Feeds:
Posts
Comments

Gardenia

When summer is approaching and the gardenias are blooming, the heat of a slightly balmy evening heightens the sweet sensuous fragrance. I don’t know why, but I think the best perfumed flowers are white in colour, like for examples Jasmine and Tuberose.

http://kiyanti2008.wordpress.com/2008/09/01/jasmine-flower/

http://kiyanti2008.wordpress.com/2008/09/12/tuberose/

Gardenia  is native to the tropics and subtropics of Africa, southern Asia, Australasia and Oceania. In Indonesia it is called kaca piring. There are approximately 250 species of gardenia and they belong to the coffee family Rubiaceae.

The name Gardenia came from a Scottish American naturalist, Dr. Alexander Garden.

Most gardenias are milky white that will become yellowish by age, while few species are real yellow. The most common varieties grown here in Australia are from two different species: G.augusta and G. thunbergia.

The most popular Gardenia augusta species are Florida, Aimee Yoshiba, Magnifica, Fortuniana , Prof. Pucci, Golden Magic and the prostate dwarf variety is Radicans. These species have attractive deep green foliage with double flowers.

Gardenia augusta 'Florida'

Gardenia thunbergia is also known as star gardenia which has single petals. This species originally found in South Africa and it is also known as wild gardenia of forest gardenia.

Gardenias grow best in warmer, moderate and humid climate. It hates frost and cold temperature. Can be grown in partly shade area for hotter climate or in moderate climate it will be happy to be in full sun. The soil has to be rich and well drain. As gardenia tend to lose traces elements in soil (yellowing of the leaves), it is good to apply a complete fertilizer which contains major trace elements. Once the plants are established, they only need to be fully watered once every forth night.

Gardenias are prone to have problems with scales and mealy bugs so regular spray of white oil will help to keep these bugs away.

If you love white flowers and you enjoy the sweet sensation of lingering fragrance in your   garden or verandas, gardenia will certainly fill this purpose. As gardenias will continue to bloom from late Spring to Autumn, the beautiful scents of this versatile flowers will greet you for longer time.

This is an old song by The Deans with the title “Little White Gardenia” :) The gardenias always remind me of this song…….

Happy Gardening!

Foxy – an Update

I had posted a poem and a story about our dog Foxy. To read this post please open:

http://kiyanti2008.wordpress.com/tag/foxy/

UPDATE:

Foxy died on March 23, 2009. We had to put him down because he suffered from paralysis on both his hind legs. We didn’t want him to suffer….. He died in peace, and it was painless and very quick at the Vet clinic.

After he died, we looked at dog breeds online and we saw a particular breed that look the same as Foxy…. like we were seeing double….. and the breed is Shiba Inu, a Japanese dog. So there was a big possibility that Foxy was not a Basenji X afterall, and he could be a pure bred Shiba Inu.

Now Foxy is resting in our backyard surrounded by my bonsay trees………..

These are images of Shiba Inu Dogs and Foxy. There are 9 photos of Foxy…. Can you tell the difference? Yes He was our Shiba dog :)

Shiba Inu

When we bought Foxy in 1996 from Keysborough Animal Shelter, Melbourne (Australia), they told us that he was a Basenji X. That was why we always believed that he was a Basenji X…. not until later after he died and we saw images of Shiba Inu breed.

When we bought Foxy he was already a 10 years old dog. The lady at the animal shelter told my young son to pick another dog which was younger, but our son didn’t want to listen and he was determined to have the dog which later on we called him Foxy.

Facts about Shiba Inu breed:

http://en.wikipedia.org/wiki/Shiba_Inu

Our Jungle Cacti

Most cactus plants originally grow in sandy desert, but the moist and humid forests in South America have their very own species. Most of them, in natural environment live as epiphytic plants that grow in tree or rock crevices.

There are many species of jungle cacti and the most common name for them is “Holiday Cacti” like for example Thanks Giving, Christmas, and Easter Cacti. For me personally, these holiday names are very confusing and I am more familiar with the proper names for them. At home we have three kinds of jungle cacti:  Epiphyllum (=Epis, Orchid Cactus); Rhipsalidopsis gaertneri (Sunrise cactus) and Zygocactus truncates (Schlumbergera truncata Hybrids/Crab’s Claw cactus)

At the moment as the last month of spring is warming up here in the Southern part of the world (Australia), only the Epis and the Rhipsalidopsis are blooming. Zygocactus will flower later in the summer time.

  • Epiphyllum: It is said that originally natural Epis have mostly white or creamy colour flowers. Only the hybrid varieties have more colourful colours like red, pink, salmon or mauve. The ones that we have is a bigger variety with large bright red blooms and the other one is smaller variety with pink and white colour. Unfortunately we have no records of the cultivar names.

 Red Epis

Although these three species have flat stems (leaves), Epiphyllum consists of broad and  long flat stems with lobed edges (without sections). The flowers grow from the aereole on the outer edge of the stems.

Pink Epis

  • Rhipsalidopsis gaertneri has smaller flat stems (leaves) which come in sections. The edges of the stems are rounder and the flowers grow from the tip of the stems. The bright coloured blooms are star shaped and they are closed at night and will open up when exposed to the sunlight during the day.This is why it is also named Sunrise cactus.

 Rhipsalidopsis gaertneri

  • Zygocactus has claw like stems (leaves) which grow in sections. The flowers that grow from the tip of the stems are irregular/ asymmetrical in shape and come in many different colours such as red, pink, salmon, white, mauve or purple. 

Zigocactus

The easiest way to differentiate these three plants is by looking at the shape of the leaves. They are hardy and easy to grow in warmer areas. The smaller varieties are suitable to grow in hanging pots for a beautiful display of flowers.

Happy Gardening!

 

Saya tiba dinegeri Kangguru ini, tepatnya di Melbourne pada awal bulan September 1983. Seingat saya, waktu itu hawa terasa dingin sekali walaupun September adalah musim semi disini. Memang tidak turun salju  dimusim winter (kecuali didaerah pegunungan), tapi temperatur bisa turun dibawah nol derajat C.

 Waktu itu, 26 tahun yang lalu, tidak banyak orang orang  asing (migrants) seperti sekarang. Di-suburb dimana saya tinggal hanya ada dua atau tiga Asian/Chinese shop dan itu juga tak banyak sayur mayur serta buah buahan Asia  dijual. Kebanyakan orang Asia waktu itu adalah berasal dari Cina, Vietnam, Kamboja atau India.

Saya masih ingat kenalan kami yang orang Kamboja mengajak saya untuk kerja memetik buah strawberry. Waktu itu diawal tahun 1984 dan hanya suami saya yang kerja. Jadi pikir pikir dari pada iseng  sendirian dirumah, saya memutuskan untuk pergi bersama mereka ke Officer yang terletak tak jauh dari kota Pakenham. Perjalanan kami tempuh dengan kereta api yang memakan kira kira 20 menit sampai ditujuan.

Mengingat pengalaman ini masih membuat saya tertawa sampai sekarang. Seharian berjongkok memetik buah strawberry dan maklum karena saya tidak punya pengalaman kerja seperti itu….. saya hanya mendapat $20 hari itu. Sedang teman saya yang orang Kamboja itu bersama suaminya berdua bisa mendapat sekitar $ 80. Waktu itu pembayaran adalah secara tunai tanpa dipotong tax dan langsung bayar hari itu juga.  Pikir pikir waktu itu apa kata mama kalau saya cerita tentang pengalaman ini. Di Indonesia saya anaknya boss disini di Australia saya kerja buruh tani memetik strawberry.

Saya hanya tahan kerja 2 hari dan suami saya yang orang bule bilang lebih baik saya cari kerja yang lainnya kalau memangnya saya ingin kerja.

Jadilah saya pergi ke kantor CES (Commonwealth Employment Service) yang sekarang adalah Centrelink namanya. Hari itu juga mereka carikan kerjaan yang kira kira cocok buat saya. Saya tidak punya keahlian tertentu dan pengalaman kerja saya di Indonesia adalah kerja di kantor membantu administrasi dan pembukuan.  Sedihnya pengalaman saya ini tidak bisa banyak menolong disini karena kebanyakan kerjaan kantor menggunakan komputer dan saya waktu itu tidak mengerti komputer sama sekali dan bahasa Inggris saya waktu itu masih dianggap kurang memadai untuk bisa kerja di kantor.

Akhirnya mereka bertanya apakah saya mau kerja di pabrik yang membuat gasket mobil. Kerjaannya adalah memotong gasket dengan mesin. Mereka akan training saya dan kerjaan ini akan merupakan kerjaan penuh dan gajinya cukup bagus. Esok harinya saya datang keperusahaan gasket tersebut  di Noble Park untuk interview. Ternyata diterima dan esoknya langsung mulai kerja.

Ternyata kerjaan ini cukup mudah dan ringan walaupun kerjanya rutin dan membosankan.  Tidak banyak yang kerja disitu hanya kira kira 20 orang (termasuk orang orang kantor). Ada dua orang Asia disitu yaitu saya sendiri dan seorang ibu dari Srilangka. Saya hanya kerja disini kira kira 6 bulan karena saya mulai hamil dan kemudian memutuskan untuk sepenuhnya  menjadi ibu rumah tangga  dan ibu untuk anak kami.

Dibandingkan dengan sekarang,  lebih dari 25 tahun kemudian, kehidupan dulu dan sekarang itu masing masing ada enak dan tidak enaknya.

Segi positifnya dari zaman dahulu diawal tahun 80-an adalah mudahnya mencari kerjaan. Waktu itu umumnya kerjaan di Australia adalah kerjaan penuh/full time dan statusnya kerja tetap. Dibandingkan dengan sekarang, semakin lebih banyak kerjaan yang ada adalah bersifat casual atau bahasa Jawanya kerjaan pocokan. Kalau dibutuhkan ya akan kerja tapi kalau tak dibutuhkan ya melongo saja tak dapat duit. Juga sekarang sulit sekali mencari kerjaan karena banyaknya pendatang baru di negeri ini yang saling bersaing untuk mencari kerja. Khusus untuk tahun ini dimana resesi melanda dunia, kesulitan mencari kerjaan lebih terasa lagi.

Segi negatifnya dizaman dahulu adalah tidak banyaknya makanan Asia/Indonesia didapatkan. Sekarang sayur mayur dan buah buahan Asia melimpah. Kebanyakan sayur dan buah buahan Indonesia bisa dibeli disini. Mulai dari kangkung, bayam, cabai , kecipir, oyong dan kacang panjang. Sedang untuk buah, mulai dari rambutan, kelengkeng, mangga, jambu, durian dsb. Yang tidak ada adalah daun singkong, daun papaya, salak dan duku.

Untung sekali saya tinggal didaerah yang merupakan “The Melting Pot” , dimana penduduknya adalah multi cultural dari berbagai bangsa dan negara dari seluruh dunia. Pusat Perbelanjaan didaerah saya  90 persen adalah merupakan Asian business yang kebanyakan dijalankan oleh orang Cina, Vietnam atau Kamboja.

Salah satu segi positif tinggal didaerah Melting Pot ini adalah perasaan seakan akan saya tinggal di Indonesia/Asia………

Crassula ovata, the Fat Plant

Bonsai Crassula ovata

One day my hubby said that I should trim the fat plants along the driveway. Ha….. fat plants? I had no idea what he was talking about. Actually, he was talking about Jade plants. Why? He reckoned because it had rounded fleshy leaves and thick fat soft trunks.

Jade plant is also commonly known as lucky plant, money plant, friendship tree and the botanical nama is Crassula ovata (or Crassula arborescens, Crassula argentea, Crassula portulacea). Native to South Africa, this big succulent plant can grow higher than 1 m. It is very easy to grow and to propagate by cutting the branch/stem or leaf cutting. Most species of C. ovata will bear pinkish white small starry flowers that cover the plant twice a year during late winter/early spring and autumn. It has few different varieties: jade green colour or variegated ( double colour of green and creamy yellow, green and orange red or tri colour of green, creamy yellow and red). There is also dwarf variation which has smaller leaves. I notice that the colour of jade foliage can change according to the season. In the heat of summer they tend to be more colourful with more prominent red margin.

To flower fully, it has to be grown in full sun. If grown in shady area it tends to grow very green with less or no flowers at all, while in full sun the foliage will be slightly yellow with red margin/tinge around the edges.

Our Jade Trees

As Jade plant has attractive folliage and thick shapely trunks, it is very suitable for Bonsai. To make the jade bonsai nice and compact, it is important to pinch the new leaves during the growing season to create new branches to develop.

Growing jade plant is very easy and versatile for any garden with warmer climate. If grown on the ground and once established, they will prefer to be left alone and no need to water. Only if it is grown in containers, it will need water once the soil is becoming dry and it will need a little fertilizer to make it grow better.

Many Asian people believe that putting jade trees near the door way will bring good luck and more money. I’m not really sure about it, only if you sell plants for a living then I believe that it can be true as you can easily propagate this plant, easier than any other plants that I know. When I trim our jade trees along the drive way, I also stick them in pots and later when they have grown, I just give them away to family and friends or anyone who are interested :)

Happy Gardening!!

Harimau Putih

Harimau Putih/Kiyanti

Terjalnya medan hutan tropis itu liar dan gelap. Pohon pohon beringin merajai tetumbuhan dan pemandangan dengan tonjolan akar akarnya yang merangkum besar. Tetumbuhan kecil dibawahnya digelamuti akar akar yang bergelantungan dari pohon yang terkenal angker itu. Sinar mentari yang hampir saja tak bisa menembus telah membuat dedaunan yang berserakan diatas tanah senantiasa basah dan lembab.

Gadis muda itu setengah sadar, namun ia tak yakin semuanya itu kenyataan atau hanya impian. Manis dan menggeloranya aroma hutan memenuhi udara yang teduh dan segar. Aneh sekali dia merasakan seakan akan  ditempat itu tak ada batas waktu. Tak yakin dia apakah waktu itu pagi, siang atukah malam hari. Desiran jutaan daun daun diatas membisikkan dan meyakinkan gadis itu bahwa dibelantara itu adalah tempat yang tak mengenal waktu.

Begitu jelasnya kenyataan tempat dan suasana baru itu membuat ingatannya tentang hidupnya yang dulu, orang tua, teman teman dan universitas seakan hanya impian yang hampir terlupakan.

Tiba tiba ia mendengar sesuatu mendekati, langkah langkah yang diam dan pasti. Ia gosok mata untuk melihat baying bayang itu lebih jelas. Apakah itu seekor harimau? Iapun membuka mata selebar lebarnya untuk meyakinkan pandangan. Seekor harimau putih, dan  instink-pun membisikkan bahwa  harimau itu adalah harimau Jawa yang indah. Iapun tak takut karena harimau putih itu seakan mengisyaratkan supaya jangan takut. Matapun berkedip seperti  berada diimpian karena dengan tiba tiba didepannya berjongkoklah seorang lelaki muda. Tubuh itu tinggi terselubung otot otot kuat. Gadis muda itu tak yakin apakah yang dilihatnya itu seorang pemuda ataukan seekor harimau putih. Keduanya kelihatan dipelupuk mata silih berganti.

“Nama saya Harimau”, kata pemuda itu sambil tersenyum. “Kau cantik sekali, Kiyanti”. Dengan lembut jari jari panjang itu membelai rambut Kiyanti yang panjang dan berkilauan. Seperti ter-hipnosi , Kiyanti membiarkan jemari itu mengelus pipi dan lehernya. Dengan pasrah Kiyanti menikamati sentuhan itu.

Disaat manusia harimau itu menciumnya, Kiyanti bisa melihat kilas bayangan pemuda tampan dan harimau putih silih berganti.  Gadis yang bernama Kiyanti itupun merasakan dirinya telah jatuh hati. Sentuhan dan ciuman itu membawanya semakin dalam kedunia abadi yang tak mengenal batas waktu. Kenyataan akal pikirannya sekarang sudah ia dambakan untuk sang kekasih, si pemuda harimau putih.

Sudah setahun lamanya termuat disurat kabar bahwa mahasiswi bernama Kiyanti itu dinyatakan hilang dan tak tertemukan kembali disaat melakukan exspedisi di tengah tengah hutan tropis yang sudah langka di Pulau Jawa.

white tiger

Keyataan Tentang Harimau Jawa (Diterjemahkan dari Tigerhomes.org)

 

Harimau Jawa, Panthera tigris sondaica, dulu pernah hidup di Pulau Jawa dan terakhir terlihat pada tahun 1972 dan sejak itu telah dinyatakan musnah selama lebih dari 30 tahun yang lalu. Tiga macam harimau telah dinyatakan musnah dalam waktu 70 tahun ini yaitu harimau Bali, Caspian tiger dan harimau Jawa.

 

Nama ilmiah: Panthera tigris sondaica

Wawasan: Pulau Jawa, Indonesia

Berat rata rata: Betina 75-115 kg. Jantan 100-141 kg.

Ukuran: Betina tak diketahui. Jantan: 2.48 m

Makanan:  Semua harimau adalah carnivore yang pada umumnya memangsa babi hutan, kijang, rusa, kerbau dan binatang mamal besar lainnya. Selain itu juga memangsa binatang mamal kecil lainnyda dan burung.

Masa kandungan: sekitar 103 hari

Saat dewasa: 18 bulan sampai 2 tahun.

Kelahiran: 2 – 3 anak harimau yang beratnya sekitar 1 – 1.5 kg dan mata masih tertutup disaat lahir.

Umur: 10 – 15 tahun

Musuh harimau: Manusia dan yang lainny tak diketahui

Kehidupan social: Sendiri (kecuali disaat perkawinan)

Luas teritori: Tak diketahui. Sekarang harimau masih hidup liar di India, Mancuria, Cina, Sumatra dan Siberia.

Status konservasi: Harimau Jawa dinyatakan punah sejak tahun 1970-an.

 

Catatan: Di Jawa dan kepulauan lainnya di Indonesia terdapat banyak dongeng tentang manusia harimau atau yang lebih dikenal dengan “Harimau Jadi-jadian” Legenda ini dan seorang teman telah memberikan inspirasi untuk menulis cerita ini.

Genista racemosa

Genista racemosa

Our G. racemosa at the entrance of the driveway

If you love bright yellow flowers, Genista racemosa can be the plant for you to grow. Last year’s long drought in Victoria (Australia) did not affect the performance of this tough plant. Now during the Australian spring time,  it is showing off masses of pealike blooms that cover the whole plant. I have shaped it into a rounded topiary and year after year it awards me with a showy display of golden colour.

This hardy evergreen plant is also known as Sweet Broom, Canary Island Broom or Cystisus spachianus. Originally it is from Canary Islands. A very quick growing plant which can grow up to 2 meters (6 ft) high. It is perfect to make a topiary. It has a small compound leaves which consist of three oval leaflets. Best grown in warmer area and it needs very low maintenance. Will do well in average well drain soil with full sun position and it hardly needs any fertilizer.

It is said that this plant is regarded as an invasive weed, so it will affect the market availability in some area. However, I have grown G. racemosa for many years and I have never had any problem with growing seeds that invade my garden bed at all. In comparison, I have continuous problems with next door loquat tree (Eriobotrya japonica) where the seeds of the mature fruits grow everywhere in my garden bed and I have a problem of pulling them off the ground.

Useful Hint: If you have already planted it and you have problems with invasive new shoots around your garden bed, it is better to prune the finish flowers as quick as possible before the pods are mature. This way the possibility for the seeds to fall and to grow out of control will be completely reduced. Pruning and shaping G. racemosa after flowering will also give the plant a nice and compact shape and more flowers in following spring time.

Happy gardening.

Komet Ikeya-Seki

Ikeya Seki Comet

Apakah diantara anda ada yang sudah cukup besar/dewasa untuk mengingat Komet Ikeya Seki  yang menampakkan diri ditahun 1965?

Waktu itu dibulan Oktober (menurut data tepatnya adalah 21 Oktober) aku baru berusia 13 tahun. Aku hanya ingat komet yang terang dan besar sekali dan bisa dilihat dengan mata telanjang ini,  kami lihat bersamaan dengan dimulainya aksi G30S yang terjadi di Indonesia. Pemandangan sesuatu diangkasa dimalam hari yang begitu terang dan begitu besar membelah angkasa, bagi seorang anak seperti ku sempat membuat bulu kuduk berdiri. Tak bisa lama aku menatapnya dengan takjub sebelum aku cepat cepat masuk kerumah dengan rasa merinding.

Malam itu Papa membangunkan kami dan bilang ada “Lintang Kemukus” (bahasa Jawa untuk komet atau bintang berekor). Kami semua keluar rumah. Begitu aku mengdongakkan muka kelangit, kulihat ekor Ikeya Seki itu. Hampir memenuhi cakrawala dan begitu terang dan jelas sehingga aku lihat sesuatu yang putih putih seakan akan mengambang diekor komet itu.

Apakah sebenarnya komet ini? Dua astronomer Jepang bernama Kaoru Ikeya dan Tsutomu Seki menemukan benda angkasa ini pada tanggal 18 September 1965. Diperhitungkan dari orbitnya bahwa pada tanggal 21 Oktober komet ini akan bergerak melalui matahari dengan jarak yang dekat sekali yaitu 450.000 Km diatas permukaan matahari. Komet ini merupakan bagian dari Kreutz Sun Grazers dan akan tampak terang dan jelas sekali dari bumi.

Komet Ikeya Seki yang memiliki kode C/1965 S1 ini betul betul menampakkan diri tepat dengan prediksi dan merupakan komet nomor empat yang paling terang dalam sejarah dunia. Panjang ekornya mencapai ukuran sepanjang  70 million miles = 112 654 080 kilometers. Hanya tiga comet lainnya yang memiliki ekor sepanjang itu yaitu komet ditahun 1680, 1811 dan 1843.

Orbit Komet Ikeya Seki panjang sekali sehingga tidak akan kembali mendekati bumi kita sebelum tahun 2565.

Sampai saat ini aku masih bisa dengan jelas membayangkan malam-malam itu waktu kami keluar rumah dimalam hari untuk melihat apakah lintang kemukus itu masih ada. Dalam pandangan mataku sebagai anak berumur 13 tahun, ekor lintang kemukus ini tampak begitu besar hampir membelah angkasa. Masih bisa kurasakan gemetaran badanku karena rasa ngeri. Apalagi setalah ada isyu bahwa lintang kemukus ini akan membawa mala petaka.

Berhari hari Ikeya Seki Komet ini menampakkan diri sebelum akhirnya mengecil ukurannya, memudar dan akhirnya hilanglah dari pandangan.

Tulisan saya sebelumnya tentang Komet Ikeya Seki (Bahasa Inggris):

http://kiyanti2008.wordpress.com/tag/ikeya-seki/

 

Catatan: Ini kutipan menarik yang saya temukan dari artikel yang dimuat di National Geographic – Pebruari 1966, berjudul “Giant Comet Grazes the Sun” oleh Kenneth F. Weaver 

Discovery Stories: Tsutomu Seki, Comet Ikeya-Seki (1965 S1)

 

I am a sea-bred thing. When I feel happy, or lonely, I come down to the sea, for it fills my heart with deep emotion. That night I was dreaming of the sea. I was walking along the shore…

I do not know why, but on that night my wife woke me, very faithfully. Usually she discourages me from observing the stars. Exposing myself to the night dew, she thinks, cannot be very good for my health. Still, she woke me.

At four o’clock, I climbed up to the observing stage on the roof of a storehouse in my courtyard. The starry sky was very beautiful, transparent, as though swept clean by the typhoon two days before. Fine weather! I put my eye to the telescope.

At a quarter past four something refracted through my lenses–a queer, pale celestial body. My heart shook. I broke the stillness before the dawn: “A new comet!”

 

Tsutomo Seki, on the discovery of Comet Ikeya-Seki (1965 S1) (as reported to National Geographic, from “Giant Comet Grazes the Sun” by Kenneth F. Weaver in the magazine’s February 1966 issue. In the same article, co-discoverer Kaoru Ikeya described the comet at discovery as “shining like a street lamp on a misty night.”)

Anak Kami si Tukang Listrik

Ingat dulu waktu ML anak kami selesai SMA (Highschool) dan dia harus memutuskan pendidikan apa yang akan dia ambil. Dia memutuskan untuk ambil apprenticeship dibidang listrik. Tadinya dia bercita cita untuk mengambil pendidikan dibidang Information Technology, namun bayangan untuk kerja didalam gedung ber AC dan ber- Heater membuatnya berpikir dua kali. Sebagai seorang yang menyukai udara segar dan alam bebas, ML lebih merasa cocok dengan kerjaan yang  tidak hanya duduk terus dikantor. Kerjaan yang memerlukan aktifnya tenaga dan pikiran dirasa lebih cocok buatnya.

Kalau dia memilih belajar di universitas, selama empat atau lima tahun dia akan hidup sebagai mahasiswa. Dia tahu mahasiswa itu kosong kantongnya, sedangkan kalau dia ambil apprenticeship, mulai dari tahun pertama dia akan sudah menghasilkan uang. Di Australia, beberapa tahun terakhir ini digalakkan lagi program apprenticeship oleh pemerintah.  Program kerja dan belajar ini mencakup bidang trade atau skill seperti misalnya electrician, carpentry, plumbing, motor mechanic, brick layer, painter, hairdresser dan masih banyak lagi.

Ada berbagai macam kerjaan electrician (tukang listrik). Lineman, yang mungkin lebih dikenal dengan arus keras atau untuk arus lemah yaitu Construction electrician dan Industrial electrician. ML merasa industrial electrician adalah yang paling cocok buatnya. Kerjaan industrial electrican adalah testing, perbaikan dan pemeliharaan (repair and maintainance) peralatan dan mesin listrik di pabrik dan perusahaan besar. Bakatnya yang kuat dibidang mechanical, engineering dan electrical membuatnya merasa cocok untuk bekerja sebagai industrial electrician. Setelah selesai menjalani pre-apprenticeship course, kebetulan sekali dia berhasil mendapatkan kerjaan diperusahaan yang beroperasi dibidang industrial electrician. Setiap minggunya empat hari dia kerja dan sehari dia sekolah. Waktu itu, enam tahun yang lalu, tahun pertama dia menerima AUD $250 bersih seminggu-nya dan selama empat tahun pendidikan ini gajinya naik setiap tahunnya dan tahun terakhir dia mendapat lebih dari AUD $500 setiap minggunya.

Dalam waktu empat tahun menjalani apprenticeship, dia bisa membeli apa saja yang dia maui dan tidak mengandalkan orang tua untuk membelikannya. Pakaian yang dia sukai, mobil, computer, stereo set dsb. Hobby utama dia adalah off road 4WD yang merupakan hobby yang tidak murah. ML merasa untung dan puas dia bisa memenuhi kebutuhan ini. Dibawah ini adalah gambar ML dengan mainannya mobil 4WD.

101_2581

Sekarang setelah memasuki tahun ketiga selesainya program apprenticeship dan sudah menjadi qualified electrician dengan kerjaan yang menjanjikan masa depan cukup cerah, cita cita ML selanjutnya adalah membeli rumah dan menemukan gadis impian…:)

We love you son and good luck!

Setelah meninggalkan Indonesia lebih dari dua puluh lima tahun, belum lama  ini waktu saya berkunjung ke sana, tujuan yang pertama yang saya rencanakan adalah pergi ke Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateau). Keinginan ini timbul waktu anak saya bilang dia ingin melihat volcano di Jawa. Dieng yang membawa arti  “Where Gods Abode” adalah tempat yang tepat sekali bagi putera saya itu untuk melihat active volcanoes di pulau Jawa.

Perjalanan dari Solo ke Wonosobo begitu berkesan dan membangkitkan kenangan masa silam. Setelah semalam tinggal di Surya Asia Hotel di kota Wonosobo yang rapi dan sejuk, pagi pagi kami berangkat ke Dieng.  

Jarak dari Wonosobo ke Dieng yang hanya kira kira 26 km itu menyajikan pemandangan teras pegunungan yang indah. Bunga bunga brugmansia yang berwarna kuning jingga dan putih tampak berkembang dibanyak tempat disepanjang jalan.  Karena begitu banyaknya lahan tanamam kentang, pegunungan Dieng itu begitu mirip dengan tanah pegunungan yang seakan akan diukir. Walau tanah disitu begitu cocok untuk tanaman kentang dan merupakan pendukung utama kehidupan para petani setempat, terlalu banyaknya penggundulan hutan dipegunungan itu bisa mengakibatkan bahaya longsor atau banjir.  Kami lihat beberapa petugas lalu lintas jembatan  kayu darurat di desa  Satieng -Kejajar memberi aba karena jembatan itu  hanya bisa dilalui satu jurusan saja dengan bergantian. Jembatan ini rupanya roboh tertimpa tanah longsor beberapa waktu sebelumnya yang sempat melumpuhkan  lalu lintas.

Setibanya di Dieng kami pertama tama pergi ke Kawah Sileri dan kami melewati pusat pengolahan uap panas bumi untuk pembangkit tenaga listrik. Dari jauh kami lihat kepulan kawah yang tampak putih diterbangkan angin. Semakin dekat kekawah Sileri, semakin tajam bau belerengnya. Dari situ kami langsung menju ke kompleks candi Arjuna yang merupakan peninggalan sejarah yang tertua. Semua candi yang masih bediri menyandang nama tokoh perwayangan lokal yang berdasarkan kitab Mahabarata: Arjuna, Gatotkaca, Dwarawati, Bima, Sembadara, Srikandi  dan Semar.

Kami ikuti tapak tapak jalan dikompleks percandian ini yang berakhir di Pendapa Suharto – Whitlam. Disinilah didekat warung yang menjual makanan khas Dieng, kami bertemu dengan seorang pria berbaju biru dengan vest hitam dengan plakat nama. Sekilas saya kira dia itu adalah petugas keamanan/security guard, namun ternyata dia menawarkan jasa pemandu wisata. Karena anak saya tidak bisa berbahasa Indonesia, dan Pak AA ini fasih berbahasa Inggris, maka saya rasa kebetulan sekali.

Pertama tama dia bilang ke anak saya supaya memanggilnya dengan nama  AA. Yang begitu mengesankan dengan Pak AA ini adalah pengetahuan umumnya yang luas sekali. Selain fasih berbahasa Inggris, dia juga banyak paham bahasa Belanda. Pengetahuannya tentang tumbuh-tumbuhan didaerah Dieng itu sangat mengherankan, lengkap dengan nama latin/ilmiah dari tumbuh tumbuhan tsb.  Pengetahuannya mengenai daerah setempat serta pengetahuan umum terutama tentang flora dan fauna lokal  dan juga sifatnya yang kocak membuat perjalanan kami lebih menarik. Apa lagi sewaktu dia ajak kami semua menyanyi “Michael Row the Boat Ashore” disaat kami mengunjungi telaga Warna, terlupa juga sejenak bau belerang yang begitu menusuk hidung.

Dengan pak AA kami berkunjung ke Telaga Warna, Kawah Sikidang, Dieng Theatre, Telaga Menjer dan  berakhir dengan mencicipi mi ongklok khas Wnonosobo.

Dieng

AA dan Kawah Sikidang

Sebagai penutup blog ini, anak saya titip pesan buat Pak AA: “Good Day…. how are you?”  :)

Older Posts »