American Pancake
12 Feb 2012 Leave a Comment
in Nostalgic Food Tags: Our Favourite Food, Pancakes
Ingat dulu waktu di Amerika, kalau makan pagi di restoran, pancake dihidangkan bersama dengan telur mata sapi dan bacon. Bagiku yang berlidah Indonesia, ini aneh sekali. Kan pancake itu manis karena dimakan dengan sirup mapel/maple syrup…..kan engga cocok dimakan bareng sama telur dan bacon. Mana pancake-nya ada enam biji ditumpuk tinggi. Untung bisa pesan setengah porsi dimana pancake-nya hanya tiga. Kalau ada sih aku lebih pilih nasi hangat dan ikan asin…. namun kumakan juga sarapan ala Amerika itu kan tak mau menyusahkan si-tuan rumah
Di Australia, pancakes tidak sepopuler seperti di AS. Orang kebanyakan makan telur dan bacon dengan roti bakar. Aku masih sering bikin American pancake disini untuk makan pagi /weekend, tapi kami tidak menyantapnya dengan telur dan bacon. Jadi ya hanya pancake saja dengan sirup dan beberapa potong buah, misalnya rock melon, strawberry, kiwi fruit, pisang, mangga, semangka dll. Banyak resep cara membuat pancake ini kucoba, tapi akhirnya aku puas dan cocok dengan satu resep.
Kalau anda ingin mencobanya, inilah resepnya. Mudah sekali membuatnya dan hasilnya adalah pancake yang empuk dan lembut.
American Pancake
- 1 cup (250 ml) tepung ‘self raising’/self raising flour. (Catatan: Kalau tak ada bisa pakai 1 cup tepung terigu dicampur dengan 2 sdt. bak puder / baking powder)
- 1 bt. telur yang ukuran besar
- 1 cup (250 ml) susu full cream segar
- 1 sdm. mentega dilelehkan
- 2 sdt. gula pasir
- 1/4 sdt garam
Cara membuat:
- Lelehkan dahulu mentega, biasanya aku lelehkan di penggorengan yang nantinya untuk masak pancake.
- Taroh tepung terigu di mixing bowl.
- Pecahkan telur diatas tepung.
- Bubuhkan susu dan semua bahan lainnya.
- Dengan whisk (klop) aduk sampai licin dan tak ada butir butirnya. (Bisa juga memakai garpu).
- Panaskan nonstick skillet / penggorengan yang datar.
- Oleskan minyak tipis tipis dengan menggunakan kertas tissue dapur. Kalau kebanyakan minyak pancakenya belang belang.
- Kalau sudah panas tuangkan adonan pancake. Kalau udah mulai berlubang lubang atasnya dan bagian bawah udah kecoklatan balikkan dan masak sampai sisi lainnya juga kecoklatan. Catatan: Kalau anda lebih suka pancake-nya lebih tebal bisa ditambah tepungnya sedikit.
Dihidangkan hangat hangat dengan sirup mapel/maple syrup, madu atau jam kesukaan anda.
Ngalor Ngidulnya Oseng Sawi Putih dan Tahu
30 Sep 2011 Leave a Comment
in Life, Nostalgic Food Tags: Etc..., Power Cut, Random, Stir Fried White Chinese Cabbage and Tofu, Thought
Semalam masih ada sisa roast chicken (ayam panggang) yang kemarin dibeli murah meriah di Coles supermarket. Untuk makan siang ini masa cuman makan dengan sisa roast chicken doang? Lihat di kulkas punya apa saja yang bisa dimasak untuk nemanin itu ayam. Kebetulan sekali aku masih punya sawi putih dan tahu.
Jadilah aku bikin oseng sawi putih dan tahu. Tahunya waktu beli udah digoreng setengah matang. Kalau masak sawi putih aku masih suka yang masih kriuk kriuk kalau dimakan, alias masaknya tidak sampai empuk lonyot. Ini resep Oseng Sawi Putih dan Tahu rekayasa-nya aku. Masakan ini tanpa ukuran, jadi semua-nya dikira kira menurut selera masing masing.
Oseng Sawi Putih dan Tahu:
- Sawi putih yang masih betul betul segar tak layu, cuci dulu terus dipotong potong. Aku tak memisahkan gagang dan daun karena masaknya nanti akan cepat, express kilat.
- Tahu putih goreng setengah matang, potong potong juga
- Bawang merah iris tipis tipis. Aku pakai bawang bombai karena disini di Aussie bawang merah seperti di Indonesia muahhallll banget.
- Bawang putih iris tipis tipis.
- Sambel terasi botolan secukupnya.
- Sedikit kecap asin
- Garam
- Merica
- Vetsin atau gula secukupnya.
Cara masak: Api harus cukup besar. Panaskan sedikit minyak diwajan. Goreng irisan bawang merah dan putih sampai harum. Masukkan sambel trasi botolan secukupnya. Aduk aduk. Masukkan sawi dan tahu serta bumbu lainnya. Aduk terus sampai rata dan sawi mulai layu. Jangan tambahkan air, karena sawi akan keluar airnya. Cicipan kalau udah pas ya siap dihidangkan. Oseng ini sawinya harus masih renyah. Rasa asin, gurih, manis dan pedas harus seimbang. Sedap….dimakan dengan nasi hangat. Tadi aku sampai tak pengin makan sisa ayam panggangnya.
Setelah makan siang kenyang dan juga udah capai membersihkan kebun dibelakang sebelumnya, sekarang aku bisa nulis yang isinya tak menentu alias ngalor ngidul ngetan bali kulon. Apa ya enaknya yang akan kuceritakan disini. Oh ya, semalam sekitar jam 7 lebih sedikit listrik tahu tahu mati. Ini boleh dibilang tak pernah terjadi disini di Melbourne. Selama aku tinggal disini hampir 30 tahun, padam listrik tak sampai lebih dari lima jari tangan. Anakku bilang dia dengar letusan (bukan bom bunuh diri lho!). Pasti sesuatu terjadi dengan kabel listrik dipinggir jalan. Dia bilang mungkin pohon rubuh karena kemarin dari pagi sampai malam hujan dan angin terus.
Setelah menunggu kira kira 30 menit listrik belum nyala kembali anakku memutuskan untuk melihat lihat daerah sekitar rumah kami. karena hujan angin jadi dia terpaksa pakai mobil. Ternyata memang ada pohon yang dahannya patah dan jatuh tepat diatas kabel listrik. Waktu dia tiba ditempat kejadian, mobil pemadam kebakaran udah disitu. Dahan itu sebetulnya udah mulai terbakar tapi karena hujan jadi untung tidak bisa terbakar hebat. Hanya kelihatan seperti percikan api saja. Petugas pemadam kebakaran menutup jalan sekitarnya sambil menunggu sampai tehnisi listrik dan mesin crane datang. Karena dahan cukup besar jadi harus diangkat dengan mesin dari atas. Lama juga listrik padam baru kira kira jam 1 malam menyala kembali.
Oh ya, aku masih ikut sedih mendengar kejadian bom bunuh diri di Gereja Bethel Injil Sepenuh hari minggu yang lalu. Kami disini mendoakan supaya para korban yang masih dirawat dirumah sakit bisa cepat sembuh. Juga buat semua ummat beragama terutama yang beragama Kristen dan khususnya semua jemaat GBIS supaya tetap tabah dan selalu berdoa untuk keamanan bangsa dan negara.
Dulu aku sering lewat jalan Kepunton kalau pergi kesekolah di Pasar Legi. Gereja Bethel itu sudah ada saat itu waktu aku masih SD ditahun lima puluhan. Malah aku dan seorang teman sekolah sering beli nasi dengan sambal goreng tholo yang penjualnya mangkal didekat gereja itu.
Setelah mendengar kejadian bom hari minggu yang lalu, semua kenangan dizaman dulu jadi muncul diingatan. Masihkah ada yang ingat kalau dulu diseberang gereja di jalan Kepunton itu ada rumah model pendapa yang halamanannya luas dikelilingi pagar. Disepanjang tempat itu dipinggiran pagar banyak ditanam bunga melati yang kembangnya dobel atau dalam bahasa Jawa-nya adalah bunga Menur. Dulu aku dan temanku sering metikan bunga itu. Aduh harum sekali. Aku tak tahu apakah rumah pendapa ini masih ada atau tidak sekarang, karena aku tak pernah lewat jalan itu lagi kalau ke Solo. Entah seperti apa sekarang?
Walau sekarang aku jauh di negeri kangguru sini, tapi semua sanak keluarga dan teman teman masih semua ada di Indonesia. Jadinya kalau ada keributan disana kami juga ikut sedih dan prihatin………
Nostalgia Lebaran
30 Aug 2011 Leave a Comment
in Nostalgic Food Tags: 1950s - 1960s, Celebration Food, Eid ul Fitr, Nostalgia
Buatku yang bukan beragama Islam, saat-saat hari ‘Bakdo’ (=Lebaran bahasa Jawa) dijaman dulu sekitar lima puluh tahun yang lalu masih mampu meninggalkan kenangan yang sangat khas. Suasana dihari raya saat itu diramaikan oleh ledakan long bumbung. Dari segala penjuru terdengar suara blug…. blug….. blug silih berganti. Yang datangnya dari dekat selalu mengagetkan suaranya.
Dulu waktu aku masih kecil, papa pernah menyuruh salah satu pegawai kami untuk membikinkan long bumbung yang terbuat dari batang bambu yang disulut dengan minyak tanah. Bambunya harus besar untuk menghasilkan suara yang keras. Entah bagaimana cara memasang long bumbung ini aku tak ingat lagi. Yang aku tahu harus menggunakan batang bambu dan minyak pet (minyak tanah).
Selain long bumbung, yang memberikan nostalgia tersendiri disaat Bakdo adalah hidangan hantaran dari para langganan toko dan pegawai kami. Karena kami tinggal diwilayah Kabupaten, jadi hidangan hantaran ini bukanlah makanan mewah orang kota. Tapi buat kami sekeluarga justru menu Lebaran orang desa itulah yang memberikan cita rasa tersendiri. Sederhana memang, tapi punya kelezatan tersendiri. Aku ingat mama selalu memberi dua kilo gula pasir dan beberapa bungkus teh kepada semua yang memberi makanan Lebaran.
Waktu itu, hantaran makanan Hari Raya biasanya ditaruh didalam tenggok yang digendong. Tenggok adalah semacam keranjang anyaman dari bambu yang biasanya digendong oleh kaum wanita untuk membawa barang barang. Dari begitu banyaknya hantaran, variasi makanannya hampir sama yaitu terdiri dari nasi lengkap dengan lauk pauknya:
- Nasi gurih, yaitu nasi putih yang dimasak dengan santan
- Ayam ingkung yang dimasak bumbu semur. Seringnya ayam yang dimasak utuh dengan bumbu kecap, bawang merah dan merica. Sering memakai soun.
- Sambal goreng kerecek, yang isinya selain kerecek juga ada potongan kentang kecil kecil dan petai.
- Bihun goreng
- Serundeng kelapa dan kedelai hitam goreng.
- Perkedel kentang
- Rempeyek dan Kerupuk
- Kue Jadah
Selain nasi dengan lauknya, juga ada kue jadah asin dan manis. Kue jadah adalah ketan dan kelapa yang dimasak, ditumbuk dan dicetak. Yang manis diberi gula jawa.
Semua makanan lebaran dari desa ini mempunyai rasa yang begitu khas yang memberi kelezatan tersendiri. Mama bilang karena semua makanan dimasak dengan menggunakan bara api dan kuali tanah.
Sudah lama sekali aku tidak pernah ada di Indonesia selama masa Lebaran, jadi aku tak tahu lagi perkembangan menu Lebaran selama ini. Mungkin sekarang menu Lebaran didaerah pelosok udah tidak sama lagi dengan dizaman dulu ditahun 50/60-an. Mungkin sekarang menu udah jauh lebih modern……. namun lezatnya semur ayam dan sambal goreng kerecek Lebaran diwaktu masa kecilku dulu masih meninggalkan nostalgia tersendiri yang tak akan terlupakan
Bagi yang merayakannya:
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H. Mohon maaf lahir dan batin”.
Bubur Ketan dan Kacang Hijau
14 Jun 2011 1 Comment
in Nostalgic Food Tags: Funny, Lime and Sulphur Smell, Sticky Rice and Mung Beans Porridge
Tadi waktu bangun tidur, sinar matahari menyambut pagi dimusim dingin ini. Ah…. semangat juga karena hari tidak akan terlalu dingin dan kelabu. Kemarin ini aku sudah ‘pruning’ (apa ya bahasa Indonesianya?) pohon pohon mawar dikebun kami. Setahun sekali diakhir musim gugur atau diawal musim dingin tanaman mawar harus dipotong dan kemudian akan kucoba menyemprotnya dengan larutan kapur dan sulfur (lime sulphur). Baru sekarang aku akan menggunakan kapur dan sulfur ini. Akhir akhir ini terlalu banyak hujan dan tanaman bunga mawar kami terserang ‘black spot’ yaitu bercak bercak hitam pada daun yang akhirnya kuning dan gugur.
Dengan hati hati kutakar ukuran pakainya yaitu untuk satu liter air membutuhkan 20 ml kapur dan sulfur, terus kumasukkan kedalam botol yang ada semprotannya. Mulailah kusemprot pohon pohon mawar yang udah gundul sehabis di-pruning. Tak lama aku mencium bau belerang, persis seperti dulu waktu pergi ke kawah di Dieng. Bau telur busuk yang juga mirip bau kentut mulai menyebar. Ya apa boleh buat kan memang sulfur itu baunya seperti itu. Cepat cepat kusemprot semua tanaman mawarnya sambil menahan nafas. Uuh… baunya begitu tajam menyengat!
Selesai tugas dikebun, aku terus kedapur. Tanpa rencana tiba tiba aku ingin bikin bubur ketan dan kacang hijau. Pikirku enak hangat hangat dimusim winter. Kubuka pantry untuk melihat apa aku punya semua bahan bahannya. Ketan ada walaupun bukan ketan hitam, jadi ketan putihpun jadi. Kacang hijau yang ada hanya yang sudah dibuang kulitnya. Gula merah dan santan kalengan juga ada.
Jadi saja aku bikin buburnya. Seperti biasa banyak masakan tradisional yang kubikin adalah tanpa resep. Semuanya ya dikira kira saja. Biasanya untuk bubur ketan dan kacang hijau aku pakai perbandingan 1 x 2. Jadi kalau ketannya satu ons ya kacang hijaunya 2 ons. Fungsi ketan ini bukan saja untuk rasa, tapi juga untuk mengentalkan. Gula dikira kira sendiri. Kemudian aku cemplungin kayu manis, jahe dan daun pandan. Santan dididihkan terpisah, dibubuhi garam dan daun pandan.
Karena kacang hijaunya tanpa kulit, jadi tidak perlu direndam dulu. Dicuci saja dan langsung direbus barengan dengan ketannya. Untuk ukuran airnya biasanya kukira kira juga, jangan terlalu banyak dulu karena kalau terlalu kental gampang tinggal ditambah airnya. Bagusnya kalau sudah mulai mendidih kecilkan api dan sekali kali harus diaduk. Biasanya aku membubuhkan gula setelah kacang hijau dan ketan lunak dan mulai mengental. Dengan demikian tidak cepat hangus.
Sewaktu aku sedang masak bubur ini, telepon berdering. Seorang teman yang rumahnya tak jauh dari tempatku yang tilpon. Aku bilang lebih baik dia datang saja kerumahku sekalian kita barengan makan bubur. Tak lama teman inipun datang dan langsung kubuka pintu. Kulihat hidung temanku itu nyungir nyungir seperti sedang memikirkan bau apa dihalaman depan rumahku. Langsung dia nyeletuk, koq bau kentut-nya menusuk hidung. Ha….. memang semprotan untuk tanaman mawar itu masih belum hilang baunya.
Jadi saja kujelaskan tentang asal muasal bau itu. Temanku itu tertawa dan menyeletuk: “Kupikir kamu masak bubur kacang hijau koq baunya kentut?”
Baru setelah dia masuk kedalam rumah dan pintu kututup, aroma bubur yang memakai kayu manis, jahe dan pandan bisa tercium. Kami jadi tertawa geli……..
Grontol Aussie
23 May 2011 12 Comments
in Nostalgic Food Tags: Boiled Maize and Shredded Coconut, Grontol, Healthy Food, Indonesian Food, Traditional
Gara gara dengerin lagu Nasi Jagung di blognya Sukolaras, aku jadi ingat pada ‘grontol’. Jadi saja ngiler kepingin bikin. Udah lama juga aku tidak bikin grontol. Disini di Melbourne bisa beli jagung yang udah dikeringkan dan udah disosoh (buang kulit ari-nya) dan ini tepat sekali untuk dibikin grontol. Makanan nostalgia yang kugemari dimasa kanak kanakku di Indonesia.
Kemarin aku ke Asian Shop dan cari cari jagung yang akan kumasak jadi grontol. Biasanya dulu aku kalau beli yang warnanya kuning, tapi kali ini tak ada yang kuning. Yang kuning adanya yang udah dihancurkan seperti menir yang juga disebut ‘polenta’ dan ini tentunya tidak cocok untuk grontol. Tapi yang jagung putih tepat sekali karena hanya disosoh atau dibuang kulit arinya dan tidak dihancurkan. Kuperhatikan jagung ini ternyata jagung Australia, jadi bukan yang diimpor dari Vietnam atau China. Ah, kupikir boleh juga dan harganya juga engga mahal. Satu pak seberat 375 gram hanya $1.30 . Sekalian aku beli dua pak. Daun pandan aku masih punya dirumah, yang masih kusimpan di freezer. Sedangkan kelapa parut aku pakai yang kering karena lebih cepat dan praktis tak usah parut kelapa sendiri. Juga seringnya kelapa segar yang dijual disini adalah kelapa yang tua sekali, sedangkan kalau yang kelapa parut kering lumayan juga engga terlalu kasap/tua.
Tadi pagi pagi sekali, kubuka satu pak jagung keringnya. Dicuci sebentar dan kurendam dengan air dingin setidak tidaknya dua jam. Setelah itu kutiriskan dan kurebus dengan air yang cukup banyak dan tak lupa membubuhkan beberapa daun pandan supaya wangi. Tadinya mau kukukus, tapi tak jadi karena kurasa kalau direbus hasilnya akan lebih empuk dan lebih mekar. Untuk taburan, kelapa parut kering kucampur dengan air sedikit supaya lunak dan kucampur dengan sedikit garam terus kupanaskan dengan microwave.
Setelah kira kira sejam direbus, grontol asli Australia inipun udah mateng dan bisa segera disajikan untuk sarapan pagi. Kalau senang manis bisa ditaburkan sedikit gula pasir. Pagi ini aku tidak akan menyentuh roti bakar untuk sarapan, aku lebih suka grontol saja. Sedaaaaap!
Grontol memang lebih enak dibuat dari jagung yang tua. Grontol yang kubuat kali ini warnanya putih sekali karena memang jagungnya jagung putih. Rasanya gurih, kenyal dan aroma pandannya menambah kenikmatan makanan sederhana ini. Jagung tua atau yang disebut dengan ‘maize’ ini tidak mengandung kolesterol dan mengandung serat yang tinggi. Cukup kaya zat besi dan thiamin-nya. Selain itu juga merupakan sumber protein dan niacin ukuran sedang.
Makanan sehat yang sederhana, gurih dan segar rasanya. Bisa untuk sarapan pagi atau untuk menemani minum teh/kopi disore hari.
Salak and Duku – Rare Tropical Fruits
12 May 2011 2 Comments
in Nostalgic Food Tags: April 2011, Indonesia, Rare and Exotic, Tropical Fruits
Two of my favourite tropical fruits are salak and duku. Today, salaks are mostly available all year round in Indonesia, but I was very lucky to be able to buy some duku fruits (though not in season) when I went to Java last month. Salaks are fairly cheap and they only cost around 8000 rupiah per kilogram. Duku fruits are seasonal and they are much more expensive, around 22,000 rupiah perkilogram.
Salak (Salacca zalacca) is native to Indonesia. It is also known as snake fruit as the rough skin is scaly similar to that of snake’s. The skin is reddish brown in colour and rather shiny. The shape is kind of round with a pointy tip. The inside of the fruit is ivory white and come into three or four sections. Each section is covered with very thin and transparent membrane. Many people like to peel the membrane by rubbing it with fingers before eating the fruit. The taste is a nice blend of sweet and acidic while the aroma is similar to apple or pineapple. Only big sections of salak fruit have a hard and large brown stone/seed . When I was a child, I used to collect them to play. Good quality of salaks are never bitter in taste.
Duku (Lancium domesticum) is roundish with a slightly pointy tip. The size is the same as walnuts or can be slightly bigger and they usually grow in clusters of two to thirty fruits along the branches and trunk. Each of this brownish yellow fruit is covered by smooth and thick leathery skin. Underneath the skin, the fruit is divided into five or six slices/sections of translucent and juicy flesh. The flesh is quite sweet with distinct aroma and taste. In contrast with the sweet flavour of the fruit’s flesh, the seeds are extremely bitter. If the seeds are large, people tend to spit them out, but if they are small, they can be swallowed. If duku pulp is opaque white in colour and not translucent, they will be sour in taste and not worth buying.
There is a different type of duku fruit (less common) that is known as langsep or langsat. Langsep fruits are sold in clusters, while duku fruits are sold off the stem. Langseps taste very similar to dukus with a slightly different aroma and the skin is thinner. Long time ago when I was a kid, we went to East Java and my mom bought a lot of sweet langsep fuits in the city of Malang. I think that was the only time in my life that I had ever eaten langseps.
Nastar …Oh Nastar!
24 Feb 2011 6 Comments
in Nostalgic Food Tags: Ananas Taart, Indonesian Sweet, Nastar, Pastry, Pineapple Jam, Recipe
Weekend nanti kami akan pergi ke Ararat untuk menengok kenalan yang sudah luamaaaa banget engga ketemu. Pikir pikir…. Akan bawa oleh oleh apa ya? Maunya sih yang khas dan ditoko disini engga ada yang jual. Jadi saja aku bikin Ananas Taart alias Nastar. Aku ingat teman kami itu doyan betul.
Setelah cari cari resep lama dari Indonesia yang sudah lama tak pernah kulihat lagi akhirnya ketemu juga.
Partama harus bikin selai nanasnya dulu. Heran disini di Aussie nanas engga umum dibikin selai. Misalpun ada dijual ditoko, pasti selai itu keenceran. Untuk bikin nastar aku ingat ajaran Mama dulu. Selainya harus kental betul tapi jangan sampai kekeringan. Kalau kekeringan nanti jadi terlalu keras dan lengket bisa copot itu tambalan gigi! He,he…… Pokoknya begitu selai udah habis air gulanya dan kira kira kalau nanti dingin bisa dibentuk bola bola, berarti udah pas.
Resep Selai Nanas untuk Nastar:
- 750 gr. Nanas yang sudah dikupas dan diparut. Pilih nanasnya yang masak dan harum.
- 300 gr. Gula Pasir. Aku lebih suka selainya asam manis, kalau suka lebih manis bisa ditambah gula.
- 1 sdm. Mentega
- ½ sdt. Vanilla
- ½ sdt. Kayu Manis (aku pakai serbuk)
- 6 bt. Cengkih
Cara Membuat:
Pakai panci yang tebal supaya selai engga mudah gosong. Rebus nanas parutan sampai hampir habis juice-nya, kemudian baru masukkan gula dan bahan bahan lainnya. Rebus terus sambil sekali kali diaduk. Kalau udah mulai kental bisa dicicipin, awas dinginkan dulu! Setelah selai mulai kental aduk terus supaya engga gosong. Kalau air udah habis dan selai nanas ini udah terlihat tekstur seratnya, angkat dan dinginkan terus taroh di kulkas. Kalau udah dingin, bentuk bulat bulat kecil. Besar gedenya tergantung suka banyak selainya atau tidak nastar-nya. Selain jangan terlalu kering, selai juga jangan terlalu lembek karena nanti kalau dipanggang akan meleleh keluar semua.
Bahan Pastry:
- 700 gr. Terigu (Plain Flour). Ambil/ Kurangi 2 sd makan dan diganti dengan 2 sdm. Tepung Maizena.
- 4 sdm. Susu Bubuk
Kedua bahan diatas diayak dan sisihkan.
- 500 gr. Mentega (Aku senang separoh butter separoh margarine)
- 100 gr. Gula Halus
- 4 bt. Telur kuning
- ½ sdt garam
- Vanilla secukupnya
Kocok semua bahan kelompok ke dua sampai lunak (fluffy). Masukkan tepung dan susu bubuk yang sudah diayak. Perlahan lahan remas remas dengan tangan hingga adonan berbutir-butir kecil (menyerupai menir beras). Kemudian padatkan perlahan lahan juga, jangan diuleni. Please, be gentle! Setelah tercampur cukup halus baru dibentuk. Ambil adonan pastry ini dan bentuk bola (Besar kecilnya tergantung ukuran mana yang anda sukai dan juga harus dipantaskan dengan selainya). Pipihkan dan taroh selai yang sudah dibulatin ditengah, tutup dan bulatkan hingga halus. Kalau terasa lengket, taburin tangan dengan sedikit tepung terigu.
Olesi dengan kuning telur (esktra 1 kuning telur) yang sudah dikocok hingga encer. Tusuk atasnya dengan cengkeh untuk hiasan.
Panggang dioven yang sudah dipanaskan 150/160 derajat C. Jangan lebih panas dari ini karena kue akan cenderung melebar dan tidak bulat. Berapa lama? Yah… sekitar 25 menit, asal kue udah matang dan bagus warnanya.
Selamat mencoba! Sorry ya resepku ini agak cerewet….. Habis ini niruin dulu kalau Mama-ku ngajarin putrinya masak. Ha……
Terima kasih, Ma! You are the best.
Perlukah Ditambah Keju??
17 Aug 2010 Leave a Comment
in Nostalgic Food Tags: Cholesterol, Extra Cheese, Fat Content, Food, Nutrition, Thought

Hari ini aku membuat Kaastengels. Sebelumnya aku lihat resep resepnya di internet. Heran semua resep dan gambar kaastengels diberi taburan keju diatasnya. Dulu dimasa mudaku engga ada modelnya begitu! Cukup diolesan kuning telur supanya terlihat mengkilat kekuningan…..Sebetulnya kue kaastengels ini sudah mengandung cukup banyak lemak karena memakai mentega, kuning telur dan keju. Heran sekali masih ditambah keju lagi sebagai taburan diatasnya? Perlukah ini?
Selain resep dan gambar gambar kaastengels, aku lihat kue kue lainnya. Aku jadi bingung, kok banyak sekali resep resep kue yang ditaburin keju? Rupanya orang Indonesia itu sekarang begitu getol sama keju. Masa lapis legit ditaburin keju? Cake manis yang sudah mengandung banyak sekali kolesterol karena memakai banyak telur, mentega dan gula, masih juga ditaburin keju? Perlukah ini?
Yang runyam tidak saja keju dipakai untuk makanan ala barat, tapi sudah banyak diselundupkan dimakanan tradisionil, makanan asli Indonesia. Misalnya saja getuk, masa getuk pakai keju? Apakah rasanya malah engga jadi salah kaprah? Kalau aku bikin getuk ya seperti nenek moyang kita bikin getuk, yaitu memakai gula dan kelapa. Mentegapun tak akan kupakai untuk getuk, apa lagi keju! Ya betul, aku lebih suka ‘getuk ndeso’ yang asli dan bagiku malah lebih enak dan lebih sehat.
Mungkin bagi anda doyan sekali keju karena rasanya gurih! Betul juga keju itu asin dan gurih, namun keju terbuat dari susu dan mengandung ‘bad cholesteral’. Jadi menurut pendapatku, tak perlu semua kue kue ditaburin keju. Apalagi kalau taburan keju di kue kue itu hanya sebagai hiasan supaya lebih menarik, aku lebih memilih kue kue itu polos saja tanpa keju diatasnya.
Dizaman modern saat ini dimana makanan melimpah, kita harus berhati hati agar tidak keterlaluan dalam mengkonsumsi lemak yang mengandung saturated fat ( berasal dari lemak hewan). Makanan seperti cake dan kue kue yang banyak mengandung mentega, telur dan gula jangan dikonsumsi terlalu sering. Apa lagi kue yang sudah rich sekali ini dan masih ditambah keju? Perlukah keju ini? Cobalah anda pikir. Tanpa penambahan keju saja sudah enak dan mengerikan kandungan lemaknya, apa lagi kalau ditambah keju lagi? Untuk makanan tradisionil sebaiknya dipertahankan kemurniannya dan jangan diubah ubah dengan membubuhkan bahan asing lain yang tak diperlukan yang mengandung banyak lemak seperti mentega dan keju.
Hari ini aku membuat kaastengels dan aku tak menaburkan keju diatasnya, karena menurutku ini sama sekali tak perlu!
Singkong dan Gaplek
19 Apr 2010 2 Comments
in Nostalgic Food Tags: Cassava, Gaplek, Nostalgia, Singkong
Barusan aku pergi ke Asian Shop dan kulihat mereka sedang memasukkan singkong kedalam freezer. Wah, frozen singkong alias cassava itu kelihatannya baru datang (stock baru), jadi saja aku beli dua pak seharga lima dollar. Ya, satu paknya yang seberat satu kilo itu harganya dua dollar lima puluh sen. Singkong produksi Vietnam ini udah dikupas bersih dan dibekukan.
Bicara tentang singkong, umbi ini juga disebut ubi kayu atau dalam bahasa Jawanya adalah ‘pohong’. Dalam bahasa Inggris adalah cassava dan bahasa ilmiahnya adalah Manihot esculenta. Rupanya tanaman cassava ini aslinya berasal dari Amerika Selatan dan Afrika Barat. Didunia barat cassava ini lebih dikenal dalam bentuk tepung/ tapioca.
Dahulu ditahun lima puluhan dan awal tahun enam puluhan, di toko kami salah satu dagangan yang paling laris adalah gaplek. Gaplek adalah singkong yang dikupas, dibelah dan dijemur hingga kering. Gaplek ini dikeluarkan dari karungnya dan dionggokkan tinggi dilantai. Banyak dari gaplek ini yang dimakan kutu dan berlubang lubang dan dari lubang itu keluar serbuk halus yang bercampur dengan kotoran kutu.
Waktu itu aku masih kecil dan selalu sakit sesak nafas. Mirip gejala asma tapi kata dokter bukan asma. Sudah dibawa berobat kemana mana tapi tak ada satu dokterpun yang bisa menyembuhkan. Problem ini hilang dengan sendirinya setelah aku mulai menginjak usia remaja dan dalam waktu yang bersamaan gaplek sudah tak dijual lagi ditoko kami. Baru kemudian kami tahu bahwa rupanya banyak orang terutama anak anak yang alergi terhadap debu/serbuk gaplek ini yang mengandung kotoran kutu.
Tahun tahun itu lebih dari lima puluh tahun yang lalu, hidup di Indonesia begitu sulit dan ekonomi masih belum berkembang seperti sekarang. Banyak masyarakat yang tak mampu makan nasi tiap hari, jadi saja beras diganti dengan gaplek. Gaplek ini diolah menjadi nasi tiwul dengan cara ditumbuk dan tepungnya dicampur dengan air sedikit demi sedikit sambil di gosok gosok dengan tangan hingga menyerupai butir butir halus. Setelah itu dikukus dan setelah matang dimakan sebagai pengganti nasi.
Aku paling suka dengan tiwul manis. Paling enak adalah yang buatan nenek. Tepung gaplek yang masih baru dicampur dengan garam dan vanilla dan kemudian dituangi air sedikit demi sedikit sambil di gosok/diremas hingga membentuk butir butir halus. Kemudian dituang kedalam loyang/cetakan kue. Tusuk tusuk adonan ini dengan jari dan kemudian diisi dengan gula merah yang sudah diparut. Kukus hingga matang dengan menambahkan daun pandan didalam air untuk mengukus. Setelah matang dipotong potong dan dimakan dengan kelapa parut.
Selain untuk tiwul, gaplek juga diolah sebagai keripik/kerupuk. Dalam bahasa Jawa disebut ‘karak gaplek’. Yang paling unik dan juga kesukaanku adalah makanan yang dibuat dari gaplek yang hitam karena jamuran. Gaplek jamuran ini dicuci bersih dan direndam air hingga lunak kemudian diiris kecil kecil dan dicampur dengan gula dan dikukus. Disajikan dengan kelapa parut, rasanya amat khas dengan tekstur lengket dan kenyal. Saya mencoba untuk mengingat kembali apa nama makanan berwarna hitam ini tapi tidak teringat. —-Edit 25/4: Saya tanya kepada kakak nama makanan dari gaplek jamuran ini, katanya disebut: ‘Gathot Gaplek’. Dengar nama gathot saya jadi ingat makanan lain yang juga dari singkong yang namanya gathot. Makanan ini dibuat dari singkong diparut halus yang kemudian dibuang airnya terus dicetak bulat pipih. Setelah dicetak dikukus hingga matang. Lempengan gathot yang bulat ini ukurannya seringnya lebar lebar sekitar 30 cm. Setelah dikukus masak dan dingin gathot ini dipotong potong dan digoreng. Bisa dengan rasa asin dengan cara digarami dan dibumbui bawang putih, atau bisa digoreng manis dengan cara dalamnya diisi parutan gula merah.
Walau dijaman sekarang ini singkong atau ubi kayu masih berlimpah dipasaran, namun gaplek sudah tak dijumpai lagi. Masyarakat sekarang pasti lebih memilih kue kue modern yang memakai telur dan mentega. Padahal kue tiwul manis ini tak kalah enaknya lho! Makanan nostalgia dan saya yakin tak mengandung kolesterol dan mengandung serat yang tinggi.
27 April 2010:
Separoh frozen singkong yang kubeli sudah dikukus waktu itu, makanya yang satu kilo lagi hari ini kumasak jadi gethuk. Singkong di defrost dulu di microwave, terus dikukus. Setelah masak panas panas langsung ditumbuk atau di-mash pakai yang untuk mash potato….. Ya ampun berat betul karena tekstur singkong engga selembut kentang. Sementara kurebus kira kira 1/3 cup air, kelapa parut, gula dan garam secukupnya, vanila dan sumba merah. Setelah mendidih sedikit demi sedikit dituang ke singkong yang sedang di tumbuk sembari terus tumbuk/mash hingga rata. Ya ampun, begitu liat dan beraaattt………. Masih belum halus betul, tapi aku udah tak ada tenaga lagi, jadi saja kucetak. Jadilah ini gethuk ala buatanku yang tidak begitu mulus. Tapi rasanya boleh juga lho!
Duran Duren
02 Mar 2010 Leave a Comment
in Nostalgic Food Tags: Cerita Ngalor Ngidul, Durian, Random Thoughts....
Kemarin aku pergi ke Coles Super Market dan lihat duren yang bentuknya banyak yang bulet bulet dan mungil. Harganya juga rada miring…. dibawah 4 dollar perkilonya. Aku lihat duren tersebut adalah duren Monthong dari Thailand…. Wah boleh juga, jadi aku milih yang bentuknya paling bullet/simetris dan paling kecil…. cukup untuk dimakan 3 orang ini.
Nah, ngomong tentang duren aku jadi ingat dulu pernah ngobrol dengan teman tentang band Duran Duran…. Eh datang teman yang lain yang tak ngerti ujung pangkal pembicaraan tapi nyelonong bilang: ”Siapa yang beli duren? Bagi dong!” Ha…. Ngomongin Duran Duran jadi dikira beli duren. Ha…..
Yang lucu lagi adalah zaman dulu diawal tahun 1990-an, waktu duren belum banyak dikenal disini di Aussie. Waktu itu hanya toko toko Asia yang menjualnya. Aku beli satu biji duren dan oleh penjualnya yang orang Vietnam itu, durennya dibungkus rapi dengan kertas koran dan dimasukkan kekantong plastik. Setelah beli duren ini aku pergi ke Super Market (Australian shop), nah waktu check out, si kasir bilang: “Can I check what’s in the bag?”… tangannya menuding kantong keresek yang kujinjing. Jadilah ketaroh kantong plastic yang isinya durian itu diatas meja counter. Mestinya aku bilang supaya hati hati karena isinya berduri tapi waktu tak terpikir sama sekali (absent minded). Jadi saja si kasir yang gadis masih muda berambut pirang itu memasukkan tangannya yang berjari halus mulus dan membuka kertas koran pembungkus duren. Tiba tiba dia berteriak kesakitan…. jarinya tertusuk duri duren. Untung tidak berdarah dan dia lebih shock lagi waktu melihat apa yang terbungkus kertas koran tersebut. Dia bilang: “O my God, what the hell is this?….. It looks like a porcupine!” Ha…. baru aku sadar bahwa duren itu buah yang masih terlalu eksotik dan tak banyak orang bule tahu. Jadilah banyak orang sekeliling yang memandang kearah kami dan aku jelaskan apakah duren itu. Untungnya duren yang masih frozen/membeku itu tidak terlalu bau….. Wah kalau tidak kan malu waktu dibuka bau ‘mak sreng’….. Kan mereka orang kulit putih itu bilang duren baunya seperti **** Ha… anda tahu sendiri………..
Ingat peribahasa tentang durian yaitu ‘Bagaikan mendapat durian runtuh” yang artinya adalah mendapatkan rejeki atau keuntungan secara tiba tiba dan tak diharapkan. Tapi mikir mikir kalau runtuhnya diatas kepala, kan itu engga untung. Bayangkan ada duren jatuh diatas kepala, mana pohon duren itu kan banyak yang tinggi tinggi…… He…. bisa bisa dokter-nya yang untung karena mendapat pasien yang kepalanya berdarah dan gegar otakn ya. Ha…. Oh ya, dulu banyak yang cerita bahwa harimau itu rupanya suka makan durian. Jadi dulu waktu di pulau Jawa masih banyak harimau, banyak orang bilang hati hati kalau mendekati pohon durian dihutan karena bisa bisa kepergok ketemu harimau…..Bukannya jadi untung dapat durian runtuh, tapi bisa bisa malahan jadi mangsa harimau.
Eh… ini aku lagi iseng ngelamunin tentang durian. Duren yang kemarin kubeli itu masih segar sekali dan manis…… Kecil, tapi terdiri dari 6 bagian jadi kan isinya banyak sekali dan kulitnya tipis. Eh jadi besok kepingin beli lagi:)
Oh ya, aku sudah pernah blogging tentang durian, kalau penasaran silahkah buka:
http://kiyanti2008.wordpress.com/2008/11/08/smelly-king-of-fruit/

























