Aku dan Lukisan

Dulu waktu masih duduk di bangku sekolah menengah, banyak waktu kugunakan untuk menggambar. Banyak lukisan ukuran poster menghiasi kamarku. Setelah nantinya selesai SMA, aku sebetulnya ingin melanjutkan ke Akademi Seni Rupa, tapi Mama tak menginjinkan. Mama-ku tak mau aku jadi seniwati…. kan para seniman itu terkenal kosong kantongnya?? Hobby menggambarpun masih kadang kadang kulakukan selama aku melanjutkan sekolah di Bandung.

Namun setelah menikah dan mempunyai anak aku tidak menggambar lagi. Baru beberapa tahun ini aku mencoba menggambar dengan memakai komputer. Inilah beberapa karyaku yang kurasa jauh dari sempurna dan mungkin tidak ada harga seni-nya…. namun asyik juga menemukan kembali hobby yang hampir terlupakan.

Aku bukan seniman, tapi tetap saja tidak banyak duitnya:(

Mama

 

Kuat dan tegas caramu berucap kata, mama

Benar dan jujur itulah prinsip hidupmu yang tulus

Orang bilang kau terlalu galak dan keras kepala

Tapi bagiku kau selalu berpijak pada jalan yang lurus

 

Dibalik tegarnya sifat terdapat sejuta kelembutan

Sebagai ibu kasih sayangmu melimpah nyata

Untuk setiap dambaan bayi yang kau lahirkan

Kau perlakukan kami selembut mutiara

 

Semasa kanak-kanak kami punya segalanya

Namun tak pernah dalam bentuk kemanjaan yang sia

Darimu aku belajar mengurus rumah tangga

Cuci baju dan lantai serta urusan dapur aku terbiasa

 

Kesederhanaan dan moral tinggipun tak lupa kau ajarkan

Kadang kala jika serasa kau perlakukan kita begitu kerasnya

Ini hanyalah caramu membuat supaya kami tak sesat dijalan

Dan dengan adil kau perlakukan kita sama rata

 

Jalan hidupmu banyak tantangan dan berliku

Kebahagiaan dan kekecewaanpun saling merajut jiwa

Tetap kau berpegang teguh pada prinsip hidupmu

Tuhanpun menganugerahi  ketabahan jiwa

 

Terima kasih mama atas semua yang kau beri dengan rela

Dan maafkan jika aku khilaf dan menumpahkan kesedihan

Untaian puisi ini kutulis hanya untukmu mama

Sebagai rasa penghargaan, syukur dan kasih cinta

Photo Jadul

Lama juga aku dan kakak perempuanku berdua sebelum adik adik kami lahir. Waktu itu mama selalu mendadani kami sama. Baju sama dan pita rambutpun sama. Inialah yang aku paling salut pada mama, karena beliau itu orangnya tidak pilih kasih. Sering waktu itu orang mengira kami berdua anak kembar, apa lagi setelah aku mulai lebih besar, tinggiku sama dengan kakak.

Kedua photo hitam putih ini diambil sekitar akhir tahun 1950-an. Hari itu kami pergi bertamasya ke Candi Borobudur. Saudara sepupu lelaki kami ikut dan juga mbok Pawiro yang mengantarku sekolah dan rewang/pembantu kami sekalian diajak. Senang sekali mereka dan mobilpun penuh sesak. Kami semua duduk berhimpitan.

Sore hari waktu kami pulang kerumah, entah bagaimana kejadiannya, namun sapi sapi dan beberapa babi piaraan pada lepas semua keluar dari kandangnya. Papa memotret kami bersama ‘Sentul’ sianak sapi dan babi babi yang berdengus dengus. Geli juga waktu Sentul menjilat jilat kami.

Ingat waktu itu kami punya banyak binatang piaraan. Sapi untuk menarik gerobak dan ternak babi dibelakang rumah. Repot juga kalau kami semua akan pergi, pagi pagi para pekerja harus memberi makan binatang dulu dan pulangnya mereka akan datang lagi untuk memberi makan lagi dan menyemprot bersih kandang babi.

Photo yang satu lagi ini adalah kami bersama Papa dan Mama yang diambil sekitar tahun 1960an. Lagi lagi baju kami berdua masih sama walau kami sudah mulai punya pilihan masing masing. Mama tetap menyuruh kami berpakaian sama.

Sekarang setelah aku mulai menginjak lanjut usia, terasa masa kanak kanak dulu begitu singkatnya. Padahal dulu waktu masih kecil rasanya waktu berjalan begitu lambatnya. Sekarang diwaktu yang terasa berlalu dengan cepatnya, kenangan masa kecil adalah yang paling indah yang tak akan terlupakan.

Photos Before and Now

Buat semua teman teman dan famili yang sudah luama banget tak ketemu saya, ini lah photo photo saya zaman dulu mulai dari masih kecil dan mini sampai sekarang tua dan maxi!!! Ha, ha, ha……

Boneka Dakocan

Waktu itu ditahun enam puluhan, kami anak anak perempuan disekolah heboh karena munculnya boneka baru. Mereka yang memiliki boneka ini dianggap betul betul ‘wah’ dan bergaya. Bayangkan saja, boneka yang bisa menggelantung memeluk lengan dan bisa diajak jalan jalan. Aduh alangkah asyiik dan bergaya jika melihatnya……

Boneka ini dinamakan Dakocan. Dakocan adalah boneka yang ditiup seperti balon. Bermacam macam warnanya, ada yang hitam, biru, merah dan warna warna lainnya. Kedua lengan dan kaki boneka ini melengkung jadi bisa di selipkan kelengan dibawah bahu dan akan terlihat seakan akan dakocan ini memeluk lengan kita. Karena ditiup semacam balon jadi terasa sangat ringan.

Aku dan kakak perempuanku waktu itu tidak mau ketinggalan. Kami mampu membujuk Mama supaya dibelikan, walaupun harganya tak murah. Seingatku, yang punya kakak berwarna biru dan yang punyaku berwarna merah. Setiap pergi dan pulang sekolah tak lupa kami memasang  boneka dakocan ini dilengan kami. Dikelas, kami harus mengeluarkan angin dari dalam boneka itu hingga betul betul kempes dan kami lipat dan menyimpannya didalam tas. Sebelum pulang dari sekolah , kami tiup kembali dakocan kami dan sepanjang jalan  boneka yang sedang popular itu menggelantung dilengan kami.

Waktupun berlalu dan akhirnya dakocan pelan pelan mulai tak terlihat lagi. Anak anak rupanya sudah bosan dan boneka tiup ini tak menarik lagi. Inipun terjadi dengan dakocan milikku dan milik kakak. Entah dimana kami simpan boneka itu. Mungkin oleh mama waktu beres beres kamar kami, boneka itu dibuang dan dianggap tidak berharga lagi.

Pikir pikir, dizaman itu ditahun enam puluhan, kami sudah mulai terjerat oleh yang dinamakan ‘consumerism’. Mulai ada barang barang yang diperdagangkan ditujukan pada kelompok tertentu, terutama ditujukan buat anak kecil dan remaja. Apapun barang baru yang dianggap populer akan laris terjual.

Lagu Dakocan (Ciptaan Pak Kasur):

Kulihat ada boneka baru
Amat aneh dan lucu
Dakocan namanya, bukan Sarinah
Sayang, sayang…mahal harganya
Dakocan namanya, bukan Sarinah
Sayang, sayang mahal harganya

SMA Kristen I Sidokare Solo

1968-1970

Masa sekolah di SMA adalah yang paling berkesan dan menyenangkan. Kalau dipikir mungkin karena saya sudah bertambah dewasa. Juga di SMA, mulai kelas 2 kami boleh memilih jurusan. Waktu itu ada dua bagian yaitu Pas-Pal (Pelajaran ilmu pasti dan alam) atau Sos-Bud (Pelajaran Sosial Budaya). Tentu saja saya memilih jurusan Sos-Bud dan mulai saat itulah sekolah terasa lebih mudah dan menggairahkan.

Pergaulan dengan teman teman sekelas semasa SMA juga mulai bersifat lebih dewasa dan lebih erat. Kami banyak yang kompak terutama kelompok kami yang terdiri dari:

  • Endang Sukesti yang orangnya manis sekali..
  • Sri Sukarni yang ramah dan rambutnya selalu disasak tinggi.
  • Ari (Kiem Lian) yang mungil. Terima kasih ya permennya (saat kami sedang haus hausnya) waktu kita wisata sekolah ke candi Prambanan.
  • Erlin yang halus dan pendiam.
  • Suwarti yang pernah  membonceng skuter dan dia duduknya melorot hingga kami berdua hampir jatuh dijalan.
  • Hok Hay yang membuntut kami yang cewek semua. Siapa yang ditaksir ya?

Selain kelompok kami, saya masih ingat pada Hwie Ing, Djoen May, Djioe Lan yang anaknya Pak Tan guru olah raga waktu SMP, Swie In, Yunianto (sekarang menjadi pendeta), Yatman yang adiknya Pak Yatmo, Kantiyo, Yacob yang dari Irian, Gwan Tek yang rumahnya dekat palang sepur Ledoksari, Hway Tiong dan Ebenhart Simanungkalit yang anak Indo Jerman dan matanya biru (Catatan: saya lupa lupa ingat apakah Ebenhart ini teman waktu SMP atau SMA).

Guru guru SMA waktu itu adalah:

  • Drs. Manungku _ Kepala sekolah dan mengajar Kimia
  • Ibu Wurtiningsih – Bahasa Inggris
  • Pak Pur (Purwanto) – Civic (Ilmu Tata Negara)
  • Pak Hardiman – Bahasa Indonesia
  • Pak Abner – Aljabar, Goneometri, Stereometri
  • Pak Yatmo (Suyatmo) – Sejarah
  • Pak Himawan (Ilmu Alam/Fisika?)
  • Pak Wito (Suwito) – Ilmu Bumi
  • Pak Basuki – Olah Raga
  • Bapak dan Ibu guru yang suami istri, saya lupa namanya. Kalau tak salah si Bapak mengajar Ekonomi dan isterinya mengajar PKK.

Walaupun saya menyukai semua guru guru SMA waktu itu, tapi saya punya 2 orang guru favorit. Mereka adalah Ibu Wurtiningsih yang orangnya lembut dan hitam manis. Karena waktu itu saya memiliki buku pelajaran bahasa Inggris yang dipakai, jadi saya sering disuruh mengutip pelajaran dipapan tulis supaya anak anak lain bisa mengutipnya. Semua tertawa jika tulisan saya dipapan tulis naik turun gunung. Ha…. Guru favorit saya yang satu lagi adalah pak Pur. Pak Pur ini memberi kesan diam dan berwibawa, jadi anak anak tak berani main main kalau dia sedang mengajar. Waktu pak Pur jadi wali kelas, saya diberi tugas untuk mengumpulkan uang sekolah.

Tiga tahun belajar di SMA ini berlalu dengan cepat dan pada tanggal 21 Oktober 1970 dinyatakan lulus dan nilai ujian saya cukup bisa dibanggakan. Sampai sekarang saya bersyukur dan berterima kasih kepada semua guru guru mulai dari TK s/d SMA yang pernah mengajar dengan tekun dan sabar.

Waktu itu saya merasa lega, dada ini terasa ‘mak plong’ karena masa sekolah sudah berlalu. Namun kalau seandainya mungkin, saya tak akan keberatan untuk mengulang masa SMA. Dimana lagi saya bisa menemukan teman teman lain yang seperti Endang, Sri Sukarni, Ari, Erlin, Hok Hay, Suwarti dan lain lainnya? Yang terakhir saya tahu bahwa Endang menikah dan tinggal di Surabaya. Ari juga menikah dan melanjutkan usaha toko milih orang tuanya. Hok Hay saya dengar menikah dan tinggal di Jakarta sedangkan Erlin bekerja di salah satu bank di Solo.

Selesainya SMA, saya meneruskan pendidikan di Bandung dan tinggal lama di kota kembang itu. Sekarang sudah lebih dari 25 tahun saya terdampar disini dinegeri Kangguru, dan teman serta kenalan barupun sudah terjalin tapi tak sama dengan teman teman dekatku dulu di SMA.. Dimanapun mereka berada  saya berharap agar kalian hidup bahagia dan umur panjang serta dikaruniai banyak anak dan cucu.

Under the magnetism of friendship the modest man becomes bold; the shy, confident; the lazy, active; and the impetuous, prudent and peaceful.
                                                                         – William Thackeray

Sekolah Kristen Pasar Legi (2)

SMP (1964 – 1967)

Enam tahun disekolah dasar, bagi saya masih enak dan mudah jika dibandingkan dengan tiga tahun selanjutnya di SMP. Ya begitulah, memangnya saya itu anaknya dulu punya semacam ‘bad attitude’. Kalau senang pada pelajarannya, ya saya belajar dengan tekun, tapi kalau udah yang namanya tak senang itu ya malas benar belajarnya. Selama tiga tahun disekolah menengah pertama ini tak ada pilihan, jadi ya harus belajar semuanya. Ilmu ukur dan  aljabar adalah dua pelajaran yang paling saya benci dan tak nempel diotak sama sekali. Ha…

Saya memulai kelas satu SMP di Sekolah Kristen Pasar legi pada tahun 1964. Mengingat guru guru SMP itu tidaklah mudah karena setiap mata pelajaran ada gurunya masing masing.

Inilah daftar guru guru SMP Kristen Pasar Legi – Solo waktu itu antara tahun 1964 s/d 1967 yang saya masih ingat. Rasanya selama di SMP ini anak anak masih memanggil guru yang keturunan Chinese ‘Sien Sen’ , tapi disini saya akan tulis dengan ibu dan pak untuk mudah mengenali lelaki atau perempuan.

Pak Sie – Kepala Sekolah

Pak Is (Iskandar) – Bahasa Indonesia

Pak Mik (Mikhael  Nenobais) – Bahasa Indonesia

Pak Mul (Mulyadi) – Sejarah

Pak Har (Hartono) – Ilmu Hayat

Pak Wid (Widodo) – Aljabar

Ibu Tjiong – Bahasa Inggris dan PKK

Ibu Oh – Ilmu Alam

Ibu Lim Lin –  Ilmu Ukur

Pdt. Djie Kong – Agama

Pak Pardi – Bahasa Daerah

Pak Tjoa – Bahasa Jerman

Pak Tan – Olah Raga

Selain guru guru diatas seingat saya masih ada dua orang guru yang sifatnya bukan guru tetap. Kedua guru ini keduanya lelaki yang satu tinggi dan satunya lagi pendekan dan agak gemuk dan lebih tua. Saya tak ingat nama mereka, tapi saya ingat yang orangnya tinggi mengajar  Tata Buku dan guru yang satunya lagi saya lupa mengajar apa. Mungkinkah ekonomi? Apakah ada pelajaran ekonomi di SMP waktu itu?? *Tambahan: Kalau tak salah nama kedua guru ini adalah yang orangnya tinggi adalah pak Sam (Samsudin) yang mengajar Tata Buku dan yang satunya yang sudah setengah baya dan agak gemuk adalah Pak Sri yang mungkin mengajar Ilmu Dagang.

Kantin yang untuk anak anak SMP terletak di belakang bangunan gedung SD, kalau menghadap kesekolah adalah sebelah kiri antara gedung SD dan Gedung SMP. Makanannya jauh lebih mahal dibandingkan dengan yang SD. Banyak menu warung SMP ini menyuguhkan makanan yang lebih mengenyangkan seperti misalnya; nasi soto, nasi bakmoy dsb. Warung SMP ini dikelola oleh wanita Chinese yang sudah setengah baya dengan nama panggilan Encim. Saya sendiri jarang jajan kesitu karena selalu penuh dan antri serta menunggu lama, Juga karena tidak murah, saya lebih suka menabung uang saku.

Sebagian teman teman sekelas adalah wajah wajah lama karena kami sama sama waktu SD. Tapi ada juga anak anak baru yang waktu SDnya dari sekolah lain.

Mereka mereka yang pernah sekelas adalah:

Ping Nio, sahabat terbaik sejak SD, namun sayangnya dia sempat marah karena sama saya digodain/dijodohin sama Kiem Gan yang nyentrik anaknya. Sorry sekali ya? Saya waktu itu hanya bergurau. Teman lain yang erat selama SMP adalah Hwan Nio yang montok tapi suka pakai rok mini , teman dekat lainnya adalah Tong Giok Lan yang rumahnya di Ledoksari dekat rumah nenek saya.

Anak anak lainnya adalah Giok Lien,  Giok Ie (masih keponakan Ibu Oh dan saudaranya yang punya took Roti Ganep), Eng Lan, Gan Ying (anaknya yang punya rumah makan sate kambing di Widuran) , Djoen May , Siok Kiem (yang anaknya pendiam sekali berasal dari Kedung Banteng ),  So Giem ,  Djoen Lan (dari Sragen keponakannya penulis silat Kho Ping Ho), Lien Nio,  Non Nio,  Wie Ing (yang cantik sekali), Hwie Lan (adiknya yang namanya Hwie Tjoe/Roes pernah bekerja sama sama di Bandung  diawal tahun 80-an), Yan Liang. Inilah semua teman teman perempuan yang masih kuingat.

Teman  yang lelaki diantaranya adalah: Sauw Huang, yang anaknya pintar sekali , Sien Liong (yang pacaran sama Lien Nio),  Kiem Gan (yang jangkung dan nyentrik/aneh),  Kiem Gwan. Kalau tak salah Tiong Hap,  Hong San dan Tiauw Ging juga melanjutkan SMP disekolah yang sama. Saya lupa lupa ingat, mungkin karena tidak sekelas lagi? Terus anak yang namanya Hway Tiong, saya lupa dia juga teman SMP atau hanya selama diSMA atau kedua duanya. Heran tak begitu banyak anak anak lelaki yang saya ingat namnya. Ada beberapa yang saya masih bisa membayangkan orangnya tapi tak ingat siapa namanya.

Walau masa di SMP tidaklah begitu menggairahkan karena banyak pelajaran yang saya kurang suka, namun ada saat saat yang menyenangkan misalnya setiap hari Natal kami merayakannya di Gereja (GKI Sangkrah) dan setiap kelas menyanyikan lagu Natal. Latihan menyanyi untuk menyambut Natal ini dipimpin oleh guru wali kelas masing masing.  Waktu lain yang saya sukai adalah disaat nonton pertandingan bola basket. Team sekolah kami waktu itu cukup kuat dan bertanding melawan  sekolah sekolah SMP lainnya dikota Solo. Selain menonton pertandingan basket, waktu itu juga banyak latihan berbaris. 

Sebelum pemberontakan G30S terjadi ditahun 1965,  banyak sekolah dikota Solo mengadakan latihan baris berbaris dan seingat saya ada perlombaan  berbaris antar sekolah, dimana kami berbaris dijalanan.Saya masih ingat kami pakai seragam putih putih waktu ikut lomba berbaris ini. Waktu musibah kejadian G30S, seingat saya lama juga sekolah ditutup. Kalau tak salah kenaikan kelas yang seharusnya diakhir tahun jadi ditunda dipertengahan tahun selanjutnya.

Sekarang setelah lebih dari 40 tahun berlalu semua duka sudah tak terasa lagi dan yang masih tertinggal adalah kenangan  manis yang tak terlupakan.

Kalau penasaran ingin membaca cerita saya waktu masih di TK dan SD, silahkah klik disini:

http://kiyanti2008.wordpress.com/2010/04/25/sekolah-kristen-pasar-legi-solo-1-3/

Sekolah Kristen Pasar Legi Solo (1)

The difference between school and life? In School, you’re taught a lesson and then you’re given a test. In life you are given a test that teaches you a lesson.

 
   

Tom Bodett

 

 TK dan Sekolah Dasar (1957 – 1963)

Terus terang saya bukan termasuk anak yang suka sekolah. Walau saya naik kelas terus dan tak pernah ‘nunggak’ tapi nilai saya cukup cukup saja. Saya paling benci pelajaran berhitung  terutama kalau harus mengerjakan hitungan didepan kelas dipapan tulis. Setiap gurunya secara random menyuruh murid menghitung didepan kelas, saya selalu berdoa agar tidak terpilih dan saya selalu menundukkan kepala dibelakang anak yang didepan dengan harapan sang guru tak melihat saya. Ha….pikir pikir sekarang jadi terasa lucu juga.

Mulai dari kelas nol sampai dengan SMP, saya belajar di Sekolah Kristen Pasar Legi, Solo. Waktu itu bangunan depan adalah klas nol dan SD (waktu itu namanya SR = Sekolah Rendah) dan bagian belakang adalah untuk SMP. Karena sekolahan dekat sekali dengan Pasar Legi, maka banyak waktu waktu dimana bau kubis busuk dan sampah lainnya  yang menusuk hidung masuk kedalam kelas.

Untuk anak anak SR ada warung disudut depan. Sering kalau datang kesekolah kepagian saya akan melihat Mbok Sentir memasak mie goreng. Warung bambu yang sederhana  itu diurus oleh pasangan suami isteri Pak dan Mbok Sentir. Pak Sentir itu lucu sekali orangnya, sering melawak dan membuat anak anak tertawa. Waktu saya melihat Mbok Sentir menggoreng bawang goreng, dia bilang supaya bawang goreng kuning dan renyah, sesaat sebelum diangkat dicucuri jeruk nipis. Sering pagi pagi saya beli mie goreng ini panas panas karena baru selesai dimasak. Sedap sekali deh……

Kenangan paling manis adalah waktu saya kelas nol. Waktu itu ditahun 1957 hanya ada satu kelas nol karena saat itu belum ada kelas nol kecil dan kelas nol besar. Kenangan tahun pertama pergi kesekolah dikelas nol ini justru yang paling berkesan. Kelas nol waktu itu hanyalah bermain main dan kami tak diberi PR (pekerjaan rumah) dan tak ada ulangan (test). Saya suka sekali dengan guru kelas nol waktu itu yang bernama Ibu Tatik. Ibu Tatik itu manis sekali wajahnya dan selalu memakai kebaya yang terlihat rapih sekali. Matanya lebar berbinar. Waktu itu yang paling kusukai dan banyak disukai oleh anak anak lain adalah saat pergi berjalan jalan, berbaris ke Taman Banjar Sari yang tak jauh letaknya dari sekolahan. Sambil berbaris dipinggir jalan kami menyanyi.

Setelah setahun dikelas nol, mulailah masa pendidikan dasar dikelas satu. Saya mencoba mengingat siapa nama guru kelas waktu kelas satu SR, tapi tidak teringat. Karena Sekolah Kristen Pasar Legi waktu itu mayoritas anak anak keturunan Tiong Hoa, jadi kami memanggil guru yang orang Tiong Hoa dengan panggilan Sien-sen. Saya masih ingat guru kelas satu ini masih muda, langsing orangnya dan cantik juga, tapi aku tak ingat siapa namanya.

Guru kelas dua saya masih ingat jelas namanya adalah Sien-sen Gwat.

Kelas tiga saya kebagian kelas sore dan gurunya waktu itu adalah bernama Sien-sen ‘Su It’. Dia guru baru, lelaki muda yang cukup berotot dan tampan.

Guru kelas empat kalau tak salah dipanggil dengan panggilan Sien-sen Siem. Yang ingat saya les privat dengan guru ini karena waktu kelas empat saya sakit thypus dan beberapa minggu tak masuk sekolah dan ketinggalan pelajarannya. Juga saya ingat Ibu Siem ini yang penampilannya keren, pernah membagikan kacang kara goreng (=broad beans) oleh oleh dari Ambarawa. Setiap anak dikelas kebagian seggenggam kacang yang gurih tsb. Rupaya kemudian guru ini menikah dengan seorang pendeta dari Ambarawa.

Kelas lima gurunya adalah Bapak Marsudi yang kalau ngomong logatnya logat Jawa Barat atau orang Jawa bilang ‘kagok’. Pak Marsudi ini orangnya berwibawa sekali dan mempunyai kumis tipis.

Kelas enam guru kami adalah Sien-sen Djie. Walau ibu Djie ini terkenal galak dan keras suaranya, tapi dia suka ngobrol tentang penyanyi Nat King Cole dan Pat Bone yang suara-nya empuk.

Semasa sekolah dasar itu teman yang paling erat adalah Ping Nio yang rumahnya di jalan Kepunton. Setiap pagi saya lewat rumahnya dan sering bersama sama kami berjalan kesekolah. Ping Nio selalu diantarkan oleh kakeknya. Juga saya ingat kami sering beli nasi sambel goreng ‘kacang tholo’ (uih, sedapnya…) yang pedagangnya setiap pagi mangkal didekat gereja Bethel di jalan Kepunton. Kami juga sering metikin bunga melati yang tumbuh disepanjang jalan diseberang gereja Bethel tersebut. Terakhir saya berjumpa dengan Ping Nio ditahun 1979.

Inilah kenangan semasa kelas nol dan enam tahun belajar di SR/ Sekolah Rendah (SD). Harapannya saya, akan ada pembaca blog ini yang dulu juga murid SR Kristen Pasar Legi diakhir tahun lima puluhan dan ditahun enam puluhan. Kalau ada semoga tulisan saya ini membangkitkan kembali nostalgia masa dulu dimasa kanak kanak.

Catatan: Waktu waktu berlalu dengan cepat dan sudah lama Sekolah Kristen Pasar Legi di kota Surakarta ini diganti namanya dengan Sekolah Kristen Widya Wacana yang rupanya mempunyai beberapa cabang dan juga ada SMA-nya. Dizaman dahulu waktu saya sekolah hanya mulai kelas nol s/d SMP.

The Wedding, Kenyataan dan Dongeng

Bulan lalu pernikahan kami genap berumur 26 tahun. Pernikahan kami diberkati dengan seorang putra dan perjalanan yang sudah panjang ini diwarnai oleh suka dan juga duka. Kalau anda bertanya apakah resepnya pernikahan itu sehingga tidak buyar ditengah jalan? Jawaban yang bisa saya berikan adalah kesetiaan dan kesadaran bahwa pernikahan itu adalah permulaan hidup baru untuk menempuh perjuangan hidup berumah tangga.

Di-dongeng dongeng setelah si-prince menikahi si -princess mereka berdua “lived happily ever after”. Bedanya dongeng dan kenyataan hidup adalah akhir dan permulaan. Di buku dongeng ‘to live happily ever after’ itu adalah sebagai penutup cerita bahwa si prince dan princess telah tercapai cita cintanya. Namun untuk kenyataan hidup, pernikahan itu merupakan suatu permulaan. Permulaan untuk hidup baru. Hidup baru bagi dua insan yang pasti ada saja perbedaannya dan ini diperlukan pengertian satu sama lain untuk saling menyesuaikan dan menerima. Dua insan yang akan berhadapan dengan kerja keras dan tanggung jawab besar. Rumah yang harus dilunasi atau ongkos kontrak yang harus dibayar, ongkos kehidupan sehari hari yang tidaklah murah, dan kemudian yang paling berat adalah kehadiran anak anak. Suami isteri menghadapi tugas yang tidaklah ringan untuk membesarkan dan mendidik anak anaknya. Selain itu hidup juga bisa diwarnai dengan rintangan yang harus dihadapi berdua seperti misalnya disaat sakit atau disaat timbulnya pertikaian.

Menurut saya pribadi perjalanan hidup rumah tangga itu akan lebih mudah dan lebih mulus jika masing masing setia satu sama lain. Jika salah satu atau keduanya main serong, akanlah sulit bagi pernikahan itu untuk bisa dipertahankan karena hilangnya kepercayaan. Dengan kesetiaan dari dua belah pihakpun, kehidupan rumah tangga itu tidaklah semudah dan semulus yang dibayangkan….. apa lagi kalau diwarnai denga kecurangan……………

Untuk mengenang kembali masa lalu yang sudah berjalan 26 tahun lamanya, saya ingin anda bersama kami mendengarkan lagu indah yang sering didengar dipesta pesta pernikahan dizaman dulu. Mungkin bagi anda anda yang seangkatan kami lagu ini akan membawa kembali kenangan manis.  Lagu ini adalah: The Wedding oleh Julie Rogers.

Memetik Strawberry dan Memotong Gasket

Saya tiba dinegeri Kangguru ini, tepatnya di Melbourne pada awal bulan September 1983. Seingat saya, waktu itu hawa terasa dingin sekali walaupun September adalah musim semi disini. Memang tidak turun salju  dimusim winter (kecuali didaerah pegunungan), tapi temperatur bisa turun dibawah nol derajat C.

 Waktu itu, 26 tahun yang lalu, tidak banyak orang orang  asing (migrants) seperti sekarang. Di-suburb dimana saya tinggal hanya ada dua atau tiga Asian/Chinese shop dan itu juga tak banyak sayur mayur serta buah buahan Asia  dijual. Kebanyakan orang Asia waktu itu adalah berasal dari Cina, Vietnam, Kamboja atau India.

Saya masih ingat kenalan kami yang orang Kamboja mengajak saya untuk kerja memetik buah strawberry. Waktu itu diawal tahun 1984 dan hanya suami saya yang kerja. Jadi pikir pikir dari pada iseng  sendirian dirumah, saya memutuskan untuk pergi bersama mereka ke Officer yang terletak tak jauh dari kota Pakenham. Perjalanan kami tempuh dengan kereta api yang memakan kira kira 20 menit sampai ditujuan.

Mengingat pengalaman ini masih membuat saya tertawa sampai sekarang. Seharian berjongkok memetik buah strawberry dan maklum karena saya tidak punya pengalaman kerja seperti itu….. saya hanya mendapat $20 hari itu. Sedang teman saya yang orang Kamboja itu bersama suaminya berdua bisa mendapat sekitar $ 80. Waktu itu pembayaran adalah secara tunai tanpa dipotong tax dan langsung bayar hari itu juga.  Pikir pikir waktu itu apa kata mama kalau saya cerita tentang pengalaman ini. Di Indonesia saya anaknya boss disini di Australia saya kerja buruh tani memetik strawberry.

Saya hanya tahan kerja 2 hari dan suami saya yang orang bule bilang lebih baik saya cari kerja yang lainnya kalau memangnya saya ingin kerja.

Jadilah saya pergi ke kantor CES (Commonwealth Employment Service) yang sekarang adalah Centrelink namanya. Hari itu juga mereka carikan kerjaan yang kira kira cocok buat saya. Saya tidak punya keahlian tertentu dan pengalaman kerja saya di Indonesia adalah kerja di kantor membantu administrasi dan pembukuan.  Sedihnya pengalaman saya ini tidak bisa banyak menolong disini karena kebanyakan kerjaan kantor menggunakan komputer dan saya waktu itu tidak mengerti komputer sama sekali dan bahasa Inggris saya waktu itu masih dianggap kurang memadai untuk bisa kerja di kantor.

Akhirnya mereka bertanya apakah saya mau kerja di pabrik yang membuat gasket mobil. Kerjaannya adalah memotong gasket dengan mesin. Mereka akan training saya dan kerjaan ini akan merupakan kerjaan penuh dan gajinya cukup bagus. Esok harinya saya datang keperusahaan gasket tersebut  di Noble Park untuk interview. Ternyata diterima dan esoknya langsung mulai kerja.

Ternyata kerjaan ini cukup mudah dan ringan walaupun kerjanya rutin dan membosankan.  Tidak banyak yang kerja disitu hanya kira kira 20 orang (termasuk orang orang kantor). Ada dua orang Asia disitu yaitu saya sendiri dan seorang ibu dari Srilangka. Saya hanya kerja disini kira kira 6 bulan karena saya mulai hamil dan kemudian memutuskan untuk sepenuhnya  menjadi ibu rumah tangga  dan ibu untuk anak kami.

Dibandingkan dengan sekarang,  lebih dari 25 tahun kemudian, kehidupan dulu dan sekarang itu masing masing ada enak dan tidak enaknya.

Segi positifnya dari zaman dahulu diawal tahun 80-an adalah mudahnya mencari kerjaan. Waktu itu umumnya kerjaan di Australia adalah kerjaan penuh/full time dan statusnya kerja tetap. Dibandingkan dengan sekarang, semakin lebih banyak kerjaan yang ada adalah bersifat casual atau bahasa Jawanya kerjaan pocokan. Kalau dibutuhkan ya akan kerja tapi kalau tak dibutuhkan ya melongo saja tak dapat duit. Juga sekarang sulit sekali mencari kerjaan karena banyaknya pendatang baru di negeri ini yang saling bersaing untuk mencari kerja. Khusus untuk tahun ini dimana resesi melanda dunia, kesulitan mencari kerjaan lebih terasa lagi.

Segi negatifnya dizaman dahulu adalah tidak banyaknya makanan Asia/Indonesia didapatkan. Sekarang sayur mayur dan buah buahan Asia melimpah. Kebanyakan sayur dan buah buahan Indonesia bisa dibeli disini. Mulai dari kangkung, bayam, cabai , kecipir, oyong dan kacang panjang. Sedang untuk buah, mulai dari rambutan, kelengkeng, mangga, jambu, durian dsb. Yang tidak ada adalah daun singkong, daun papaya, salak dan duku.

Untung sekali saya tinggal didaerah yang merupakan “The Melting Pot” , dimana penduduknya adalah multi cultural dari berbagai bangsa dan negara dari seluruh dunia. Pusat Perbelanjaan didaerah saya  90 persen adalah merupakan Asian business yang kebanyakan dijalankan oleh orang Cina, Vietnam atau Kamboja.

Salah satu segi positif tinggal didaerah Melting Pot ini adalah perasaan seakan akan saya tinggal di Indonesia/Asia………

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.