Sepiring hidangan malam ini yang ada daging sapinya tak jadi kumakan. Aku hanya makan sayurannya saja. Suamiku tanya kenapa dagingnya tidak dimakan. Aku bilang karena masih terbayang dengan apa yang baru saja kami lihat diberita di TV sore tadi. Kami melihat beberapa ekor sapi malang yang harus menderita sekali sebelum akhirnya dibantai untuk jadi makanan manusia. Sebelum disembelih, sapi itu ada yang ditendang dan dipukulin karena memberontak.

Sebetulnya ada cara yang lebih ber-‘perikemanusian’ untuk menyembelih binatang untuk pangan. Disini di Australia, sapi, domba ataupun babi dibuat supaya tak sadar dulu dengan ‘stun gun’ sebelum disembelih. Proses ini berjalan begitu cepat. Dengan demikan binatang malang itu tidak stress dan tidak merasakan sakit yang berlebihan.

Bisakah dibenarkan binatang ditendang, dipukuli, dijerat tali dan dibanting kelantai, ekor sengaja dipatahkan dsb sebelum disembelih? Waktu disembelihpun rupanya pakai pisau yang kurang tajam sehingga memakan waktu lama buat binatang itu untuk mati. Sapi itu jatuh meronta ronta dilantai yang bersimbah darah,  lama juga sebelum ajal tiba. Bagaimana aku bisa menelan dagingnya?

Sudah lama ini untuk beli telur-pun kami sekeluarga hanya beli ‘free range eggs’, yaitu telur ayam yang dipelihara dengan bebas bisa berkeliaran dikandang maupun dihalaman. Kami tidak mau memakan telur dari ayam yang dikurung didalam sel kecil yang hanya pas memuat satu ayam. Ayam ayam ini tak bisa memutarkan badannya sama sekali, apa lagi berjalan. Jadi ayam ayam malang ini hanya berdiri atau mendekam disatu tempat, makan terus dan bertelur terus. Sendi sendi kakinya pun banyak yang jadi bengkak karena tak bisa bergerak. Menurutku, telur dari ayam yang menderita tak akan sesehat telur ayam lain yang hidup bebas berkeliaran.

Begitu kejamkah manusia ini? Tuhan ampunilah dosa kami.

Untuk membaca berita selanjutnya:

http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/05/31/brk,20110531-337838,id.html

http://www.theaustralian.com.au/national-affairs/thats-not-halal-killing-indonesian-cleric-joins-attack-on-cattle-slaughter/story-