Waktu itu ditahun enam puluhan, kami anak anak perempuan disekolah heboh karena munculnya boneka baru. Mereka yang memiliki boneka ini dianggap betul betul ‘wah’ dan bergaya. Bayangkan saja, boneka yang bisa menggelantung memeluk lengan dan bisa diajak jalan jalan. Aduh alangkah asyiik dan bergaya jika melihatnya……

Boneka ini dinamakan Dakocan. Dakocan adalah boneka yang ditiup seperti balon. Bermacam macam warnanya, ada yang hitam, biru, merah dan warna warna lainnya. Kedua lengan dan kaki boneka ini melengkung jadi bisa di selipkan kelengan dibawah bahu dan akan terlihat seakan akan dakocan ini memeluk lengan kita. Karena ditiup semacam balon jadi terasa sangat ringan.

Aku dan kakak perempuanku waktu itu tidak mau ketinggalan. Kami mampu membujuk Mama supaya dibelikan, walaupun harganya tak murah. Seingatku, yang punya kakak berwarna biru dan yang punyaku berwarna merah. Setiap pergi dan pulang sekolah tak lupa kami memasang  boneka dakocan ini dilengan kami. Dikelas, kami harus mengeluarkan angin dari dalam boneka itu hingga betul betul kempes dan kami lipat dan menyimpannya didalam tas. Sebelum pulang dari sekolah , kami tiup kembali dakocan kami dan sepanjang jalan  boneka yang sedang popular itu menggelantung dilengan kami.

Waktupun berlalu dan akhirnya dakocan pelan pelan mulai tak terlihat lagi. Anak anak rupanya sudah bosan dan boneka tiup ini tak menarik lagi. Inipun terjadi dengan dakocan milikku dan milik kakak. Entah dimana kami simpan boneka itu. Mungkin oleh mama waktu beres beres kamar kami, boneka itu dibuang dan dianggap tidak berharga lagi.

Pikir pikir, dizaman itu ditahun enam puluhan, kami sudah mulai terjerat oleh yang dinamakan ‘consumerism’. Mulai ada barang barang yang diperdagangkan ditujukan pada kelompok tertentu, terutama ditujukan buat anak kecil dan remaja. Apapun barang baru yang dianggap populer akan laris terjual.

Lagu Dakocan (Ciptaan Pak Kasur):

Kulihat ada boneka baru
Amat aneh dan lucu
Dakocan namanya, bukan Sarinah
Sayang, sayang…mahal harganya
Dakocan namanya, bukan Sarinah
Sayang, sayang mahal harganya

About these ads