa menirukan semua suara burung burung lain dengan jitu. Selain itu juga bisa menirukan suara buatan manusia misalnya bunyi gergaji , chainsaw dan suara alat alat bangunan lainnya, suara click-nya kamera, suara dari radio yang termasuk lagu dan nyanyian

Lyrebird (Menura novaehollandiae) adalah burung asli Australia yang banyak ditemukan dihutan hutan di Victoria, New South Wales, Queensland Tenggara dan Tasmania. Selain kepandaiannya menirukan suara, lyrebird jantan terkenal dengan keindahan ekornya dan tariannya. Untuk menarik perhatian burung betina yang amat polos penampilannya, burung jantan membuat onggokan-onggokan tanah yang tingginya bisa mencapai hampir satu meter. Disaat lyrebird jantan ini sedang mabuk kepayang, ia akan naik diatas onggokan tanah bagaikan seorang penyanyi berdiri diatas panggung. Kemudian ia akan membuka ekor yang akan melengkung kedepan nyaris menudungi kepala. Setelah itu, dalam usaha untuk mengambil perhatian sang betina, mulailah ia menyanyi.

Nyanyian lyrebird merupakan symphony yang dirancang tidak saja dengan menggunakan nyanyian ciptaan sendiri tapi juga sebagaian besar merupakan tiruan dari suara suara burung lain dan juga suara lainnya yang pernah didengar termasuk suara yang berasal dari manusia. Begitu persisnya burung ini menirukan suara burung burung lain, sehingga begitu sering pencinta burung yang ingin  melihat dan mendengar burung burung dihutan terkecoh.

Tak bisa dipungkiri, lyrebird adalah salah satu burung yang terindah dan paling unik. Kepintaraannya dalam menirukan suara betul betul mengagumkan. Begitu indahnya ciptaan Tuhan itu!!

]

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.